
EPISODE 41 (S2)
Makanan yang kami santap menyisakan momen-momen kebersamaan. Gelak tawa canda yang bersemayam dalam suasanan ini, tak urung membuat kami pergi memberanjakkan diri di atas lembutnya pasir putih. Ditambah pula alunan gitar yang dimainkan oleh Razel. Kepala kami dibuatnya bergerak ke kiri dan ke kanan, kami pun bernyanyi bersama. Aku rasa rembulan tersenyum senang kali ini. Namun, tatkala aku tadahkan pandanganku ke atas, rembulan tengah berada dalam tutupan selapis awan.
Ikan kakap bakar yang aku panggang tadi ternyata habis diperebutkan oleh mereka.
Berkali-kali tangan mereka mencuil ikan tersebut dan saling berebut untuk mengambil bagian yang paling besar. Rasanya sangat gurih, aku pun turut melakukan hal yang sama.
Wah .... betapa serunya malam ini. Seakan tidak tahu malu, Reira menari di tepi api seperti seorang kepala suku yang sedang menghelat tarian ritual pemujaan. Ia tak ingin kami kehilangan momen. Tangannya menarik Razel untuk menari bersama diiringi oleh alunan gendang Melayu yang sengaja ia putar melalui speaker portable. Candra pun dipaksa untuk melakukan hal yang sama. Berputarlah mereka di sekitaran api, berjinjit-jinjit dengan melentikkan tangan. Tidak lama kemudian, tawa kami menggelegar tatkala Reira meloncat ke punggung Razel untuk minta digendong. Tak bisa menolak, Razel kembali membawa wanita itu dipunggungnya dengan susah payah hingga Reira mengakhiri tarian dengan menunduk kepada kami bertiga, aku, Zainab, dan Mawar.
Kami berbahagia malam ini tanpa sedikit pun yang berhubungan dengan materi. Tidak ada kemilau lampu-lampu sombong tempat makan mewah yang menaungi, tidak ada handphone mahal buatan kapitalis yang menyorot sebagai dokumentasi story media sosial, atau pun menyombongkan diri masing-masing dengan apa yang dipunya. Hanya hentak kaki mereka yang menjejak di pasir putih itu yang memanjakan celang mata ini, walaupun sedikit kantuk karena kekenyangan. Tawa dan senyum berbaur bersama-sama dengan melupakan masalah dunia.
Apakah bahagian itu selalu berhubungan dengan uang?
Teman-temanku di kampus kebanyakan mahasiswa bermobil dengan pakaian modis yang dipakai sehari-hari, kecuali Candra yang bertangan bau pakan kucing itu. Tidak heran mereka mengeluarkan pecahan uang besar untuk dihabiskan di kantin, hanya untuk menyuarakan kebahagiaan. Berbeda dengan aku dan Candra yang hanya menyantung tembakau dan kopi hitam lima ribuan. Itu saja sudah membuatku bahagia bersamanya.
Sejalan dengan pemikiran Kakek Kumbang yang mengajari Reira tentang arti kesederhanaan, hidup di bawah merupakan sebuah keberuntungan. Menurutku, ketidakpunyaan apa-apa merupakan anugerah yang diberi Tuhan agar hambanya mencari tahu jalan kebahagiaan selain dari uang. Apa yang aku harapkan untuk bahagia? Hanya secangkir kopi di depan teras pun sudah membuatku bahagia sekali. Atau pun makan sate sepiring berdua bersama Reira yang kadang membawakan kami makanan untuk aku dan Dika.
Kadang aku pernah berpikir, aku tak pernah terlalu berharap menjadi orang yang bermateri di kemudian hari. Aku sudah melihat contoh nyata bagaimana standar pendidikan tinggi tidak menjadi jaminan untuk menjadi orang bermateri. Hidup di zaman sekarang memang membutuhkan uang, termasuk cinta. Cinta memanglah dibangun atas dasar perasaan, namun perasaan pun dipelihara dengan penghasilan.
Aku mencoba berpikir ulang untuk memilih jalan bahagiaku. Setiap orang pun juga berhak memilih jalan bahagianya masing-masing.
