Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 40 (S2)



EPISODE 40 (S2)


Ada yang lebih indah daripda senja yang aku nanti tiap hari, yaitu malam. Penutup hari yang penuh keletihan ini tak lagi digunakan untuk merenungi, namun untuk memetik peluh seharian dengan pemandangan langit yang penuh gemerlap bintang gemintang. Ya betul, hari merupakan serangkaian perjalanan yang bisa dianalogikan terhadap perjuangan hidup. Tatkala pagi yang cerah menyambut mata yang sembab oleh kantuk itu, mulailah bergerak keluar rumah unuk menatap hari. Terkadang siang yang panas masih dipergunakan untuk berusaha, hingga senja menanti orang-orang masih berkutat dengan urusan dunia. Perenungan sejati pun dihelat pada sore hari yang jingga, hingga berakhirnya batas-batas cerah kepada malam untuk dituai hasil seharian.


Keluarga, teman, rumah, bahkan tubuhku patut untuk menuai usaha seharian tatkala malam. Malam diciptakan untuk semua itu dan benar-benar dituntut untuk melupakan semua tuntutan yang masih akan dilakukan untuk esok hari. Tepat pada titik di mana aku duduk, tatap sorot mata kami saling beradu sama lain tanpa senyuman berarti. Mawar berpangku lutut dengan alas sebuah karton di tepi api yang ia buat, sementara itu aku di seberangnya yang tengah terdiam merasakan kehangatan. Tak ada nyamuk yang ingin mendekat, lotion anti nyamuk yang diberikan Mawar ternyata sangat membantuku.


Ia berbalik ke arah tenda, namun kembali lagi ke sini dengan membawa tasnya. Ia keluarkan sebuah termos yang lumayan besar, serta beberapa alat penyeduh kopi ala cafe. Sebagai anak dari pengusaha kedai kopi, tentu tidak heran ia memiliki barang-barang seperti itu. Apalagi, Mawar cukup suka menyeduh kopi dan bahkan berani membawanya ke lantai perpustakaan sembari baring-baring pada sudut paling tepi.


“V60?” tanyaku. V60 merupakan salah satu metode manual menyeduh kopi dengan sebuah corong tempat penampung kopi, lalu disiram perlahan dengan air hangat. “Lo pandai pakai itu?”


Ia menaikkan alisnya. “Yang benar saja? Anak dari warung kopi yang menyediakan berbagai metode seduh, masa enggak bisa. Mau?”


“Udah gue bilang, kopi adalah barang sakral untuk ditolak.”


Bibirnya tersenyum. “Kalimat yang sama ketika kita pertama kali ketemu. Di perusatakaan waktu itu.”


“Hahah ... ingatan lo kuat juga. Ya ... kata-kata itu selalu gue bilang ke orang-orang yang nawarin gue kopi.”


Aku mendekat padanya untuk memerhatikan proses penyeduhan V60 yang hanya bisa aku lihat dari situs menonton video. Kini, aku melihatnya secara langsung oleh orang yang sudah biasa melakukannya. Pertama, ia melipat kertas saring ke bentuk yang sama dengan wadah kerucut. Wadah tersebut diletakkan di atas wadah kaca tempat penampung tetes demi tetes kopi nantinya.


“Lo mau mencobanya?” tanya Mawar tatkala ia menuang air panas ke gooseneck, sebuah alat penuang air panas yang ujungnya berbentuk leher angsa. Biasanya selalu digunakan oleh para barista ketika menyeduh.


Aku menggeleng. “Kalau gue, nanti takut enggak jadi kopinya.”


“Oke, perhatikan.” Tidak lama kemudian ia menunjukku. “Membuat kopi itu kata Mama harus dengan cinta. Karena kopi itu punya arti yang sangat dalam bagi para penikmatinya. Harus penuh senyuman seperti ini.”


