Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 34 (S3)



Ketika aku melihatnya dari kejauha, seakan ombak laut menghantam diriku. Sama seperti ketika aku dan David berkelana menggunakan kayak di laut yang kami curi dari inventori anak Mapala, tersirat semua kenangan-kenangan masa laluku. Kenangan itu berputar satu per satu, dari belai tangannya yang menyentuh kepalaku agar kelak aku jadi anak yang baik, meskipun aku sedikit melanggar hal tersebut. Senyumnya begitu mengandung misteri, abu-abu, dan bahkan gelap. Ia seakan memintaku untuk mendekat segera, sekaligus menganjurkanku untuk pergi. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan langkah ini selain diriku sendiri.


Teman-teman di belakang bergerak menyusulku yang mulai beranjak ke puncak. Pergerakan mereka tidak seharmoni sebelumnya, berantakan karena Borneo terlihat khawatir dengan aku yang terlalu cepat mendaki sehingga ia berusaha untuk duluan. Namun, tali penghubung masih tetap terpasang untuk menghentikan kecepatannya. Masih di sini aku meninggalkan langkahku satu per satu, lalu merangkak lagi tatkala tertatih. Berjejak debar hatiku meratapi orang yang baru saja menghilang di atas saja, apakah ia realita atau hanya imajiku sendiri, aku tidak tahu.


Entah berapa lama aku menguras fisik untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti, bisa jadi ia merupakan orang lain. Entah kenapa aku selalu bermain pada firasat saja tanpa pembuktian lebih lanjut, atau aku  sudah terlalu larut dalam permainan yang ia rancang. Tubuhku sudah basah oleh keringat. Debu pada wajahku membuatku tidak lagi bisa dikenali. Berkali-kali wajahku jatuh ke tanah berkerikil tatkala terperosot ke bawah.


Denting jam yang tidak aku dengari kini terlihat. Sudah sekitar dua puluh menit aku seperti orang gila yang mendaki sendirian dengan cara berlari. Aku tertunduk, lalu jatuh perlahan dalam kepasrahan. Egoisnya diri sudah memakan diriku sendiri. Aku lelah seakan ingin pulang saja. Namun, ujung titik puncak sudah di depan mata. Tidak ada cara tercepat untuk pulang, kecuali melompat ke bawah.


Tanpa aku duga, tangan seseorang menyentuh wajahku. Ia tampak berkeringat dengan wajah yang lemah.


“Kau enggak sendiri, ada kami.” Borneo memegangi lenganku agar aku berdiri. “Sini aku gendong.”


“Beratku empat puluh kilo. Kau bisa mati,” ucapku.


“Lebih berat mengangkut barang kapal daripada mengangkut kau, Reira.” Ia mulai berjongkok. “Cepat sebelum aku berubah pikiran.”


Aku melihat yang lain. Mereka tersenyum karena setuju dengan ide tersebut. Aku rasa tidak sanggup lagi berjalan setelah terlalu egois berlari dalam satu waktu pada trek pendakian. Lututku bergetar hebat karena sudah lemas. Beruntung Razel membantuku untuk bergerak hingga berada bergantung di belakang tubuh Borneo. Kami sekarang bergerak perlahan. Sementara aku menempelkan kepalaku pada pundak pria itu.


“Tulangmu berbunyi.” Aku mendengar gemeretak di pundak Borneo.


“Sebaiknya tutup mulutmu biar enggak berbunyi,” balasnya dengan sinis.


Setelah itu, aku diam untuk memejamkan mata. Punggung Borneo begitu nyaman untuk disandari. Ia diselimuti oleh otot empuk, bukan tulang yang berbalut kulit. Bagiku,


Tidak lama aku tertidur singkat di tubuh Borneo. Ia berhenti tatkal desah penatnya berbunyi. Aku membangunkan mata dengan tatap lemah menuntut langit agar lebih dekat lagi, sungguh berbayang pandanganku saat ini sehingga semuanya tidak jelas.


“Reira … jika kau pikir aku berbohong, aku melihat sesuatu dari sini ….” Borneo menunjuk ke salah arah. Jemarinya tertuju ke puncak tertinggi berupa gundukan batu yang di sana ada bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. “Bahkan aku bisa mencium minyak rambut tancho-nya dari sini.”


Aku berusaha memandang dengan jelas. Pria berkacamata hitam dengan kumis dan janggut tebal itu sedang duduk mengarah kepada kami.


