Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 20 (S2)



EPISODE 20 (S2)


Hmm ... begitu sempitnya dunia ini hingga aku bisa bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya, walaupun pada momen ketidaksengajaan bersama wanita berkacamata itu. Seakan dunia ini seperti sebuah papan yang melintang di ujung tombak, lalu setiap ujung yang singkat itulah pertemuan-pertemuan terjadi. Walaupun gelap dan awan menyelimuti, pertemuan akan terus dipertemukan. Aku rasa, itu pula yang memperjumpakan aku dan Mawar dalam satu tatap lurus ketidakpercayaan bahwasanya kami kembali berjumpa. Wanita cerdas dengan buku-buku bertumpuk itu, masih melihatku seakan kami ini tidak nyata.


Aku sudah bercerita sebelumnya mengenai mengenai hal yang bersifat kebetulan. Orang-orang empiris yang idealis selalu mengeraskan pikirannya jika tidak ada satu pun hal di dunia ini yang terjadi atas dasar kebetulan, bahkan sebagian dari mereka tidak percaya jika ada campur tangan kosmik yang bermain dalam penciptaan dunia. Selalu ada sebab akibat pada serangkaian fakta-fakta, hingga fakta itu pun berujung menjadi sebuah realita. Aku rasa aku telah membuktikan jika ada skenario tak bisa disentuh oleh tangan-tangan kotor kita ini, layaknya harapan Reira menemukan Minerva berwarna putih tadi malam. Garis pertemuan itu perlahan menyatu dan disatukan oleh yang tak tampak.


Entahlah ... singungan tangan Reira pada lenganku menjadi dasar ketidaksukaan Reira yang melihatku menatap Mawar sebegitu dalam. Baru kali ini ia sebegitunya melindungiku dari tatap mata seorang wanita, padahal Zainab yang elok lagi anggun itu bagiku tidak kalah menarik. Ia tidak ada menyinggungku tatkala aku kagum dengan kerja kerasnya. Aku rasa Reira telah menampakkan sisi kewanitaannya. Insting seorang wanita yang memiliki hak kepemilikan atas seorang kekasih kini muncul begitu saja. Ia tak lagi seperti alien betina yang datang kepadaku, namun seorang gadis yang tersipu cemburu walaupun ia masih menahan untuk tak terlalu terlihat mencolok.


“David ... kau ....” Ia menggeleng sesaat, menyadari dialek berbeda dengan yang pernah kami ucapkan. “Lo kok bisa di sini?”


“Gue dan Candra liburan ke sini bersama Reira.” Aku mengelus rambut Reira. “Kenalin ... ini pacar gue. Namanya Reira.”


Ada dua kali mata Reira bolak-balik menatap aku dan Mawar. Tangannya ragu menjulur untuk bersalaman. Namun, aku paksa tangannya untuk tetap memberikan salam perkenalan.


“Gue Reira ... senang berkenalan.” Matanya memicing. “Bagaimana kalian bisa saling kenal?”


Ibunya Mawar mengambil lap meja sehabis membersihkan selapis debu yang mungkin saja menempel di meja kami. “Anak Ibu kuliah di Jakarta, apa kalian satu jurusan?”


Mawar mengangguk. “Kami satu fakultas, Ma. Masih satu angkatan sama David.”


“Oh, ya?” tanya Ibunya. Wajahnya menoleh padaku. “Kamu temannya Mawar?”


Terlihat tangan ibunya mengapit lengan Mawar. Wajah Mawar menunjukkan ekspresi risih karena diperlakukan manja seperti itu.


“Benar, Bu. Kami masih satu angkatan. Jarang ketemu sih .... Tapi kalau udah satu fakultas, biasanya kenal.”


“Wah, ternyata Mawar punya teman.” Ia mengelus pundak Mawar. “Ibu kira dia hanya diam-diam saja di fakultas. Anaknya pendiam, di sini pun jarang bergaul.”


Aku pun tertawa di dalam hati. Pantas saja sambutannya tatkala di perustakaan itu terasa dingin. Anak itu ternyata memang dasarnya memiliki sifat yang pendiam. Bayangkan saja, tatap matanya kali ini pun terasa familiar dengan apa yang aku lihat untuk pertama kali.


“Iya ... Bu. Biasanya Mawar juga jarang nampak. Mungkin aja dia di perpustakaan atau semacamnya.”


Mawar melepaskan apitan tangan ibunya.


“Kalian mau makan apa?”


“Wah, segitunya?” tanyaku.


“Lo kira gratis?” balasnya.


Ibunya tersenyum. “Mawar ... jangan dingin begitu sama teman.”


