
EPISODE 140 (S2)
Wanita itu sudah kembali. Ia mengetuk pintu balkonku seperti biasanya ia lakukan. Mungkin saja ia tercipta dari bayangan hingga selalu timbul di dalam kegelapan. Menyelinap di balik terang, bersembunyi, hingga kembali tibul dalam keadaan yang tidak terduga. Ia suka begitu dan ia selalu begitu. Tak aku permasalahkan saat ini, yang penting ia sudah kembali dengan membawa kabar yang tak biasa. Ia gila, sangat gila.
Aku yakin ia tidak tidur tenang selama seminggu ini. Berlibur di Bali bersama keluarga orang lain untuk mengeruk harta mereka yang kaya, lalu berkeinginan menguangkan kembali seperti layaknya sosok Robin Hood. Sepele sekali alasan lain yang ia sebukan untuk berburu arak Bali otentik dari daerah asalnya. Entahlah, mungkin saja ia memiliki kenalan di sana sehingga ia sudah tahu di mana target untuk berburu benda itu.
Yang tak aku habis pikir ialah ia kabur di hari ketiga dengan asalan tidak mau memakai gaun. Aku mempercayainya, tidak ada alasan bagiku untuk mencela kepercayaan yang ia berikan kepadaku. Bukan berarti ia mutlak benar, tetapi aku telah menganggap Reira tak akan berbohong padaku dengan itu semua, tidak ada gunanya juga. Setelah itu ia berangkat untuk mendaki Gunung Salak sendirian dan kembali ke sini di subuh hari demi mengejar jadwal sidang skripsi. Ia pasti hanya menghabiskan waktu di perjalanan, tanpa tidur tenang. Matanya hitam ketika aku lihat tadi.
Ia mahasiswa satu-satunya yang aku tahu mendaki gunung sebelum sidang skripsi. Normal-normalnya mahasiswa, ia pasti akan berkurung diri seharian untuk membaca tulisan ilmiah akhir yang akan dipertaruhkan di atas meja sidang. Seluruh pikiran di otak akan diunggah pada setiap pertanyaan dosen-dosen penguji. Tidak ada waktu bagi mahasiswa yang seperti itu untuk keluar kos-kosan. Seluruh jiwa berkurung untuk memahami materi.
Namun, Reira pantang melalukan itu. Ia sebebas ombak laut di bawah terik matahari yang menggulung ke tepian pantai, menabrak karang, mengikisnya hingga habis. Tidak ada yang bisa mengekang wanita itu, meskipun dosen terparah sekali pun. Materi skirpsi bukan menjadi penghalang baginya untuk percaya diri berjalan menuju ruang sidang. Aku rasa ia juga membawa materi skripsi ke Gunung Salak dan bertanya kepad para dedemit bagaimana maksudnya. Ia bertaruh kepada alam dan alam memberikan jawaban padanya, itulah Reira.
Kini kami sedang di perjalanan menuju rumah sakit swasta di mana Ibu Fany dirawat waktu itu. Tidak sempat mungkin Fasha untuk menyisakan waktu memberikan kabar bahwa ia akan melahirkan subuh ini. Aku pun salah juga. Sebagai sahabat, aku tak sempat bertanya kabar dengan dirinya. Masing-masing dari kami larut di dalam kesibukan masing-masing. Ia yang mengurusi kuliah dan keluarga, sementara aku yang sibuk keluyuran dan aktifitas cafe.
“Terpaksa atau enggak terpaksa, gue bakalan tetap pergi di hari ketiga,” ucap Reira ketika menyetir.
“Lo itu enggak mikirin mereka, emang? Lo kabur tanpa ngasih kabar juga?”
“Bodoh! Gue ngasih kabar, dong. Gue bilang kalau ada administrasi kampus yang harus diselesaikan untuk sidang skripsi. Ditambah lagi gue disuruh makai gaun, hasrat buat kabur malah makin naik. Hahaha.”
“Jadi, barang apa yang lo keruk dari mereka?” tanyaku.
“Jam tangan ... harganya jutaan. Mamanya orang yang ramah, mau aja ngasih gue. Tapi dia bodoh, salah ngasih orang. Dua hari lagi gue COD-an sama orang yang mau beli jam itu.”
“Sifat dasar bajak laut,” sindirku. Bajak laut memang begitu ... merampas dan menjualnya kembali dengan harga bersaing.
“Lo enggak ngasih gue bunga dan cokelat? Gue sarjana tadi siang. Gue tinggal ngambil surat keterangan lulus setelah revisi.”
Aku tertawa singkat. Ia mengatakan bahwasanya ia tak suka diberi bunga dan cokelat sebagai tanda kelulusan yang biasa menjadi budaya perayaan bagi mahasiswa umumnya.
