
EPISODE 42 (S2)
Ketika Reira diam dan tak selalu bersuara di tengah suka cita yang sedang memengaruhi suasana ini, berarti ada hal yang tidak baik-baik saja. Aku sudah memerhatikan hal itu sejak lama, dimulai ketika kami berkenalan hingga tatap wajah datar Reira saat ini sembari menyendok nasi goreng buatan Mawar. Hanya Candra dan Razel yang sedikit meributkan nasi goreng siapa yang paling enak, apakah buatan Mawar atau buatan Candra. Candra tentu saja memilih nasi goreng pujangga hatinya itu, mana mungkin ia akan memuji yang lain. Sementara itu, Reira tak sedikit pun menimbrungi hal tersebut. Padahal, dirinyalah yang paling antusias apabila terjadi yang seperti ini.
Bagi mereka, senyuman Reira sudah menyimpulkan bahwanya ia sedang memerhatikan. Namun, pandangan perhatian wanita itu tidaklah berarti seperti itu bagiku. Sorot mata dan senyumnya mengartikan banyak hal. Apabila tanpa kata-kata, di sanalah harus dipertanyaakan sosok Reira yang sebenarnya. Ia tak lagi berada pada posisi yang selayaknya jati diri sebenarnya. Ada sesuatu yang harus aku pertanyakan dari wanita itu. Aku duga, ada hubungannya dengan malam tadi, ketika aku medapatinya sedang berdebat dengan papanya itu.
Ya ... setahuku hubungan ia dan papanya itu tidaklah terlalu baik. Selalu ada perseteruan harian yang terjadi apabila mereka bertemu. Reira lebih suka apabila orangtuanya itu dinas keluar kota atau sibuk menjalani rapat di paripurna, sehingga ia lebih leluasa menghabiskan hari tanpa perdebatan.
Walaupun hak asuh untuk Reira didapati oleh papanya, namun ia lebih memilih tinggal di rumah mamanya. Namun, mamanya sadar posisinya bukanlah sebagai orangtua asuh sehingga menyarankan untuk tinggal di rumah papanya hingga ia cukup dewasa untuk menghidupi kehidupan sendiri. Selain itu, seluruh biaya keperluan Reira yang menyediakan ialah papanya itu, sedangkan mamanya hanya memberikan uang tambahan jajan yang bahkan sering kali ditolak oleh Reira.
Aku kira ia akan kembali berenang di pagi hari, namun Reira meminta pulang kepada kami semua. Alasannya ialah kami semua butuh istirahat yang cukup berjualan esok harinya. Setelah berjemur sembari menikmati kepiting dan cumi goreng yang dijajakan oleh masyarakat sekitar, kami segera membereskan semua peralatan. Tenda-tenda digulung dan seluruh peralatan yang telah digunakan kini dibawa kembali ke mobil. Tidak lupa pula sampah-sampah dan arang bakaran kayu yang dibuang tempat pembuangan terdekat. Reira tidak mau kehadiran kelompoknya ini menjadi salah satu pengotor alam yang telah diciptakan oleh Tuhan.
Berangkat kami ke Manggar dengan menempuh durasi perjalanan yang sama. Begitu pula di mobil, Reira tidak berpetik sedikit pun. Ia duduk sembari mengenakan headset di telinganya, seakan tidak ingin mendengarkan lagu yang telah diputar dengan sukarela oleh Zainab. Malah, lebih aktif wanita pendiam anak pemilik warung kopi itu daripada Reira yang biasanya suka berjingkrak kegirangan.
Hanya satu ucapan Reira yang jelas aku dengar dan tertuju khusus padaku. Itu pun setelah kami sampai ke rumah Pak Cik Milsa.
“Antar Mawar pulang pake mobil. Gue enggak mau dia kepanasan dan bikin kulitnya gelap,” ucap Reira padaku dengan pelan tatkala kami menaikkan barang ke teras rumah Pak Cik Milsa.
“Lo kelihatan enggak baik-baik aja? Lo demam?” Aku menempelkan telungkup telapak tanganku pada dahinya, lalu beralih dengan membandingkan dengan suhu tubuhku.
Reira tersenyum. “Apaan sih? Udah antar Mawar sana. Baik-baik antarin dia.”
“Oke, istirahatlah yang cukup, pungkasku.” Aku memandang pada Mawar yang bergerak menuju mobil.
Entah kenapa anak itu sangat perhatian dengan Mawar. Seakan Mawar adalah adiknya kandungnya sendiri. Perhatiannya pada Mawar melebihi perhatiannya kepada Zainab, apalagi aku, Candra, dan Razel. Ia mana peduli apakah kami berpanas ria di luar sana, malah menyuruh kami untuk berjemur lebih lama lagi apabila itu terjadi. Namun, ia sangat menaruh rasa sayangnya pada Mawar. Berkali-kali ia tak ingin Mawar berpeluh-peluh di bawah teriknya panas hingga membuat kulit wanita itu keling seperti kulit yang dimiliki kami.
