Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 38 (S2)



EPISODE 38 (S2)


Kejujuan ... itulah yang aku lihat dari ucapan lembut seorang Mawar yang menyatakan jika sangat berterima kasih kepada Reira yang sudah mengajaknya untuk bergabung di tengah-tengah kami. Pertemuan kami pun dibilang merupakan sebuah ketidaksengajaan, walaupun sudah digariskan oleh Tuhan jauh sebelum kami dilahirkan. Jika tangis Ana―adiknya Mawar pada saat itu―tidak menarik kepedulian Reira untuk mengantarkannya pulang, bisa jadi Mawar tidak akan melangkahkan kaki di atas desir pasir putih nan lembut ini. Kini ia berbincang padaku, menyuarakan isi hatinya untuk berterima kasih. Mungkin saja ia sedang membaca buku yang menurutku membosankan, apabila aku dan Reira tidak menemukannya pada saat itu.


Sanding jalan kami sejajar dinaungi oleh pepohonan kelapa yang teduh. Diiringi pula oleh angin laut yang sejuk, walaupun peluh terik matahari masih menyengat kami hingga menyucurkan keringat pada dahi. Terdapat sebuah lapak kelapa sederhana yang disekitarnya tersedia papan-papan untuk menyilakan kaki sembari minum air segar dari kelapa. Beberapa muda-mudi pun turut duduk di sana, menyimpulkan senyum dalam bincang ringan yang membakar api asmara.


Bapak pemilik lapak bersemangat memotong ujung kelapa untuk diminum. Batok-batok kelapa yang sudah habis dimium terlihat menggunung di belakangnya. Tak hanya dirinya seorang, wanita yang aku duga istrinya itu pun turut memenuhi pesanan para pelanggan. Kami terpaksa mengantre pesanan karena masih terdapat beberapa orang yang berdiri di sekitarnya.


“Pak, kelapa mudanya enam,” ucapku pada bapak itu.


“Wah, orangnya cuma berdua ... belinya enam,” balas bapak itu tanpa berbahasa Melayu. Mungkin saja ia paham yang datang di sini merupakan wisawatan dari luar daerah yang tak terbiasa berbahasa Melayu.


“Ada teman-teman juga, kok. Hahaha.”


“Pakai sirup atau susu, atau tanpa tambahan?” tanya bapak itu kembali.


“Murni aja, Pak. Biar seger.”


Ia mengangguk, lalu menghempaskan parang ke ujung kepala. “Oke, nanti bapak antar ke tempat kalian. Mau diantar ke mana?”


“Oh, biar sebagian kami yang pegang. Lumayan banyak, kan?” Aku menunjuk salah satu papan lesehan di sekitar. “Kami nunggu di sini aja.”


“Baik ... tunggu dulu, ya.”


Mawar aku lihat sedang duduk dengan tenang di atas papan lesehan. Kedatanganku membuatnya menoleh pelan tanpa senyuman. Aku jaga dudukku agar berjarak, namun wangi parfum yang sama pada saat itu masih tercium olehku.


“Jadi, lo ingin berterima kasih sama Reira?” Aku memulai percakapan.


“Hmm ... sebetulnya iya. Cuma gue bukan orang yang bisa langsung berterima kasih. Gue ikut dengan kalian udah jadi salah satu tanda terima kasih dari gue.”


Aku menadahkan pandangan ke atas. “Reira memang begitu. Dia bilang kami adalah orang-orang yang dia selamatkan. Gue dibilang orang yang diselamatin dari patah hati.”


“Lah, lo emang patah hati dari siapa?” Kali ini ia memberanikan diri untuk menarik senyum. “Oh, gue tahu ... pasti lo punya perasaan sama Fasha.”


Aduh ...


Ternyata kalimatku sebelumnya telah menguak cerita lama yang membuatnya penasaran di malam itu. Padahal, aku menyebutkan jika Fasha adalah sahabatku, tidak lebih. Namun, kata Reira tidak ada lelaki dan perempuan yang bisa berteman lama, tanpa ada perasaan yang akan tumbuh satu sama lainnya. Hanya satu untuk tidak menumbuhkan rasa, yaitu menjaga jarak. Aku rasa apa yang dikatakan oleh ahli teori asal-asalan itu benar, cinta hanya membutuhkan kebiasaan.


“Hmm ... iya benar. Gue pernah ada rasa sama Fasha. Namun, itu tidak lama setelah gue mengenal Reira.”


“Sayang banget, ya. Lo malah ditikung sama orang yang berkali-kali lebih keren dari lo,” balas Mawar.


