
EPISODE 58 (S3)
Kehadrian Abimana di rumahku menjadi penambah suasana sendiri. Ia mudah bergaul dengan orang baru, buktinya kami bisa saling mengenal meskipun masih terbilang baru bertemu. Borneo banyak bertanya mengenai teknik-teknik pembuatan perabotan kepada Abimana. Lagi-lagi orang paling berseni sedunia itu tertarik dengan cara meramu balokan kayu menjadi barang-barang berguna. Sedangkan Semara, ia senang mendengar cerita-cerita Abimana mengenai penelitiannya ketika di hutan. Sebagai orang yang cerdas, aku pun banyak mendapatkan pengetahuan darinya.
“Lo bilang peduli dengan hutan, tapi lo tetap menebang pohon demi industri perabotan. Lo juga pernah kerja di perusahaan kertas. Andai lo tahu, papa gue pernah disuguhkan uang suap dari perusahaan kertas,” ucapku.
“Gue bukan merusak karena bukan gue yang nebang pohonnya.. Gue cuma membeli bahan baku, bukan penebangan. Hehehe ….” Abimana tertawa.
“Ya sama aja kalau begitu.”
“Jadi, jamur-jamur kamu yang ada di rumah bakalan diapain?” tanya Semara.
“Biasanya sih sebagian ada yang dijual, lalu dikonsumsi sendiri. Gue juga bagi-bagi sama tetangga sekitar.”
“Aku suka masak jamur,” balas Semara.
Rangkulanku bersemat pada Semara. “Semara ini chef di rumah gue. Dia memang suka masak. Kalau gue yang masak, Borneo bisa muntah-muntah.”
“Itu karena kau masukkan cicak ke dalam sup!” protes Borneo.
Awal-awal ketika aku dan Borneo tinggal di Pekanbaru, aku pernah menyempatkan diri untuk memasak sup. Entah kenapa, ada seekor cicak yang menyemplungkan diri ke sana tanpa pengetahuanku. Tepat sekali Borneo makan dengan lahap, beruntung aku belum mencicipinya. Ketika menambah sup, barulah sadar cicak tersebut sudah memutih karena terlalu lama di dalam sup.
“Sumpah aku enggak tahu ada cicak di dalam sup itu. Aku lupa nutup panci. Ya … siapa suruh cicaknya masuk,” pungkasku.
Pukul sembilan malam hujan belum juga reda. Aku meminta Borneo untuk mengantarkan saja Abimana ke rumahnya menggunakan mobil. Esok hari, aku akan mengembalikan motornya.
Sementara Borneo ke kamar mandi dulu, aku dan Abimana menunggu di luar. Ia duduk di kursi santai faforit Reina, sementara aku mengapitkan lutut di atas sofa. Dingin sekali hujan malam hari ini, durasinya panjang tidak menentu.
“David itu siapa?” tanya Abimana.
Seketika aku berhenti menyicipi wine di dalam gelas piala. Perhatianku tertuju kepada bibir yang mengucapkan pertanyaan itu. Berdenting gelas ketika aku letakkan di atas meja kaca, lalu Abimana mengangkat bahunya karena aku berekspresi serius.
“David?”
“Kakek Syarif kira kalau gue itu David berkacamata.” Ia menyentuh kacamatanya. “Lo punya pacar?”
“Hahaha … pacar?” Aku menggelengkan kepala. “Lima tahun lebih gue jomblo, sendirian, dan kesepian. Gue punya hal yang lebih dari pacar, yaitu Razel, Borneo, dan Semara.”
“Oh … David berarti awak kapal lo dong,” sambung Abimana.
“Sebenarnya … awal kapalku itu banyak. Ada Mawar, ada Candra, ada Zainab, ada Bang Ali, dan lain-lain. Mereka itu angkatan pertama awak kapal gue, termasuk David.”
“Oh ya? Lo diikuti banyak orang, gue takjub,” pujinya.
Sungguh ragu hatiku mengungkap siapa sejatinya David. Namun, aku butuh tempat untuk bercerita, meskipun itu hanya kulitnya saja.
“David itu mantan gue. Ya … sebut aja karena gue pindah kota, jadinya kami putus, begitu ….”
Aku menyerngitkan dahi. “Emangnya lo kira gue enggak laku, gitu? Begini-begini … gue pernah ….”
“Pernah apa?”
