Captain Reira

Captain Reira
EPSISODE 46 (S2)



EPSISODE 46 (S2)


Menurut cerita-cerita umum yang sering dibahas, keris bisa berdiri tegak berkat daya magis yang terkandung di dalamnya. Apakah itu benar atau tidak, maka aku hanya menjawab tidah tahu. Aku belum pernah melihat hal yang seperti itu sebelumnya dan bahkan inilah pengalaman melihat keris asli tepat di hadapan mataku. Setahuku, keris-keris yang seperti itu memiliki peliharaan khusus dengan ritual-ritual untuk menghormati barang pusaka. Namun, aku rasa Kakek Syarif yang notabene orang Melayu tidak mengenal hal-hal yang seperti itu.


Tangan Reira tampak bergetar tatkala menyentuhnya dengan perlahan, mulai dari pangkal hingga ke ujung. Mungkin saja terlalu berat atau ia memang sangat gugup memegang salah satu barang peninggalan kakeknya tersebut. Lalu, ia menyerahkannya kembali kepada Kakek Syarif.


Ia menatap mata Kakek Syarif. “Kapal kakek tenggelam bersama seluruh awak teman-teman Australia, beberapa orang Asia lainnya. Kami sudah menyurati KBRI di Australia, mereka bilang tidak ada berita mengenai mayat atau puing kapal. Memang, ada serpihan yang terlihat di daratan Australia, tapi itu belum cukup buat bilang itu adalah kapalnya Kakek.”


Kakek Syarif mengangkat alis. “Hmm ... kalau soal dia meningggal, kita semua udah rela. Cuma setiap malam aku berpikir tentang kalimat dia itu yang berhubungan dengan keris ini. Ah sudahlah ... bisa jadi keris ini berhantu jadi bisa tegak sendiri.”


Aku tersenyum mendengar kalimat Kakek Syarif yang terdengar lucu. Ia masukkan keris itu setelah terlebih dahulu dibalut dengan kain putih bersih. Kami beranjak kembali ke tempat duduk masing-masing. Namun, Kakek Syarif membawakan kami sesuatu, berupa sebuah kotak kayu yang lebarnya seperti ukuran laptop. Lalu, ia membersihkan permukaan kotak tersebut yang tebal akan debu. Setelah itu baru ia membukannya dan menunjukkan isi dalamnya pada kami.


Tampaklah mungkin saja dua puluh lebih cincin batu bermacam warna yang mengkilap dipancari oleh cahaya lampu minyak.


“Wow, ini cincin batu punya kakekku juga?” tanya Reira.


“Iya, benar ... ambillah satu ... atau kau mau ambil semuanya pun boleh.” Pandangannya menoleh padaku. “Kau boleh juga David. Si Kumbang dulu orangnya juga suka bagi-bagi batu cincin."


Reira tanpa ragu mengambil satu cincin paling besar batunya. Warnya batu tersebut berwarna hijau mulus dengan pengikat bermotifkan ukiran Cina. Beruntung sekali, ukuran jemari manisnya tepat untuk ditemani oleh sebuah cincin batu. Sementara itu, aku mengambil sebuah cincin batu yang paling terang di antara mereka, yaitu berwarna merah merekah, terletak paling kanan tengah.


“Batu apa ini namanya, Kakek?” Reira menghembus permukaan batu lalu menggosoknya dengan ujung kerah, persis seperti bapak-bapak yang sedang jongkok pada sebuah tempat pengosokan batu akik tepi jalan. “Kalau aku bilang, semua batu ini adalah batu akik.”


“Hahah ... memang semua ini batu akik, tapi ada jenis dan namanya. Kalau yang kau ambil itu namanya batu giok, saaaangat mahal .... kalau kau jual sekarang, mungkin puluhan juta. Sedangkan yang diambil David, itu batu delima merah. Kata orang jaman dahulu, batu delima merah itu diambil dari alam sana, punya hantu di dalamnya ... hahaha ....”


“Wah, jangan nakutin dong, Kakek ...,” candaku.


“Bagus, dong mahal. Ntar gue jual lagi.”


Dasar cucu durhaka! Aku mengutuk Reira yang sudah berniat untuk menjual batu ini kembali.


“Hey! Jangan dijual, dong .... Kakekmu jauh-jauh keliling-keliling nyari batu, eh cucunya malah minta dijual.”


Reira tertawa terkikik. “Hahaha ... aku beranda. Kakek kok bisa punya barang-barang unik seperti ini?”