Baru kali ini aku melihat wanita yang selalu berwajah datar itu tersenyum dengan tulus dan begitu lebar, seakan aku tak lagi melihat sosok Mawar yang tertutup. Kini, wajahnya penuh dengan arti-arti yang menunjukkkan bahwasanya kali ini ia sedang berada di titik jati diri tertinggi. Menuang kopi baginya adalah hal yang sangat menarik, bahkan lebih memilik menjadi pemilik warung kopi daripada mengambil magister Psikologi atau bekerja sebagai tenaga profesional di bidang itu.


Tangannya menuang air panas dari gooseneck perlahan dengan gerakan memutar. Sesekali ia berhenti menuang tatkala air sedang menumpuk pada wadah kerucut, menunggu air seduhan menetes ke bawah. Tanpa diduga, ia menyentuh tanganku dan menariknya kepada gagang gooseneck. Tatapannya yang dalam mengajakku untuk mencobanya.


“Cobalah ... ini hal yang mengasyikkan.”


Aku tersenyum senang ada orang yang mengajakku untuk meracik kopi. “Gue enggak ngerti tekniknya.”


“Hahaha ... hanya gerakin gooseneck-nya memutar seperti yang gue lakuin. Apabila airnya udah penuh, tunggu dulu hingga menetes, lalu ulangi lagi.”


Tanganku mengangkat gagang gooseneck dan mencoba menuangkan air panas. Namun, air tak kunjung tertuang. Aku pun menatap wajah Mawar yang tengah menyorot lucu. Tangannya kini beranjak ke badan gooseneck, lalu membimbingku untuk menuang air panas.


“Lo kurang miringin, pantes aja airnya enggak keluar. Bagaimana, sih? Hahaha ....” Kini ia putar goosneck itu, sementara aku masih memegang gagangnya. “Terus seperti ini.”


Ia melepaskan tangannya dari gooseneck, lalu membiarkan aku untuk melakukannya sendiri. Ternyata tidak terlalu sulit apabila diajarkan langsung seperti ini. Aku pun tersenyum senang sembari menyeduh kopi ini perlahan. Satu ilmu aku dapati dari Mawar.


“Wah, ini mudah ternyata ....” Aku meletakkan gooseneck di bawah karena air panasnya sudah habis kutuang.


“Mudah sih mudah, karena udah gue takarin kopinya sama air panasnya. Coba kalau lo sendiri yang ngegiling kopi, atau yang lain-lainnya. Hahahaa ....”


“Ya kan gue lagi belajar, hahahah.”


Kami tertawa bersama-sama di bawah naungan angin malam yang berhaluan lembut menerpa. Kopi pun menetes dengan sempurna ke dalam wadah kaca di bawahnya, kemudian Mawar menuangkannya ke dua cangkir kecil yang ia bawa. Satu ia berikan padaku, satunya lagi untuknya. Aku bawa dirinya bersulang untuk malam ini sembari menyukuri hal-hal yang telah kami lalui dalam satu hari. Sudah aku bilang, malam hadir untuk memetik peluk penat seharian. Cukup sempurna kami duduk berdua di tepi pantai sembari mendengar deru ombak yang harmoni. Belum lagi, terangnya pemandangan api yang mulai membesar di hadapan kami. Hangat begitu hangat, kopi yang pahit pun semakin syahdu kami seruput.


“Ada satu hal yang enggak gue mengerti di dunia ini,” ucapnya.


“Apa itu?” tanya Mawar.


“Cinta ... mengapa orang terlalu mengabdi kepada cinta, hingga terwujudlah istilah bucin, budak cinta.” Ia menoleh padaku. “Lo pasti bucin?”


