
EPISODE 93 (S2)
Bapak tua bertopi jerami tani itu seakan menaruh curiga kepada kami berdua. Tidak salah pula dirinya untuk berpikiran seperti itu karena kami merupakan pria dan wanita. Tak bisa pula dihindari wajah panik dari Mawar yang menggelengkan kepala. Aku saja yang tertawa kecil mendengarnya.
“Bukan, Pak. Kami adalah temannya Reira, anak Bu Fany,” balas Mawar.
“Oh, begitu … Saya Pak Dadang.” Ia hanya mengangguk. “Ayo masuk, nanti kita cerita-cerita.”
Kalimat yang diucapkan Pak Dadang sedikit bernuansa logat Sunda. Namun, ia masih berusaha untuk menghilangkan logatnya tersebut karena kami merupakan orang jauh. Beliau kemudian membukakan gerbang untuk kami dengan terlebih dahulu membuka rantai besi yang mengunci gerbang villa. Barulah kendaraan kami terparkir di dalam.
Tentu saja hal yang pertama kulakukan ialah memerhatikan setiap detail villa mewah ini. Terdapat taman bunga di hadapan villa yang berujung dengan barisan tanaman palem. Taman bunga tersebut langsung bisa dilihat dari dalam karena terdapat dinding villa yang terbuat dari kaca lebar. Aku membayangkan bagaimana di senja hari tatkala cahaya hangatny masuk menyentuhku yang sedang menikmati kopi di hadapan pemandangan Gunung Salak. Villa tersebut tingkat dua, di atasnya berbentuk arsitektur kayu dengan balkon lebar untuk bersantai. Hiasan-hiasan tanaman berbentuk tali menambah suasana asri pada balkon tersebut.
Pak Dadang belum membukakan villa untuk kami. Ia masih di pos security yang berada di dekat gerbang. Sementara itu, aku melangkah ke teras samping rumah di mana Mawar duduk menyilangkan kaki ke atas.
“Kalau kita benar-benar membayar tempat ini, gue rasa kita langsung miskin,” ucapku.
“Ya, untung aja ada Reira.”
Pak Dadang tersenyum pada kami dan meminta izin untuk membukakan pintu. Seharusnya ia tidak perlu meminta izin terlebih dahulu, tetapi begitulah kerendahan hati yang ia tunjukkan pada kami sebagai tamu. Ia mempersilahkan kami untuk masuk kemudian. Karena keseringan tinggal di tempat yang berantakan, aku pun seketika aneh dengan hunian rapi seperti ini. Tak henti-hentinya diriku melebarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk memerhatikan detail ruangan.
Benar saja yang aku harapkan, dari ruangan tengah ternyata menyuguhkan pemandangan Gunung Salak yang jelas dari balik dinding kaca yang membatasi. Lukisan-lukisan artistik mengelilingi ruangan tengah. Aku dipersilahkan oleh Pak Dadang untuk duduk di sofa empuk. Ia bertanya sebelumnya minuman apa yang ingin dibuatkan. Ia juga mengatakan detail setiap minuman yang tersedia di sini. Namun, aku tetap pada pilihan terbaik, yaitu kopi hitam pahit. Sementara itu, Mawar lebih memilih teh hangat untuk menghangatkan badan.
“Pak, area bebas ngerokok, kan?” tanyaku tatkala Pak Dadang dating dengan minuman.
Ia tersenyum. “Ya boleh aja, atuh. Di sini ada penjernih udara, ada AC-nya juga kalau kalian mau hidupkan. Kan kalian yang makai tempat ini. Bebas mau ngapain, kecuali … ah tahu sendiri. Belum nikah, bukan?”
Aku terbatuk mendengar ucapannya. Tak jadi tanganku mengangkat pemantik api.
“Ini teman saya, namanya David.” Mawar mendorong tanganku untuk segera menyalami Pak Dadang.
Segera aku mengelap tanganku yang berkeringat. “Iya, Pak … saya David.”