“Makanan terbaik di sini,” jawab Reira.


“Sama.”


Anak itu meninggalkan kami dengan derap langkahnya yang tegas di lantai. Terdengar suaranya yang nyaring memarahi Ana karena sudah mengilang dan merepotkan orang yang terlah mencarinya ke mana-mana. Ibunya pun turut menenangkan Mawar jika Ana sudah dibawa pulang oleh kami. Kami turut berbangga hati karena sudah membawa pulang adik itu dan tak lagi membuat keluarganya cemas.


Aku ingin cepat-cepat memberitahukan berita ini kepada Candra. Ia pasti terkejut melihat orang yang pernah ia puji atas kepintaranya. Anak itu pernah satu kelompok di salah satu mata kuliah dan seluruh materi dimakan oleh Mawar sendiri. Pertanyaan menjebak oleh kawan satu kelas tak bisa ada yang membuat kelompoknya terbungkam. Mawar sudah hapal di luar kepala materi-materi itu dan membawa Candra mendapatkan nilai A atas keberhasilannya mempresentasikan hasil makalah kelompok. Aku rasa, anak itu perlu berterima kasih kepada Mawar sekarang juga. Namun, kali ini ia sudah pasti sedang berduaan bersama Zainab. Aku harap Pak Cik Milsa menyadari gelagat pria berambut keriting itu.


Debu yang bertebangan di jalan menandakan hari semakin terik. Peluh Reira menyucur di dahi walaupun ia sudah menghapusnya dengan sebuah serbet. Gaya memangku tangan menunggu makanan datang membuatku merasa kasihan. Anak itu pasti letih dan lapar saat ini. Berbeda denganku yang sudah biasa menunda makan bersama Dika yang malas sekali membeli, apalagi memasak makanan.


Aku menyentuh tangan satunya lagi.


“Rei, lo lelah? Lo enggak ada tidur yang cukup akhir-akhir ini.”


Ia menatapku tajam. “Ada yang lain dari tatapan lo tadi.”


Aku menghela napas. Perkiraanku lain, anak ini tak lagi menjadi seorang gadis, melainkan alien betina yang penyemburu.


“Rei, dia itu temen satu fakultas gue. Pantas aja kan gue kaget ngelihat mukanya ada di sini.”


“Enggak ... gue udah ketemu dengan banyak orang dan melihat gelagat setiap orang. Tatapan itu ada maksud.’


Sejak kapan anak ini menjadi ahli dalam menebak perilaku? Aku rasa ia tidak pernah membaca buku-buku psikologi yang aku punya.


“Reira ... enggak ada maksud apa pun. Lo sejak kapan protektif kaya gini, sih? Biasanya lo enggak begini. Lo lagi PMS?”


“Gue enggak pernah PMS!” tegasnya.


Sontak aku terkejut dengan kalimatnya. “Lo cowok, dong! Gila!”


“Iya, gue cowok. Enggak secantik cewek tadi.”


Pria siapa yang tidak luluh ketika seorang kekasih merendahkan diri seperti itu? Belahan hatiku tersentak mendengar kalimatnya yang menusuk inti kecemasan. Raut wajah yang seakan tidak ingin menatapku mencuat dalam suasana canggung ini. Aku berhenti sejenak mencari kata-kata. Bukankah selama ini aku penulis puisi yang bisa meluluhkan setiap hati yang membacanya? Namun, aku bingung menguntai kata untuk wanita satu ini.


“Lo itu wanita tercantik setelah Ibu gue. Jadi, berhenti bilang yang kaya gitu lagi,” ucapku dengan lembut.


Tidak ada respon dari Reira, kecuali gerak jemarinya menguntai ujung rambut. Wajahnya tetap saja cemberut mencemaskan hal yang seharusnya tidak ia cemaskan. Aku bukanlah pria yang seperti itu. Ia lantas harus tahu mengenai hal ini. Betapa dalamnya celah hati ini yang telah diisi oleh parau suaranya memanggil namaku untuk tetap bergerak. Sudah berapa kali kesal yang kupendam menjadi rindu-rindu tersendiri tatkla ia tak sedang berada di sisiku. Aku rasa, semua ini cukup untuk membuatnya mengerti. Namun, kali ini ia bersifat malah sebaliknya.


“Rei, lo kok jadi begini? Baru kali ini loh, sumpah!” Tanganku melepaskan sentuhan.


Ia menatapku. Tidak lama kemudian, ujung bibirnya menarik senyum rahasia.


“Bagaimana? Gue bisa kaya cewek-cewek cemburuan, kan? Hahahah ...”


Seluruh tubuhku lemas mendengar candaannya.