Aku hanya berharap suatu hari nanti aku hanya memiliki sepetak rumah kayu dengan ladang sayur mayur di depan rumah yang aku urus setelah pulang bekerja kantoran, itu pun kalau aku beruntung menjadi orang kantoran. Lalu setelah pulang, disambut oleh senyum manja seorang istri dan belaian tangan-tangan kecil anak-anakku yang menuntunku untuk duduk di meja teras. Setelah istriku menyajikan sajian sore berupa kopi dan pisang goreng yang lezat, barulah aku berkutat di ladang kebun yang dijadikan bahan makanan untuk esok hari.
Istriku tidak akan bertanya mengenai kepusingannya membeli bahan makan esok hari. Namun, berupa bahan makanan apa yang akan dipetik dari kebun kesayangan ini. Ada pun hanya bisa memetik sebuah terung ranum dan beberapa petik cabe rawit, itu pun sudah mengenyangkanku di malam hari dan keesokannya ketika sarapan pagi. Hanya sesederhana itu harapanku terhadap dunia.
Malam yang bersisa tak urung membuat perut-perut mereka kenyang―apa lagi Candra, Razel, dan Reira―sehingga mie instan terpaksa dimasak oleh mereka bertiga. Padahal, malam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Angin malam yang dingin menusuk tak menjadi halangan bagi mereka bertiga karena masih ada kehangatan dari api yang dihidupkan. Aku hanya mengintip keseruan mereka dari sebalik penutup tenda. Sementara itu, Zainab dan Mawar sudah masuk ke dalam tenda untuk baring-baring.
Kesuntukanku di dalam tenda memaksaku untuk keluar. Aku dapati mereka sudah menyajikan mie instan tersebut di atas sebuah piring besar untuk disantap bersama. Namun, tidak aku lihat keberadaan Reira.
“Mana Reira?” tanyaku pada mereka berdua.
“Entah, dia permisi sebentar. Katanya dia kenyang banget,” balas Candra.
Aku berjongkok di samping piring, lalu menyuapnya dengan sekali sendokan. Makanan mana lagi yang paling terlezat di muka bumi nusantara, kecuali sepiring mie instan yang masih hangat. Aku kembali tegak kemudian. “Gue mau buang air dulu.”
“Oke, hati-hati diambil hantu laut,” balas Razel.
“Ada-ada aja lo!” Aku beranjak pergi.
Langkah menuntunku jauh ke sebalik bebatuan tepian pantai agar tak ada orang yang melihat. Gelapnya jalan terpaksa membuatku menghidupkan cahaya handphone. Samar-samar aku dengar suara seorang perempuan yang tengah berbicara melalui telepon. Parau terdengar dari suaranya yang menekan setiap kalimat yang diucap. Aku pun menoleh ke sebalik batu untuk melihat hal terjadi. Didapati Reira sedang berdiri di atas sebongkah batu menghadap lelautan yang terang oleh sinar rembulan.
“Reira enggak bisa, Papa. Reira udah punya pilihan sendiri. Reira udah gede dan udah bisa nentuin masa depan sendiri. Ini enggak bisa dilakuin!” tekan Reira pada kalimatnya. “Pokoknya Reira enggak bisa terima. Ini udah kelewatan batas. Setelah Reira pulang, kita akan bicara empat mata.”
Aku segera menyelinap ke sisi batu satunya lagi karena Reira langsung berbalik arah menuruni bebatuan. Namun, usahaku untuk menyelinap tak begitu mulus karena suara pasir yang aku pijak didengar oleh wanita itu.
“Siapa itu?” tanya Reira. “Lo David?”
Helaan napasku pasrah terasa. Entah kenapa bisa ia langsung menyebut namaku. Aku rasa ia tak punya kemampuan untuk mengenali seseorang hanya dari suara langkah yang terdengar.
“Iya, ini gue, David.” Perlahan aku munculkan wajahku dari sebalik batu. “Gue bukan menguntit, gue cuma pingin buang air kecil. Kebetulan aja ada lo.”
“Lo dengar?” tanya Reira.
“Dengar apa?”
Ia menghela napas. “Yang gue bicarain tadi.”
Aku menggeleng. “Enggak semua. Gue cuma tahu kalau lo lagi bicara sama papa lo.”
“Oh, baguslah.” Ia melangkah ke depan.
“Ada sesuatu yang ingin lo sembunyiin dari gue?” Aku merasa heran dengan respon santainya itu.
Reira menggeleng. “Bukannya lo tahu apa yang gue bicarain sama papa gue?”
“Gue baru datang, trus lo matiin telpon lo sama papa lo. Gue mana tahu apa yang kalian bicarain,” balasku.
