Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 14 (S3)



Pagi pun tiba, Kakek Tarab sudah keluar dari kamar. Ia duduk seperti biasa di samping rumah sembari melihat hilir-mudik aktivitas kapal. Tanpa ia minta, Razel pergi beli lontong sayur, sementara aku menyeduh kopi untuknya. Tatkala aku menghampiri Kakek Tarab, ia aku lihat memang sedang tidak baik-baik saja.


“Kakek sakit?” tanyaku berpura-pura.


Ia mengambil napas dalam, terdengar bunyi seperti suara anak ayam dari pernapasannya. “Tadi subuh aku batuk-batuk. Sekarang napasku sesak.”


“Kakek abis ngapain?”


“Entahlah, aku enggak ada makan makan banyak kacang.”


“Kakek jangan merokok dulu ….” Aku menyingkirkan rokoknya, lalu mengganti kopi dengan air putih. “Kita ke dokter ya?”


“Ah enggak usah … ini udah biasa. Pasti karena dingin,” ucapnya.


Razel tiba dengan tiga bungkus lontong sayur. Kode mataku bertanda jika sedang bermain peran.


“Ada apa Kak?”


“Kakek Tarab sesak napas ….”


Tangan Razel meletakkan lontongnya di atas meja. “Kakek, kita ke dokter yaa? Kami udah mau pulang loh hari ini. Nanti malah kenapa-kenapa kalau kami enggak ada.”


“Enggak perlu,” jawabnya singkat.


“Kakek … kok engga perlu? Sesak napas itu bahaya lo. Nanti bisa kena PSPD, Penyempitan Salutan Pernapasan Dalam.”


Aku sejenak menjadi ahli kesehatan dengan teori yang aku buat sendiri. Entah istilah mana yang aku buat-buat. Padahal, tidak ada sejarah kedokteran dunia ini yang bilang PSPD. Mungkin ada, tapi dengan istilah yang lebih benar.


Ia tampak ragu, tetapi akhirnya kalah juga. Aku membantunya masuk ke kamar untuk mengganti baju.


Tatkala ia keluar, aku pun memintanya agar pergi bersama Razel menggunakan van. Ia bersikeras kalau van itu sudah rusak, tetapi aku jelaskan sudah bagus lagi karena aku perbaiki di bengkel. Ia malah menelpon Huda karena lebih percaya dengan pria itu.


“Kalian di sini saja. Biar Huda yang mengantarkan aku.”


“Loh Kakek, kenapa enggak Razel aja?”


“Jangan! Nanti ada orang⸺” Ia sempat diam sejenak tanpa melanjutkan kalimat. Tangannya menyerahkan pistol kepadaku. “Kalau ada orang yang memaksa masuk, kalian pakai ini. Terkadang banyak preman pelabuhan yang suka mencuri.”


Aku paham maksud itu. Namun, Kakek Tarab telah naif mempercayakan pistol itu padaku. Kami pun beruntung karena bisa membuka bilah kayu lantai itu bersama-sama. Kakek Tarab pun pergi bersama Huda yang sudah ia hubungi. Setelah memastikan mereka pergi, Borneo datang dengan vannya dengan membawa seluruh peralatan penghancur berupa kapak, linggis, gergaji, atau apa pun itu yang bisa berguna.


Seluruh pintu dikunci, jendela ditutup, rumah ini sudah seperti ditinggalkan pulang kampung. Borneo sempat-sempatnya sarapan dulu dengan gulai ayam tersebut sehingga aku marahi dengan ujung kapak. Aku memintanya untuk fokus kepada misi ini.


Kami bertiga melihat dua bilah papan yang akan diangkat.


“Biar kerja kita bersih dan enggak membolongi bagian tengan.” Aku menunjuk masing-masing ujung bilah kayu lantai. “Hancurkan dengan rapi setiap ujung kayunya. Kalau sudah hancur, bisa kita angkat dengan mudah. Kalau bolong di tengah, nanti takutnya Kakek Tarab malah kerepotan meskipun dia tahu emasnya dicuri oleh kita.”