“Apa? Berkali-kali lebih keren.” Aku tertawa sejenak. “Tapi memang iya. Bagas lebih keren dari gue.”


“Enggak apa, sih.” Ia menoleh ke depan. “Lo beruntung punya Reira yang punya segalanya dari Fasha. Maksud gue, dia punya hati yang enggak dimiliki oleh Fasha.”


“Memang benar. Akhirnya gue menyadari itu. Tapi, gue enggak bakalan bisa lepas dari Fasha. Bagaimana pun, dia tetap sahabat baik gue. Lihat saja kalau Bagas berani bermain-main. Gue hantamin vespa butut punya abang gue tepat di depan rumahnya.”


“Hahah ... lo udah gila. Setelah itu lo dipenjarain sama papanya Fasha.” Ia kembali menoleh padaku. Ia memanggilku, “David.”


“Iya?” tanyaku.


“Menurut lo, apa gue termasuk orang-orang yang terselamatkan?” tanya Mawar padaku.


Aku memerengkan wajah. “Gue seperti enggak bicara dengan seorang Mawar. Apa ini benar-benar lo, atau hantu penunggu laut.”


Ia meninju bahuku. “Gue serius, jangan bercanda.”


“Hahaha ... udah gue bilang, seluruh orang yang dibawa oleh Reira adalah orang-orang yang terselamatkan, termasuk Razel yang diselamatin dari bapaknya yang serem. Hahahah,” jawabku seraya tertawa.


“Sepertinya gue diselamatin dari kesendirian. Berkat dia, gue bisa punya teman-teman seperti kalian.”


“Emangnya lo enggak pernah punya teman?” tanyaku.


Ia ragu untuk menggeleng, hanya berupa gerakan kecil yang aku simpulkan sebagai tanda setuju dengan pertanyaanku.


“Punya, tapi enggak terlalu banyak. Selain itu, tidak terlalu dekat. Ya ... paling teman buat jumpa di kampus, di organisasi, itu doang. Setelah itu, gue pulang ke rumah tanpa nongkrong sana-sini.”


“Wah, menyedihkan sekali hidup lo.”


“Hey,” ancamnya.


“Hahaha.”


Kami duduk berdua di sini sembari memerhatikan ligatnya tangan bapak pemilik lapak ini memotong kelapa untuk diminum. Tanganya tanpa kekar dengan urat-urat menonjol, lalu menggenggam kelapa itu dengan satu genggaman saja. Tidak butuh waktu yang lama baginya untuk memotong kelapa. Kelapa muda memiliki tekstur kulit yang lembut, ditambah lagi dengan tajamnya parang yang ia gunakan. Sekali tebas saja sudah cukup membuat tebasan yang dalam.


Aku berdiri untuk menghindari asap temabaku yang aku hela di sela-sela percakapan ini. Sama sekali Mawar tak seperti diri yang sebelumnya, cenderung terbuka dan asyik untuk diajak berbicara. Aku rasa, Mawar tidak terlalu suka jika di dalam percakapan melibatkan banyak orang, seperti di mobil tadi. Tapi lihat ini, aku tak ubahnya sedang berbicara kepada Candra yang gila. Ia turut membercandai sistem kampus yang kadang tidak masuk akal, apalagi ia sangat mengerti bagaiman birokrasi kampus karena tergabung di Badan Eksekutif kampus.


“Gue kenal sama Bagas,” ucapnya tiba-tiba.


“Masa? Gue kira orang yang menghindari percakapan dengan orang lain tidak mungkin mengenal Bagas.” Aku kembali duduk di atas papan setelah sebatang tembakau habis dihisap. “Tapi, semua orang di fakultas gue rasa kenal sama Bagas. Siapa yang enggak tahu sama dia.”


“Maksud gue, gue kenal secara pribadi dengan Bagas.”


“Wah, bagaimana bisa?” tanyaku. “Biasanya hanya golongan elitis fakultas yang kenal sama dia. Berarti lo cukup gaul.”


“Hahah ... enggak juga. Bagas pernah nge-chat gue buat kenalan.”


Aku memandang padanya dengan menyipitkan mata. Tiada aku sangka Mawar pernah didekati oleh Bagas. “What the fu―”


“Serius gue ....” Ia kembali meyakinkan diriku.


“Bagas bilang dapat nomor gue dari kakak tingkat yang kebetulan kenal sama gue. Gue rasa dia dapat nomor gue dari senior di organisasi.”


