Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 104 (S2)



EPISODE 104 (S2)


Mawar meloncat-loncat tepat di atas titik yang ditunjukkannya, persis seperti anak kecil yang tengah minta diambilkan sesuatu. Aku masih tidak melihat jambu tiga warna yang dipesankan oleh Reira sebelum kami pergi ke sini. Berkali-kali aku bertanya kepada Mawar mengenai jambu mana yang memiliki tiga warna tersebut. Berkali-kali pula aku dihujat bodoh oleh wanita jenius itu, enak sekali ia menyebutkan aku dengan kata itu, walaupun sebenarnya ia tidak salah.


“Itu! Masa enggak lihat!” Ia mulai emosi padaku.


Aku hela napasku. “Nih, sendal gue ... lempar ke mana jambunya. Soalnya jambu air di atas banyak dan gue enggak tahu mana yang jambu tiga warna.”


Ia mengambil sendal milikku, lalu melemparkannya ke segerombol buah jambu air. Buah tersebut jatuh berserakan di bawah, dua buah di antaranya menggelinding ke dalam kolam. Mawar berjongkok dan memilih salah satu di antara jambu-jambu tersebut.


Tangannya menadah padaku. Di atasnya ada jambu yang ia maksud. “Inilah jambu tiga warna yang dibilang oleh Reira.”


Jambu tersebut memiliki tiga warna berbeda, yaitu putih, merah, dan hijau. Jika aku lihat, lebih terlihat seperti jambu yang belum matang sempurna.


“Gini, doang? Gue rasa enggak ada spesialnya.”


Ia menarik ujung poniku hingga aku tertunduk karena hal itu. “Cobalah hargai hal-hal kecil yang dianggap spesial oleh orang lain.”


“Kalau sama gue, ini jambu yang belum matang.”


Tanganya terutup untuk menyimpan jambu tak matang itu. “Pokoknya gue udah dapet hadiah buat Reira, jambu tiga warna. Lo enggak harus mengambilnya sebanyak mungkin.”


Pak Dadang tiba dengan membawa seperangkat alat penangkap ikan. Tangan kanannya terpegang tangguk ikan besar, serta tangan kirinya membawa sebuah pancingan. Ia mengangkatnya bersamaan untuk menunjukkannya kepada kami. Bibirnya melebar tak bertepi.


“Kalian mau ditangguk atau dipancing?” tanya Pak Dadang. “Kalau nangguk, harus masuk ke dalam sana. Kalau pancing, tinggal duduk di pondok.”


Terdapat sebuah pondok kayu yang terletak tepat di tepi kolam, lalu menjorok ke dalam. Atap sengnya berwarna cokelat dikikis oleh karat. Tonggak empat buah mengokohkan agar pondok tersebut tidak tumbang ke kolam.


“Mancing aja deh, Pak. Umpannya ada?” tanyaku.


Pak Dadang tersenyum kembali. “Hahah ... kamu gali dulu di tepi kebun sana. Ada banyak cacing.”


Aku dan Mawar sama-sama menatap satu sama lain. Ingin kupinta anak itu memegang cangkul dan menggali tanah untuk mencari cacing. Namun, hal itu tidak mungkin pula aku lakukan. Terpaksa Mawar mengikutiku dari belakang, semabari menghindari tanah becek. Ia memegang pancing, sementara aku memikul cangkul menuju ke tepi kebun. Melihat tempat yang sedikit gembur, aku langsung menancapkan cangkul ke sana. Tergalilah sedikit demi sedikit tanah dan aku buang ke samping.


Mawar tertarik dengan apa yang aku sentuh dibalik tanah-tanah itu. Ia turut berjongkok ketika aku memisahkan cacing demi cacing dari gemburan tanah. Ujung telunjuknya menyentuh cacing yang basah berlendir. Aku hanya bisa menatapnya datar, seperti tidak pernah melihat cacing saja.


“Jangan dipegang-pegang. Kotor!” Aku menepuk tangannya tak ubah layakanya seorang anak kecil yang dimarahi oleh orangtua.


“Apa yang lo pikirkan tentang cacing tanah?” tanya Mawar.


Sontak aku menyipit melihatnya. “Gue enggak ada mikir apa-apa. Ini cacing bisa bikin kita makan kenyang. Jadi, jangan banyak tanya, okkay?”


“Permukaan tubuh cacing ini basah.” Ia kembali menyentuh salah satu cacing. Namun, aku dengan cepat mengambil cacing yang ia sentuh agar tidak dimain-mainkan. “Kenapa?”


“Di dalam tanah itu pengap, jadi dia keringetan. Sama kaya lo diselimutin berjam-jam. Apa enggak keringetan, coba?”


Mawar tertawa puas mendengar candaaanku. “Hahah ... keringatan? Mana ada cacing keringatan!”


“Itu ....” Aku menggeser cacing itu padanya.


“Wah, gue mendapatkan pelajaran cacingnologi sekarang,” jawabku datar.


Mungkin begini orang jenius menatap dunia dari matanya. Di kala aku hanya memikirkan cacing ini hanya sebagai santapan umpan kepada ikan, tetapi Mawar berpikir lebih jauh dari itu. Tak pernah aku tahu cacing bernapas dari kulit―mungkin saja aku tidak memerhatikan guru sesama sekolah―sehingga aku mengatakan jika cacing itu kepanasan di tanah. Aku rasa jika anak kecil mendengar ini, mereka akan percaya saja jika cacing itu berkeringat karena kepanasan di dalam tanah.


“Ini doang, kok. Masa lo enggak tahu ....”


