Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 11 (S2)



EPISODE 11 (S2)


 


Malam merayap di langit gelap dengan sedikit angin dingin yang menyelinap melalui celah dinding kayu. Terkadang diriku dibuat bergidik ngeri oleh suara aneh dari bawah lantai yang merupakan sebuah panggung, tentu saja di bawah sana masih ada ruang yang bisa dihuni oleh berbagai serangga. Sesekali aku melirik Candra yang tidur terlentang dengan mulut terbuka, dengkurannya bahkan lebih seram dari senyap sunyi suara serangga di luar sana. Namun, ada yang lebih menganggu saat ini, yaitu suara Reira yang memanggil namaku untuk mengiyakan permintaannya.


“Ayolaah … gue ini cukup tangguh kalau di malam hari. Bahkan, kalian bisa kalah. Masa gue enggak diajak!” Ia menggoyang-goyankan tubuhku. Aku jadi sulit membereskan alat mandi yang masih berserakan di atas lantai.


“Reira, enggak bagus cewek keluar malam seperti itu. Okelah … lo bebas ngelakuin apa aja di kota, namun di sini orang punya budaya sendiri. Pantang anak gadis buat keluar rumah,” balasku. Aku tidak tahu apa yang ingin aku katakana kembali padanya. Seluruh penjelasan tidak pernah masuk ke otaknya yang lebih brillian daripada diriku.


“Tapi, gue pengen lihat tupai.” Ia memegangi kedua pipiku. “Lo tahu tupai selucu apa, kan? Kaya gini.”


Lo mencoba merayu gue, balasku di dalam hati. Namun, hal itu tidak cukup untuk menggerakkan hatiku.


“Reira, kami bakalan enggak tidur. Lo harus istirahat … udah dari kemarin lo enggak ada tidur!”


“Gue mau ikut, David. Gue enggak pernah makan durian.”


“Bukannya lo bawain gue dan Dika durian waktu itu?” Aku melepaskan tangannya dari pipiku.


“Iya, ya? Kapan?” Ia menyentuh dahinya. “Tapi, itu bukan jadi malasah. Gue mau ikut!”


“Enggak boleh!” paksaku.


“Hmm … gue ngambek!” Ia membelakangi diriku, lalu melipat tangannya. Terdengar suara kecil hentakan giginya karena kesal.


“Rei … lo harus paham. Mungkin Zainab enggak bakalan boleh ikut para cowok ke sana."


“Jangan bicara sama gue … gue lagi ngambek.” Ia maju selangkah. “Tapi, gue tetap sayang lo!”


“Apa-apan ini?” tanyaku.


“Yaa … begitu! Bye …!” Ia pergi begitu saja.


Tirai manik-manik pada pintu bergerincing berbunyi tatkala Reira melewatinya. Ia terlihat kesal padaku karena aku tidak memberikan persetujuan baginya untuk ikut bersama kami. Bagaimana tidak … sudah dari kemarin ia tidak tidur. Ia mengatakan sendiri padaku bahwa ia semalaman menatapi air laut di kapal agar tidak melewati kesempatan bertemu dengan lumba-lumba. Tubuhnya juga penat karena seharian ini beraktivitas di luar dan hanya tidur selayang saja di kamar Zainab tadi siang. Kemudian, ia malah ingin mengikuti kami untuk menunggu durian. Kami tidak akan tidur, walaupun tidur sudah pasti tidak nyaman dengan nyamuk-nyamuk dan punggung yang sakit karena tidur di atas pondok kayu.


Aku sudah menebak, anak itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mengalahkanku. Ia masih merancang-rancangnya saat ini dengan alibi sedang kesal denganku. Entahlah … bisa saja ia menyelinap pada kendaraan lain dan membayar pemilik kendaraan untuk mengikuti kami dari belakang. Atau ia masuk duluan ke mobil Pak Milsa diam-diam di belakang, sehingga kami tidak menyadari bahwasanya ia sedang ikut di dalam. Bisa jadi ia sendiri yang mengayuh sepeda menuju ke sana setelah lebih dahulu bertanya kepada Zainab mengenai kebun durian yang dimaksuh. Ia selalu punya berbagai cara untuk mematahkan pertanyataan lawan, membuat lawan bicaranya untuk berdecak kesal karena menyadari bahwasanya tidak ada satu pun yang bisa menghentikan langkahnya, walaupun hanya setengah langkah.


