Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 44 (S2)



EPISODE 44 (S2)


Langkah Reira begitu dinantikan menuju mobil untuk berangkat ke dermaga. Dekap senyum dari mereka unuk menyemangati wanita itu, menjadi salah satu dorongan bagi Reira untuk membalas hal yang sama. Walaupun tak kunjung berkata-kata, ketika ia membuka pintu barulah terdengar pertanyaan Reira mengenai Minerva. Pak Cik dengan senang hati menjawab bahwasanya Minerva sudah ditaruh pada baris belakang, di dalam sebuah sangkar baru yang dibeli oleh Pak Cik tadi. Berangkatlah kami kemudian menuju dermaga.


Hanya Mak Cik tak ikut karena harus menjaga rumah. Ia menitip salam untuk Ibu Fany yang sedang terbaring di rumah sakit. Sebetulnya, aku tidak tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi. Reira tidak menyembutkan secara pasti mengenai hal yang membuat Ibu Fanny dirawat. Nanti akan aku tanyakan apabila sudah berada di kapal. Sensitif rasanya apabila aku mengulasnya sekarang, apalagi kondisi Reira yang belum terlalu stabil emosionalnya.


Sebelum menuju dermaga, aku berpesan kepada Pak Cik untuk singgah di kediaman Mawar karena wanita itu berencana untuk pergi bersama kami hari ini. Biasanya Reira yang selalu senang apabila Mawar ikut bersamanya, namun kali ini ia hanya bersikap biasa-biasa saja. Aku berusaha memaklumi hal tersebut. Namun, ketika kami sampai tepat di depan muka rumah Mawar, Reira langsung keluar untuk menghampirinya. Tanpa ekspresi yang berarti, ia mengambil bawaan Mawar.


“Yang tabah ....” Tiba-tiba Mawar memeluknya. “Semua akan baik-baik saja.”


“Iya, gue tahu. Ayo kita melaut,” balas Reira dengan tersenyum.


Aku dan Candra yang sedang berada di belakang mobil untuk memasukkan bawaan, turut merasakan suasana hari. Kami saling bertatap menyadari sebegitu sedihnya Reira, namun masih berusaha untuk terlihat tegar dengan senyuman palsu.


Kami menyalami ibundanya Mawar yang masih memakai celemek masak. Ia memberikan kami petuah saran untuk berhati-hati di perjalanan nanti dan doa-doanya agar kami selamat hingga tujuan. Setelah itu, lengkap sudah anggota yang akan berangkat, walaupun Zainab tetap tinggal di sini bersama kedua orangtuanya itu. Alangkah sedihnya Candra mungkin karena tak lagi melihat pujaan hatinya, kecuali dari kabar-kabar melalui media sosial. Itu pun jika Candra memberanikan diri untuk menghubunginya lebih dulu.


Tampak Kapal Leon bersandar dengan gagah pada tepian dermaga. Seorang Kakek bertopi koboi yang berkumis tebal itu tengah berdiri pada batas beton, lalu melihat mobil kami dengan sorot tajam. Selalu seperti itu karena paras wajah ayah dari Razel itu memang seperti seorang bajak laut dengan tato yang berada di tangannya. Namun, apabila dikenal secara lebih dekat, kakek itu ternyata sangat perhatian kepada semua orang, apalagi kepada Reira yang sudah ia anggap sebagai cucuk sendiri.


Ia tidak sendirian. Terdapat beberapa orang pemuda yang sepertinya seumuranku menemaninya merokok. Tatkala Kakek Syarif menunjuk mobil, mereka langsung bergerak menuju belakang mobil untuk mengambil seluruh barang bawaan kami.


“Kakek,” panggil Reira perlahan. Ia melangkah kepadanya, lalu memeluk Kakek Syarif dengan erat.


“Hmmm ... bau tubuhmu seperti Si Kumbang,” balas Kakek Syarif. Ia kembali menatap wajah Reira. “Pikirkan saja dirimu. Fanny sudah aman di rumah sakit. Papamu enggak mungkin menyewa ruang inap yang biasa.”


“Akan aku bakar mobilnya jika ia datang,” balas Reira dengan geram.


“Sudahlah ... kau harus berbaikan dengan papamu. Bagaimana pun, ia adalah papamu sendiri,” ucap Kakek Syarif.


Razel terlihat menggaruk kepala di sampingku. Mungkin di dalam hati ia mengherankan kenapa ayahandanya itu lebih perhatian kepada Reira daripada dirinya. Bukan dirinya yang diajak berbicara untuk pertama kali, malah Reira yang lebih dahulu.