Tangan kakek itu menyulut rokok lintingan di bibirnya. Terdapat sebatang lagi yang tersimpan di dalam kantong jaket hitamnya itu, lalu menyerahkannya padaku. Aku menyambutnya dengan kerendahan hati. Asap mengepul bersama-sama dengan wangi tembakau segar yang khas.


“Begini, para cucuku. Kau tak perlu sekolah tinggi buat keliling dunia. Yang penting adalah kemauan yang keras dan pengalaman. Tapi, kalau kau masih bisa sekolah ... ya sekolahlah. Dulu kami tak sekolah karena tak ada biaya. Ya ... kami melancong ke berbagai tempat dan dapatlah benda-benda itu.”


“Kakek sekolahnya sampai mana, sih?” tanya Reira.


“Kumbang lebih tua dariku, waktu itu dia udah kelas 2 Sekolah Rakyat buatan Belanda atau SD di jaman sekarang. Sementara aku baru masuk kelas 1. Baru setahun sekolah, Kumbang malah minta aku keluar dari sekolah. Ngapain sekolah, tapi hidup kita susah. Mending kami melaut mencari ikan bersama nelayan. Beranjak dewasa, kami udah berdagang ke Vietnam, Singapura, Malaka, nah dari sana kami banyak banyak dapat barang.”


“Berarti Kakek pandai bahasa asing, dong?” tanyaku.


Ia mengangguk. “Aku pandai dialek Mandarin, sedikit bahasa Vietnam. Sedangkan Kumbang bisa 4 bahasa, selain Bahasa Indonesia dan Melayu.”


“Apa?! 4 bahasa?!” Reira sontak terkejut.


“Orang dulu tak perlu sekolah buat pintar. Kami pintar gara-gara pengalaman Hahaha ....” Kakek Syarif menyandarkan tubuhknya.


“Jadi, apa aja bahasa yang kakekku kuasai?” tanya Reira kembali.


“Pertama Bahasa Arab, selama enam bulan penuh kami di Arab untuk ibadah haji dan berdagang, tanpa pesawat, cuma pakai kapal dari Aceh. Aku tak pandai, cuma Kumbang dan beberapa temanku yang lancar. Kedua Bahasa Mandarin, karena karena cinta pertama Kumbang adalah seorang gadis Tionghoa. Ia berusaha bergaul sama orang Tionghoa biar bisa nunjukin ke pujaan hatinya itu kalau dia bisa berbahasa yang sama. Ketiga Bahasa Inggris, tentu saja kakek kau itu pandai. Kan itu bahasa internasional. Kau tahu apa yang ke empat?”


“Apa?”


“Bahasa Prancis ... kau hampir mempunyai nenek seorang bule dari Prancis.”


Reira menggeleng. “Maksudnya, Kakek pernah mau nikah sama orang Prancis?”


“Entahlah, tapi mungkin saja. Nenek kau sudah meninggal semenjak melahirkan ibumu. Makanya, Kumbang duda hingga akhir hayatnya. Jadi, waktu dia masih punya wajah yang tampan dan tubuh yang kekar ... kami pergi berdagang ke Singapura, selain itu kami berlibur juga. Kumbang mendapatkan kenalan orang-orang Prancis yang ada proyek pembangunan di sana dan di sanalah ia belajar Bahasa Prancis. Nah, di sana pula seorang Kumbang kembali jatuh cinta kepada seorang janda bule. Hahahah ....”


“Wah, keren punya nenek bule.” Ia menyentuh kulitnya. “Tapi, nabraklah sama kulit gue yang keling ginian.”


“Hahah ... cinta kumbang tak bertahan lama. Ia ditolak mentah-mentah dan Kumbang pun menyerah. Ia juga bosan karena sebagai orang kampung tak pandai makan pakai pisau dan garpu. Kami orang Melayu pakai tangan ... hahaha ...”


Reira termenung sementara. “Jika Kakek benar-benar masih hidup, apakah ia akan kembali?”


Senyum Kakek Syarif melingkar pada sudut yang paling sempurna. Ia hembuskan asap tembakau memanjang ke udara, lalu kembali melihat Reira yang menyorot dalam padanya. Aku simpulkan ada harapan-harapan itu tengah terngiang dalam lembah batin penantian, namun aku tahu hal tersebut sangat mustahil untuk diwujudkan.