Sudah berkali-kali aku katakan pada kalian, ia bukan manusia. Ia adalah alien betina yang kutemukan di malam jamuan puisi. Kebetulan saja ia bernama Reira Bernardo dan mengidentifikasi tubuh seorang anak dari anggota DPR dengan teknologi canggih mereka. Pada satu kesempatan, ia mendapatkan misi untuk mengumpulkan sejumlah manusia untuk dijadikan awak alien miliknya, salah satu dari mereka ialah aku sendiri. Kadang, aku sering tertawa sendiri ketika aku mengimajinasikan Reira sebagai alien betina dengan tubuh manusia. Sedikit jahat, namun jenaka. Seperti tingkah Reira yang menyebalkan.


Mak Cik memanggil kami keluar kamar untuk menikmati hidangan makan malam. Aku pun bersusah payah membangunkan Candra yang masih melekat di dalam mimpinya. Sudah berapa kali aku mengetuk kepalanya, namun aku hanya mendapatkan sebuah tendangan. Rasanya ingin aku menyadu kepada Reira karena Candra tidak ingin bangun, namun aku kali ini masih segan untuk berbicara kepadanya. Bisa jadi Reira akan meloncat seperti adegan smackdown ke ranjang Candra, lalu meminta aku untuk menghitung hingga terjadinya KO. Untung saja Zainab melintas di depan di depan kamar, aku pun meminta pertolongannya untuk membantu membangunkan pria dengan rambut kriwil itu.


Aku pun dibuat menepuk jidat. Hanya dua kali Candra disebut namanya oleh Zainab, anak itu langsung bangun dengan mata terang. Senyumnya seakan seperti seorang suami yang sedang dibangunkan istrinya di awal-awal masa pernikahan, begitu cemerlang lengkap dengan senyuman. Untung saja Candra tidak di dalam keadaan mengigau bahwa yang sedang membangunkannya ialah benar-benar istirnya. Jika ia melakukan hal itu, aku langsung menyumbat mulut Candra dengan sikat gigi dan menyuruhnya untuk cepat-cepat ke kamar mandi.


Makanan disajikan sempurna dengan aroma masakan yang baru saja dimasak. Terdapat rasa segan setiap aku menyuap nasi karena Mak Cik yang rela memasakkan kami makanan untuk malam hari ini. Aku tahu mereka setidaknya masih bisa memakan lauk pauk tadi siang, yang masih bisa dihangatkan di kala malam. Namun, kehadiran kami membuat Mak Cik─walaupun aku tahu ia orang yang tulus─memasakkan makanan kembali bersama anak perempuannya, Zainab. Pak Cik Milsa pun malah meminta kami untuk menambah porsi nasi dan menghabiskan lauk pauk yang ada.


*Jangan tanggung-tanggung. Selagi padi masih bisa ditanam, selagi ikan masih bisa dikail, selagi ayam masih bisa bertelur, kau habiskan seluruh makanan yang ada. Jangan segan-segan*.


Itulah kalimat dari bapak tua berkumis dengan sehelai sarung kotak-kotak yang menjadi bawahannya. Aku tak bisa menahan diri, bukannya karena rakus atau masih lapar, Pak Cik Milsa malah menyendokkan nasi ke piringku dan mengambilkan lauk pauk tambahan agar aku tidak berhenti makan. Sungguh ketulusan hati yang begitu dalam, mempersilahkan tamu yang sebetulnya kami tidak terlalu saling mengenal, namun dirinya memberikan semuanya pada kami. Candra yang masih mengantuk pun terpaksa untuk terus membuka mata dengan porsi makanan tambahan dari Pak Cik Milsa.


Sendawa Pak Cik Milsa menggelegar hebat sampai-sampai istrinya menepuk tangan Pak Cik. Kami pun tertawa bersama-sama di akhir sesi makan beramai ini. Lantunan adzan Isya kembali terdengar dari mushollah. Pak Cik Milsa bergegas mengangkat sarungnya dan mengambil peci yang tergantung di muka pintu arah ke ruang depan. Tatakala tangga empat tingkat berdecit, ia menatap kami seiring kalimatnya yang turut mengajak mengikuti langkahnya untuk sembahyang berjemaah di musholah.


“Ayo, bersyukurlah hari ini,” ucapku pada Candra sembari menepuk pundaknya.


Perut yang kenyang tentu saja menambah hantu kantuk di mata. Ia sempoyongan jalan menaiki tangga empat tingkat itu.


Rembulan jatuh redup menatap langkah kami yang baru saja pulang dari serangkaian ibadah malam di mushollah. Pak Cik Milsa kembali duduk di meja bundar empat kursi dengan meletakkan songkok hitam di atasnya. Suara Pak Cik Milsa berteriak lembut meminta istrinya membuatkan tiga buah cangkir kopi untuk kami malam ini. Sebagai istri yang baik, Mak Cik segera mengiyakan permintaan suaminya dengan berhenti menggerakkan pedal mesin jahit besi itu.