“Itu Kakek Kumbang,” ucapku perlahan.


Razel mendahuluiku selangkah. “Jika benar dia Kakek Kumbang, usaha kita berhasil.”


“Akan aku hantam kepala kakek bodoh itu!”


Aku menggenggamkan tangan untuk berjalan ke arahnya. Meskipun dengan langkah yang tidak sempurna, aku secepat mungkin agar bisa sampai di sana. Seluruh rencana ini hingga setiap orang rela meninggalkan waktu pribadi mereka, hanyalah untuk mencari pria tua yang sedang meminum kopi di Puncak Gunung Kerinci. Aku yang seharusnya bisa berkumpul dengan teman-teman kampus untuk merayakan hari kelulusan kuliah, namun aku harus menanggung malu sebagai bagian dari seluruh rencana ini.


Ia menoleh padaku sembari membuka kacamata. Hidung mancung lurus sempurna dengan mata sipit yang sama sepertiku itu, kini aku lihat di hadapan mata. Ia tersenyum lembut tatkala aku mencabut rokok yang ada pada bibirnya.


“Kau Kakek Kumbang?” tanyaku untuk memastikan.


Aku menampar hingga wajahnya berbelok mengarah ke bendera. “Kakek Tarab menitipkan itu. Aku hampir mati sekali karena Kakek Tarab punya pistol.”


Tidak ada rasa kesal, seakan ia pantas untuk menerima.


“Akhirnya kau selamat juga, kan? Kau masih simpan emas itu?”


“Kakek bodoh! Malah bertanya emas di saat-saat seperti ini!” Aku memeluknya dengan erat seraya menangis. Air mataku begitu deras menyesap pada jaket tebalnya. Seakan dirinya dahulu, aku mencium wangi yang sama saat ini. “Aku rindu Kakek!”


“Kau cucu yang pemberani. Akhirnya, kau bisa sampai di sini hanya dengan melihat tanda-tanda. Kau lebih dari pelaut karena pelaut cuma sekadar melihat bintang, tapi kau melihat tanda-tanda yang lain buat sampai di sini.”


Tidak lama kemudian, pelukanku diapit oleh Razel yang turut menaruh rindu padanya. Ia bahkan menangis lebih keras dariku karena masa kecil kami diasuh oleh orang yang sama.  Kami diajarkan oleh senior yang tidak berbeda. Kakek Kumbang lebih lembut daripada Kakek Syarif, sehingga Razel lebih banyak mengadu kepadanya apabila butuh sesuatu.


“Kakek baru berjumpa dengan Syarif seminggu yang lalu ….”


Aku terdiam sesaat. “Bagaimana bisa?”


“Untuk memastikan kalau kalian baik-baik saja. Dia khawatir dengan kalian, terutama Razel.”


“Dia sering mengusirku dari rumah,” balas Razel.


“Itu karena kau nakal, anak bodoh!” Kepala Razel dipukul lembut oleh Kakek Kumbang. Lalu, ia melihat Borneo yang berdiri beberapa langkah di belakang kami. “Sini kau Borneo!”


Borneo mendekat. Wajahnya tampak takut dengan kakekku. Terakhir ia bertemu berakir dengan dicampakan tubuhnya ke laut..


“Kakek, kau membuang waktu hidupku selama dua tahun bersama orang yang membosankan,” ucap Borneo.


“Tarab itu sebenarnya orang baik, tapi dia cerewet. Tapi, kau berhasil membawa Reira kepadaku.” Kakek Borneo berdiri dari duduknya. Ia menunjuk Semara. “Nama kau siapa?”


“Eh … Semara Kakek ….,” balasnya dengan malu-malu.


“Sini ….” Kakek Kumbang mengangkat jemarinya. Ia mempunyai cincin batu yang sama seperti kami. Tentu saja sama karena dirinya yang telah membuat itu. “Kita punya cincin yang sama, berarti kau awak kapalku.”


“Dia awak kapalku, bukan awak kapal Kakek!” sanggahku.


“Ah … kau ini!”


Kami berempat dipeluk oleh Kakek Kumbang dengan penuh kasih sayang. Ia hangat seperti mentari yang bersinar di atas sana. Rindu pun sudah penuh, terisi seperti gayung dari pancuran air berisikan kenangan. Aku di sini melihatnya dengan nyata, bukanlah hantu.


***