
EPISODE 87 (S2)
“Apa parfum lo sama seperti Reira?” ucap Mawar ketika wajahnya kembali seperti seperi semula.
Ia melepaskanku lebih dahulu dengan wajah tak ingin dilihat. Sementara itu, aku terdiam dengan apa yang telah terjadi. Tidak habis pikir kami sebegitu dekat, aku hampir saja mendekap Mawar dengan sempurna dalam peluk ketidaksengajaan. Ia berlari menghantamku yang juga mengejar Reira keluar. Kami pun tersudut ke tepi dinding tak bisa dihindari. Hingga, tak ada lagi batas-batas tubuh di antara kami, menghantarkan wajah Mawar untuk bersentuh dengan alas dadaku.
Aku rasa benar, tidak ada pria yang benar-benar baik, termasuk diriku. Jika kalian merasa ada pria yang begitu putih hatinya―kecuali pria-pria terpilih―maka aku sarankan untuk menyemplung sekarang juga di laut dermaga Manggar, mustahil untuk menemukan orang yang seperti itu. Pria dilahirkan dengan insting bawaan yang sangat peka, terbuka, komplusif, dan sedikit obsesif. Tidak aku pungkiri terlintas sedikit pikiran kotorku, walaupun aku bukanlah orang-orang yang seperti itu.
Jika kita berbicara jujur, terdapat teori yang mengatakan bahwasanya manusia terlahir dengan dorongan seksual sejak dilahirkan di muka bumi. Kini aku membicarakan bapak psikonanalisa sekaligus filsuf, Sigmund Freud. Seorang ras Yahudi yang tidak mempercayai Tuhan. Sebuah penghinaan rasaku bagi orang-orang Yahudi yang terlahir dengan agama bawaan sedari ribuan tahun, namun dirinya mengatakan bahwasanya Tuhan hanyalah imajinasi pikiran manusia yang terbentuk atas ketidakberdayaan.
Namun, aku tidak ingin membicarakan hal itu. Aku takut dikutuk oleh Tuhan saat ini.
Dorongan seksual merupakan insting inti dalam setiap taraf perkembangan manusia. Sejak sedari lahir―menurutnya, bukan menurutku, tolong mengerti ini―manusia sudah ada hasrat untuk memenuhi dorongan seksual. Sumber kenikmatan seksual sedari bayi adalah mulut, oleh karena itu mengapa bayi sering memasukkan apa saja yang ada di hadapannya ke dalam mulut. Beralih perlahan ke bawah, ke tempat pengeluaran kotoran yang menjadikan alasan kenapa anak kecil suka menahan-nahan berak di sudut kamar, tanpa memberitahukan kepada orangtuanya. Hilang sementara setelah itu, namun kembali lagi ketika ia remaja, sempurna kepada lawan jenis.
Aku bukan orang yang berpikiran kotor, sehingga aku memberitahukan hal ini. Jujur, aku senang berbagi teori untuk dipikirkan bersama-sama. Ini adalah pengetahuan baru. Namun, dibalik itu aku ingin mengatakan bahwasanya, normal bagi seorang pria untuk merasakan hal tersebut. Jadi, jangan hujat aku tatkala Mawar menempel pada tubuhku, sementara itu aku mengagumi sisi terbaik wanita selain dari rambut tergerai panjang nan berkilau.
Astagfirullah, maafkan aku Tuhan .... Aku menggosok dadaku berkali-kali. Bukannya kenapa, aku pun takut kepada Tuhan, meskipun aku masih berharap masuk surga dengan ketidaksebandingnya amalan diriku. Dasar tidak tahu diri!
“Gue yang nyetir,” ucapku pada Reira di depan bengkel Dika.
Kami pulang setelah berbincang lama di gazebo halaman Mawar dan aku mengantar Candra terlebih dahulu. Aku berkata kepada Reira untuk ikut mengantar Razel ke rumahnya karena Razel telah lelah menyetir. Oleh karena itu, aku membawa pulang vespa bututku itu terlebih dahulu agar aku bisa menemaninya ke sana.
Razel tidur dengan pulas di belakang, sementara itu Zainab sudah kami antar ke rumah Reira. Wanita itu untuk sementara menginap di rumah Reira. Berbincanglah lagu pop rock Band Offspring di mobil sedan tuanya ini karena memang lagu-lagu seperti ini yang ada di MP3 handphone-nya. Untuk ukuran wanita, sangat sulit menemukan yang memiliki selera lagu pop rock barat tahun 2000-an. Aku sedikit menyukainya karena sering mendengar lagu-lagu tersebut di masa-masa hobi bermain game di warnet. Memang memorable sekali lagu-lagu tersebut. Mengingatkanku di masa Ayah meneriaku dari luar warnet untuk di bawa pulang. Aku pun siap-siap disabet ikat pinggang di bagian kaki. Ya ... begitulah ayahku apa adanya.
