Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 92 (S2)



EPISODE 92 (S2)


Masih segar di dalam ingatanku bagaimana aku berlari mengejar waktu kuliah dengan merapikan mading-mading yang tengah berantakan. Terdapat enam buah mading yang berada di fakultas, dua mading pada satu lantai dan fakultas kami terdiri dari tiga lantai. Setiap ada puisi yang baru jadi, aku pun selalu menempelkannya pada setiap mading,. Tidak hanya itu yang aku kerjakan, tetapi dengan sukarela merapikan mading-mading tersebut agar terlihat sedikit lebih indah dilihat.


Sifat sukarela yang aku tunjukkan ternyata mendapat perhatian dari ketua BEM saat itu. Aku diminta untuk bergabung ke organisasi politik yang berkedok mahasiswa tersebut. Ya ... begitulah kawan. Aku benci politik kampus yang jijik itu. Ia memintaku untuk bergabung dan mengetuai biro penyebaran informasi yang berguna untuk menaikkan eksistensi organisasi. Satu hal yang harus diingat olehnya, diriku independen, tidak bergerak atas perintah atasan dan aku benci hal tersebut. Ia ingin mempergunakanku untuk menaikkan organisasi yang ia bangun atas dasar politik mencari pengaruh. Sontak aku menolak.


Pernah pula aku menghujat dirinya tepat di sekre BEM dengan regulasi siapa saja yang ingin meletakkan sesuatu di mading, tentu harus melewati mekanisme dari BEM terlebih dahulu. Seluruh kertas yang tertempel di mading―kecuali resmi dari kampus―harus atas dasar izin dari pihak BEM. Hujatku berceceran kepadanya tatkala aku menemukan setumpuk kertas-kertas yang sudah dilepaskan, di sana terdapat secarik puisiku yang telah kerimuk di tong sampah.


Aku tidak peduli siapa yang ada di hadapan jika itu mengangkut harga diriku yang tertinggi. Aku juga tidak peduli meski ada orang yang aku cintai pada saat itu merupakan salah satu anggota inti dari organisasi tersebut. Seberapa tinggi pun harga dirinya di hadapan mereka, namun jatuh ketika aku angkat kerahnya menggunakan telapak tangan. Perkelahian pun tak bisa dihindari, terpaksa beberapa senior memisahkan aku dan dia, hingga masalah berakhir di meja bundar kantin yang beraromakan diriku. Untungnya satu, aku dekat dengan para militan kampus yang sering memprotes kebijakan BEM yang beberapa di antaranya tidak masuk akal.


Benar juga regulasi tersebut, namun tidak diiringi oleh kerapian mading-mading yang acap sekali membuatku kesal. Hal itu pula yang mengantarkanku mengepalkan tangan tepat di wajahnya yang tampan itu.


Sebenarnya yang ingin aku sampaikan ialah hal yang sederhana itu sangatlah berarti bagiku. Itulah yang membuatku sangat menghargai orang-orang yang membaca tulisan tak beratur, terkadang kususun tanpa tujuan. Sebagian besar hanyalah kerisauan hati yang tak bisa aku sampaikan melalui percakapan, melainkan aku alihkan dalam bentuk tulisan. Berterima kasih diriku kepada orang-orang yang membacanya tanpa melewatkan sebaris pun, menyesapi kata demi kata untuk dimaknai bersama.


“Makasih,” ucapku pada Mawar. “Gue senang masih ada yang membaca puisi gue.”


“Masih?” tanya Mawar. “Lo itu bukan hanya penulis, tetapi penyair. Lo melantunkan puisi lo di hadapan orang banyak dan orang takjub dengan itu. Lalu, lo berkata 'masih'?”


“Haha ... terkadang gue merasa puisi menarik bagi sebagian orang saja. Minat baca dan mendengar kata-kata sekarang sangatlah langka. Orang lebih memilih menonton film dan video prank yang enggak jelas. Hahah ....”


“Lo itu selalu merendah diri. Kenapa, sih? Gue kesal sama orang yang enggak mengakui potensi dirinya sendiri.”


Aku bawa mobil sedikit menepi di jalur lambat karena aku ingin membakar sebatang tembakau. Tanpa memegang setir, tembakau pun bisa aku bakar dengan sempurna.


“Bukan merendah diri, terkadang gue berpikir begitu. Begini saja, lo survey teman-teman lo yang suka tulisan sastra. Dari sepuluh orang hanya satu yang suka, gue rasa. Tapi, enggak tahu juga.”


Ia meninju lenganku. “Enggak ... gue masih merasa kalau kita masih butuh kata-kata dan semua orang suka dengan kata-kata. Terutama, ketika seseorang penyair berpuisi di atas panggung. Lo kira yang dengar cuma sepuluh orang? Bukan, dua puluh lebih mungkin ada dan bahkan seratus orang ketika ada di festival seni kampus.”


“Lo itu maksa muji gue, ya?” tanyaku.


“Paksa atau tidak dipaksa, pujian tetaplah pujian. Kecuali gue memuji lo untuk satire dan sarkas. Itu baru beda.” Ia menoleh ke depan. “Tambah kecepatan mobil, musiknya lagi enak.”


Musik pop rock dari flashdisk Reira kembali berbicara. Semangatku timbul seketika, kantuk pun pergi jauh-jauh, mata dimanjakan pemandangan hijau di kiri dan kanan.


Aku jarang sekali berperjalanan jauh sehingga aku tidak tahu bagaimana bentuk sebenarnya dari luar kota yang aku tempati. Sedari dulu juga begitu, semenjak kedua orangtua ada aku jarang diizinkan untuk pergi keluar kota bersama teman-teman. Ayah seorang yang khawatiran dengan anak bungsunya, tetapi Ibu hanya mengatakanku untuk meminta izin kepada Ayah. Tentu saja aku tidak akan mendapatkan izin. Hanya Rio dan Dika saja yang aku rasa sering jalan-jalan karena mereka memang sedikit bebas orangnya.