“Hahah ... kaya anak SMA segitu banget ngebucin. Enggak ... gue dan Reira biasa aja. Malah, kami seperti kawan, serius .... Mana ada pacar yang ingin berkumuh ria di depan kekasihnya, kecuali Reira sendiri.” Aku tertawa di akhir kalimatku, lalu menyulut ujung tembakau dengan pemantik api. “Cinta itu rumit, itu aja sih. Karena cinta itu rumit, jadi banyak orang yang menyalahkan arti dari cinta. Cinta juga bukan saling memiliki karena cinta bukanlah barang yang punya hak kepemilikan. Orang-orang bucin cuma menyadari kalau cinta butuh pengorbanan, seakan tidak tulus buat ngedapatin cinta. Cinta enggak butuh pengorbanan, kalau cinta butuh pengorbanan berarti engkau tidak cinta lagi. Itu kata Mbah Tejo.”


“Lo ngucapin panjang begini kaya lagi baca puisi, ya?” Matanya yang sipit semakin tak tampak karena tersenyum.


“Hey, gue memang penyair, walaupun amatiran.”


“Enggak, kok. Puisi lo bagus, gue baca itu di mading fakultas. Selain itu, gue selalu hadir di event sastra kampus sebagai perwakilan dari organisasi, soalnya gue bidang organisasi dan seni. Lo selalu ikut di sana, kan?”


Seakan tak percaya, ternyata Mawar turut menikmati untaian kata yang tak berarti yang aku susun tanpa tujuan, lalu aku beri sedikit daya tarik untuk dijadikan sepenggal puisi.


“Lo pernah lihat gue baca puisi?”


“Enggak selalu, sih. Tapi, gue pernah. Dan lo ....” Ia menunjukku dengan tegas. “Udah berkali-kali kami bilang setiap orang yang mengisi mading harus laporan dulu ke BEM. Dan lo enggak pernah sekali pun melapor sama kami.”


“Hahaha ... males banget. Ini salah satu yang enggak gue sukai dari organisasi, ribet dan penuh aturan birokrasi. Masa yang begituan harus lapor dulu? Gue ngebayar kampus, kok. Bukan ngebayar BEM.”


“Dasar lo ya ....” Ia mendorong pundakku. “Fasha juga anak BEM. Hati-hati ....”


“Keluar saja dari sana ... jadilah independen seperti Reira. Gue jijik lihat politik di fakultas. Organisasi kecil di dalamnya dijadiin kaya partai buat duduk jadi ketua BEM atau BLM. Nyari-nyari pengaruh ke adik kelas kaya sok-sokan ngajakin nongkrong, padahal cuma buat nyari pengaruh sama setiap angkatan. Trus, kalau udah naik ... yang diangkat jadi bawahannya ialah orang-orang terdekat.”


“Lo paham juga tentang hal-hal seperti itu?” tanya Mawar.


“Tentu saja. Gue suka diskusi dengan teman-teman kantin. Semua masalah kampus selalu kami bicarain di sana.”


Aku menurunkan tanganku dari lutut ke permukaan pasir. Tanpa sengaja, tangan kami saling bersentuhan satu sama lain. Sontak kami saling menarik tangan dengan cepat.


“Jadilah diri lo sendiri di kampus, bahkan di organisasi. Apabila ada yang enggak sesuai dengan koridor, tolak sekeras-kerasnya. Contohnya ini, kenapa sih anggota BEM itu semuanya anak dari organisasi agama, trus mantan anggota Himpunan Mahasiswa, sedangkan BLM semuanya anak organisasi kesenian dan olahraga fakultas. Denger-denger udah bagi jabatan dulu sebelum naik. Satu ke kiri dan satu lagi ke kanan.”


“Besok-besok lo deh jadi ketua BEM. Berasa iya banget bilangnya. Hahahah ....”


“Gue ini selain penyair, gue analisator politik kampus. Hahahah.”


Inilah, Kawan ... dari secarik kopi yang diseduh bersama-sama, selalu membuat percakapan antara dua manusia menjadi lebih bermakna dari sebelumnya. Tenang tanpa beban menyuarakan pendapat dan perasaan dalam satu lingkup bincang ringan yang dihelat, lalu berakhir dengan tawa bersama-sama tatkala ada hal lucu yang sempat terlintas. Mawar seketika menjadi seseorang yang luwes tanpa jarak yang selama ini ia bentang. Kami teruskan bincang ringan kami, hingga langkah dari desir pasir terdengar melalui belakang.