Sesampainya di depan rumah Mawar, aku turun sebentar karena Mawar memintaku untuk mampir sebentar dengan menawari secangkir kopi. Anak ini ternyata ingin meracuni diriku dengan kafein. Sudah dua cangkir hari ini, semenjak pagi tadi dan yang kali ini.
“Gayo atau Sidikalang?” Mawar menawariku dua jenis kopi di muka pintu. Sementara aku duduk pada sebuah kursi di teras.
“Sidikalang,” balasku singkat. Setelah itu, Mawar masuk ke dalam rumah.
Ia tiba sepuluh menit kemudian dengan membawakan secangkir kopiyang diseduh dengan menggunakan alat Vietnam Drip. Aku harus menunggu seluruh air seduhan menyucur ke cangkir. Sementara menunggu seluruh kopi menetes ke bawah, Mawar pamit kembali ke dalam untuk mengganti baju.
Tampak Mawar keluar dengan pakaian kaos rumahan dan celana pendek di atas lutut, hingga aku harus mengalihkan mata karena sebagian dari bening kakinya itu tertampak oleh mataku. Ya ... pria mana yang tak akan tertarik dengan hal-hal yang seperti itu. Diharuskan kesadaran diri untuk menjaga sikap seorang pria.
“Makan Bakpaonya,” ucap Mawar sembari meletakkan sepiring kecil bakpao hangat.
“Wah, ada bakpao nih. Mama yang buat?” tanyaku.
Mawar menaikkan alisnya dua kali. “Iya, mama suka buat bakpao. Selain buat dijual juga.”
“Khas Tionghoa banget, ya.” Aku menggigit bakpao yang sebesar telapak tanganku itu. Terasa suiran ayam yang gurih di dalamnya. “Ngomong-ngomong, lo punya nama Tionghoa?”
“Artinya apaan, tuh?” tanyaku tanpa menoleh. Aku terfokus kepada pengunjung yang datang ke kedai kopinya di depan itu.
“Bagus dan indah,” balasnya.
“Selaras dengan nama lo, Mawar. Tapi, Mawar sedikit berduri. Hahahah,” candaku.
Ia turut menggapai bakpao di piring, lalu menyuapnya dengan gigitan kecil. “Hmm ... begitulah. Karena Papa orang Melayu dan Mama memang sedari kecil sudah Muslim, gue dikasih nama Mawar Al-Zahra, mawar yang cemerlang. Selaras, kan?”
Aku mengangguk. “Iya ... selaras. Cocok buat lo.”
Kami diam sesaat, hingga Mawar kembali membuka percakapan. “Reira sepertinya sedang tidak baik-baik saja.”
Aku berhenti mengunyah, lalu aku seruput kopi tersebut. Masih belum aku jawab, malah menarik sebuah asbak untuk membakar tembakau. Aku mengkode Mawar untuk meminta izin menyalakan tembakau, lalu ia mempersilahkan dengan menggeser asbak tersebut mendekat padaku.
“Hmm ... lo menyadarinya juga?”
“Iya ... gue merasakan ada hal yang janggal dari Reira. Memang, gue baru kenal sama dia. Tapi, gue selalu perhatiin bagaimana pola perilaku orang lain. Reira enggak seperti biasanya.”
“Gue curiga lo mengobservasi setiap orang yang lo kenal, termasuk gue, kan?” tanya dengan memicingkan mata.
“Kepekaaan itu penting, bukan buat mencurigai orang lain.”
Aku menghembuskan asap rokok ke samping agar tak mengenai Mawar. Kebetulan sekali angin berhembus tak mengarah kepada wanita itu. “Gue juga kepikiran kaya gitu, sih. Reira enggak kaya biasanya. Gue udah hapal banget bagaimana Reira. Tadi, dia enggak lagi kaya Reira yang sebenarnya.”
“Lo harus tanyain dia kenapa. Cuma lo yang bisa ngelakuin itu,” saran Mawar.
“Iya, nanti deh gue tanyain di kenapa. Gue tadi juga heran kenapa Reira tiba-tiba ngajakin balik. Padahal, gue bisa bertaruh sama Candra kalau anak itu pasti kembali berenang di pantai.”
Mawar menarik napas dalam mendengar hal itu. “Iya, gue juga berpikir kaya gitu tadi. Gue kira hari ini bakalan jadi hari yang panjang di pantai. Tiba-tiba aja Reira kaya berubah mood-nya. Ada sesuatu yang lagi terjadi sama dia.”
“Semoga aja bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.”
“Semoga aja. Oh, iya ....” Mawar berdiri seketika dan berlari masuk menuju rumah. Tatkala ia kembali, didapati ia membawakan sebuah wadah kotak plastik yang berisikan beberapa bakpao hangat. “Kasih ini sama mereka. Jangan biarin Candra makan dua, ya. Hahaha.”
Aku meraihnya. “Iya ... gue pastikan Reira memakannya paling pertama.”
Setelah itu aku berpamit padanya untuk kembali ke rumah Pak Cik Milsa. Sebaris lekuk bibirnya menuntunku untuk kembali menghampiri wanita itu, ketika bakpao titipannya sempat tertinggal di atas meja.
***