Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 142 (S2)



EPISODE 142 (S2)


Bukan berarti sesuatu yang tidak ada itu benar-benar tidak ada, bukan berarti pula sesuatu yang ada itu akan menjadi. Bayangkan saja satu hal yang tidak ada di dunia ini, bukan berarti ia sama sekali tidak ada. Sebagaimana contoh orang menganggap manusia yang terbang merupakan omongan kosong belaka atau mereka di zaman pertengahan akan menertawaimu ketika engkau menceritakan betapa menakjubkan ponsel pintar. Setiap omong kosong bukanlah berarti ia benar-benar bualan belaka, melainkan akan menjadi sesuatu apabila diusahakan.


Orang-orang ternyata melupakan apa yang dinamakan proses. Mereka sibuk untuk melihat hasil akhir tanpa ingin tahu proses yang didahuluinya. Mereka hanya bisa mengutuk bagaimana etnis Tionghoa hidup makmur di pertokoan kota, tanpa pernah ingin mempelajari pola pikir mereka dalam berbisnis. Kita terjebak di logika yang salah ketika kebenaran dinilai dari latar belakang dan lain hal yang tidak masuk akal. Mereka hanya bisa menghina anak-anak nakal di SMA dengan sebutan cecunguk gagal, tanpa pernah tahu apabila mereka berproses, maka akan semakin mudah memutar balik omongan tersebut.


Ya, aku membenci omong kosong seperti itu. Kami sering disebut anak nakal sewaktu di SMA hanya kami berada di jurusan sosial. Memang, kami tak pernah tahu rumus-rumus matematika tingkat lanjut atau rumus fisika sebagaimana anak pengetahuan alam pada umumnya, tetapi kami menyukai kebebasan kami dalam berpikir. Kami berideologi, kami berseni, kami berkata sebebas-bebasnya dalam jangka aktualisasi diri. Segala yang kami lakukan merupakan sebuah proses, tetapi mereka hanya menilai keberhasilan dari rumus matematika dan cairan fisika yang mereka kuasai. ******* kau pendidikan yang salah! Aku cukup membenci guru-guru yang seperti itu.


Itu pula yang aku lihat dari sosok Bagas yang aku kenal sebagai orang yang buruk, tetapi aku terjebak dalam dogma di mana orang buruk akan selalu buruk. Hal itu pula yang membawaku untuk melarang Fasha untuk didekati oleh Bagas, meskipun pada akhirnya aku mengetahui jika mereka sudah menjalin hubungan sejak lama. Seharusnya aku tidak bisa menjastifikasi seorang Bagas, hanya menyarankan kepada Fasha apakah ia yakin dengan pilihannya atau tidak.


Ternyata sikap buruk itu hanyalah sebagian dari proses. Kita tidak pernah menduga-duga bagaimana akhir dari seseorang karena manusia itu unik. Itulah eksistensialisme manusia. Manusia itu eksis. Eksis bukan berarti sekadar ada, melainkan mendahului defenisi dari manusia itu sendiri. Manusia tidak berasal dari defenisi tertentu yang bisa jadi berasal dari dogma-dogma tertentu, melainkan manusia mencari defenisi itu sendiri sehingga ia bebas menentukan tanggung jawab yang akan ia pegang.


Sebagai tanda manusia itu adalah makhluk yang eksis, maka ia akan memilih bagaimana ia mencari makna kehidupan atau cara dirinya mengaktualisasi diri. Mereka tidak terkurung dari defenisi atau dogma-dogma tertentu yang mendahului manusia, tetapi manusia akan mencari defenisi dan dogma-dogma yang sesuai dengan dirinya. Keunikan itu tak akan pernah keluar dari jalur proses, Bagas melewati hal itu dengan baik.


Ya, begitu pula Reira yang nakal itu. Ia tetap mencari defenisi-defenisi mengenai arti dari manusia itu. Aku pun berharap bisa melewati proses itu dengan baik.


Bulan berganti dengan sekelumit risalah kehidupanku sebagai mahasiswa. Mungkin sekarang aku tak perlu pusing mengenai biaya hidup karena masing-masing dari aku dan Dika sudah bisa dikatakan mandiri dalam keuangan. Jikalau aku tak bekerja, aku sudah memiliki tiga pegawai yang setiap malam mengurusi cafe. Namun, aku tidak ingin hanya sebagai manajer yang cuma pandai mengatur. Aku tetap turut ikut serta dalam kegiatan mereka sebagai pengalaman terbaik untuk mempelajari diri sendiri dan orang lain.


Ya, senang sekali ... aku tidak pernah membayangkan aku akan seperti ini. Aku kira, diriku akan berakhir di ujung kamar dengan asbak rokok berantakan sembari pusing menyelesaikan kuliah. Tetap sama sepertinya, tetapi bedanya aku memiliki waktu untuk mencari uang tambahan demi membantu Dika yang pontang-panting bekerja.


Senang pula diriku ketika seorang wanita menawarkan diri sebagai pegawai baru. Rahmah namanya, memiliki arti yang pengasih. Wanita itu anak Jurusan Peternakan yang bahkan lebih tua dariku. Sisa-sisa waktunya menyelesaikan skripsi ia selingi untuk bekerja. Bosan katanya saban hari hanya di kamar menyelesaikan skripsi. Parasnya yang lumayan menjadi daya tarik cafe karena diisi oleh dua barista menawan. Kak Rahmah aku posisikan sebagai partner Mawar dalam meracik kopi, sementara itu aku dan Zulqarnain sibuk bercelemek di hadapan kompor.


Sudah aku bilang, baru seminggu Kak Rahmah bekerja ... ia sudah begitu akrab dengan Reira. Reira sibuk bertanya tentang ilmu ternak, terutama ayam yang sedang ia pelajari.