“Hahah ... trus lo ladenin?” Aku memasang wajah curiga. “Oh ... jangan-jangan lo malah diajak jalan sama dia.”


“Dasar! Mana ada! Jangan sembarangan ... hahaha,” candanya padaku. “Lo kira gue ini bodoh apa? Lah dia orangnya playboy begitu. Ya cuma gue read aja pesan dia. Besoknya dia main ke sekre kami pun ngobrol singkat, walaupun gue enggak selera.”


Aku bertepuk tangan untuknya. Ia telah membuat kecewa orang paling keren se-fakultas yang sedang ingin mendekati dirinya. Tapi, aku setuju dengan hal itu. “ You da real MVP. Gue bangga sama lo.”


“Pasti banyak yang dekati lo?”


Ia melihatku dengan tatapan yang datar. “Yang benar saja? Tentu banyak, dong. Hahaha ....”


“Tapi sayangnya lo tetap jomblo. Itu aja sih sayangnya ... hahahah.”


Percakapan kami terhenti tatkala bapak pemilik lapak kelapa muda memanggil kami untuk mendekat. Enam buah kelapa muda ternyata sudah tersajikan pada meja panjang yang berada tepat di samping bapak itu. Tibalah seorang gadis muda yang mengangkat sebuah nampan. Nampan itu hanya muat empat buah kelapa muda sekaligus.


“Anak bapak yang antarkan ke sana,” ucap pemilik lapak kelapa muda.


“Oh, terima kasih, Pak.” Aku memandang gadis yang terlihat lebih muda dari kami. “Biar Abang yang angkat nampannya. Kalian berdua pegang sisanya. Lumayan berat diangkat sama cewek.”


Bukan sok menjadi heroik karena ia cukup menarik, namun aku tak sanggup melihat seorang wanita memegang beban yang seharusnya dipikul oleh pria. Berangkatlah kami ke tikar pandan di mana kami duduk tadi. Hingga sampai di sana, ternyata Reira dan teman-teman masih asyik berpanas-panasan dengan bermain air. Ucapan terima kasihku pun terucap kepada gadis itu yang telah membantu kami itu.


Aku duduk bersama Mawar hingga Reira dan yang lain lelah menyibakkan air asin kepada satu sama lain. Mawat tak sedikit pun bergerak, hanya duduk memanjangkan kaki sembari meletakkan kedua tangannya di atas lutut. Matanya lurus melihat mereka di sana tanpa ekspresi.


“Akan datang hari di mana kita sama-sama berpikir, kalau semua ini hanya ilusi.”


Ia menoleh padaku. “Ilusi? Ini nyata tanpa ilusi. Termasuk lautan itu.”


“Ya ... semua itu hanya ilusi.”


“Maksud lo?” tanya Mawar.


“Ketika semua semuanya tak lagi bernilai. Ya ... semua keseruan ini tak lagi bernilai.” Aku meminum air kelapa milikku. “Air kelapa ini tak lagi manis.”


“Kenapa?”


Aku tersenyum. “Ketidakmampuan merasa. Hati telah beku oleh beban-beban dunia, hingga semua ini terlihat sebagai ilusi.”


“Jadi, kita sedang merasa?”


Aku memerengkan kepala. “Hah? Apa maksud dari kalimat lo?”


“Oh ... jangan salah sangka. Maksud gue, apakah kita menikmati momen ini? Hanya dengan duduk di sini, tanpa bergabung dengan mereka.”


Aku mengangguk pelan. “Oh itu ... ya kita sedang merasa. Ada orang-orang seperti kita yang tidak suka keramaian. Lebih dominan menyendiri dengan semua ini, pasir ini, kelapa ini, batu besar itu, itulah teman-teman kita.”


“Gue rasa kita bisa saling memahami. Kita hampir sama.”


“Ya ... gue kira begitu juga.” Aku menaikkan alis. “Tapi, kadang kita butuh pula untuk keluar dari zona itu. Bergabung dengan keramaian untuk merasakan arti senyuman orang lain. Begitu pula mereka, kadang harus mencoba untuk menyendiri agar tahu apa itu arti dari perenungan.”


“Hahah ... lo memang suka berpikir seperti ini?” tanya Mawar.


“Gue ini penyair. Tentu saja gue suka. Selain itu, dari Reira juga belajar banyak.” Aku mengubah posisi dudukku ke arahnya. “Lo tahu ada satu hal yang penting dan sampai saat ini selalu gue pegang. Reira yang mengajarkan.”