“Tapi, lo kan enggak suka. Lagian, gue baru tahu kalau lo udah selesai sidang. Gila, manusia mana yang sidang enggak bilang-bilang!”
“Hahaha ... itu gue. Gue enggak mau aja dilihatin orang kalau selesai sidang. Tapi, bagi mereka yang ngeliatin jadwal, pasti tahu kalau gue abis sidang. Gue santai aja keluar ruangan sidang, trus ngobrol sama cleaning service tentang rektor.”
“Lo mau apa?” tawarku.
Ia menoleh padaku.
“Gue kira lo tahu apa yang gue mau.”
“Gue mana tahu, Rei!” sindirku.
“Hmm ... begini aja, deh. Gue mau lo ikut bulan depan sama gue. Itu udah jadi hadiah gue.”
“Kita mau ke mana?”
Ia tersenyum kemudian. “Nanti lo tahu.”
Kami berparkir di antara kendaraan lainnya, lalu melanjutkan langkah ke pintu utama.
Reira mengidupkan handphone-nya. Terdengar ia bertanya posisi ruangan yang akan ditempati oleh Fasha nanti. Namun, yang membuatku heran ialah mengenai suara lawan bicaranya, itu adalah Bagas. Setelah mengangguk beberapa kali, ia menututp layar handphone.
“Lo punya nomor Bagas?”
“Iya, tentu aja. Gue minta udah sejak lama.”
Setahuku, bukan orang sepertiku yang mampu berteman dengan pria populer seperti Bagas di kampus. Namun, Reira mengenali pria itu, padahal lintas fakultas.
“Bagaimana bisa?”
“Hey, gue ini cukup prihatin ngedengarin kisah lo sama Fasha waktu itu. Gue lebih tahu duluan kalau Fasha pacaran dengan seorang pria bernama Fasha. Akhirnya, gue minta nomor dia dari salah satu temen gue di fakultas lo. Gue ini punya link di mana-mana, bahkan cleaning service lo yang sering ngeciduk gue bikin kopi di dapur umum Fakultas Psikologi.”
Aku menggeleng karena tidak paham mengapa ia melakukan hal tersebut. Tidak aku pedulikan, kami langsung beranjak menuju lokasi yang sudah diberitahukan oleh Bagas dari handphone. Sesampainya di sana, tampaklah Bagas sedang duduk bersama keluarga mertuanya tersebut. Aku sangat kenal dengan Ayah dan Ibunda dari Fasha. Aku tak canggung untuk menyalami mereka berdua.
“Wah, makasih udah datang.”
Baru kali ini aku mendengar suara Bagas yang terdengar hangat di telingaku. Selama ini, ia selalu bersikap dingin.
“Hmm ... jadi Fasha udah lahiran?” tanyaku.
“Baru aja masuk ke ruangan bersalin.”
“Kami ke sini bukan buat ngejenguk Fasha, sih.” Ia menepuk lengan Bagas. “Jangan pede lo.”
“Jangan dengerin dia,” balasku pada Bagas sembari berisyarat kepada Reira. “Gue baru tahu dari Reira kalau Fasha akan melahirkan.”
“Makasih banget buat namanya, Anugerah Fajar Jingga. Itu nama yang indah.” Ia menyalamiku kembali.
Aku sontak kaget ia menyalamiku seakan sangat berterima kasih. Apa susahnya memberi nama yang indah? Semua orang aku rasa bisa. Namun, baginya itu sangat bermakna.
Reira menggandengku. “Kabari gue kalau Fasha udah lahiran. Pastinya kami enggak bakalan bisa langsung lihat, dong. Kami ke sebuah tempat dulu.”
Tangannya menarikku menjauh dari Bagas. Tanganku hanya memberikan isyarat jempol untuk menghargai salamanya tersebut. Entah ke mana Reira membawaku, aku tak tahu. Ia kini menarikku ke dalam lift rumah sakit. Lift bergerak lambat menuju ke atas, tepatnya menuju lantai paling atas. Setelah pintu terbuka, ia kembali menarik paksa diriku berbelok ke kiri.
“Kita mau ke mana?” tanyaku. Ragu melanda tatkala terdapat penjagaan beberapa security di depan kami.
“Pak, saya Reira. Udah dibilang sama Alfian?” tanya Reira kepada security tersebut. Tak ingin ia jawab pertanyaan dariku.
Security membebaskan kami untuk melenggang lanjut ke sebuah tangga yang tak terlalu tinggi. Lalu, Reira membuat sebuah pintu di ujung tangga tersebut. Terlihatlah gelapnya langit dan dinginnya subuh hari yang menerpa wajahku. Kami kini berada di rooftop rumah sakit, tepat di hadapan titik huruf H besar sebagai tanda tempat helikopter bertengger.
“Kita akan tidur di sini.” Ia menepuk tas ransel militernya. “Gue ada dua kantung tidur.”
***