Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 53 (S2)



EPISODE 53 (S2)


Membuat sebuah kelas tata rias aku pikir merupakan suatu ide yang sangat cemerlang jika diterapkan kepada awak kapalnya itu. Mereka tidak semuanya lelaki yang lebh memilih bermain peran bajak laut, melainkan masih ada anak-anak perempuan yang memegang boneka di dalam gedung itu. Ya ... aku rasa dia sangat berjasa apabila mereka besar nanti hidup dengan memegang kuas rias, menata wajah orang-orang besar yang berasal dari ilmu yang diberikan oleh Reira dan Mawar sewaktu kecil. Permulaan suatu yang besar tentu saja dari kecil terlebih dahulu.


Dokter Alfian sebelumnya juga membuka kelas keilmuan alam yang mengajarkan berbagai hal. Tentu saja Alfian sangat paham dengan ilmu kesehatan, dan sebagian besar mereka pasti diceritakan hal dunia medis. Sesuatu yang menarik bagi mereka apabila mengenal penyakit-penyakit langka yang jarang sekali diketahui orang lain, atau pengalaman-pengalaman Dokter Alfian sesama mengabdi sebagai seorang dokter. Sewaktu ditepian laut dermaga Manggar waktu itu, remaja-remaja yang Reira bawa paham jika mereka tidak akan merokok. Mereka lebih pintar dariku. Aku saja yang bebal.


Berbeda dengan Reira. Wanita itu spesialis di bidang ilmu petualangan dan cara bertahan hidup. Baginya, semua ilmu-ilmu khusus itu tidak sebanding dengan pengalaman-pengalaman manusia yang berjalan di muka bumi ini. Manusia bertahan hingga sekarang tidak diawali dengan keilmuan khusus, melainkan pengalaman-pengalaman tersebut yang membuat manusia belajar. Reira yang spesialis hal tersebut, hingga bercerita panjang lebar mengenai pengalamanya kepada mereka, tidak lupa pula mengajak mereka untuk pergi keluar. Ada-ada saja yang akan Reira ajari. Menangkap ikan di parit, berburu kupu-kupu untuk dijadikan pajangan, serta membuat mainan-mainan kertas yang akan mereka jadikan teman di gedung itu.


Aku menatap diriku sendiri di meja kaca cafe Reira. Terbesit di dalam pikiranku untuk mengajari mereka satu hal yang berguna. Dokter Alfian juga menyarankan diriku untuk mengajari mereka mengenai satra. Aku tidak mungkin bisa mengajari mereka untuk menuli sebuah novel, namun masih bisa kuajak mereka bersyair. Semua orang aku rasa pandai bersyair karena hidup itu juga berasal dari serangkaian kata-kata. Tanpa kata-kata, manusia tidak akan bisa mengerti mengenai makna-makna. Puisi merupakan kata-kata yang penuh dengan makna. Sedikit sentuhan dariku, mereka bisa menjadi penyair cilik untuk kalangan mereka. Selain itu, mereka aku rasa bisa diajari untuk menulis sebait puisi yang sederhana.


“Gue bisa mengajari mereka berpuisi,” ucapku tiba-tiba.


Reira mendongakkan kepalanya setelah mengotak-atik handphone di atas meja.


“Akhirnya lo menyadari bahwa sudah saatnya melakukan kebaikan.”


“Hahah ... emangnya selama ini gue ngelakuin hal jahat?” tanyaku untuk memancing.


“Iya, gue rasa. Hahaha ....” Reira tersenyum. “Tapi ingat satu hal.”


“Apa itu?” tanyaku.


“Enggak ada istilah guru dan murid di sana. Kita ini saling membutuhkan. Murid adalah guru, guru adalah murid. Lo selain mengajari hal yang lo kuasai kepada mereka, tapi percayalah ... lo pasti akan belajar banyaaak banget dari mereka.”


“Kata-kata dari siapa itu?” tanyaku.


“Entahlah ... spontan aja. Hahaha ....”


Tidak ada hal yang harus dilakukan lagi, menandakan kami harus segera pulang. Pegawai mamanya Reira tiba ke meja tatkala aku melangkah keluar cafe, sementara itu Reira masih berbincang dengan salah satu pegawai yang lain. Tatkala ada yang ingin memberesi meja kami, Reira seketika menolak. Terdengar bahwa biarlah dirinya sendiri yang memberesi meja kami. Aku pun tersenyum melihat tingkah Reira tersebut. Dengan penuh hormat pegawai tersebut mengiyakan permintaan Reira.