“Rei, ini tidak sebuah candaan. Lo jangan jadi begini,” balasku penuh tekanan.


“Nah, sekarang lo yang jadi protektif?” tanya Reira.


Aku menggeleng. “Lain kali jangan bersifat seperti itu.”


Tangan lembutnya menyentuh ujung telunjukku.


“Gue percaya sama lo, kok. Lo adalah keberuntungan gue dan keberuntungan enggak akan bisa salah orang.” Ia membuang mata. “Lagian, mana mau Mawar sama lo. Lo jelek begini!.”


“Reira!”


Bisa-bisanya ia mengejekku begini. Tapi, ada benarnya yang ia katakan. Aku tak setampan pria-pria yang sebanding untuk menjadi kekasihnya. Ataukah ia adalah keberuntunganku? Layaknya ia menyebutkan jika aku merupakan keberuntungannya.


Namun, aku rasa tidak. Cinta tidaklah dibangun atas keberuntungan, walaupun pertemuan kami didasari oleh ketidaksengajaan di malam itu. Keberuntungan ialah kata naif bagi cinta, ia murni sebuah takdir.


“Iya, deh.” Ia menunjuk dahinya. “Tapi, janji ... jangan pernah kepikiran yang seperti itu.”


“Harusnya lo yang gue gituin! Gue enggak khawatir lo bakalan bisa kelain hati. Lo yang harusnya khawatir.”


“Kenapa begitu?”


“Gue cantik, kan?” Ia menunjukkan wajah manjanya. Dua telunjuknya saling meyentuh tengah pipi.


“Lo itu!” kesalku padanya. “Lo harus khawatir juga kehilangan gue. Gue ini spesial.”


“Apa spesialnya seseorang yang setiap saat mau gue bodohi seperti ini?”


Pertanyaannya terdengar membungkam. Benar adanya, aku terlalu bodoh untuk ikut dalam semua hal-hal gila yang ia katakan. Terkadang aku tidak habis pikir kenapa aku bisa mengikuti alur tersebut. Bahkan, Candra lebih bodoh lagi dariku. Ia telah bodoh mengikuti orang yang sedang dibodohi oleh wanita yang berpura-pura gila.


“Itulah spesialnya gue. Lo enggak akan bisa nemuin pria yang seperti gue, yang mau ikut semua ini.”


Ia memejam mata sesaat. “Kalimat lo barusan manis sekali. Benar, lo spesial. Jangan pernah ninggalin gue.”


Aku tampakkan wajah sombongku kali ini. Wanita itu akhirnya mengiyakan perkataanku.


“Nah gitu, dong. Nurut sesekali sama gue!” balasku.


“Tapi, bohong! Hahaha ....”


Dahinya aku jentik dengan mesra, menimbulkan bunyi kecil yang hanya bisa kami dengar berdua. Tawa ikut bersemayam di antara kami, saling menertawai lelucon yang sedang kami geluti. Tak kami pedulikan orang di sekitar, lelucon hambar Candra aku dengar dari Reira. Sudah berkali-kali aku mendengar dari anak berambut kriwil itu. Namun, pembawaan Reira ternyata membuat lelucon itu menjadi lucu. Sekarang aku paham, memang Candra yang tak bisa berjenaka.


Aroma masakan timbul dari dapur. Aku tatap langkah seorang gadis Tionghoa manis itu membawakan piring makanan pada sebuah wadah lebar di atas tangannya. Raut wajah datar mecekam masih ia pertahankan semenjak kami saling mempertemukan diri, hingga saat ini. Tidak luput pula perhatian kami kepada Ana yang membawakan ceret dan cangkir-cangkir kecil. Langkahnya tampak lucu dan lugu, seakan getaran sedikit pun membuatnya terjungkang di lantai semen.


“Terima kasih, Ana.” Reira membelai rambut adik kecil itu.


“Sama-sama, Kak. Ini kopi sama cangkirnya,” balas Ana sebelum ia berbalik melangkah ke dapur.


Mawar bergabung bersama kami, tepat di sampingku. Entahlah ... mungkin saja ia belum terlalu mengenal Reira. Aku yang canggung di sini berkat kehadirannya, cemas jika Reira berpikiran yang tidak-tidak.


“Jadi, kalian kok bisa ke sini?” Mawar memulai percakapan.


“Kami berjualan pakaian anak-anak di pasar dekat dermaga. Sekalian liburan sebelum pernikahan Fasha. Lo kenal dia, kan?”


“Oh, anak perwira polisi itu. Siapa yang enggak kenal sama dia? Apalagi mau menikah dengan pria top fakultas.”