Razel menggendong Reira dengan susah payah di belakangnya. Reira malah meminta untuk lebih kencang melangkah menuju ke tenda. Terdengar jelas sekali desakan Reira yang kadang tidak masuk akal. Kini malah Razel yang sedang ia kerjai. Sementara itu, di belakang mereka melangkah dua insan yang salah satunya tengah dimabuk asmara.


Masih dengan peci terpasang di kepala dan sajadah yang dipegang pada tangan, sudah seperti film-film santri yang mengulas bagaimana malu dan santunnya seorang santri mendekati pujaan hatinya, walaupun aku tahu tidak satu pun kelakukan Candra yang sesuai dengan sifat-sifat seorang santri.


“Wah, enak banget beduaan,” sindir Candra berdua.


“Lah, bukannya Reira yang nyuruh gue nunggu di sini bersama Mawar?” Aku menoleh kepada Reira. “Kok lama banget, sih?”


Reira melemparkan sajadahnya padaku. “Lo kira deket apa? Udah ... pergi sana sembahyang.”


Aku gantungkan sajadah pada pundakku, lalu beranjak pergi untuk sembahyang.


Sehabis dari melaksanakan ibadah, perutku dibuat lapar ketika wangi tumisan menyeruak ke hidungku. Para gadis itu tengah berkumpul membuatkan sesuatu untuk dimakan, sementara Candra dan Razel malah bermain game dengan duduk di atas pasir. Reira mengeluarkan ikan kakap besar yang sudah di-ungkep sebelumnya. Wadah kotak plastik itu sesak oleh besarnya tubuh ikan kakap. Reira bersemangat menusuk ujung mulut ikan tersebut dengan sebuah kayu untuk gagang bakaran.


Layaknya seperti ibu-ibu yang sedang memasak untuk acara arisan, percakapan mereka terdengar mengasyikkan di sana. Sembari meracik bumbu untuk nasi goreng, mereka bertiga mengiringi pekerjaan tersebut dengan gosip-gosip selebirit terbaru yang sama sekali tidak aku ketahui. Aku yang sedang merokok di tepi api hanya bisa tertawa tanpa bunyi tatkala melihat mereka seperti sekumpuulan ibu-ibu.


“Eh, jangan ketawa di sana,” sindir Reira. “Lo ke sini dulu.”


Aku terbatuk dibuatnya. “Kenapa?”


Tangan Reira memberikan gagang pegangan bakaran ikan kakap yang sudah ia pasang tepat di mulut ikan. “Bakar di sana, daripada elo enggak aja kerjaan dan cuma meracuni paru-paru.”


“Oh itu, baiklah.”


“Lo pandai bakar ikan, kan?” tanya Reira seakan tidak merasa yakin.


“Ya pandailah ... Yang masakin Dika di rumah itu gue. Jadi jangan remehin gue, ya ....”


Seperti orang bodoh aku di sini berlama-lama berjongkok semabri menunggu ikan matang di tempat bakaran. Zainab turut datang membantuku dengan melumuri bumbu tambahan ke permukaan tubuh ikan. Cukup pegal juga apabila hanya memegangnya dari satu sisi. Oleh karena itu, aku mencari sanggahan pada kayu yang ditancap ke dalam pasir, sehingga aku lebih mudah memegang gagang kayu bakaran ikan.


Reira sebagai orang yang sering menjelejahi alam, tentu saja punya seperangkat alat bertahan hidup, salah satunya ialah kompor portable yang biasa dipakai oleh anak-anak kemah di atas gunung. Berdesislah nasi goreng yang dimasak di atasnya dengan gerak enerjik seorang Mawar yang berusaha menciptakan nasi goreng kambing seperti di warung kopi orangtuanya itu. Tentu saja tidak diragukan lagi kemampuan masak seorang Mawar karena ia selalu membantu orangtuanya di dapur.