“Oh … senang bertemu kalian berdua.” Ia duduk pada sofa tunggal yang membelakangi arah dapur. “Jadi gini … biasanya Bu Fany pasti ngelarang kalau ada sepasang muda-mudi yang nginap di sini, kecuali mereka beramai. Kalian tahu sajalah apa maksud Bu Fany. Jadi, tadi malam saya ditelpon oleh Reina kalau ada teman dari Reira yang akan menginap di sini. Soalnya sekarang yang mengelola villa-villa Bu Fany adalah Reina.”
Mawar mengangguk. “Terima kasih Pak udah nyambut kami. Saya maksud ngina di sini karena ada penelitian ke Desa Sukasari. Jadi, menginap di sini aja kata Reira.”
“Jadi, Bapak bakalan tinggl di pos security?” tanyaku.
Beliau mengangguk sembari melinting tembakau pada kertas rokok. Aku mengingatkannya kepada Pak Cik Milsa yang memiliki kebiasaan melinting yang sama.
“Kalau ada pengunjung, saya selalu tidur di sana. Apa kalian enggak takut malam di tengah hutan begini? Hahah … Oh, iya,silahkan menikmati fasilitas yang ada. Di belakang saja ada kolam renang, lapangan basket, sama gazebo nyantai-nyantai. Kalau mau mandi air panas, ada ruangan pemandian air panas di dekat dapur. Ada dua kolam air panas cukup lebar buat kalian berdua. Pokoknya di sini lengkap.”
“Pasti mahal ya, Pak?” tanyaku penasaran.
Pak Dadang tertawa. “Hahah … kebanyakan yang datang pasti kalangan atas. Kisaran lima juta per malam. Nah, beruntunglah kalian yang di sini gratis. Oh, iya … kenapa Reira enggak ikut?”
“Dia sibuk ngurusin café Mamanya yang ditinggalin semenjak mamanya sakit. Reira sibuk banget sekarang,” balasku.
“Waduh, saya sedih sekali dengar Bu Fany jatuh sakit. Dia banyak jasanya sama saya, atuh. Kalau tanpa Bu Fany, saya enggak bisa makan hari itu. Dan seluruh biaya pendidikan dua anak saya ada di tangan Bu Fany. Kalau bisa dibilang, saya rela ngelakuin apa aja demi Bu Fany karena jasanya banyak banget.”
Kalimatnya menarik perhatianku. Ternyata, Pak Dadang memiliki hubungan dekat dengan Bu Fany.
“Kalau boleh tahu, bagaimana bisa kenal sama Bu Fany?” tanyaku.
“Oh, jadi gini … waktu itu saya pernah ditipu biro tenaga kerja luar negeri di Jakarta. Saya rela ninggalin anak istri buat nyari kerja. Seluruh uang saya habis karena mereka memeras saya di mess mereka. Jadi, suatu hari saya kabur dan menggelandang di jalanan buat seminggu. Bagaiaman saya mau pulang, uang saja habis di sana dan ijazah SMA saya direlain buat saya kabur. Di sana saya ketemu sama anak kecil yang tiba-tiba aja ngasih saya minuman seribuan. Saya kaget, dong. Tapi, dia malah duduk di samping saya cerita-cerita.”
“Jangan bilang itu Reira ….” Aku menebak sendiri.
“Oh, kamu salah. Reira belum lahir waktu itu dan kalian mungkin belum lahir juga. Anak itu Reina yang sekarang ngelola tempat ini. Nah, karena Bu Fany takut anaknya diapa-apain, dia langsung menghampiri kami. Jujur saya udah kaya gelandangan sekali, enggak pakai mandi. Di sana saya cerita sama Bu Fany tentang masalah saya.”
“Lalu, Bapak dibawa Bu Fany, begitu?” sambung Mawar.
“Benar … Saya ditawarin jadi supir pribadi Pak Bernardo dan saya dikasih dana buat pulang. Saya enggak nolak, dong. Waktu itu, Pak Bernardo belum jadi pejabat. Tapi, dia dekat sama orang penting di DPR. Makanya kasus biro gadungan itu cepat diusut. Ternyata mereka sindikat perdagangan manusia ke luar negeri. Saya merasa beruntung udah ketemu Reina.”
Aku menghisap pelan-pelan batang rokokku. Ternyata putihnya hati Bu Fany bukan hanya cerita belaka.
***