“Gue ke kamar sebentar,” ucap Candra. Ia menyerahkan sebungkus tembakau untuk aku hisap bersama Pak Cik.


“Ke sini lagi, jangan tidur lo.” Aku menyambut pemberian tangannya.


Zainab tiba membawakan tiga cangkir kopi hitam sebagai penghangat malam dan pemesra duduk berdiskusi kali ini. Jika aku lihat dalam-dalam, Zainab cukup manis juga. Kulitnya lebih putih dari Reira. Rambutnya panjang tergerai hingga hampir menyentuh pinggang. Ucapannya lembut bernada Melayu kental apabila berbicara kepada kedua orangtuanya. Sedikit mirip dengan Mak Cik wajahnya, namun postur tubuh Zainab lebih tinggi dan berisi. Aku pun dibuat membuang mata ketika Zainab berbalik diri dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Pantas saja Candra kelihatan nyaman ketika menatap Zainab. Aku bisa melihat keanehan lirikan mata Candra yang selama ini aku tahu persis ia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan wanita, terutama Reira.


Pak Cik memicingkan mata melihat karung goni yang kami bawa tersebut.


“Hahaha … ini semua idenya Reira yang pengen jualan. Kami ikut dia karena Reira sangat suka sekali berpetualang,” balasku. Aku turut meminjam pemantik api yang ada di hadapanya.


“Dasar keluarga pelaut. Tidak suka diam atau menetap. Selalu bergerak dan tidak mau diatur. Aku melihat itu dari sosok Fany, ibunya Reira. Pak Kumbang sepertinya menurunkan sifat-sifat kebebasan yang ia junjung.”


“Sepertinya begitu, Pak. Reira memang sedikit susah diatur. Maunya bebas dan melakukan segala hal. Tapi, itu pula daya tariknya. Ia punya banyak pengalaman dan teman.”


“Asal kau tahu, Fany dalam waktu seminggu bisa mengenal seluruh anak remaja tanggung dan bapak-bapak yang ada di dermaga. Selain dirinya cantik, ia berbakat menyajikan kopi. Salah satu kedai kopi Cina di dermaga mengangkat Fany jadi pegawai karena ia piawai berbicara. Sepulang sekolah, ia berlari menuju kedai kopi. Setelah jam kerjanya habis, ia membuka baju dan langsung terjun ke laut untuk berenang.”


“Nah, Sekarang Bu Fany punya usaha café sendiri di salah satu mall. Aku rasa bakat itu menurun juga sama Reira. Reira pandai sekali meracik kopi dengan teknik-teknik lebih modern.”


Pak Cik Milsa mengangguk, lalu ia tertawa. “Aku dulu sempat kagum sama Fany. Hahahah.”


Kepalaku maju ke depan tatkala mendengar kalimat Pak Cik. “Jadi, apa yang dibilang Kakek Syarif itu benar? Pak Cik pernah suka sama Bu Fany?”


“Ah … itu masa lalu. Biasalah, anak remaja tanggung yang baru tahu cinta. Sini aku beri tahu kau.” Kepala Pak Cik mendekat padaku. “Cinta itu tak memilih di mana ia akan berlabuh, namun tak juga bisa ditebak kapan ia akan berlayar. Cinta itu seperti kapal hantu tanpa awak yang bisa timbul kapan saja dan hilang kapan saja. Sedikit filosofis, bukan?”


“Pak Cik ini keturunan Plato kurasa.”


“Kita beda ras, Plato itu orang bule. Pak Cik orang melayu. Mane ade hubungannye. Hahaha … kalaulah iye, dah mancung hidung Pak Cik ni.” Ia menepuk pundakku beberapa kali, lalu ia kembali bersandar pada kursi. “Aku pun tak tahu kenapa bisa suka sama Fany. Betapa patahnya hati Pak Cik ketika Fany berencana pindah ke Jakarta dibawa Pak Kumbang. Tapi anehnya, setelah seminggu itu Pak Cik kenal sama istri Pak Cik sekerang. Jatuh cinta pulalah Pak Cik same die, sampai sekarang.”


Aku tertawa keras mendengar penjelasan Pak Cik Milsa dengan logat Melayu yang lucu. Ia pun tak tahan menahan tawa, sampai-sampai matanya berair.


“Hahah … Pak Cik benar juga. Cinta itu seperti kapal hantu yang datang tiba-tiba. Bayangkan aja betapa kesalnya aku dengan Reira waktu Reira mengaku menjadi pacarku, Pak Cik. Tapi, kami malah kenal dan berpacaran.”