Ia mendorongku ke belakang, menuju batu di mana ia berdiri tadi. “Cepat lo mau buang air kecil, kan?
Tak ia pedulikan pertanyaanku tadi, ia langsung melangkah pergi meninggalkanku untuk melakukan aktivitasku. Aku pun kembali ke lokasi kemah dan mencari Reira di dalam kemah. Alangkah terkejutnya aku tatkala ia sudah kudapati sedang bertelungkup mesra memulai tidurnya daripada yang lain. Tidak hal biasa bagi Reira untuk tidur lebih cepat―walaupun sekarang sudah waktunya untuk tidur―apalagi lebih cepat dari Candra yang suka sekali aku temukan sedang terlelap. Aku saling bertatap dengan Zainab.
“Ni anak beneran tidur?” tanyaku.
Aku mengangguk. “Oh, baiklah kalau begitu.”
Tanpa Reira yang menghadirkan kejutan, tentu saja malam kurang bermakna. Selain sudah terlalu larut, masing-masing mata kami pun mulai memadamkan diri. Anak perempuan sepertinya sudah tertidur, terdengar tidak ada lagi percakapan di dalam tenda mereka. Sedangkan kami para pria masih duduk di tepian api yang selalu kami isi dengan kayu bakar. Razel berulang bolak-balik mencari kayu kering di sekitar untuk dijadikan penyambung bahan bakar api. Duduklah kami di sana dengan membalut badan dengan selimut. Api ternyata tidak cukup untuk memberikan kehangatan dibandingkan derasnya angin dingin yang berhembus.
Kami hanya menghabiskan malam dengan bermain game bersama kedua temanku yang tak ingin tidur. Padahal, aku ingin memanjangkan kaki di tanah dengan berbaring menatap bintang gemintang di atas sana. Tak bisa menolak, aku pun terpaksa menghidupkan handphone dan membuka aplikasi game yang biasa mereka mainkan bersama. Biasanya aku hanya membuka aplikasi game tersebut di kala waktu-waktu senggang yang sama sekali tidak tahu aku pergunakan untuk apa. Sekian lama tidak bermain, tentu saja membuat tanganku menjadi kaku dan diejek oleh mereka karena aku mati berkali-kali di dalam game tersebut.
Satu per satu dari kami pun menyerah. Mata tak bisa lagi diajak bekerja sama dan harus dibawa untuk menurunkan kelopaknya sementara. Kami terlelap dengan saling berdampingan satu sama lain.
Adzan sembayang shubuh membuatku beranjak ke tempat ibadah sendirian. Mereka baru aku bangunkan tatkala aku balik dari sana. Namun, alangkah sayangnya mereka setelah selesai dari tempat ibadah, mereka langsung menyambung tidur kembali. Mungkin saja mereka terlalu lelah setelah beraktivitas seharian. Apalagi Reira yang tak ingin diam itu.
Tembakau aku bakar di sekitar kayu bakar yang sudah menjadi arang. Karena ingin melihat cahaya mentari yang memantul di lautan tatkala ia terbit, aku beranjak ke salah satu bebebatuan yang bisa aku panjat. Tidak terlalu jauh dari tenda, hanya sejarak sepuluh meter. Satu jam menunggu ternyata mengalahkanku dalam soal ketahanan mata. Sesekali aku tertidur dangkal di tengah-tengah kedua lutut yang mengapit kepalaku agar tidak jatuh, walaupun rokok masih hidup di ujung tangan. Begitu pula selanjutnya, kembali membakar tembakau dan terbangun ketika seluruh bagian batang rokok habis menjadi abu tanpa dihisap.
Tanganku disentuh oleh seseorang.
“David, lo tidur di atas sini?” tanya seseorang.
Sontak aku terkejut dengan wajah Mawar yang sudah sampai tepat di sampingku. Sebelah tangannya menjulurkan secangkir kopi hitam pekat yang masih hangat dan roti sobek yang masih utuh tanpa dicuil.
Aku segera mengucek mata dan kudapati tembakauku lagi-lagi sudah habis menjadi abu. “Oh, sorry ... gue ketiduran di sini.”
Ia menggeleng. “Hingga matahari udah terbit, lo masih sanggup tidur di sini. Hahahaha.”
Mawar duduk batu yang berada di bawahku. Tidak memungkinkan bagi kami untuk duduk bersama di atas. Selain itu, Mawar pasti tidak ingin menyinggung perasaan Reira apabila terlalu dekat.