Aku mengumpulkan cacing yang aku rasa cukup untuk beberapa ikan gurame. Bekas gelas plastik air mineral kemasan menjadi penampungnya.


“Ya, enggak ada gunanya juga gue tahu. Yang penting, gue bisa mancing karena ini.” Aku menatap dirinya kemudian. “Emang lo bisa mancing?”


Sungguh, aku naif sekali sebagai orang yang baru pandai memancing mengatakan ini. Tentu saja di kolam seperti ini tidak ada kesulitan. Jika seperti di Sungai Mirang, aku tentu membutuhkan pengetahuuan dari Razel dan Reira.


“Hahah ... anak pesisir lo tanyain tentang memancing.” Ia menepuk pundakku. “Udah gue bilang, kami dibesarkan dengan ikan. Salah satu cara mendapatkan ikan adalah dengan memancing.”


Ia melangkah terlebih dahulu. Tanpa dipandu pun, Mawar langsung memilih pondok kayu di atas kolam sebagai spot pancing. Aku tak ragu lagi tentang cara memancing. Ilmu-ilmu dari Razel telah aku serap dengan baik tatkala di perjalanan pulang dari Manggar ke Ibu Kota. Hingga di pondok pun, aku masih sangat petah memilin cacing dimasukkan ke kail pancing. Mawar tak mengomeni sedikit pun, katanya ia pandai memancing. Aku sebenarnya ragu anak rumahan itu pandai memancing. Tapi, mungkin saja masa kecilnya ternyata lebih alami daripada diriku yang menapak jalan antara gedung-gedung. Sementara dirinya dibesarkan di wilayah pesisir pantai yang syarat akan komunitas nelayan.


Kail di lempar, ikan langsung tampak mencuat ke atas. Sudah aku bilang, tidak sulit memancing di kolam. Di bawah sana ada ribuan ikan gurame yang berebut cacing pada kail. Ikan pertama pun didapat. Aku yang sok-sokan ahli dalam memancing pun membanggakan diri. Padahal, anak kecil pun aku rasa langsung bisa jika memancing di sini.


Seiringnya waktu, ember besar pun terisi dengan ikan-ikan pancingan. Pak Dadang meminta Mawar untuk segera membawanya ke dapur, karena istri Pak Dadang tengah menunggu di sana. Bumbu sudah dipersiapkan sedari tadi. Ada pun sisa bumbu sebelum-sebelumnya pun masih ada, jadi istirnya Pak Dadang tinggal menambah apa saja yang kurang.


Duduklah aku dan Pak Dadang kembali dengan segelas kopi yang ia tuang dari teko. Bersemayam asap tembakau yang menyengat darinya. Ia menawarkanku untuk menikmati tembakau lintingan ini. Untuk menghormatinya, aku pun mencoba melinting sendiri. Tanganku terasa kaku ketika melinting kertasnya, tak seperti Pak Dadang yang sudah terbiasa. Gerakaannya pun lebih cepat daripada Pak Cik Milsa atau pun Kakek Syarif yang sangat hobi merokok dengan bentuk seperti ini.


“Kamu pernah ketemu Pak Bernardo sebelumnya?” tanya Pak Dadang.


Aku menghisap tembakau lintinganku. Tersangkut tepat di gigi serpihan tembakau yang sempat tergigit.


“Belum, Pak. Soalnya dia kan anggota dewan, jadi jarang bisa ditemui. Wartawan aja susah ngeliput dia, apalagi saya yang orang biasa.”


“Oh, begitu ... saya kira kamu sebagai pacarnya Reira udah ketemu sama papanya itu.” Ia menatapku kemudian. “Cobalah temui Pak Bernardo. Kamu sebagai pacarnya berhak ketemu sama dia. Tanyai apakah hubungan kalian disetujui. Soalnya, hak asuh Reira dan Reina ada sama Pak Bernardo. Reina aja yang bandel, malah kabur dari rumah.”


“Nah, itu juga yang saya pikirkan, Pak. Saya punya keraguan kalau Pak Bernardo setuju sama saya. Bapak tahu sendiri kasta sosial mereka, sedangkan saya orang susah. Yatim piatu pula. Kami enggak punya sanak saudara. Pernikahan abang saya aja diwakilin sama Kakek Syarif.”


“Urusan jodoh itu punyaTuhan. Jika takdir bilang kalau kalian bakal bersama, Pak Bernardo bisa apa? Ya, kan? Hahah ....”


Tuhan bukanlah dalang, aku tak percaya takdir yang spontan seperti itu.


“Kalau takdir bilang kami enggak bisa sama-sama, saya enggak bisa ngapa-ngapain, Pak.”


“Hey, kamu itu masih muda. Masa nyerah begitu. Cinta itu enggak mandang status, kalau mandang status, berarti bukan cinta lagi namanya.” Ia memetik ujung tembakaunya. “Tapi, kalau itu terjadi ... kamu mau nikah sama orang Sunda? Ponakan saya cantik-cantik. Hahaha ....”


Aku memasang senyum terbaik. “Hahah ... boleh juga, Pak.”


Dalam hatiku kini berkata, aku merindukan Reira sekarang. Sedang apakah ia sekarang? Masihkah ia merasakan risau-risau itu di dalam hatinya? Aku harap ia bisa melimpahkan sedikit untukku. Hatiku yang kelam sejak lama ini sudah biasa merasakan cemas. Jikalau seluruh risalah hati itu bisa dipindahkan, aku rela menanggung semuanya agar ia bahagia. Bahkan, jika akal sehatku pun direnggut oleh beban-beban yang memukuliku.


***