“Tunggu, kalian pacaran?” Ia menggeleng beberapa kali. “Jadi kau membicarakan Reira berkali-kali karena dia pacarnya kau?”


Aku mengangguk seraya tersenyum malu. “Benar, Pak Cik. Reira itu pacarnya aku.”


“Bukannya kenape … aku setuju, pasti setuju. Kau ni anak yang baek. Tapi, masalahnya … kau pasti kewalahan mengurusi anak itu, kan?”


“Terkadang sih, Pak Cik. Reira sulit banget buat dilarang.”


“Hmmm … sudah aku duga. Aku merasakannya ketika serumah dengan Fany. Buah yang jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya.” Ia berdiri dengan cepat. Telunjuknya mengarah padaku. “Tunggu di sini, aku ada sebuah foto untuk kau.”


Langkah lebar dan cepat Pak Cik Milsa menimbulkan suara berisik di ruang depan. Ia melangkah dengan hentakan kaki yang kuat pada lantai kayu. Mak Cik yang sedang menjahit pun sampai mengucap oleh ulah Pak Cik yang menganggu aktivitas seriusnya itu.


“Jangan dibuat runtuh rumah ni, Bang!” protes Mak Cik padanya.


Bapak tua bersarung itu tidak memedulikan perkataan istrinya, ia terus berjalan menuju koridor menuju dapur. Beberapa saat kemudian, Pak Cik Milsa tiba dengan membawa sebuah foto berukuran sedang. Aku pun terheran dengan apa yang ia bawa. Foto hitam putih berdebu itu ia usap menggunakan tangannya. Terlihat jelas bulir debu berterbangan di sekitar kami. Bahkan, ia sendiri sampai terbatuk-batuk oleh ulahnya sendiri.


“Kau lihat sendiri.” Pak Cik menyerahkannya padaku.


Aku memerhatikan dengan seksama setiap wajah yang terpampang pada foto hitam putih dengan noda-noda cokelat di beberapa titik. Terdapat dua orang dewasa yang sedang memakai topi, terlihat jelas pada saat itu matahari sedang bersinar terik dari dahi mereka yang mengernyit dan mata yang memicing kecil. Salah satu dari orang dewasa itu sedang menggunakan jaket jeans dengan dalaman kaos berwarna hitam. Sungguh terlihat modis untuk ukuran orang jaman itu. Sementara satu orang dewasa yang satunya lagi hanya memakai singlet dan bawahan sarung kotak-kota. Mereka tersenyum menunggu foto menangkap cahaya dari mereka.


Lirikan mataku bergeser pada empat orang anak remaja awal yang sedang berdiri polos di depan. Terdapat dua anak perempuan dan dua anak lelaki yang sedikit lebih tinggi dari mereka. Alangkah terkejutnya aku melihat anak perempuan paling tengah sedang memegang sesuatu yang tidak wajar. Itu merupakan seekor anak buaya yang sedang diikat bagian muncungnya. Tidak ada gidik ngeri dari wajahnya sedikit pun, malah menjulurkan lidah mengejekku yang sedang terheran-heran.


“Buaya?” tanyaku pada Pak Cik.


Tangannya turut menyentuh foto itu dari orang dewasa di belakang.


“Ini adalah bapaknya Pak Cik cuma pakai singlet dan sarung. Di sebelahnya ada Pak Kumbang dengan gaya nyentrik khas perkotaan. Padahal ia juga dari kampung seperti kami hahah …. Di depannya dari paling kiri ada sahabat Pak Cik semenjak kecil, dia sudah jadi Sekda Kabupaten, kaya sekali orangnya. Dan sebelahnya ada Pak Cik, tidak lumayan tampan. Paling kanan ada perempuan yang sekarang jadi istri Pak Cik. Saat itu kami tidak mengenal, kami saling mengenal setelah Bu Fany pergi.”


Aku menatap matanya, lalu menyentuh anak perempuan paling tengah yang sedang menjulurkan lidahnya.


“Lalu, anak gila yang sedang memegang buaya ini?”


“Asal kau tahu, anak muda. Itulah Fany muda. Kau mungkin melihatnya sekarang seperti wanita anggun, namun inilah masa mudanya. Layaknya Reira, mereka tidak berbeda. Anak buaya ini ia dapatkan setelah mengganggu induk buaya dan menangguk anaknya di muara sungai. Kau belum tahu keganasan buaya rawa, kan? Di seumur segitu, Fany tidak takut dengan bahaya itu.”


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Seorang wanita anggun yang aku temui di rumah Reira ternyata memiliki masa muda yang bertolak belakang. Aku hanya berdecak kagum di dalam hati dan menyadari bahwasanya Bu Fany benar-benar menurunkan sifat itu kepada Reira.


 


***