“Apa itu?” Mawar menoleh.


Aku menempelkan telunjuk dan jempolku sebagai analogi betapa sempitnya dunia yang sedang kami jalani. Aku mendapati ilmu itu sewaktu pulang dari melumuri mobil Bagas dengan telur-telur yang ia bawa, hingga keesokan harinya vespa tahun lima puluh aku itu penyok akibat terjangan kaki Bagas.


“Dunia itu hanya sesempit ini. Maka dari itu, keluarlah dari zona nyaman.”


“Ia memiliki hati yang putih,” puji Mawar.


“Lebih putih dari hati yang selama ini pernah gue lihat.” Aku kembali ke posisi semula, lalu berdiri pelahan. Aku julurkan tanganku untuk mengajaknya pergi. “Ayo ke sana. Mereka enggak akan rela kalau semua dari kita enggak basah.”


“Ah, enggak ... gue di sini aja. Lo aja yang ke sana,” balas Mawar.


Aku tersenyum. “Lo adalah awak kapal Kapten Reira. Sedangkan gue, asisten kapalnya dia yang Reira nobatkan di perahu danau kampus. Tepat pada hari itu kami tenggelam bersama-sama karena hujan yang menerpa. Jadi, lo harus turuti permintaan gue.”


“Segitunya?” Mawar memerengkan wajah.


“Iya ... keluarlah dari zona nyaman.”


Tanpa diduga, Mawar menyambut tanganku untuk berdiri. Masih dengan senyum yang melekat, ia mempertahankan genggaman tangan itu hingga dua langkah ke depan. Mawar menuruti permintaanku untuk masuk ke dalam pantai. Ia terkikik tatkala air pantai untuk pertama kali menerpa kakinya yang bening. Aku pun tersenyum, inilah mimpi-mimpi Reira yang sebenarnya. Aku hanya meneruskan hal yang pernah aku pelajari darinya itu, lalu aku panjangkan tanganku agar Mawar mengerti akan hal itu.


Semakin dalam Mawar melangkah, semakin jauh pula tubuhnya terlena dengan ombak yang menerpa. Teriak keseruan ia kobarkan tatkala ombak yang datang semakin besar dan besar. Berkali-kali ia memegangi pundakku dengan sebelah tangan karena kakinya yang tak kokoh itu goyah dan hampir jatuh.


“Rei, lihat siapa yang gue bawa!” teriakku padanya.


Reira terlihat menunduk, mengambil pasir dengan genggaman tangannya. “Ih, jangan bikin Mawar gue keling kaya lo!”


Pasir itu pun ia lemparkan, walaupun tak sampai kena.


“Ih ... awas lo di sana!” Aku berlari mengejarnya. Sementara itu, Mawar mengikutiku dari belakang karena tak ingin ditinggalkan sendiri.


“Mau apa?” tantang Reira.


Aku membalas mengambil pasir di dalam air, lalu aku paksa untuk melumuri rambut terikatnya itu. Tak sedikit pun aku beri ampun kepada Reira hingga rambutnya penuh dengan pasir.


“Anak set―” Reira memandangiku sinis. “Anak-anak, serang dia!”


“HAHAHAH! Awas lo! Jangan ganggu kapten gue!” Candra paling bersemangat mengambil pasir lalu melemparkannya padaku.


Akhirnya, titah seorang Reira mereka lakukan. Masing-masing dari mereka melempariku dengan pasir hingga aku terpaksa berlari untuk menghindarinya. Namun, hanya satu orang yang tak ingin melakukannya, yaitu Mawar.


Genggaman tangan Razel si anak laut yang terbiasa menurunkan jangkar membuatku terjatuh ke dalam air. Mata pun seketika perih akibat air asin ini. Akhirnya, tubuhku sudah sepenuhnya basah kali ini. Aku menjadi bulan-bulanan mereka untuk dilempari pasir.


“Mawar ... lakukan.” Reira menyerahkan segenggam tangan. “Lo harus mencoba keseruan ini.”


Tanpa ragu, Mawar menambah kuat genggamannya pada pasir. Gerak langkah kakinya mencoba berlari. Namun, ombak terlalu cepat datang dan menghantam kaki Mawar yang goyah itu. Seketika Mawar terjerembab ke bawah hingga tak lagi muncul pada permukaan. Seiring tawa kami yang menggelegar, Reira membantunya untuk berdiri.


Anak itu jatuh seperti anak kecil umur tiga tahun yang sedang mengejar mobil-mobilan. Betapa lucunya dia tadi.


***