“Aku rasa tidak ... tapi entahlah ... jika ia masih hidup, sudah pasti ia akan terus berkelana. Hey ... dia itu Kumbang. Seekor kumbang tak pernah menetap di satu putik bunga, selalu berpindah-pindah sesuka yang ia mau. Kau, mamamu, dan kumbang itu bagai satu garis lurus yang sama. Kalian sama gilanya.”


“Akan aku buktikan jika aku lebih gila dari seekor kumbang yang bisa mengendarai kapal.” Reira berdiri seraya menunduk di hadapan Kakek Syarif. “Kami pamit dulu, udah waktunya untuk tidur.”


“Baik ... silahkan.”


Langkah pun berbalik menuju pintu yang terpajang ornamen seekor kumbang. Barulah aku sadari arti dari seekor kumbang yang melekat pada diri kakeknya Reira itu. Selain ia memiliki tato kumbang pada punggungnya sepulang berpetualang di daerah pedalaman Suku Sakai, kumbang ternyata memiliki filosofi arti dari kebebasan. Benar apa yang dikatakan dari Kakek Syarif itu, kumbang tidak akan pernah menetap pada satu putik bunga, selalu berpindah sesuka yang ia mau. Begitulah jati diri seorang Kakek Kumbang hingga ditelan oleh lautannya sendiri. Hal itu pula yang menurun hingga ke generasinya yang satu itu.


Seketika aku menarik tangan Reira untuk berhenti melangkah. Terdengar sebuah suara hentakan dari dalam lemari tempat penyimpanan keris. Aku putar kepalaku ke belakang untuk menatap Kakek Syarif yang sedang menyelipkan gagang gelas piala di antara kedua jemarinya. Ia pun tersenyum.


“Apa itu?” tanyaku pada Kakek Syarif.


“Kau masih tidak percaya kalau keris itu bisa berdiri?” Sebelah alis kakek itu naik dengan eskpresi santai.


Bulu kudukku berdiri setelah ia mengatakan kalimat menyeramkan itu. Reira mengernyitkan dahi dengan kedua bahu terangkat sedikit karena merasa ngeri. Segera mungkin aku tarik tangan Reira untuk pergi dari ruangan menyeramkan ini. Aku sudah tidak tahan dengan aura dingin yang dirasakan.


“Ini kapal hantu, Rei,” ucapku.


“Hahaha ....”


Anak itu hanya tertawa.


Hari esok pun tiba dengan cerahnya suasana pagi hari yang menyambut. Seperti biasa, kami akan membersihkan lantai kapal dengan bergotong royong. Rasaku disapu atau tidak, bentuknya pun sama saja. Tetap terlihat seperti kayu tua yang bernoda hitam. Hanya saja Kakek Syarif meminta kami untuk membersihkan kapal ini karena sejarah yang panjang itu. Ia tak ingin mengecewakan sahabat kecilnya yang pernah berjuang bersama-sama ketika muda.


Tidak ada yang spesial hari ini, kecuali makan siang yang lezat dari koki Mawar dan merokok bersama Kakek Syarif di meja kayu. Sesekali aku menemani Reira yang sedang mengemudikan kapal di ruang kemudi karena siang merupakan gilirannya untuk mengendalikan kapal. Razel yang semalaman di ruang kemudi, kini sudah terkulai lemas dalam kantuk di atas papan ranjang tanpa kapuk sedikit pun. Aku berani bertaruh, setelah bangun ia akan mengeluh sakit punggung kepadaku. Sewaktu itu juga begitu, apalagi Candra.


Barulah hal yang menarik kami dapati ketika garis-garis pulau Jawa menampakkan diri dari kejuahan. Siang lebih tiga jam menjadi titik akhir penantianku untuk melihat garis pulau Jawa dengan sempurna. Persis seperti sebuah buku tipis yang diletakkan di atas meja datar, lalu dilihat secara horizontal. Aku dan Reira begitu nyaman melihat pemandangan itu dari ruang kemudi. Aku pun diberikan kesempatan olehnya untuk mengendalikan kapal, walaupun hanya menggerak-gerakkan stir kapal seperti anak-anak yang bermain mobil-mobilan.


Giliran Sang Maestro yang menjadi pengemudi kali ini. Dermaga nelayan tempat kami berlabuh sebelumnya sudah mulai dekat. Kakek Syarif memegang stir kapal dengan masih menyelipkan rokok di sela bibirnya, lalu menggaruk-garuk punggung yang penuh bercak merah gatal-gatal. Ia hanya menggunakan singlet dan celana panjang kain di sini, tanpa peduli angin laut yang kuat ini bisa-bisa membuatnya masuk angin. Namun, lautan bukanlah hal baru baginya. Sudah berapa lautan yang pernah ia arungi ketika muda dulu.