“Brillian ….” Borneo mulai mengangkat meja dan kursi untuk disingkirkan.


“Mari bekerja!”


Rumah berbunyi seperti orang bertukang. Dua buah kapak masing-masing digunakan oleh mereka berdua di kiri dan kanan kayu. Aku sibuk memerhatikan pekerjaan mereka. Tidak butuh lama untuk menghancurkan setiap sisi karena kapak tersebut terbilang baru, lagi pula Razel dan Bornoe merupakan orang yang terbiasa bekerja berat.


Setiap sisi sudah hancur, bersama-samaan kami mengangkat bilah kayu lantai menjauh dari lubang. Kami bertiga terkejut melihat kotak kayu berada di area lubang persegi di sana. Dada seakan ingin pecah karena menebak isi di dalamnya.


“Buka Reira!” paksa Borneo.


“Cepetan, Kak!”


“Tunggu dulu … Tangan gue berkeringat ini!” Sungguh bergetar tanganku tatkala mengambil kotak kayu. Aku perhatikan warnanya yang sudah cokelat tua. “Waduh ini dikunci!”


Satu kali hentakan kapak yang pasti, Razel berhasil menghancurkan gembok tersebut. Tanpa dibuka, ternyata penutupnya terbuka sendiri. Terlihatlah kain putih yang membalut sebuah benda di dalamnya. Dengan perlahan aku membuka kain putih tersebut. Tampak emas batangan berkilau manja di hadapan kami. Aku mengangkatnya ke atas untuk kami pandangi. Benda lebih dari setengah milyar Rupiah berada di pelupuk mata. Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali terpana betapa indahnya benda tersebut, seperti ada sihir yang bekerja di dalamnya. Sudah dua nyawa dikorbankan hanya untuk mencari emas yang sedang aku pegang.


“Lalu bagaimana?” tanya Borneo dengan polos.


“RAZEL, CEPAT BERESKAN BARANG-BARANG KITA! AKU SIMPAN EMAS INI DI BRANGKAS!” Aku menoleh pada Borneo. “KAU LANGSUNG PERGI KE DERMAGA PEMBERHENTIAN SELANJUTNYA YANG AKU BILANG KEMARIN KARENA RAZEL AKU TURUNKAN DI SANA.”


“Tapi kita langsung kabur? Dan Razel bisa pergi sama aku sekalian?”


“Aku lupa sesuatu, kami harus salam perpisahan dulu. Kita memang jahat, tapi dia sudah tua. Aku kasian ….”


“Ternyata kau masih punya hati nurani ….”


“CEPAT!!!”


Kepanikan terjadi setelah itu. Borneo dan Razel pontang-panting membereskan barang-barang. Sementara aku berlari menuju kapal dengan pistol masih bertengger di dalam celah celana karena takut dirampok tiba-tiba, bayangkan saja kau bisa membeli empat mobil bagus dengan satu benda ini. Aku meletakkannya ke dalam brangkas tersembunyi, lalu balik dengan membawa tiga botol minuman alkohol yang diminta oleh Kakek Tarab. Seluruh barang sudah dibereskan, mereka berdua berlari membawa barang-barang tersebut ke dalam kapal. Sementara aku di dalam rumah membersihkan detail-detail lain yang mungkin tertinggal. Seluruh barang diangkut, Borneo langsung berangkat ke dermaga yang tidak jauh dari dermaga Teluk Ratai karena aku akan menurunkan Razel di sana.


Sekitar tiga puluh menit kemudian menunggu di tengah hening di antara kami, terdengar suara mobil Huda di luar rumah. Kami senam wajah dulu agar terlihat biasa-biasa saja. Tepian dermaga menjadi tempat paling dramatis untuk hari ini di tengah aksi kriminal yang kami lakukan. Aku memeluk Kakek Tarab dengan air mata yang dibuat-buat, padahal hatiku tertawa licik karena ia sudah kami kibuli. Razel menyalami Huda yang sudah berbaik hati melancarkan rencana kami tanpa ia ketahui.