Aku menadah ke langit-langit mall yang terbuat dari kaca yang memperlihatkan sebagi kecil dari panorama malam. Terbesit rinduku terhadap seorang teman yang beberapa hari ke depan akan segera menikah. Terpikir pula apa yang sedang ia lakukan malam ini, seperti dahulu-dahulu yang selalu memberi kabar mengenai hal yang ia lakukan setiap malam. Bahkan, membersihkan kotoran kucing pun ia kabar dengan menunjukkan fotonya melalui chat. Ia berkata akan menghadiahiku ini apabila tidak melihat video cover lagu yang sering ia posting di media sosialnya.


Beberapa hari aku menunggu waktu bahagianya Fasha. Hari dilewati biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Pagi aku bangun lebih awal untuk menjadi kasir di bengkel dika, atau mengerjakan pekerjaan ringan seperti menambal ban dan mengganti oli. Jika urusan perbaiki mesin, aku angkat tangan dan menyerahkan sepenuhnya kepada pegawai-pegawai Dika. Siang harinya aku akan membeli makanan untuk Dika dan pegawainya dan makan bersama-sama di belakang bengkel. Setelah itu, kami bersenda gurau dengan diselingi sebatang tembakau. Lanjutlah rinduku kepada senja yang dinantikan. Aku helat senjaku di muka rumah sembari mengerjakan tulisanku yang belum selesai, tentu saja hadir selalu kopi hitam pekat agar imajinasiku semakin menggila. Tatkala panggilan beribadah memanggil, aku bergegas ke rumah ibadah, lalu kembali pulang untuk beristirahat. Jika Candra mengajak nongkrong, aku hidupkan vespa tahun lima puluhku itu.


Reira pun kembali dengan kehidupan normalnya dengan mengunjungi gedung terbengkalai itu untuk makan bersama mereka. Ia selalu mengabari apa saja yang sedang ia lakukan. Namun, kami sedikit sekali bertemu karena ia sibuk bolak-balik rumah sakit karena mamanya kini sudah dipindahkan ke ruang inap. Hanya sekali kami bertemu ketika mengunjungi rumah Kakek Syarif. Di sana pula kami bertemu kembali dengan Razel yang jenaka.


Hari ini tepatnya, aku berada di depan pintu rumah untuk menjemput Reira menuju resepsi pernikahan Fasha yang dihelat pada malam hari. Tidak ada angin yang berhembus untuk menerbangkan ongket yang aku pasang. Kak Reina tiba dimuka pintu dengan penuh senyuman, lalu menarikku dengan sesegera. Ia tutu mataku rapat-rapat menggunakan tangannya dan ia tuntun langkahku menuju sebuah tempat. Aku tidak tahu akan ke mana suaranya yang memintaku untuk berbelok, hanya aku ikuti saja.


Tibalah aku di depan muka pintu yang tertutup, lalu diminta Kak Reina untuk menggapai gagang pintunya. Terbukalah pintu itu perlahan, berdecit suaranya ketika aku masuk. Tampaklah seorang wanita berambut sanggul yang memuta tubuh di hadapan cermin. Ia sedikit melekuk lututnya yang terbalut rok panjang bermotif batik Melayu di bawahnya. Terjulur baju kurung tersebut hingga ke tengah-tengah paha, membuat anggun seorang wanita yang tengah tersenyum padaku itu. Kini sungguh berbeda, wajahnya bagaikan seorang putri raja. Riasan pesta tersebut menggugah hasrat cintaku untuk terus menatapnya. Lentiknya bulu mata bergerak perlahan ketika ia mengerjap, memberikan impuls-impuls yang menyasar sensorik rasaku.


Reira sudah memakai baju kurung Melayu yang ia idam-idamkan. Ia terlihat sangat anggun sekali, penuh dengan sifat-sifat feminim yang selama ini samar-samar mencuat darinya.


“Aku beri dua pertanyaan. Langsung dijawab, apakah gue cantik hari ini? Siapkah yang tercantik di ruangan ini sekarang?”


Pertanyaan itu tidak memberikanku pilihan jawaban. Wajahnya memandangku untuk menjawab segera.


“Ada satu kata untuk dua pertanyaan, itu lo.”


Reira menaikkan alisnya pada Kak Reina.


“Jelas, kan?”


Tanpak ekspresi jijik dari Kak Reina yang melihat tingkah Reira tersebut. “Jelaslah, dia kan pacar lo. Coba dia pacar gue, pasti gue yang dipilihin.”


“Makanya, cari pacar. Gue yang keling begini dicari orang, lo aja yang pemilih!” Reira duduk di atas ranjang.


Tiba-tiba Kak Reina menepuk lututku. Ia tanggalkan songket yang telah aku pasang sebaik mungkin. Aku pun terheran dengan apa yang ia lakukan.


“Songket lo salah pasangnya!” Kak Reina menyentuh sanggul rambut Reira untuk memastikan tidak ada yang kurang.


Aku mengangkat kembali songket tersebut.