Sebuah tragedi yang tak bisa dihindari. Mawar mungkin masih mengira pernikahan itu sebahagia pasangan-pasangan yang menggelar resepsi di hari yang sama. Sekali lagi aku turut prihatin dengan berita itu. Sebagian kebahagiaan masa muda Fasha hilang, tak akan bisa lagi seperti semula. Jika memang pernikahan itu didasari oleh cinta, bukan anak yang sedang dikandungnya, tidak akan semua kebahagiaan akan terjadi seperti kami yang bebas berkelana di dunia. Ada banyak fokus yang akan ia perhatikan setelah berumah tangga.


“Jadi, lo di undang?” tanya Reira.


“Hmm ... begitu lah. Gue anggota BEM Fakultas, dia pastinya mengundang seluruh anggota organisasinya.”


“Hmm ... anak itu aktif sekali. Selain musisi, ia ternyata organisator juga,” balas Reira.


“Beda sama lo ... aktivis tanpa naungan. Bergerak sendiri di dalam demo, hingga masuk Polsek,” sindirku


“Gue ini independen. Tidak bisa diintervensi oleh pihak mana pun, bahkan rektor sialan itu sekali pun!” tekan Reira.


“Jadi, besok kalian akan tetap jualan?” Mawar menunjuk piring yang yang ada di hadapan kami. “Itu makanan minta dimakan. Nasi goreng kambing spesial Kedai Kopi Mawar. Kopinya juga diminum. Gue yang buat semuanya.”


“Terima kasih banyak. Lo cocok jadi pendamping Candra, pandainya banyak.”


Aku menepuk jidat. Anak itu selalu saja ceplas-ceplos seperti ini, seakan sudah mengenal lama Mawar yang terkenal tertutup. Aku yang sudah kenal lama dengannya, tidak terlalu mendalam menjalin percakapan.


Senyum kecil Mawar mencuat. “Anak kribo itu ada di sini?”


Aku mengangguk. “Ia sedang ada di rumah Zainab, anak kenalan kami yang merupakan pengusaha. Lumayanlah ... Pak Cik Milsa memberikan kami tempat tinggal sementara.”


“Zainab anak Pak Cik Milsa?” tanya Mawar.


Kepala Reira mendongak setelah menyendok nasi goreng kambing buatan Mawar. “Lo kenal sama Zainab? Gadis Melayu itu gue rasa jarang bergaul.”


“Kami pernah satu SMP. Selain itu, siapa yang enggak kenal dengan bapaknya di dermaga? Pak Cik Milsa terkadang ngopi di sini bersama kolega bisnisnya.” Mawar menunjuk ke sekitar. “Kalian lihat di sini ... itu para pembisnis lokal.”


“Oh ... begitu, ya? Bagus, dong. Kita bisa sama-sama liburan di sini.” Reira kembali menyendok makanannya. “Logat lo ibu kota banget? Enggak ada Chinesee-nya atau Melayu sedikit pun.”


“Oh itu ... gue cuma bisa sedikit dialek Chinesee. Bapak gue orang Melayu dan gue setelah SMP, merantau ke Jakarta di tempat kakak.”


“Oh, pantas saja lo lebih kedengaran logatnya seperti kami,” balasku.


“Ke Jakarta bersama kami. Naik kapal gue,” ajak Reira. “Lo ke pernikahan Fasha juga, kan?”


Mawar memandang aneh. Ia tidak orang pertama melakukan hal itu tatkala Reira mengatakan jika dirinya mempunyai sebuah kapal.


“Lo punya kapal?”


Mata Reira menatapku. Gelagatnya sok sombong terlihat. “Kasih tahu!”


Aku pun tertawa dibuatya. “Benar, itu kapal Reira sepeninggalan kakeknya.”


“Enggak ... gue bisa pergi sendiri.”


“Sayang sekali ... lo enggak punya jiwa petualang.”


Reira? Bisakah lo manahan kalimat lo dengan orang baru? Terkadang entahlah ... ia bisa menyela kalimat yang kami sampaikan padanya, namun aku rasa tidak dengan orang baru.


“Lo nantang gue?”


Reira mengangguk. “Naiklah ke kapal gue, kita adu pedang di sana seperti bajak laut.”


“Sejauh apa lo bisa bermain pedang? Gue pernah berlatih kendo.”


“Jiwa gue dilatih oleh alunan ombak dan kekarnya kaki gunung.”


Tatapan mereka terlihat beradu satu sama lain. Aku pun berusaha cepat menyudahi makanan ini dan cepat-cepat pulang sebelum Reira bersikap terlalu jauh.


***