Gunung Salak semakin jelas aku lihat. Udara sangat sejuk sekali, aku semakin membuka jendela mobil agar bisa merasakan kesejukannya. Rokok cengkeh bertambah syahdu kurasakan, berbatang-batang aku habiskan semenjak di perjalanan. Suasana perkampungan mulai kental dengan bapak-bapak tua yang berjalan dengan sepeda otelnya ke ladang. Masyarakat berpakaian sederhana membuatku takjub, tak sedikit pun kata mewah yang melekat di tubuh mereka. Anak-anak yang belum sekolah berlari-lari mengejar teman di depan, memerhatikan mobilku yang lewat di jalanan kecil beraspal ini.


Medan yang kami lalui yaitu di tepi bukit, sehingga mendaki. Di bawah sana jurang dengan pohon-pohon tinggi, namun menyajikan hamparan sawah dan rumah-rumah beratap seng di seberangnya. Jalanan kecil ini mulus beraspal, kami tak kesulitan membawa mobil. Hingga sekitar dua puluh menit, kami sampai di sebuah villa yang cukup terlihat mewah. Aku tak hanya melihat satu villa saja, namun beberapa villa yang berdiri dengan jarak berjauhan.


Aku berhenti tepat di depan gerbang.


“Ini villa Bu Fany?” tanyaku.


Mawar melihat layar handphone-nya, lalu memberikannya padaku. “Peta mengarah ke sini dan ciri-ciri villa ini sama dengan yang dibilang Reira. Tingkat dua berwarna kuning, atap genting merah, dan lima buah pohon palem di atasnya.”


“Iya, nih. Kayanya memang ini.” Aku memberikan kembali handphone itu padanya. ”Tapi, bagaimana kita masuk?”


“Gue nelpon dulu. Reira bilang kalau sampai di sini, telpon ke nomor yang dia kasih. Itu kenalan Bu Fany sekaligus penjaga villa.”


Mawar keluar dari mobil. Ia melangkah ke depan dan bersandar di tepi kap mesin. Terlihat ia menempelkan handphone miliknya untuk menelpon seseorang. Tidak lama kemudian, terdengar suara lembut Mawar berbicara dengan seseorang,. Sekitar semenit kemudian, ia mematikan handphone dan menoleh padaku. Jempolnya ditunjukkan sebagai isyarat semuanya berjalan lancar.


“Tunggu bapaknya lagi menuju ke sini,” ucap Mawar dengan merapatkan tutupan pintu mobil. “Keluarlah dari mobil, di sini udaranya sejuk.”


“Oh, baik ....”


Hijau sekali apa yang aku lihat kali ini. Hamparan sawah dengan rumah-rumah kecil pemukiman penduduk desa menyejukkan hatiku yang tengah terpana. Kini laut dan lembayung langitnya berubah menjadi pemandangan Gunung Salak yang menyalak gagah mencakar langit. Di sekitar gunung tersebut diselubungi oleh awan-awan tipis yang ingin sekali aku gigit seperti permen kapas. Berkicaulah burung pada suatu pohon di luar sana, bernyanyi riang satu sama lain dan menggema hingga ke penjuru udara sekitarnya. Betapa indahnya ciptaan Tuhan yang sedang disajikan di depan mata.


Risau hati ada di kata jauh tatkala aku pandangi semua ini. Nyaman tersirat di dalam hatiku dan bersurat tatkala wajahku tak sengaja tersenyum kepada Mawar yang tengah duduk di atas ayunan seberang jalan. Lima meter ke depan sudah berupa pepohonan yang tak tahu kami berapa dalam dasarnya di bawah sana. Terdapat pohon jambu yang menanungi kami berdua dalam satu atap rimbun dan cabangnya dijadikan penggantung ayunan ban karet. Terdapat dua cabang yang saling berseberangan dari tonggak pohon utama, sehingga aku dan Mawar mendapatkan ayunan ban karetnya masing-masing.


“Jadi, subjek seperti apa yang bakalan kita temui?” tanyaku.


“Perempuan yang hamil di umur 17 tahun akibat pemerkosaan oleh temannya sendiri.”


Aku berhenti mengayunkan ayunan. Wajahku terpaku dengan Mawar yang mengatakan hal tersebut. “Apa?”


“Gue ingin melihat bagaimana ia bangkit dari keterpurukan tersebut, bisa dibilang resiliensi.”


“Tunggu dulu, lo meneliti orang yang sekarang kena musibah seperti itu?” tanyaku.


Ia menggeleng kemudian. “Anaknya sudah umur satu tahun. Ia dibawa pulang kampung dari Jakarta dan terpaksa menganggur sekolah untuk satu tahun.”


“Dari mana lo dapat subjek seperti ini? Langka banget, nih.”


“Haha … tentu saja dari Kakek gue. Siapa lagi kalau bukan dia?”


Terdengar suara knalpot motor dari belakang kami. Aku dan Mawar menoleh ke arah suara tersebut. Terlihatlah seorang bapak tua memakai topi jerami ladang sedang mengendarai motor tua. Ia melambai kepada kami berdua.


“Mawar?” tunjuk bapak itu kepada Mawar.


“Iya, Pak. Itu saya sendiri.”


Kami pun melangkah menghampirinya. Sebentar lagi kami akan menginap pada sebuah villa mewah.


Baru saja bapak tersebut dihampiri oleh kami, ia langsung memandang aneh.


“Kalian berdua akan menginap satu rumah?” Nadanya penasaran di akhir.


***