
Wajahnya seperti mangga yang baru jadi, asam kecut membentuk guratan dahi tatkala tatapannya padaku. Bersandar bahunya pada tiang bangunan untuk memerhatikanku dengan tatapan teduh. Entah apa yang ia pikirkan, David tersenyum sembari mengikat rambutnya yang tadi ia biarkan tergerai. Entah pukul berapa ia mandi, yang pasti wangi parfum keluarga tercium di hidungku.
“Apa itu rasa suka?” tanya David balik.
“Gue bercanda. Gue kira lo bakalan terkejut atau semacamnya.”
Ia mengangkat bahu. “Plislah … gue ga tertarik dengan kalimat lo itu. Tapi, gue serius … sekarang gue tanya ke elo, apa itu suka?”
“Suka? Hmmm … di saat ada orang yang membuat lo enggak pengen menghindar darinya.”
“Lo enggak pengen ngehindar dari Alfian, lo suka sama dia?”
“Ya ga gitu juga kali!” tekanku, “Maksud gue … hmmm lo tahu sendirilah. Masa tanya gue pula.”
Ujung pancingannya ia sudah pasti berfilosofi sebagaimana yang ia ajarkan kepadaku. Otaknya bagaikan secarik kertas putih kosong yang bisa dicoret sedemikian rupa dalam bentuk puisi dan sajak. Orang-orang akan terpana pada setiap katanya sebagai bekal untuk dikenang esok hari.
“Terkadang … kita harus pisahkan rasa suka, rasa kagum, rasa nafsu. Tokoh Psikologi juga menyamakan rasa suka itu dengan cinta. Jadi, cinta itu cuma satu, tergantung buat apa digunakan,” ucapnya.
“Cinta itu seksualitas … itulah yang gue pikirkan.”
Dengan lembut alkohol menyelinap ke kerongkonganku. Seketika hangat bersemat, hidungnya seakan lega oleh mampet hari dingin. Setengah tersenyum bibirku memandang David yang sedang merokok, lalu pria itu mendekat padaku.
“Lo kaya Freud, Sigmund Freud, tokoh Psikologi Austria pendiri Psikoanalitik. Kita dilahirkan dengan insting, yang paling berperan adalah seksualitas,” jelas David sembari memetik ujung rokoknta.
“Gue ga masalah dengan pendapat itu karena memang ada benarnya. Kita digerakkan oleh insting ****. Hal itu menandakan kalau kita masih manusia,” balasku.
“Tapi gue lebih setuju muridnya, yaitu Erich Fromm. Cinta banyak jenis, ada cinta erotis, cinta keibuan, cinta ketuhanan, dan lain-lain. Lo tinggal pilih cinta yang mana.”
Aku mengangguk paham. Sloki demi sloki alkohol membuat kepalaku semakin berat. Padahal, aku selalu menakar berapa gelas yang tengah diminum.
“Jadi, apa tujuannya kita bicara seperti ini.”
“Jangan pernah mengatakan cinta dengan begitu mudah. Hal itu bikin orang jadi naif.”
David pergi kemudian membersihkan lantai café tanpa jawaban lanjutan dari kalimatnya. Mungkin saja saja ia sedang menyindirku secara halus, atau hanya sekadar ingin pamer pengetahuan. David itu kalau soal kuliah memang bodoh, ia pasti mendengar semuanya dari Mawar yang sudah S2. Aku tidak yakin jika ia membaca buku kuliah sendirian.
“Rasanya gue pengen tidur di sini aja!” keluhku sembari menjatuhkan kepala di atas meja.
Entah berapa banyak aku minum kali ini. Sisa air pada botol hanya tinggal seperempat. Sebagian besarnya dihabiskan oleh diriku seorang. Aku lihat di sekeliling, David baru saja ingin mematikan lampu café. Hanya aku pelanggan yang masih bertahan, itu pun membawa minuman sendiri tanpa hidangan makan oleh tuan rumah.
“Rei … lo minum terlalu banyak.”
Entah apa yang aku pikirkan dengan menenggak lagi alkohol ke mulutku. David terpaksa memindahkanku ke kuris yang lebih rendah, lalu menepuk-nepuk pipikku.
“Lo harus pulang Reira,” ucap David.