“Baru lo yang bangun?” tanyaku.
“Zainab udah, tapi masih main handphone di dalam. Reira masih molor sambil mendengkur. Hahaha.” Ia menunjuk ke arah tenda kemudian. “Gue masakin kalian sarapan nasi goreng dicampur mie instan. Mumpung ada sisa nasi tadi malam.”
Aku menoleh ke belakang. Mawar ternyata sudah berkutat di sana sedari tadi. Telihat kuali hitam berada di atas kompor portable milik Reira yang sudah berisikan nasi goreng bercampur mie instan. Entah sejak kapan ia berkutat dengan masalah makanan dari tadi, hingga ketika aku bangun di atas sini, Mawar udah menyediakan semuanya.
Mataku terpejam merasakan nikmatnya kopi buatan wanita itu. Ditambah pula pengenyang perut semetara dari roti sobek yang ia berikan. Manjanya mata kami saling menyorot ke depan sembari menikmati hidangan masing-masing. Matahari perlahan naik, menyinari seluruh lautan dengan cemerlang cahaya yang merambat lurus. Karena tak satu pun batang rokok yang bisa aku nikmati dengan sempurna, terpaksa aku bakar sebatang lagi.
“Lain kali, lo main ke rumah gue di Jakarta. Deket kampus, kok. Bawa Reira juga. Dia pasti tertarik dengan buku-buku sejarah Colombus, pelaut yang katanya penemu Benua Amerika. Padahal sebetulnya Benua Amerika udah dihuni sama Suku Indian, Suku Aztec, dan Suku Inca beribu-ribu tahun yang lalu.”
“Satu pelajaran sejarah hari ini,” pujiku. Aku menoleh padanya yang ada di bawah. “Seberapa banyak lo baca buku dalam sehari?”
“Gue enggak pernah menghitung buku. Sama kaya lo yang enggak pernah menghitung seberapa batang rokok yang dihabiskan sekali duduk. Buku adalah candu gue,” balasnya.
“Hahah ... gue heran kenapa orang bisa candu dengan buku. Yang gue tahu cuma istilah agama adalah candu," candaku.
“Pak, tolong Pak tangkap anak ini.” Gelagat Mawar seakan ingin memanggil polisi untuk menangkapku karena sudah menyebutkan sebuah kalimat dari teori Karl Marx yang sangat dibenci oleh negeri ini. “Lo suka baca buku-buku kiri?’
“Suka ... gue ini kaum-kaum marjinal. Gue suka buku-buku seperti itu, kaya buku-buku Tan Malaka, filsuf Nietzshce di jerman, sejarah aliran kiri di negeri ini, dan banyak lagi. Bukan berarti gue haluan politiknya kiri, gue tertarik dengan pemikiran filsafat mereka.”
“Hahah ... lo betul sih, kiri belum tentu komunis, dan komunis belum tentu PKI. Orang sekarang banyak digiring sama informasi yang menghasut, tanpa mau baca buku. Kiri itu tanda perjuangan dan perlawanan terhadap kedzaliman.” Ia tersenyum padaku sembari menyeruput kopi hitamnya. “Hati-hati bawa pemikiran itu di kampus.”
“Kenapa? Bukannya kampus itu tempat sebebas-bebasnya berpikir dan berdialektika?”
“Hahaha ... enggak ada sih,” balasnya.
“Gue selama ini berpuisi tentang perlawanan, masih belum ada masalah. Hahaha ... enggak tahu juga kalau besok.” Aku diam sejenak untuk menghisap rokok. “Ya kadang negeri ini harus diperbaiki logikanya. Buku-buku banyak disita karena dicap buku haram, sedangkan video porno masih bisa beredar. Serendah itu kah buku di negeri ini? Hahaha ....”
“Besok lo boleh pinjam buku-buku filsafat gue,” balasnya.
“Oke, terima kasih.”
Dari belakang terdengar Reira berteriak ke arah kami. Dirinya bertegak pinggang sembari memegang piring.
“Woi ... siapa yang buat, nih?!” teriak Reira.
Kami terpaksa turun karena itu sudah menjadi sinyal untuk bersarapan ria bersama-sama.
***
Ingat, kita pun cebok pakai tangan kiri ...
Baca buku dari kiri ...
Hingga sudut matamu yang memandangku dari kiri, namun menusuk sukma untuk terus mencintai ...
-Author