“Apa kita bisa sampai besok siang?”


Kakek mengangkat bahu. “Entahlah, mungkin aja sampai esok sore. Ini bukanlah perjalanan pesawat yang bisa ditebak kapan sampainya.”


“Biar aku yang mengendarai kapal,” pinta Reira.


“Silahkan.” Kakek Syarif merangkul punggung Reira untuk melangkah menuju kapal.


Kami semua berpamitan bersama Pak Cik Milsa dan Zainab yang telah memberikan kami banyak pertolongan selama tinggal di Manggar. Jika tidak ada mereka, kami mungkin berpanas-panasan di dalam kamar gelap Kapal Leon yang terkadang terdenger bunyi decit menyeramkan. Tampak pula wajah sedih Candra tatkala ia melepaskan sentuhan tangan pertama kali dalam hidupnya pada wanita itu dan juga sentuhan lembut yang mungkin terakhir kalinya ia rasakan. Kita tidak tahu apakah kisah ini akan berlanjut menuju ekspetasi yang diinginkan, ataukah berkubang dalam rindu yang tak kunjung dinyatakan.


“Pak Cik, seluruh bajunya enggak perlu Pak Cik beli. Silahkan disumbangkan saja ke perangkat desa untuk dibagikan ke masyarakat sekitar. Masih ada banyak pakaian untuk anak-anak sekampung,” ucap Reira.


“Baik, Pak Cik sampaikan pesan itu ke Kepala Desa,” balas Pak Cik.


Kini wajah Reira menoleh kepada Zainab. “Oh, ya ... Candra meletakkan sesuatu di buku catatan lo. Jangan lupa dibaca, habis itu dibakar.”


Candra bernapas kembang-kempis setelah itu dengan mengurut dada. Salah anak itu sendiri kenapa sampai tahu dengan Reira yang kadang gila.


“Oh, ya? Apa itu?” tanya Zainab langsung pada Candra.


Bibir Candra seakan membeku tak ingin bergerak. Matanya melihat ke sana ke mari karena bingung untuk menjawab apa. Tangannya mengepal menahan malu.


“Udah, dibaca aja. Harap maklum tulisannya jelek kaya cakar kucing yang setiap hari dia urus.”


Entah kenapa ucapan Reira selalu menusuk seperti ini, namun kami pun sudah paham dengan kebiasaannya itu.


Kini hentak kaki seorang kapten perempuan menuntun kami untuk menyusuri papan dermaga. Lambaian tangan haru disampaikan kepada mereka berdua di sana yang sedang menanti-nanti rindu. Entah kapan kami akan bertemu lagi, ataukah tak akan bisa lagi bertatap wajah karena kesibukan duniawi. Aku harap suatu hari nanti aku akan ke Manggar kembali bersama Reira, memancing di Sungai Mirang untuk menyaksikan buaya asli di siang hari, lalu memakan durian sampai kembung di kebun milik Pak Cik.


Kapal sudah bergerak menghindari tepian dengan perlahan. Kakek Syarif memulainya dengan menghidupkan klakson yang sangat besar bunyinya, hingga Minerva terkejut dengan bersuara panik. Hari ini burung hantu peliharaan Reira perdana pergi melaut. Aku harap spesies burung karnivora tidak punya hasrat mabuk laut.


Tangan Reira menarikku ke ruang kemudi setelah Kakek Syarif mempersilahkan Reira untuk naik ke atas. Tatkala kami berselisih tangga, Kakek Syarif memberikan sebuah kompas kepada Reira.


“Jangan salah membaca peta. Perhatikan kompas. Kakek akan mengawasi pergerakan kapal di bawah,” saran Kakek Syarif. “Jangan sampai kau buat kita ke Kalimantan. Hahaha ....”


“Aku bawa kapal ini ke Banjarmasih.” Reira meraih kompas kecil itu. “Tenang saja, aku ini Reira, Kakek. Kita ini keturunan pelaut.”


Sesampainya di atas, Reira langsung mendorong gagang pelesat laju kapal dan beberapa kali menarik tali klakson. Ia tersenyum senang meletakkan kompas di atas sebuah peta Negara Indonesia yang cukup besar, lalu menaruhnya di tepi jalur antara Pulau Belitung dan Pulau Jawa.


Ia menoleh padaku. “Pandai membaca peta?”


“Entahlah, gue bukan pelaut,” balasku.


“Lihat ini.” Reira menunjuk jarum kompas. “Jakarta ada di sepuluh derajat sebelah kanan titik Selatan. Oleh karena itu, kita hanya tinggal memutar stir kapal ini hingga arah kapal tepat menuju ke sana.”