Sampailah kami di satu-satunya rumah arsitektur Melayu di komunitas Betawi ini. Anak itu sempoyongan berjalan keluar dari mobil dan melangkah ke depan untuk berterima kasih kepada Reira melalui jendela mobil. Wajahnya berpangku tangan di atas daun kap mesin sembari mengulurkan tangannya.
“Mana handphone gue?” tanya Razel.
“Lo sikat gigi lo itu lebih dahulu, baru minta handphone.”
“Gue mau instastory pakai I-Phone biar pamer sama temen-temen gue. Kan katanya video instastory-nya stabil banget. Beda sama kaya handphone gue sekarang yang biasa nge-lag main game.” Suaranya benar-benar parau dan tidak bersemangat.
“Besok, deh ... gue ke sini sambil bawa handphone-nya. Sekalian ketemu sama Kakek Syarif, katanya sampai besok hari.”
Aku menoleh seketika. “Kakek Syarif bakalan pulang besok?”
“Katanya sih begitu ....” Ia menoleh padaku.
“Kenapa? Enggak sabar punya kakak ipar?”
“Ya, enggak juga, sih. Soalnya Dika nanya-nanyain dari kemarin. Dia sendiri yang udah enggak sabar pingin kawin. Kebelet kawin katanya,” balasku.
“Perkawinan itu bukan masalah cepet-cepetan, tapi persiapan. Emang nikah itu urusan kamar dan dapur doang apa?”
Aku mengangkat bahu. “Ya ... mana gue tahu. Gue kan masih kecil. Hahaha ....”
Tangan Reira menempel keras di kepala Razel. “Udah sana ... mandi dan sikat gigi. Besok gue janji ke sini buat bawa handphone. Kapan sih gue bohong sama lo?”
“Pernah, waktu Kak Reira izin pergi beli paket sama gue, eh malah pergi makan.”
Reira tertawa pelan. “Hahah ... sumpah gue lapar banget waktu itu. Males banget bawa lo yang kalau makan nambahnya tiga kali. Uang gue mana cukup! Yaudah ... kami pergi dulu.”
“Udah, pergi aja sana. Gue juga pengen tidur.” Razel beranjak dari depan mobil. Lalu, melambaikan tangan untuk melepas kami pergi.
Mobil beranjak perlahan untuk pulang. Namun, Reira memintaku untuk memutar stir mobil ke arah yang berbeda. Setelah arah jalan yang ia tunjuk familiar olehku, barulah aku sadar bahwasanya ia ingin kami menuju dermaga nelayan. Mobil sedan pun berhenti di mana biasanya mobil terparkir. Aku lihat langkah Reira yang semangat menuntutnku untuk menuju dermaga berdua.
Tampak kapal Leon mengombang-ambil tepat sekali di tepi dermaga. Entah kenapa, tak ada yang berani mengusik tempat faforit kapal tua itu bersandar. Aku rasa kapal Leon yang paling senior di sini. Pengalaman berlayarnya sudah lebih banyak dan lebih menantang daripada kapal-kapal nelayan di sini.
Bagaimana tidak, kapal itu berkali-kali lolos dari kejaran perompak Selat Malaka, kata Reira waktu itu. Selain itu, Kapal Leon merupakan kapal yang paling besar di sini. Oleh karena itu, kontras sekali terlihat berbeda di antara semuannya.
Kami pun naik ke atas kapal. Darahku terasa mengalir lebih cepat ketika kapal ini terombang-ambil di atas air.
“Pengen berenang?” tanya Reira sembari melipat tangan di atas pembatas kapal. Di hadapan kami jatuh cahaya senja hari yang menampakkan pesona laut utara Kota Jakarta.
Aku menggeleng. Letih sekali hari ini. Lebih baik bersantai di atas kapal dengan menikmati sebatang tembakau dan semilir angin yang bertiup lamban.
“Gue rasa, lebih baik kita di sini.” Aku menggenggam tangannya. “Bermesraan berdua karena akhir-akhir ini kita jarang banget berdua.”
“Tapi, gue ingin romantisme bukan anarkisme seperti yang kemarin-kemarin kita lakukan. Hahaha ....”
“Romantisme itu hanya indah di dalam fiksi, namun berbahaya dalam realita.” Ia merangkai kata.
“Kenapa begitu?”
“Banyak orang yang terjebak romantisme cerita-cerita fiksi, ekspetasi selera tinggi. Namun, ketika realitanya enggak sejalan ... mereka malah terbungkam. Contoh, ada banyak anak muda halu dengan romantisme CEO perusahaan di film-film Korea dan novel-novel. Ada banyak pemprotesan kepada pemerintah karena mereka larut dengan romantisme masa lalu sistem pemerintahan Kerajaan Ottoman pada saat itu. Semuanya karena romantisme.”
