Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 60 (S3)



Resah kataku tidak berucap, bahwa aku ingin berbicara dengannya. Ia hanya mengulum diam, terkadang menyanggah kalimatku yang mencoba untuk mencairkan sausana. Aku rasa ia tidak seperti ini dahulu. David yang aku kenal ialah pria pemalu, bukan pendiam dan sinis. Waktu merubah kami semua, termasuk dirinya sendiri.


Kalimat David membuat Luna dan Alan terdiam. Sungguh perbedaan yang drastis antara aku dan mereka. Aku hanya mengenakan hoodie merah jambu dan celana jeans robek-robek, bahkan aku belum mandi sore karena hari terlampau dingin. Tatkala mereka melihat tanganku, itu hanyalah jam tangan pasar malam di Pekanbaru. Borneo pada saat itu memenangkan hadiah dari judi gelang. Telapak kaki pun hanya berlapis sendal jepit rumahan yang setiap sore aku jadikan teman berburu serangga. Hanya ponselku saja yang mungkin bagi anak kos hanyalah imajinasi belaka, berharap ponsel dengan kamera tiga dan logo apel tergigit. Untuk teknologi, aku memilih yang terbaru.


“Lo anak Pak Bernardo?” tanya Alan.


Aku mengangguk pelan. “Anaknya pernah ada berita negatif bukan?”


Respon mereka biasa saja, pertanda mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan kasus itu. Namun, aku senang jika mereka tidak pernah menyadarinya.


“Maaf, kami enggak tahu. Gue rasa, anak Pak Bernardo pasti hebat semua,” sambung Luna.


“Ya … kakakku memang luar biasa. Kalau gue, ya … beginilah yang kalian lihat.” Aku menarik tangan dari meja.


“Gue ga yakin lo cuma punya satu bisnis. Pak Bernardo itu pengusaha besar yang gue ketahui.” Alan penasaran.


“Gue punya bisnis ayam kampung. David yang membuat kandangnya.” Aku menoleh pada David. “Yak an?”


Arah wajah David sedikit menjauhiku. Tidak lama kemudian, ia menoleh ke belakang kepada barista. “Prepare aja buat pulang. Kayanya enggak bakalan ada pelanggan kalau hujan begini. Hari ini lo bisa pulang cepat.”


“Oke bos!”


Entah kode ingin mengusirku atau tidak, yang pasti Luna dan Alan pun memutuskan untuk pulang segera. Antusias mereka padaku berakhir dengan meminta nomor ponsel. Ya … terkadang teman itu bisa dapat dari mana-mana, meskipun mereka hanya kagum jika aku anak dari Bernarod. Aku tetap memberikannya, hitung-hitung bisa menjadi relasi bisnis suatu hari nanti.


Aku duduk sembari memerhatikan Mawa dan David menyusun bangku untuk bersiap pulang. Sementara itu, aku minum kopi sembari memantau perkembangan saham perusahaan yang aku miliki.


“Gue pulang duluan ya ….”


Suara Mawar membuatku menoleh ke belakang. Ia sedang memegang kedua tangan David.


“Lah, ga sama gue? Gue bawa mantel kok,” balas David.


“Gue pesen taxi online. Itu dia udah nunggu di luar. Kakak gue pulang dari Malaysia tiba-tiba. Sepertinya dia ngerencanain sesuatu.” Mawar tersenyum.


“Oke … hati-hati di jalan, udah malam. Happy birthday.”


Bibir mereka saling bersentuhan. Mataku menoleh ke arah yang lain seketika. Tidak cukup di sana mereka menyebar romantisme di hadapan wanita single sepertiku. Mawar memeluk kekasihnya dengan erat.


“Makasih banget buat hari ini. Dress merahnya gue suka. Lo tahu banget kesukaan gue. Gue pulang dulu.” Mata Mawar menatap David. Setelah ia melepaskan genggamannya, Mawar menghampiriku. “Dua hari lagi, malam hari, jangan lupa datang ke rumah gue. Lo dapat invitation spesial dari gue langsung. Gue ngerayain ulang tahun di sana.”


Tanganku mengepal untuk sebuah tos tinju. Mawar pun menyambut dengan segera.


“Oke … besok malam gue bungkus cowok buat dibawa ke sana. Happy Birthday, Mawar.”


“Thanks ….” Mawar tersenyum. “Lo bisa bawa Borneo. Di sana bakalan ada banyak cewek.”


“Borneo enggak tertarik dengan cowok kota, hehehe ….”


“Gue pulang dulu. Bye semuanya ….”


Mawar berlalu dengan dibantu ojek payung petugas parkir. Tinggallah aku, David, dan baristanya yang sedang istirahat di tepi café.


“Lo masih minum alkohol?”


“Di sini enggak ada alkohol,” balas David sembari mengelap meja barista.


“Woi,” panggilku kepada petugas parkir. Aku melemparkan kunci mobilku padanya. “Ambil minuman di botol kaca dalam mobil. Nanti gue traktir minum di sini.”


“Wah! Oke Kak!”


