
EPISODE 102 (S2)
Wajah Pak Dadang berubah tatkala aku tanyakan hal itu. Ia sejenak tidak menjawab, kecuali membersihkan bibirnya dari serpihan tembakau serta menghisap kembali lintingan itu beberapa kali. Tidak lama kemudian, Pak Dadang berdiri untuk mengambil termos di atas ranjang kayu. Terdapat pula gelas yang terlungkup di sampingnya. Gelas plastik itu ia letakkan di hadapan kami dan menuangkan sesuatu ke dalamnya. Tercium wangi harum jahe dan uap kehangatan yang bisa aku rasakan dari sini.
“Di minum dulu,” ucapnya sembari menyodorkan jatahku. “Baru kita bicara.”
Aku pun mengiyakan untuk mempercepat tercapainya seutas jawaban.
Tenggorokanku hangat oleh wedang jahe yang disajikan oleh Pak Dadang. Berterima kasih aku padanya karena merokok tanpa minum sangatlah tidak enak, pahit di bibir kalau banyak-banyak. Rasanya pun nikmat, sedikit manis dari gula merah. Pak Dadang sampai mendesah untuk mengekspresikan nikmatnya dari air yang ia minum.
“Jadi, mengenai yang tadi―” Pak Dadang memotong kalimatku.
“Sebelum saya jawab, kamu kenapa penasaran dengan itu.”
Aku bingung menjelaskannya dari mana. Ada banyak peristiwa yang mendahului rasa penasaran Reira mengenai keberadaan kakeknya itu. Aku ragu jika Pak Dadang bisa mengerti mengenai keris berdiri itu, atau keyakinan Kakek Syarif yang sama-sama percaya bahwasanya kakek legendaris itu masih ada di atas dunia ini.
“Aduh, saya bingung ceritanya dari mana.” Aku mengernyitkan dahi. “Pokoknya, ada keyakinan dari Reira dan Kakek Syarif kalau Kakek Kumbang itu masih ada.”
“Masih ada?” tanya Pak Dadang. “Tadi, kamu bicara tentang masalah antara Kakek Kumbang.”
“Itu ... aduh entahlah, Pak. Saya takut kalau Bapak sendiri enggak percaya dengan apa yang saya bilang.” Aku menghisap rokokku. “Ada sebuah keris peninggalan Kakek Kumbang. Sahabatnya, Kakek Syarif berkata bahwasanya ada pesan dari sahabatnya itu kalau keris itu masih bisa berdiri, maka beliau masih hidup.”
“Jadi, keris itu bisa berdiri?” Ia menggeleng tak percaya. “Itu mah syirik!”
“Mau nolak pun itu memang benar-benar terjadi, Pak. Kakek Syarif pernah melihatnya sendiri. Dan kemarin Reira ngebawa keris itu ke kamarnya buat ngebuktiin sendri. Dan itulah yang terjadi.”
“Jadi, apa hubungannya dengan pertanyaan kamu tadi?” tanya Pak Syarif.
Aku menghela napas sesaat. “Reira yakin kalau Kakek Kumbang masih hidup dan suatu saat bakalan nyari kakek bodohnya itu. Usut punya usut, ternyata hubungan Kakek Kumbang sama Pak Bernardo ternyata enggak baik. Mereka pernah berkelahi dan Reira curiga Kakek menghilang karena itu.”
Kami hanya saling bertatap dalam satu titik, yaitu asbak rokok yang bertumpuk puntung-puntung. Pak Dadang kembali menuangkan minuman untukku. Setelah itu ia menghisap tembakau lintingannya itu panjang-panjang. Mengebul asap di tengah-tengah kami.
“Saya percaya,” ucapnya singkat.
“Tentang yang mana?”
“Keris atau hal mistis yang ada sama Pak Kumbang. Saya melihat sendiri Pak Kumbang menghancukan gembok besi hanya dengan dua jemarinya.”
Satu hal lagi aku dengar hal aneh tentang kakek mistis itu, yaitu bisa menghancurkan gembok besi dengan tidak masuk akal.
“Kalau boleh tahu, itu karena apa?”
“Pak Bernardo pernah melarang Pak Kumbang masuk ke rumah. Saya disuruh mengunci gerbang dengan rantai dan gembok, termasuk seluruh pintu-pintu rumah. Entah kenapa Pak Bernardo takut sekali dengan mertuanya itu. Ia nyuruh saya seperti orang ketakutan. Dan ....” Ia menghembuskan asap tembakaunya ke hadapanku. “Kami sama-sama di rumah saat itu. Reira dan Reina sedang pergi bersama Bu Fany. Pembantu sedang tidak ada di rumah karena diminta oleh Kakek Kumbang untuk keluar dari rumah selama seminggu. Di sanalah anehnya, saya lihat Pak Kumbang udah duduk di ruang tamu sambil membawa gembok dan rantai yang udah saya pasang sebelumnya.”