“Kami pulang dulu Kakek. Jaga kesehatan, jaga pantangan makan biar enggak sakit lagi ….”


“Pulanglah cepat, orangtua kalian pasti khawatir karena sebulan di sini.”


Ingin tertawa di dalam hati rasanya, Bunda sudah meninggal. Beliau pasti juga tertawa melihat anaknya begini. Sementara Papa, aku benar-benar tidak peduli.


“Kembalilah ke sini lagi kalau hari libur. Juni pasti rindu sama kalian nanti,” sambung Huda.


“Iya, makasih banyak juga udah banyak bantuin kami.”


“Bye Kakek, lop yu ….” Aku memandang Razel. “Ayo pergi ….”


Baru dua langkah aku berbalik, Kakek Tarab memanggilku. “Reira … aku sebenarnya kurang mempercayai setiap orang yang berhubungan dengan Kumbang.”


Aku berbalik ketika Kakek Tarab menyebut nama kakekku. “Maksud Kakek?”


“Kau, Razel, Borneo, atau Kumbang yang kembali ke sini dulu, semua pasti ada maksud tertentu. Kau kira kotak itu bisa mudah dibuka dengan paksa jika aku tidak mengizinkannya? Kalian bisa mati sebelum melakukan itu jika aku mau.” Ia menyentuh pusarku dengan ujung tongkat kayu mahoni. “Ambillah … itu punya Kumbang. Bilang aku minta maaf atas orang kemarin. Itu memang salahku, tapi sebanding karena aku tidak melakukannya pada kalian.”


Aku dan Razel seakan diguncang oleh kalimat yang ia ucapkan. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu jika kami sudah membuka kotak itu. Semua rencana ini terasa lancar, tetapi aku tidak pernah mengira setiap akhirnya. Aku berniat untuk membohongi kakek bodoh itu, tetapi kami hanya mengikuti jalan yang sudah ia inginkan.


“Itu punya bapakku dan kakeknya Kak Reira. Itu masih hak milik mereka,” ucap Razel.


“Aku tahu, kau kira siapa yang menjemput dia di pedalaman Jambi dan membantunya membawa dua harimau? Itu aku ….”


“Sebelum aku benar-benar pergi. Bagaimana Kakek bisa tahu?” tanyaku penasaran.


“Jangan dibahas, kalian enggak akan paham. Jika kalian mau tahu, tanyakan pada Erasmus Kompeni. Dia itu memang sok-sokan jadi pendeta, tapi bikin sadar Kumbang untuk membuang semua yang ia pelajari selama ini.”


“Oh baik, aku paham. Terima kasih Kakek udah menjaga kami di sini. Kalau Kakek Kumbang ditemukan, aku sampaikan salamnya Kakek. Kami pergi dulu ….”


Aku dan Razel berlayar dengan kepala menunduk. Nyawa kami sebenarnya sudah di ujung tenggorokan selama ini. Ia sudah tahu mengenai rencana tersebut. Masa lalu di Teluk Ratai seakan sambung menyambung menjadi serangkaian cerita. Kakek Kumbang menjumpai Kakek Tarab untuk mencari emasnya. Tapi entah kenapa ia gagal dan malah mengirim orang lain, mungkin karena ia tidak ingin mati di tangan Kakek Tarab atau pun menghancurkan persahabatan di antara mereka. Aku kemudian mendapati surat yang memintaku ke Teluk Ratai, lalu bertemu dengan Borneo yang memberikan pesan jika Kakek Kumbang mencari sesuatu di sana.


Aku tertawa pelan, ternyata Kakek Kumbang terlalu ceroboh mengirimku ke sana. Namun, sebenarnya ia pun tahu jika dua orang penting⸺yaitu Aku dan Razel⸺akan membuat Kakek Tarab merelakan apa yang selama ini ia simpan.


Sekali lagi aku menatap langit, hidup ini indah jika di atas bahaya dan memaknai seluruh artinya. Lalu, aku pun bernyata siapa itu Erasmus Kompeni Si Pendeta itu? Kenapa terlalu banyak kakek-kakek di dalam hidupku?


***