Reira memutar stir kemudi kapal yang cukup besar itu, tiga kali lebih besar daripada stir truk tronton.


“Lo enggak apa-apa ngemudiin ini sama Kakek Syarif?” tanyaku untuk memastkan.


Ia kembali membunyikan klakson kapal dan duduk di atas kursi kemudi. “Dave, lo baru pertama kalinya melihat gue menangis seperti tadi malam, ya?” tanya Reira.


Aku menarik kursi kecil ke belakang posisi duduknyaa, lalu aku memainkan telinga Reira yang kenyal. “Gue sedang enggak ingin berdiskusi tentang kesedihan kali ini. Ada kalanya kita berbicara tentang hal itu nanti. Fokuslah mengemudi.”


“Benar juga ... lautan seketika bisa bikin gue bahagia. Lihat senyum gue sekarang, jauh lebih tulus.”


“Enggak ada orang yang benar-benar tulus tersenyum di situasi seperti ini,” balasku.


Ia menggeleng. “Memang, setiap orang punya kesedihan masing-masing dan tidak akan mungkin bisa menyembunyikannya, bahkan jika ia begitu berusaha keras untuk itu. Namun, lo harus tahu ... lautan adalah segala hal bagi gue, termasuk kapal ini. Senyuman gue hampir menyentuh titik tulus.”


“Teruslah seperti ini, Rei. Setelah sampai nanti, gue pengen makan martabak sama lo.”


“Selamat Tahun Baru!” ucap Reira dengan pelan.


Aku segera menghidupkan handphone-ku. Tanggal sudah menunjukkan pergantian tahun. Sudah empat hari kami di sini semenjak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Manggar, tanpa pernah mengingat jika jarak antara hari itu merupakan penantian akan tahun baru. Situasi tadi malam ternyata sudah mengalihkan perhatian kami serumah. Tidak ada yang keluar dari rumah atau hanya menghidupkan TV. Bisa jadi budaya keluarga Milsa yang tidak terlalu peduli dengan pergantian Tahun Masehi. Yang penting, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak mengingat bahwasanya tahun sudah berganti.


Siang dihabiskan menatap lautan yang biru. Perjalanan masih sangat panjang hingga esok hari menanti. Rokok yang sudah menipis, membuat Candra sedikit bingung untuk memenuhi kebutuhan candu itu. Aku rasa ia lebih cemas kehabisan rokok daripada kehilangan makanan. Tatkala kami disediakan kopi oleh Mawar untuk kami bertiga di sebuah meja santai, tepat di tengah-tengah kapal, Candra meminta bungkus rokok yang masih aku punya.


“Masih ada rokok?” tanya Candra.


Aku mengeluarkan bungkusan rokok yang aku punya, lalu membukannya untuk diperlihatkan.


“Tinggal dua batang, sumpah!” Aku mendekatkan wajahku padanya. “Satu lagi gue tinggalin buat Razel. Kasian dia.”


“Buset, dah ... mana ada warung lagi di tengah laut mau beli ketengan.” Candra memegang kepalanya.


“Gila lu! Mana ada warung di tengah laut.”


Hentak kaki sepatu kulit Kakek Syarif terdengar mendekat. Sebuah kursi dan secangkir kopi disediakan untuknya.


“Apa yang kalian ributkan?” tanya Kakek.


Aku tersenyum. “Ini, Kakek ... Candra mau nyari warung di tengah laut buat beli rokok ketengan. Hahah ....”


Kakek Syarif mengeluarkan seplastik besar yang berisikan seperti dedaunan kering, lalu sebuah kotak besi yang terdapat kertas linting. Aku pun melongo dibuatnya. Bentuk benda itu sangat familiar olehku karena sudah sedari dulu aku melihat Rio melinting benda itu. Kini barang itu pun masih tersimpan pada sebuah buku yang dibolongkan bagian tengahnya, lalu aku bakar ketika berkunjung ke kuburan Rio sebagai wasiat terakhir yang paling aneh.


“Pak ... ini gele, bukan?” Aku memastikannya.


“Apa? Memang waktu muda kami pernah mencobanya, tapi tidak untuk di hari tua.” Ia melemparkan plastik tersebut ke atas meja. “Ini tembakau gayo, bentuknya saja seperti ganja, baunya juga kata orang. Tapi, rasa aku baunya seperti tembakau pada umumnya. Kalau kalian pernah hisap rokok putih, hampir seperti itu rasanya.”


“Aku kira ... wah gila Kakek. Bisa-bisa kapal BNN datang ke sini. Hahaha,” balasku.