Aku merinding mendengar hal itu.
“Lalu, kenapa Pak Bernardo bisa setakut itu?” tanyaku.
“Saya enggak tahu. Dia mengunci diri di kamar dan menyuruh saya berjaga di depan pintu kamar. Saya ke bawah waktu dengar pintu utama rumah dibuka oleh seseorang. Pak Kumbang hanya berpesan kalau saya harus ngejaga Fany dan cucu-cucunya karena ia akan pergi berlayar untuk mengantar barang.”
“Bapak sebenarnya tahu kan kenapa Pak Bernardo setakut itu.”
Ia tersenyum pelan. “Saya tahu. Pak Bernardo itu pria buruk. Suka main wanita. Saya kasihan melihat anak istrinya. Berkali-kali saya mengantar beliau ke hotel atau diskotik, melihat beliau duduk dengan wanita di diskotik, minum-minum, atau menyuruh saya membeli alat kontrasepsi. Bahkan, saya pun ditawari wanita sebagai penutup mulut, saya aja yang masih kuat iman. Dan Pak Kumbang pernah mengancam saya setelah itu.”
“Dia ngancam bagaimana?” tanyaku kembali. Cerita ini semakin dalam dan semakin menarik untuk aku ikuti.
“Beliau tahu apa yang semua dikerjakan oleh Pak Bernardo dan menyuruh saya merahasiakannya dari Bu Fany karena Bu Fany sangat mencintai suaminya. Jika urusan itu bocor, saya bisa hilang dalam satu malam. Saya tahu maksud Pak Kumbang itu karena dia sayang banget sama anak dan cucunya. Urusan kesadaran Pak Bernardo, beliau minta jangan diurusi, itu urusannya.”
Malam semakin naik di suasana perbukitan ini. Eksistensi malam terasa kental, apalagi sedikit berjarak dengan pemukiman. Dingin menusuk kulitku, mengiris urat nadiku untuk membeku. Sedari tadi aku terus saja memasukkan tangan ke dalam kantong hoodie, sementara tangan yang lain masih hangat dengan bara api dari tembakauku. Bergelas-gelas wedang jahe kami tuangkan, lalu diseruput perlahan menunggu waktu malam yang syahdu ini. Tidak ada yang kami lakukan, kecuali menambah puntung rokok di dalam aspa yang seiring dengan perbincangan.
Aku mendapatkan informasi ini. Benar adanya gesekan antara Pak Kumbang dan menantunya itu. Tidak salah kudengar dari Reira bahwsanya mereka bergesekan satu sama lain. Kakek Kumbang tegas dengan idealisme untuk membahagiakan anaknya, Bu Fany, meskipun tetap mempertahankan menantu yang tidak tahu diri. Aku rasa Kakek Kumbang tidak terlalu khawatir dengan Bu Fany karena Pak Bernardo tidak sama sekali berselingkuh terang-terangan, atau pun melakukan hal kasar terhadap keluarganya. Ia tetap menyayangi keluarga seperti sebelu-sebelumnya.
Tanganku menyampakkan puntung rokok terakhirku untuk segera masuk ke dalam rumah. Kantuk sisa-sisa sehabis menulis tadi ternyata masih bertahan, aku saja yang menahan kantuk di mataku. Berhilir senyumku kepada Pak Dadang untuk berpamitan.
“Oh, iya ... kamu ingat saya cerita yang tiba-tiba Pak Kumbang bisa masuk ke dalam ruma? Walaupun seluruh jalan masuk sudah saya gembok?”
Aku kembali duduk, tak jadi pulang karena ditanya mengenai hal itu. “Masih, Pak. Kenapa?”
“Itulah hari terakhir saya bertemu dengan Pak Kumbang. Saya mendengar kabar kapalnya karam waktu ke perjalanan ke Australia.” Ia menghembuskan asap rokoknya ke atas. “Jadi begini, enggak ada satu pun orang yang tahu kalau kapalnya itu karam atau hilang, karena enggak ada saksi yang melihat. Semua ini hanya teori penyidikan. Satu yang saya bilang, masih ada kesempatan Pak Kumbang masih hidup, ataukah itu selamat dari kecelakaan jika itu benar, atau melarikan diri.”
“Melarikan diri?” tanyaku.