Remaja tersebut tiba dengan botol arak bali stok Kapal Leon. Ia pun dengan senang hati menunggu kopi gratisan dariku. Sementara itu, David sama sekali tidak berkutik ketika botol arak bali berdiri di atas meja barista. Terpaksa aku meminta dua gelas sloki kepada barista café. Berdenting gelas tersebut ketika tiba di hadapanku, lalu aku tuang segelas untuk David.


“Pulanglah … sudah malam,” ucap  David.


Mungkin untuk menghargaiku, David duduk di hadapan sembari menenggak se-sloki penuh arak bali. Matanya terpejam hebat oleh minuman dengan empat puluh persen kandungan alkohol.


“Sebenarnya lo ngapain ke sini?” tanya David. Ia menuangkan minum untuk dirinya sendiri.


“Entah … gue suntuk mungkin. Saban hari ngurusin kerjaan, gue ngerasa jadi robot.”


“Apa aja kesibukan lo?”


“Ngurusin café, terkadang gue diminta buat mantau beberapa cabang butik Reina, dan melihat perkembangan yayasan gue. Lo udah tahu gue punya yayasan pendidikan buat anak-anak dari keluarga tidak mampu?”


David mengangguk kecil. “Alfian jujur ke Mawar kalau yayasan itu punya elo, lalu Mawar ngasih tahu ke gue.”


Jelas sekali Mawar hanya berkilah. Sejak dulu, aku tidak ingin David tahu apa-apa keterlibatanku di yayasan tersebut. Hal itu juga melindungi Alfian dan Mawar yang sebenarnya tahu jika diriku akan pergi ketika dulu.


“Gue ngelihat banyak perubahan dari elo.” Aku memerhatikan David seksama. “Lihatlah … rambut panjang, baju keren, punya usaha, seseorang yang famous, dan tambah kurus. Lo nyabu? Tubuh lo cungkring banget”


“Gue penikmat yang organik,” balasnya singkat.


“Sayang sekali lo enggak di penjara. Gue berharap lo di penjara gara-gara ganja.”


“Gue tahu lo yang ngerencanain gue buat direhab. Kemungkinan besar Alfian cepunya. Gue makai sangat hati-hati. Sedangkan Alfian, enggak bakalan ngelakuin hal itu kecuali ada orang yang memerintahnya. Kalau gue ketangkep, seharusnya bandar gue udah ketangkep duluan. Tapi nyatanya, dia aman-aman aja waktu gue direhab. Tapi gue denger dia berhenti jadi bandar …. Supplier besarnya ketangkep, dia pun kabur.”


Ingin sekali aku tertawa di dalam hati. Benar adanya jika penangkapan David itu merupakan ulahku sendiri. Bahkan, berhentinya bandar tersebut pun berkat diriku pula. Sama sekali David tidak mengetahui.


“Ya itu ulah gue. Tapi … sampai sekarang lo enggak berhenti make.”


“Sebenarnya apa yang lo sembunyiin dari gue? Lo bersekongkol dengan Alfian, kan? Dia pasti tahu elo ke mana selama ini.” Ia memajukan wajahnya padaku. “Apa Mawar juga ikut di balik rencana kalian?”


Aku menggeleng. “Mawar enggak ada hubungannya dengan gue. Alfian gue pinta buat menurutsertakan Mawar di yayasan. Lo tahu sendiri kalau kami bertiga sejak dulu aktif mengajar di komunitas anak-anak jalanan itu.”


“Mawar itu manipulatif, gue tahu sifat dasarnya. Dia pasti ada hubungannya dengan elo. Tapi, gue enggak mempermasalahkan itu. Yang penting, Mawar tetap ada di sisi gue.”


“Mawar enggak ada hubungannya dengan gue. Lo enggak perlu curiga.” Aku diam sesaat untuk mencicipi minum. “Apa lo bahagia dengan Mawar?”


“Apa itu kebahagiaan?”


Dahku berkerut padanya. “Jangan bertanya balik dari sebuah pertanyaan.”


“Akhirnya lo sadar kalau orang banyak kesal dengan kebiasaan lo itu.”


Aku menghela napas. Fakta itu memang tidak bisa dihindari dariku.


“Lupakan …. Yang gue tanya, apa lo bahagia dengan Mawar?”


“Iya, gue bahagia. Mawar baik ke gue, dia setia, dan dia enggak menutupi apa pun.”


“Enggak ada orang yang selalu jujur. Ada banyak hal-hal privat yang enggak dibagi dengan orang lain.”


“Kalau lo cuma mau mengoreksi jawaban gue, lebih baik lo enggak usah bertanya,” balas David.


“Bagaimana kalau gue masih suka sama lo?”


David seketika tersedak ketika mencicipi araknya.


***


Maaf guys, baru bisa update. Ada segudang pekerjaan di real life yang harus dikerjakan. Aku pun baru bisa nulis malam ini hehe. Aku baru dapet kerjaan pertama setelah lulus kuliah. Sebagai orang yang non pengalaman, itu nyita waktu dan pikiran aku banget buat memahami semuanya. Ditambah lagi, aku orang pertama kali di kantor yang dapet pada posisi tersebut. Jadinya, aku ngeeskplor sendiri tanpa pembimbing yang berpengalaman di bidang itu. Doain ya biar aku bisa beradaptasi dengan baik.


Selamat membaca, semoga hari esok lebih baik lagi.