Tanpa menunggu Candra dan Razel yang tak membantu sedikit pun, kami menyudahi pekerjaan ini dengan sempurna. Selapis daun pisang yang Reira minta pada masyarakat sekitar menjadi alas ikan bakar yang sudah matang. Melihat kami yang sudah berkumpul bersama pada satu titik, membuat mereka yang sangat tak acuh itu ikut-ikutan pula mendekat.


“Wah, udah jadi, nih ....” Candra mematikan layar handphone-nya.


“Alah ... lo main game aja kerjaannya,” cibir Reira sembari menuang kecap pedas manis ke atas wadah kecil sebagai teman menikmati ikan bakar.


“Kalau banyak tangan, nanti malah enggak enak.” Candra menoleh ke arah Razel. “Ya, kan?”


“Iya, betul itu. Hahaha ....”


Piring dibagikan satu per satu kepada kami semua. Nasi goreng kambing buatan Mawar sedang menunggu untuk dimakan. Namun, Reira belum mempersilahkan kami untuk mencolek ikan bakar kakap tersebut. Bahkan, ia menepuk telungkup tangan Candra yang berusaha untuk mencuilnya.


“Terima kasih hari ini ... kita bisa hadir bersama-sama ke acara paling sakral dalam budaya kapal laut Reira.” Ia berdiri tiba-tiba. “Mawar dan Zainab berdiri. Kalian harus gue angkat sekarang juga secara resmi menjadi awak kapal gue.”


Aku tertawa pelan mendengar hal itu. Sudah pasti seperti yang Reira lakukan tatkala ia secara imajinatif mengangkatku sebagai asisten kapten kapal. Imajinasinya yang luas itu kadang memang terdengar gila. Namun, ia sangat menghargai hal-hal kecil seperti itu.


Mawar dan Zainab yang kebingungan, namun mereka tetap berdiri bersamaan.


“Oh, tunggu ....” Reira melangkah ke tenda beberapa saat, lalu kembali muncul dengan membawa kertas yang dilipat membentuk sebuah topi. “Pakai ini ....”


Sudah aku duga, hal itu merupakan aksi yang sama ketika ia secara resmi mengangkatku.


“David, ambilkan tongkat gue,” perintahnya.


Aku yang sudah paham, langsung menggenggam tongkat kayu bekas merakit tenda. Ucapan terima kasih aku terima tatkala menyerangkannya kepada Reira.


“Baiklah ... kalian secara resmi gue angkat sebagai awak kapal gue.” Tongkat tersebut menyentuh kedua ujung pundak masing-masing dari mereka, persis seperti pengangkatan panglima perang oleh ratu-ratu kerajaan di Eropa. “Ikuti perkataan ini ... GUE BERJANJI SETIA KEPADA KAPTEN REIRA UNTUK SELALU BERSAMANYA. BERLAYAR KE SELATAN UNTUK MEMBERI MAKAN PINGUIN DI ANTARTIKA. BERUBAH HALUAN KE BENUA HITAM UNTUK MENCARI PELIHARAAN KODOK AFRIKA.”


Sangat persis seperti yang ia teriakkan pada saat itu di danau kampus, tepat sebelum kami tercebur bersama-sama sehingga membuat ponselku rusak.


Mawar dan Zainab masih kelihatan bingung. Namun, tatap wajah Reira memberikan mereka mengikuti perkataan itu satu per satu hingga menuju akhir kalimatnya. Tatkala hembusan napas paling terakhir pada kalimat itu berakhir, resmilah mereka berdua menjadi awak kapal Reira.


Sudah aku bilang, tidak butuh hal besar untuk membuat Reira bahagia dan bangga. Hanya sepenggal kata itu pun mampu membuat matanya berkaca-kaca dan memelukmu dengah haru. Hanya sesederhana itu. Begitu pula cintanya yang tak pernah menuntut lebih. Hatiku bergetar tatkala mengingat hal tersebut.


***