“Kita ingin berdiskusi kali ini?” tanyaku.
“Gue senang berdiskusi dengan orang bodoh seperti lo,” bungkamnya.
Aku pun menatap datar padanya. Sudah sulit diriku membangkitkan suasana romansa di sini, tetapi ia menghancurkannya dengan kata-kata menusuk yang sering ia lontarkan padaku. Jujur sekali dirinya.
“Mawar bilang, gue orang yang jenius. Apabila orang jenius bertemu dengan orang jenius, maka akan terjadi perdebatan seperti ini.”
“Lo semakin akrab saja dengan Mawar.”
Wajahnya yang tadi tersenyum, kini sirna menatapku datar. Aku tidak bisa menafsirkan wajah itu merupakan ekspresi dari kekecewaan ataukah sebuah kebahagiaan.
“Apakah konotasi 'akrab' di sini baik atau buruk?” Aku mengisyaratkan jemari-jemariku menjadi tanda petik.
Kepalanya jatuh ke pundakku. Kami sama-sama memandang laut ke depan. Angin yang berhembus semakin lembut saja, seperti helaan napas Reira ketika kecup bibirnya.
“Gue senang karena ada yang ngejagaain orang yang paling gue jaga di sini.”
Aku memicing. “Maksud lo gue ngejagaain Mawar, begitu?”
“Benar ... dia itu lebih dari segalanya di sini. Dia warna baru di kapal ini. Gue senang dia bergabung bersama kita dengan sifatnya yang tertutup. Tapi, lo mampu membuatnya buat lebih terbuka. Apakah itu menjadi sebuah pertanda?”
“Apa maksud dari 'pertanda'? Lo ngira dia suka sama gue? Hey, Rei!” Aku menepuk jidatnya.
“Hahaha ....” Ia tertawa hingga menunduk. “Sekali pun dia suka sama lo, tapi dia enggak bakalan bisa buat lebih dekat dengan lo dan gue udah pastiin hal itu enggak bakalan terjadi. Terkadang, di sana jahatnya gue sebagai manusia. Gue ini suka mendominasi dan Mawar sangat mudah didominasi. Sekali pun dia suka sama lo, apabila gue suruh dia pacaran sama Bang Ali, dia bakalan mengiyakan.”
“Gue jadi takut sama lo,” balasku.
“Tapi, hanya satu orang yang enggak bisa gue dominasi..”
“Siapa?” tanyaku.
Ia menempelkan dadaku. “Lo sendiri. Walaupun lo selalu ikut apa aja yang gue bilang, tapi gue merasa lebih didominasi. Gue ini pembangkang dengan siapa saja, bahkan Kakek Syarif sekali pun. Tapi, entah kenapa gue nurut sama lo.”
Aku membelai rambutnya perlahan. “Teruslah seperti ini. Kita ini dilahirkan sebagai pelengkap masing-masing. Gue selalu ngeposisiin diri sebagai penyeimbangnya elo yang sulit banget diatur.”
“Ya, benar. Gue rasa lo ada benarnya juga. Gue lebih jinak semenjak sama lo.” Ia diam sejenak, lalu memandang pada diriku. “Lo tahu kenapa gue sangat protektif dan obsesif kepada Mawar?”
Napasku dalam sekali terhembus. “Iya, kenapa?”
“Masing-masing dari kalian adalah tempat gue belajar. Gue belajar bagaimana mengendalikan diri dari lo, kedewasaan dari Bang Ali, pencairan suasana dari Candra, kemandirian seorang wanita dari Zainab, keluguan dari Razel, spiritual dari Kakek Syarif. Dan yang paling gue cari dan paling gue jaga adalah Mawar. Kelembutan .... sifat feminim ... keibuan .... kepintaran ... dia begitu lengkap dan dia harta terbaik gue di sini. Gue ingin belajar banyak dari wanita pendiam itu!”
Saking semangatnya Reira di akhir kalimat, ia menepuk pembatas kapal.
“Kenapa sih lo sebegitu detailnya menilai orang?” tanyaku dengan perasaan kagum.
“Karena ada banyak yang enggak lo ketahui tentang gue, dan enggak gue ketahui dari diri gue sendiri. Oleh karena itu, gue bakalan terus belajar. Persetan dengan harga diri,” balasku.
Aku sangat senang sekali mendengar hal ini dari Reira. Tanganku melingkar ke bahu sebelahnya, lalu mendekapnya erat dengan penuh kasih sayang.
“Jadi, apa yang terjadi ketika lo dan Mawar di dalam rumah? Tepat setelah gue pergi.”
Lagi-lagi untuk sekian kalinya, pertanyaan dari Reira membuatku mati kutu dan terdiam.
***