Aku masih bisa mendengar ucapannya, tetapi tidak dengan wajahnya yang mulai berbayang. Sungguh, aku terlalu banyak minum malam ini. Kepalaku tidak sanggup terangkat, lalu aku tutup mata sembari membenamkan wajah di atas meja café. Tanpa aku sadari, aku terlelap lepas di dalam gema suara hujan deras.
Benar, aku tertidur. Kepalaku tidak lagi keras seperti meja, melainkan empuknya bantal kamar. Wangi sekitaran bukan kopi, tetapi sedikit lem kambing karena Borneo aku pinta untuk memperbaiki akuraium yang rentak. Aku sadar jika sekarang aku sedang berada di kamar sendiri, padahal tadi malam sedang berdua bersama David.
“Lo ini! Udah berapa kali gue bilang kalau minum itu jangan sampai mabuk. Gue ga mau lambung sama hati lo itu rusak!” Ia menunjukku dengan tegas. “Kalau mau pergi itu, bilang dulu. Jam dua pagi gue keliling buat nyari elo.”
“Bukannya Mawar tahu gue ada di café David?”
“Mawar mana pernah hidupkan hape waktu tidur! Dia orang paling peduli dengan perbedaan urusan pribadi, teman, dan kantor.” Ia memegangi keningnya sendiri. “Aduh Reira … lo ini kenapa sih?”
Tanpa menyewa dokter pribadi, aku sudah dapat dokter pribadi yang datang sendiri. Apa pun gejala yang aku miliki, tinggal beritahus aja dengan Alfian tanpa perlu membayar biaya klinik atau pun asuransi.
“Astaga!” Aku melihat ke kiri dan ke kanan. “Bagaimana gue bisa ada di rumah?! Gue baru aja ingat!”
“David ngantarin elo ke sini, terus Borneo ngabarin gue kalau elo udah aman ….”
Aku menoleh ke Borneo. “Mana kunci motor Abimana?”
“Itu tergantung di dekat pintu.”
Aku melihat jam tangan yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah terlalu pagi untuk sarapan, lebih baik dirapel hingga makan siang. Abimana pasti membutuhkan motor untuk beraktivitas. Pria sukses itu cuma punya satu motor untuk ke mana-mana.
“Lo mau ke mana lagi?” tanya Alfian.
“Jangan jadi kaya papa gue, Alfian.” Aku kembali menoleh ke belakang. “Gue mau ke rumah Abimana.”
“Siapa itu Abimana?” tanya Alfian. “Siapa dia itu Borneo?”
Kunci di gantungan sudah aku sentuh. Bergerincing bunyi mainan kunci yang melekat di sana.
“Dia calon pacar gue kayanya. Cowoknya ganteng, pinter, tinggi, pakai kacamata. Kalau gue lihat, dia kaya Afgan.” Alis mataku naik ke arah Alfian. “Lo ini kenapa sih koku dah kaya orangtua gue?!”
“Oke … oke … terserah. Pokoknya jangan hilang-hilang. Udah kaya bocil aja nih cewek, suka ngilang sendiri,” kesal Alfian padaku.
“Oke … Tuan Muda …..”
“JANGAN SEBUT GUE DENGAN ITU!!!”
Aku tertawa mendengar candaan tersebut. Alfian paling kesal apabila aku menyebutnya dengan sebutan Tuan Muda. Sebenarnya pelayan di rumah Alfian tidak menyebutnya seperti itu, aku saja yang memanggilnya dengan nama tersebut karena terinspirasi dari beberapa film yang aku tonton. Alhasil, asisten-asisten di rumah Alfian pun menyebutnya dengan panggilan yang sama.
Motor matic Abimana bergerak ke belakang rumahnya. Melihat sendalnya ada di pintu belakang, aku segera membuka pintu. Setahuku, hanya dia sendiri yang ada di rumah ini. Bahkan, karyawannya saja tidak berani masuk tanpa minta izin terlebih dahulu. Hanya akulah yang berani melakukan itu.
Alangkah terkejutnya aku melihat Abimana sedang memeluk seseorang. Abimana pun terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Ia melepas pelukan mesra tersebut sembari menutup wajah malu.
“Gue bisa jelaskan ini,” ucap Abimana dengan panik.
Bukan apa-apa, ia memeluk seorang pria.
***