“Ayam gue ngambekan ga mau makan!” Reira menekan bell pesanan, padahal belum ada menu yang diselesaikan oleh kami.


“Hahah ... mana ada ayam ngambekan, Reira,” balas Kak Rahmah.


“Kayanya ada jenis ayam yang baperan ya, Kak.” Aku melepas celemek karena pengunjung sudah mulai sepi. Hari makin larut saja, hanya beberapa orang yang masih bertahan dan kami tunggu hingga pulang.


“Bisa jadi dia stress karena diganggu banyak faktor. Bukan dia ngambekan. Ada-ada aja,” sambung Mawar.


Zulqarnain sibuk di bagian outdoor untuk memberesi meja yang sudah tidak ada pengunjung. Aku lebih suka memanggilnya dengan nama lengkap, daripada Ijul atau lebih nyeleneh lagi dengan panggilan Panjul.


“Jadi, udah daftar wisuda?” tanya Kak Rahmah kepada Reira.


“Belum, sih ... males ngurusnya ke akademik. Lagian, enggak wisuda pun enggak apa. Ijazah itu cuma kertas kosong!” tegas Reira.


“Tunggu dulu ... wisuda?” tanya Mawar dengan heran. “Sejak kapan lo ngebicarain wisuda?”


“Sorry, kawan ... gue lebih dahulu.” Ia menyindir kami bertiga yang masih berjuang dengan skripsi.


“Lo kok enggak bilang-bilang?” tanya Mawar kembali. Selanjutnya, ia menoleh padaku. “Lo tahu, Dave?”


“Hahah ... enggak perlu juga gue pamer kalau gue udah lulus. Kasian orang kaya kalian.” Anak itu tak peduli dengan omongannya, tetap menusuk demi idealisme diri.


“Akhir bulan Kakak bakalan sidang. Kalian harus datang, ya ....” Kak Rahmah menatap kami bertiga.


“Kalau Mawar, hari jumat besok.” Reira memberitahukan informasi tersebut. Mawar sudah mendaftar sidang sejak bulan lalu dan akan mendapatkan giliran hari Jumat depan. Hal itu berarti lima hari lagi.


Aku di sini hanya tersenyum mendengar informasi kalian. Aku masih di awal sekali, tidak bergerak, dan begitu lambat untuk maju. Penelitianku masih melewati proses revisi di bagian proposal. Hal itu pula yang menjadi tantangan hidup bagiku sendiri.


“Op, kasihan David yang proposal aja belum beres,” ejek Reira. Lalu, ia menggenggam tangannya. “Tenang, gue masih bisa nunggu wisuda buat kalian. Kita bisa wisuda bareng! Gue mau jadi perwakilan mahasiswa buat pidato, terus memprotes rektor tepat di hapadannya!”


“Kita ada masalah baru sepertinya. Hahah ...,” candaku.


Malam sudah meminta kami untuk pulang ke rumah masing-masing. Bergegas kami memberesi seluruh peralatan agar tenang ketika meninggalkannya. Berangkatlah aku dan Mawar bersama Reira di dalam sedan hitamnyta tersebut. Sementara Kak Rahmah dan Zulqarnain pulang dengan kendaraan masing-masing. Seperti seorang bos, Reira memerintahku untuk mengemudikan mobil. Mereka berdua duduk di belakang sembaiu melumuri kuku dengan pewarna milik Mawar. Perlahan tetapi pasti, Reira belajar menjadi feminim dari wanita itu.


“Bang Ali udah balik kampung ke Sumatera,” ucap Reira ketika kami sampai di pekarangan rumah Mawar. Ia meminta untuk singgah dahulu untuk menikmati pemandangan bintang melalui teleskop.


Niatku berhenti untuk menutup pintu mobil. Tatap wajahku menoleh pada Reira yang baru saja keluar.


“Lah, dia enggak bilang-bilang?” tanyaku.


“Dia buat apa di sini lagi. Mobil rentalannya di kasih lagi sama kerabatnya itu. Bang Ali juga tinggal nunggu jadwal wisuda. Emak dan bapaknya pasti rindu anak nakal mereka.”


“Iya juga sih ... Bang Ali bisa ketemu calonnya di sana. LDR itu pahit.” Aku menyentuh dada untuk menghayati.


Mawar dan Reira tertawa ketika aku melakukan itu.


“Tapi, kita malah diajak oleh Bang Ali ke sana.” Ia mengeluarkan sesuatu dari balik kantung hoodie-nya. “Ini satu buat David ... ini satu buat Mawar.”


Aku terheran-heran melihat benda seperti undangan itu merayap ke tanganku. Dengan jelas terpampang nama Ali dengan font yang besar, bersanding bersama nama seorang wanita di bagian depan.


“Minggu depan setelah Mawar sidang, kita lanjut ke petualangan baru. Kita enggak tahu apakah petualangan ini adalah petualangan terakhir kita, yang penting ada sebuah tempat yang harus kita datangi dengan keseruan lagi.” Reira seperti bersyair ketika mengatakan tersebut.


Mawar memandang tak percaya. “Beneran Bang Ali bakalan resepsi?”


Benar, ini adalah undangan resepsi pernikahan Bang Ali. Sebagaimana perkataan Reira yang mengatakan bahwa Bang Ali akan menikah bulan ini.


“Mari kita menyeberang pulau lagi! Urusan biaya, kalian enggak usah mikirin. Kita bakalan pakai uang rampasan dari negara korup, yaitu papa gue sediri. Hahaha!!!”


Reira tertawa keras menuju rumah Mawar.


***