“Wah, kau kok bisa mengira ini gele? Pernah nyoba, ya? Rei ....” Kakek Syarif duduk pada kursinya. Akhir kalimatnya ia seakan ingin memberitahukan hal itu pada Reira.


“Enggak kok, Kakek. Jangan sembarang, dong. Aku tahu karena saudara kandungku pernah mencobanya. Aku melihatnya sendiri,” balasku.


Ia mula mencoba mengambil secubit tembakau Gayo yang kata orang rasanya hampir sama dengan daun hijau Tanah Rencong. Kakek Syarif mempersilahkan kami untuk melintingnya juga. Candra lebih dahulu mengira-ngira banyak tembakau yang akan ia linting dengan jemarinya di dalam plastik tersebut, lalu meletakkannya di atas kertas lintingan. Barulah kami sama-sama melekatkan kertas lintingan dengan air liur sendiri dan siap untuk disulut. Mengepul asap bakaran di tengah-tengah kami saling menyambung dengan seruputan kopi. Apa yang dikatakan oleh Kakek Syarif benar adanya. Rasanya hampir sama dengan rokok putih sedikit menyerang tenggorokan. Namun, suasana santai di sini terlalu membawa kami hanyut di dalam percakapan. Alunan ombak yang pelan serta angin laut yang berhembus lembut. Kapan lagi kami menikmati momen ini selain di tengah laut yang biru.


“Fany itu orang yang kuat. Ia akan bisa bertahan dari keadaan ini.” Kakek Syarif menghembuskan asap tembakaunya.


“Kalau boleh tahu, Ibu Fany kenapa?” tanya Candra mendahuluiku.


“Kalian belum dikasih tahu Reira?” Kakek itu menatap aku dan Candra bergantian. Kami pun saling menggeleng, tak ada yang tahu mengenai penyakit apa yang sedang Ibu Fany idap. “Oke, aku hanya diberitahu oleh Reina. Fany sedang koma di rumah sakit setelah serangan jantung. Sebenarnya ia sudah lama didiagnosa ada penyakit jantung, tapi mungkin kali ini kambuh lagi.”


“Astaga ... pantas saja Reira menangis sejadi-jadinya tadi malam.” Aku menundukku kepala melihat lantai kapal, mengingat bagaimana sedihnya Reira waktu itu. “Tapi, Reina itu siapa?”


“Kakaknya Reira, siapa lagi? Yang baru pulang dari Perancis itu.” Ia bersandar ke kursi. “Haah ... bagaimana bisa Fany melahirkan dua anak yang luar biasa seperti itu ya ... padahal dulu dia anak yang kumal.”


“Oh, kakaknya itu namanya Reina? Aku enggak pernah menanyakan namanya sama Reira.”


“Tapi, Fany itu adalah orang yang kuat. Ini pasti bisa ia lawan. Sejak lahir tak lagi ber-ibu karena ibunya wafat setelah melahirkannya, lalu diasuh dan disusui di rumah kayu kecil tepi laut oleh adik perempuanku yang masih bisa menyusui. Pernah tak bersekolah karena susahnya Si Kumbang, dan dititip sana-sini karena ayahnya sering melaut. Termasuk ia pernah dititipkan sama bapaknya Milsa dan aku sendiri. Tunggang langggang menjadi buruh nelayan ketika masih muda. Akhinya, menikah dengan Si Bernardo, walaupun dia suka main wanita. Ia tetap tegar menjalani hidup sendiri, berusaha sendiri, tak pernah meminta tolong orang lain. “


“Akhirnya sifat itu menurun kepada Reira,” balasku pelan.


“Benar ... makanya aku sangat sayang sama dia. Dia sering aku bawa ke rumah untuk jadi teman bermain Razel sewaktu kecil. Soalnya Razel itu punya saudara yang jauh sekali jarak umurnya. Sampai sekarang pun perhatianku tak ubah layaknya seorang bapak, oh bukan ... seperti seorang cucu. Hahahah.”


Kami tertawa bersama-sama. Betul juga, ia lebih tepat dikatakan kakek daripada seorang bapak. Maka dari itu, Razel merupakan paman bagi Reira.


Suara seorang perempuan terdengar berkat ia berteriak dari jendela ruang kemudi. Kami sontak menoleh bersama-sama ke arahnya.


“Woi ... jangan ketawa-ketawa mulu! Sikat kapal gue! Termasuk kakek tua bertopi koboi itu!” teriak Reira.


Kakek Syarif hanya menggeleng sembari mengangkat alis menyadari dirinya sedang diperlakukan sebagai awak kapal.


***