Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 90 (S2)



EPISODE 90 (S2)


Reira selalu membawa jalan cerita setiap percakapan yang kami lakukan. Ada banyak hal yang harus aku tanyakan, namun tenggelam pada alur ucapan dirinya yang tak pernah berhenti, berganti topik demi topik, menjebak diriku di akhir. Terkadang, aku tak pernah tahu maksud dan tujuan ketika ia ingin mendiskusikan sesautu. Otaknya licik sekali.


Bisa jadi pembincangan politik ada hubungannya dengan hubungan kami berdua. Atau seperti tadi bagaimana ia membawaku untuk mengiyakan menemani Mawar, hanya dari diskusi singkat mengenai rasa percaya. Hingga, aku lupa bahwasnya ada hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan padanya.


Aku belum pernah mendengar seseorang secara langsung jika ia ingin menembak orangtua lelakinya atas dasar balas dendam yang ia simpan. Okelah konteks pembicaraan itu hanya untuk bercanda, aku pun pernah dibercandai teman-temanku seperti itu, walaupun ia hanya bercanda ingin menendangi ayahnya jika beliau selingkuh. Namun, bukan menembak atau membunuh dengan cara apa apun. Parahnya wanita laut itu ia menyatakannya dengan lantang dan serius. Ditambah lagi cemasku bahwasnya ia memiliki sepucuk pistol revolver yang masih berpeluru.


Saudara perempuannya pernah berkata bahwasnya jangan anggap suatu pembicaraan sepela dari Reira merupakan bualan belaka. Ia memberitahukan hal itu padaku ketika malam selesai lomba mewarnai di mobil Nauren. Aku sebenarnya tidaklah heran jika Reira selalu serius dalam pembicaraannya, walau dalam nada ucapan bercanda sekali pun. Hingga aku pernah cemas selintas ia akan meloncat ke bawah gunung Bromo sewaktu itu.


Apakah ia sesadis itu? Aku sedikit berpikiran negatif dengannya. Satu titik di dalam perjalanan kisah romansaku dengan pelaut gadis, di sini aku berpikiran yang tidak-tidak dengannya. Namun, di sisi lain hatiku berharap bahwasanya ia sedang main-main dalam mengatakan hal tersebut. Terlebih lagi, aku masih tidak yakin orang seperti Reira akan melakukan aksi seperti itu. Sudah aku bilang padanya tadi, aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


Mawar sudah tahu bahwasanya aku setuju untuk menemaninya melakukan wawancara penelitian ke luar kota. Aku tegas mengatakan padanya bahwasanya ini diminta oleh Reira, bukan sepenuhnya dariku. Aku tidak ingin anak itu berpikiran yang tidak-tidak mengenai perjalanan ini. Dengan senang hati malam itu Mawar tersenyum berterima kasih.


Keesokan harinya aku dijemput oleh Reira pagi-pagi. Masih dengan mata sembab oleh kantuk yang menyerang, anak itu menggedor-gedor pintu kamar. Suara gedoran pintu tersebut seakan seperti sekelompok buser yang sedang memburu bandar narkoba, atau pasukan Pak RT yang sedang menggerebek kos mesum di wilayahnya. Mau tidak mau aku membukakan pintu untuknya.


“Lo tahu jam berapa ini?” tanyaku dengan mata sayup.


“Pagi itu harus bangun! Nanti rejeki dipatok ayam, baru tahu rasa!” Ia menepuk dadaku, lalu memutar tubuhku kembali ke belakang. “Cepat mandi dan sarapan. Gue udah bawain lontong sayur. Lo dan Mawar berangkat pagi ini.”


“Apa enggak bisa satu atau dua jam lagi?”


Sungguh, aku sangat mengantuk karena tadi malam aku habiskan waktu untuk melanjutkan tulisan.


“Akan gue bakar lapak lo nanti di jam delapan malam.” Reira menepuk punggungku keras-keras.


Tepukan tersebut seakan menjadi cambuk, sehingga aku lekas bergerak. Aku bantai air dingin bak mandi di pagi hari, membekukan darahku yang sedang berusaha menormalkan diri. Gemertak gigiku tak bisa dihindari. Aku bertekuk lutut setelah mandi, tepat di atas ranjang untuk menghangatkan diri. Setelah sedikit lebih hangat di dalam selimut dua lapis, aku segera memasang baju dan mengambil seluruh barang yang akan aku bawa ke sana.


Reira menunggu tepat di teras depan. Dirinya duduk bersila di hadapan sepiring lontong sayur dan segelas kopi hangat tubruk. Tangannya terbuka di samping hidangan pagi ini, disertai senyum manja sedikit lapisan pemerah bibir yang terlihat manis. Kepalanya memereng menyambutku yang masih merapikan rambut basah.