Ia mengangkat bahunya. “Saya enggak tahu, cuma mengira. Saya cuma percaya jika Pak Kumbang menghilang di lautan. Apakah itu kecelakaan atau hal lain, kita enggak pernah tahu sampai sekarang. Semua itu hanya teori.”
Aku diam menatap mata merah bapak tua itu. Sejenak aku berpikir ternyata ada benarnya. Semua ini hanya teori bagaimana proses rombongan kapal Pak Kumbang hilang di perjalanan. Tidak ada yang tahu bagaimana akhir dari kapal itu sendiri, bahkan puing dan jasad pun tidak. Aku sempat mengira ada hal metafisik yang telah terjadi karena dimensi-dimensi itu sangatlah dekat dengan Kakek Kumbang sendiri. Atau jika lebih memilih logika, Kakek Kumbang telah mengasingkan diri. Semua itu hanya teori, seperti yang dikatakan Pak Dadang. Tidak ada satu pun yang mengetahui kejadian sebenarnya, kecuali kakek pemilih tato kumbang itu sendiri.
Masalah ini makin kian rumit untuk aku pikirkan. Aku ingin tahu sebanyak mungkin mengenai Kakek Kumbang, tetapi tidak ada satu pun yang tahu apa yang terjadi sebelum ia berangkat. Pak Dadang berkata bahwasanya Kakek Kumbang hanya meminta izin pergi mengantar barang, seperti pekerjaan yang sudah bertahun-tahun ia kerjakan. Kakek itu penuh dengan misteri, termasuk cucunya yang sulit bagiku untuk dimengerti. Pikiran mereka penuh dengan cabang, pilihan, jalana, sehingga sulit untuk aku tebak ujungnya di mana.
Aku bawa tidur tubuhku di atas sofa ruang tengah. Tepat di detik mataku ingin terpejam, Reira malah menelpon untuk mengabari keadaan cafe yang terkini. Aku senang jika cafe dalam keadaan ramai, walaupun di tengah malam seperti ini. Aku yakin mahasiswa tidak pakai tidur untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Hal yang membuat aku terkejut ialah tampilnya band indie yang sedang naik daun di situs menonton video. Ternyata, Reira mengenai salah satu personil mereka dan meminta untuk main-main ke cafe milikku.
Barulah aku bisa tidur setelah Reira mematikan sambungan telepon. Mimpiku berjalan dengan mulus, membayangkan Gunung Salak terbuat dari kapas yang lembut. Tidak lupa pula bulan berbahan keju seperti yang dikatakan oleh Reira.
Terhentak mataku di pagi hari yang terang. Bunyi alarm yang aku set di subuh hari setelah sembahyang, akhirnya menjauhiku dari bangun kesiangan. Kaca lebar tersebut terang oleh cahaya yang masuk, namun embun-embun pegunungan tampak tipis di udara. Basah dinding kaca yang langsung memperlihatkan kegagahan Gunung Salak tersebut.
“Sarapan udah ada di dapur.” Mawar menunjuk dapur tiba-tiba. Ia sama sekali belum terlelap. Ia masih terjaga dengan mata tertutup dan rengkuh tidur yang nyaman.
“Gue kira lo tidur,” balasku.
“Subuh hari setelah lo tidur lagi, gue pindah ke sini. Gue enggak tahan denger dengkuran lo, akhirnya gue buat sarapan.” Ia mengibaskan tangannya seakan mengusirku.
“Sana sarapan. Gue rasa pagi ini enggak ada jadwal karena wawancara udah gue jadwalin di sore hari.”
“Makasih banyak, ya.”
“Berterima kasih dengan membuatkan gue kopi. Ada seperangkat alat kopi di dapur,” balasnya masih dengan mata tertutup.
Sarapan berupa mie instan dengan berbagai toping menghisa mataku di atas meja makan. Ia tahu sekali apa yang aku suka. Tiada yang lebih nikmat daripada sarapan dengan mie instan faforit. Mie di piring besar pertanda bahwasanya belum ada seorang pun yang menyentuhnya. Keadaanya pun masih panas seperti baru di masak. Tanpa menunggu membersihkan gigi―aku masa bodoh dengan itu―aku menyalinkan ke piring yang lebih kecil, begitu pula untuk Mawar yang sudah berusaha membuat sarapan untukku.
Kopi aku seduh dengan V60 yang ternyata ada tersedia di sini. Kopi yang aku gunakan ialah kopi gilingan yang telah dibawa Mawar dari rumah sebelumnya. Seduhanku yang masih terkesan belajar, aku harap pas di lidah wanita itu. Tentu saja Mawar tahu racikan yang pas atau tidak.