“Ya … disukai sama kakak kelas.”
Ya … disukai oleh Nauren pernah menjadi kebanggaan tersendiri bagiku saat itu. Siapa yang tidak bangga memiliki pacar pertama tampan, kaya, dan anak dari politisi terkenal seperti papaku. Masa-masa SMA itu benar-benar membekas, bagaimana Nauren mengajarkanku gemerlapnya dunia kaula muda. Namun, semua itu tiada lagi berarti. Aku sadar bukan hal-hal yang seperti itu yang menjadi tujuan hidupku.
“Bagaimana David itu orangnya?”
“Kenapa lo penasaran?” tanyaku balik.
“Menambah wawasan pengetahuan gue,” balasnya singkat.
“Lo kira David itu buku kuliah?” Aku melipat tanganku. “Baiklah … David itu orang yang suka menyendiri. Gue masih ingat kalimatnya begini, aku itu penyendiri yang bergerak di dalam bayang-bayang. Tidak terlalu suka timbul di permukaan, lebih memilih berjalan di bawah langkah orang dominan.”
“Orang yang puitis. Dia tampan?”
“Apa? Tampan? Lo benar aja. Mukanya lebih ganteng Borneo gue rasa. Dia itu pria kurus dengan mata sayu. Kalau ngelihat gue, tatapannya teduh banget kaya enggak ada semangat. Tapi, gue akui senyumnya cukup manis,” jawabku.
“Hahaha … terus kenapa lo bisa suka sama dia?” tanya Abimana.
“Bukan mengenai rupa dan paras, tapi tentang rasa yang lepas dan kau bisa jujur serta bebas. Aduh … gue jadi sok puitis begini.” Aku menutup wajah sendiri. “Ya … lo suatu hari nanti mungkin ketemu sama seseorang yang enggak menarik secara fisik, tapi lo kagum karena sosoknya. Lo bisa jujur apa adanya, bebas tanpa terbebani menjadi diri sendiri, dan ia paham mengenai itu.”
“Lo bilang itu kaya udah berpengalaman banget. Tapi … gue jarang ketemu sama cewek mungkin ya, jadinya enggak peduli banget dengan hal-hal seperti itu.”
“David itu penulis, dia sekarang udah nerbitin buku yang laku di pasaran. Kalau lo ketemu dia, lo pasti enggak nyangka kalau David sehebat itu. Sekarang tampangnya kaya pengangguran, rambut panjang, muka pun lusuh. Kebanyakan ngeganja kayanya ….”
“Apa? Mantan lo pengganja?”
Aku menggeleng. “Hehehe … becanda ….”
Abimana pulang setelah percakapan singkat kami ini. Ia pamit dariku sembari melambaikan tangan di ujung teras, lalu berlari menuju pintu mobil. Setelah semuanya hening tanpa siapa-siapa, aku terduduk di atas sofa sembari menenggak anggur. Terlalu banyak anggur yang menyelinap di kerongkongan, sehingga hidungku seakan ingin meledak.
Entah kenapa, aku merasa tanpa beban menceritakan David kepada orang lain. Satu hal yang tidak ingin aku bahas, tetapi kali ini terungkap bebas untuk diperbincangkan. Aku merasa beban-beban itu keluar begitu saja tanpa hambatan sama sekali. Satu ketika hatiku terhentak tatkala air hujan bertambah deras. Aku sadar jika aku masih memiliki rasa padanya. David masih belum bisa aku lupakan sama sekali. Ia pernah terpahat di hatiku, tanpa pernah diperbaiki kembali. Namun, untuk sekarang aku tetap akan mengikat janji itu. David bukanlah untukku, melainkan dimiliki orang lain.
Kesalahan … itu kesalahan terbesar di dalam hidupku, melepas orang yang sungguh tulus aku cintai tanpa menuntut apa-apa. Meskipun ia terpuruk di dalam palung kemelaratan, dunia hitam kesedihan, aku tetap terus memandanginya. Tidak peduli memandanginya secara langsung, atau hanya pijar-pijar kelabu kenangan yang terputar di dalam ingatan.
“Semara … aku keluar dulu ya. Mungkin pulangnya lama,” ucapku sembari membuka pintu kamar Semara.
Ia menoleh padaku. “Oh ya? Kamu mau ke mana malam-malam hujan begini?”
“Gue ada misi rahasia,” pungkasku sembari menutup pintu.
***