“Apakah lo pernah bermimpi dihidangin sarapan pagi oleh seorang cewek di pagi hari?” Ia menaikkan alis dua kali untuk membanggakan diri. “Inilah waktunya lo melihat mimpi itu benar-benar nyata.”


Aku menempelkan telapak tangan tepat di atas rambutnya. “Wah, makasih banget, ya. Gue kaya papa-papa yang disambut istrinya sebelum pergi kerja.”


“Gue harap istri kedua lo masih tidur kalau itu benar-benar terjadi.”


“Gila gue punya istri dua. Tapi, boleh juga, sih.” Aku menggesek tanganku pada rambut atasnya. “Mana punya lo?”


“Kayanya gue tipe calon istri yang suka sepiring berdua,” balasnya dengan wajah merayu.


Aku sontak mencibir. Pandai sekalu merayu anak ini. “Ah, gayaan aja lo. Lo itu makannya banyak! Lihat deh tubuh lo gue lihat melar semenjak pulang dari Singapura.”


“Tapi, sebesar kerbau pun badan Adek. Tetap Abang akan sayang.” Aku menyendok suapan pertama.


“Apaan, sih ... gaje banget! Hahaha ... udah makan aja sana. Jangan banyak gaya,” balasnya dengan tangan mendekatkan kopi.


Ah, mudah sekali Reira ditebak pagi ini. Dari wajahnya memerah dapat aku simpulkan bahwasanya ia sedang tersipu malu mendengar gombalan yang aku dapat dari akun receh di media sosial. Bibirnya tak kunjung berhenti menarik senyum padaku. Tatap matanya terus saja lurus menatapku yang sedang menunduk melihat piring. Diam-diam aku memerhatikan tingkahnya yang sedikit feminim pagi ini. Ia memakai pewarna bibir dan rona-rona merah di bagian pipi―aku tidak tahu namanya itu―yang membuat pagi ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Namun, aku lebih tertarik dengan tingkahnya yang masih menyimpan senang oleh pujianku tadi.


“Apaan sih ngeliatin mulu. Lo mau?” Aku mencoba menggertaknya, lalu menyodorkan sendok.


“Gue udah sarapan tadi di rumah sama Zainab. Jadi, lo habisin aja.” Ia mendekatkan piring itu semakin dekat padaku.


“Jadi aneh gitu gue diliatin mulu sambil makan,” balasku.


“Emangnya enggak boleh?” tanya Reira kemudian.


Aku memandanginya dengan datar. Untung mencoba mengerjainya, aku mengangkat piring lontong dan berbalik diri agar aku makan membelakanginya. Alih-alih agar tidak terus ditatapi seperti patung, ia malah berubah tempat duduk tepat di hadapanku kembali.


“Jangan liatin gue!” candaku. Aku berbalik diri.


“Ih! Masa ga boleh, sih? Gue tahu lo ngelihatin cewek-cewek instagram, dan gue enggak ada larang. Masa gue enggak boleh ngelihatin lo?”


“Dari mana lo tahu?” tanyaku dengan heran.


“Tadi, gue buka handphone lo.” Ia berubah wajah menjadi curiga. “Lo nge-follow akun bok―”


“Sudah ... jangan dibahas ....” Aku memasang senyum panjang padanya.


Kebaikan hatiku memaksa untuk mengambilkan sesendok kecil untuknya. Layaknya seperti permainan kereta api ketika menyuapi anak kecil, ia pun membuka mulutnya lebar-lebar. Kunyahan kecilnya masih lengkap dengan tatapan wajahnya padaku yang sedari tadi tak kunjung dialihkan. Aku pun seakan kembali ke masa lalu, di mana imajinasiku mengawang berharap aku akan bisa menyuapi wanita yang aku cintai.


Ternyata benar kata Reira, inilah tepatnya mewujudkan mimpi itu. Romansa kecil di pagi hari ini syahdu berputar dalam selang-selang waktu yang bergerak pada setiap hentak kecil denting jarum jam. Embun berbicara pada kami di ujung-ujung daun sana, bertumpah ruah ke tanah menjadi saksi. Aku senang kicauan burung yang menambah harmoni ketenangan yang sedari dulu aku cari. Kini, kisah ini terpotret dalam lembaran masa lalu yang akan aku kenang di suatu hari nanti.


Sisi lain hatiku tertawa jikalau kami persis seperti anak SMA baru puber yang sedang kasmaran.


“Mata lo ada taik,” ucapnya dengan santai.


Untung lo pacar gue, Rei ....


***