Aku bawa sarapan kami ini dengan sebuah nampan. Terlihat Mawar tengah duduk memanjangkan kaki di teras, tepat di luar dinding kaca tersebut. Terdapat sebuah pintu yang sama beningnya, hingga bisa tertabrak jika mata tidak aman. Aku membuka pintu tersebut, lalu duduk di samping Mawar yang memejam mata menikmati cahaya mentari.
“Ini sarapan untuk lo. Ini kopinya juga.” Aku mendekatkan piring mie instan, cangkir kecil, serta teko kaca seduhan kopi.
“Makasih banyak.” Ia menyambut piring dariku.
“Sorry, air minumnya gue lupa bawa. Gue balik―” Aku tak sempat berdiri kembali, Mawar lebih dulu menahan pundakku.
“Biar gue ....”
Aku biarkan anak itu mengambil air putih untuk diminum. Tidak mungkin sarapan kali ini hanya dialiri dengan air kopi. Aku yakin kemelut manja di perut akan langsung menyerang apabila benar-bener melakukan hal tersebut.
Sarapan disantap begitu khidmat. Di hadapan pemanangan ketinggian yang menyajikan sawah-sawah, pepohonan, serta rumah pemukiman menjadi satu sorot pandang cahaya yang kami tatap. Gunung Salak terang di seberang sana. Kami sama-sama takjub dengan hal yang sangat kontras di mata kami. Ingin sekali lagi aku dibuatnya untuk memanjat gunung, seperti halnya ketika aku menjemput Reira yang tengah sendiri.
Sudah aku sangka pagi akan sebaik ini. Terik mentari pagi tak menyengat, malah sejuk. Angin pagi yang lambat membuatku ingin terbang bersamanya, lalu menjemput Reira untuk mengatakan bahwsanya aku ingin ia membersamaiku saat ini. Syukur dihelat pada setiap kunyah makan yang kami lakukan.
Tersenyum diriku sembari memuji masakan sederhana darinya, berkat ini aku akan bersemangat seharian.
Pak Dadang tak ada lagi di pos. Pos terlihat kosong tanpa orang. Bisa jadi ia sedang mengurusi kolam ikannya, atau mengurusi kebun jikalau ia memilikinya. Aku lebih menduga Pak Dadang sedang duduk sarapan pisang goreng di warung kopi, sembari membahas pertandingan sepak bola Liga Inggris tadi malam.
“Tadi malam kalian sampai jam berapa? Sama Pak Dadang.” Ia mengetuk keningnya. “Sumpah gue enggak bisa tidur. Gue keluar sebentar, eh ternyata kalian lagi ada di pos.”
“Kira-kira sampai jam satu. Pak Dadang ada wedang jahe. Lumayan buat angetin tubuh.”
Ia memandang ke depan. Sendok sarapannya kecil memasuki mulut, lalu mengungahnya perlahan.
“Lupakan yang tadi malam,” ucapnya pelan tanpa melihat.
Aku sontak menoleh padanya. Mawar malah membahasnya pagi ini.
“Baiklah ... gue bakalan lupain. Ada seorang cewek cuma pakai bikini mandi air panas di samping gue, trus sok-sokan nyobain rokok,” sindirku.
Ia tersenyum pelan. “Ya, itu termasuk hal yang harus dilupain. Sebagai cewek, gue enggak harusnya ngerokok.”
“Cewek dan cowok punya hak untuk menikmati sebatang tembaku. Itu tergantung lo, tapi gue saranin kalau sekadar nyoba-nyoba, jangan deh. Udah gue bilang sebelumnya, butuh kebijakan dalam merokok. Setelah lo tahu makna yang dikandungnya, barulah lo gue izinin minta rokok gue lagi.”
“Dasar sok filosofis!” Ia menyenggol bahuku.
“Haha ... begitulah gue apa adanya.”
“Suatu saat, gue bakalan nyari pasangan yang enggak merokok,” ucapnya.
Aku tertawa mendengarnya. Tadi malam baru saja ia mencoba sebatang tembakau.
“Hey, lo nyobain rokok dan lo nyari cowok yang enggak perokok. Plis deh jangan diskriminasi kami dengan persepsi umum.”
“Ya, gue nyobaik rokok biar gue tahu apakah yang gue benci benar-benar gue benci. Ternyata gue benar, rokok itu tidak baik!” Ia menyendok sarapanya kemudian.
“Okkay ....” Aku mengeluarkan kotak rokokku untuk menyindirnya.
Ia tertawa melihatku yang tak ingin kalah. Aku yakin banyak yang menyemburui momen ini. Bukan dariku, melainkan dari pihak wanita ini.
***