Kapal bersandar perlahan di tepi dermaga dengan bantuan beberapa nelayan untuk menurunkan jangkar besar itu. Sebelumnya, katrol akan mengulur tali tambang jangkar hingga bisa dilepaskan menuju laut. Kami pun mengangkat jangkar itu perlahan menjatuhkannya seraya memutar katrol itu dengan pelan. Alhasil, kapal dengan stabil mengapung di tepi laut tanpa bergerak ke mana-mana.


Kami membawa seluruh bawaan kami menuju keluar kapal dengan melalui sebuah papan yang memfasilitasi kami hingga ke dermaga. Setelah memastikan semua tidak ada yang tertingal, kami teruskan langkah kami tepi pangkal dermaga. Tepat di sana, berdiri beberapa orang dewasa yang berpakaian rapi dengan rambut klimis. Tubuh mereka tegap berdiri menatap kami yang sedang ke sana. Tatkala Reira sampai di hadapan mereka, tangan wanita itu pun menunjuk wajah mereka satu per satu.


“Gue enggak minta dijemput,” ucap Reira seakan menantang.


Kami hanya terdiam melihatnya mengucap itu dengan beberapa orang tersebut.


“Bapak Arnold yang meminta kami, Nona,” balas salah satu dari mereka.


“Widih, panggilnya pakai nona-none, kaya di film-film ini gue .... Enggak usah pakai nona-none segala. Jijik gue dengarnya,” balas Reira.


Kakek Syarif menghela napas panjag, lalu melangkah ke belakang Reira seraya memegang kedua bahunya.


“Udah ... bawakan cucu aku ini ke rumah sakit langsung.” Tangannya bergerak seperti memijit pundak Reira. “Reira ... kau pergi dulu sama mereka. Bernardo udah bilang sama aku kalau kau harus dijemput langsung dan diantar langsung ke rumah sakit. Jangan nolak, ya ....”


Reira hanya diam seakan tidak rela dibawa oleh orang suruhan papanya tersebut. Sebegitu tidak sukanya Reira dengan papanya, bahkan hingga ia menolak untuk ikut dengan orang kepercayaan papanya tersebut.


“Baiklah ... ini bukan demi dia. Ini karena Mama dan kakek ini. Mana mobilnya?”


Setelah mengetahui mobil yang akan membawanya ke sana, Reira melangkah langsung menuju sebuah mobil sport mewah 4WD yang terparkir tak jauh dari sana.


“Ini mobil yang mana lagi, sih? Bukan mobil negara, kan?”


“Untuk itu kami tidak tahu ... Nona ... eh Dek Reira.“ Pria tersebut menghentikan langkah Reira dengan menyentuh gagang koper miliknya. “Biar kami yang bawain barangnya.”


Reira kembali menariknya kembali. “Ya Tuhan ... kaya enggak punya tangan aja gue ya dibawain segala. Enggak usah ... mau aja kalian disuruh-suruh papa gue itu. Ke sini dikasih duit, enggak?”


Mereka pun menggeleng bersama-sama.


“Nih duit ... beli rokok dulu buat kalian. Anggap aja uang bayaran gue ke kalian yang udah ngejemput.” Selembar uang pecahan lima puluh ribu Rupiah diberi paksa oleh Reira. Namun, tatkala uang itu sampai di tangan salah satu dari mereka, mereka pun tak kunjung bergerak. “Yaudah ... sana beli dulu! Kasian kalian ke sini jauh-jauh tapi enggak dapet apa-apa. Biar gue yang nyupir.”


Tangan Reira menadah meminta kunci mobil. Barulah salah satu mereka bergerak membeli rokok setelah memberikan Reira kunci mobil tersebut.


Tepat dalam posisi Reira sudah masuk di dalam mobil, ia buka sedikit kaca jendela hitam pekat tersebut. Ia tunjukkan ekspresi jenaka itu kepada kami karena sudah berhasil mengerjai orang suruhan papanya.


Kami pun tertawa bersama-sama tatkala ia melakukan hal itu. Mana ada majikan yang menyupiri supirnya sendiri, kecuali wanita berambut terikat dengan topi bergambar awalan huruf namanya.


“Dasar gila!” ucap Kakek Syarif sembari membuang puntung rokoknya ke bawah.


***