“Wah, salah dari mana. Orang masangnya tinggal dilipat kaya sarung, kok.”


“Iya, ya? Kok gue enggak tahu?” tanya Reira.


“Emangnya lo harus tahu semua hal? Dasar ini anak.” Tangan Reina seakan ingin mengusir kami. “Udah sana-sana! Pengap nih lama-lama kamar gue.”


“Oke, Kakak ... makasih ya udah make up-in gue.” Reira menyentuh kedua wajah Kak Reina.


“Iya, Sayang ... pulangnya jangan kemalaman ya. Nanti kalau gue udah tidur, lo lewat loteng aja,” ucap Kak Reina.


“Hahaha ... udah kaya Mama aja lo.” Reira menarik tanganku untuk keluar kamar.


Wangiku kini sama dengan Reira. Ia mengambil botol parfumnya yang tertegak di samping TV, lalu menyemprotkan ke tubuhku. Padahal, aku pun sudah menyemprotkan parfum milikku berkali-kali. Aku yakin anjing pun mabuk kalau sudah mengendus tubuhku. Sebelum beranjak pergi, Reira memakai tas selempang berwarna putih. Aku kira wanita yang satu ini tidak punya tas seperti ini, ternyata ia memilikinya. Hanya saja, ia tidak pernah terlihat memakainya.


Jujur, ia berada di titik paling cantik yang pernah aku lihat. Bukan berarti selama ini ia tidak kalah cantik. Percayalah, sesuatu yang tidak pernah dilihat akan terasa istimewa ketika pertama kali dijumpai. Semua yang indah kini hanya tertuju padanya. Aku tak bisa memalingkan wajah sedari tadi, hingga menyetir di dalam mobil sedan tua miliknya.


Kami berdua memandang langit bersama-sama. Terasa malu sekali ketika Reira menggandeng tanganku untuk melangkah ke meja undangan pesta untuk mengisi nama. Aku memegang sebuah kado yang akan dihadiahkan untuknya, lalu meletakkan di atas samping tumpukan kado. Setelah mengisi nama kami berdua, barulah kami melenggang kembali untuk menikmati suasana pesta yang khidmat.


Masih dalam kawasan Ancol, konsep pesta pernikahan outdoor ini terasa sempurna oleh syahdunya pemandangan laut. Lampu-lampu berpijar dia tas kami, membentuk serangkaian jalan yang akan menuntun kami menuju meja-meja jamuan. Reira begitu anggun malam ini, melangkah seperti wanita yang sangat feminim, menjaga sikap agar tidak berlebihan seperti jati dirinya. Matanya berbinar bercampur manis senyum yang menatapku. Tangannya tak ingin lepas dari gandengan, sebagai temanku untuk bersanding berdua.


Satu dari sekian pasangan yang paling mencolok, aku rasa para undangan memandangi kami yang berpakaian sedikit berbeda. Berbalut pakaian tradisional Melayu di hadapan para undangan yang memakai gaun, paling tidak kebaya dan batik, membuat kami merasa sangat istimewa. Reira sempurna dengan baju kurung Melayu dan ikatan rambut bersanggul. Aku berjalan tegap dengan peci hitam dan sarung songket, seakan ingin mengajak para undangan lain untuk berbalas pantun, seperti di budaya pernikahan Melayu.


“Entah kenapa Rei .... lo sangat cantik malam ini.”


“Terima kasih ... lo pria tertampan di tempat ini, walaupun masih banyak yang ganteng, tapi diri lo yang paling mendekati kata sempurna.” Ia menyentuh dadaku. “Di sini letaknya, tidak di tempat lain."


Aku semakin menggenggam erat tangannya. Kami langkahkan kaki untuk mencari Candra dan yang lain. Teman-teman fakultasku pun sudah berkumpul pada satu titik, namun aku lebih memilih duduk bersama Candra dan Mawar. Bang Ali walaupun bukan sebagai undangan, tapi Reira memaksanya untuk datang sebagai teman Candra. Bagaimana pun Bang Ali menolak, pasti Reira memiliki sejuta cara untuk membuatnya ikut.


Satu titik bening aku tampaki dari redup cahaya lampu yang memancar pada meja bundar jamuan. Di sana terduduk Mawar yang sedang memakai gaun pesta berwarna merah. Sudah bisa aku tebak warna kesukaannya tersebut. Bibirnya cerah oleh pewarna bibir, tersenyum kepada Bang Ali yang sedang memakai kemeja batik. Di sampingnya pula terdapat Candra yang sedang makan dengan nikmat. Rambut keritingnya sangat mudah ditemui karena tidak banyak orang yang memiliki rambut sedikit panjang, keriting pula.


“Itu mereka.” Reira menunjuk ke arah meja tersebut.


Reira melepaskan genggamannya dariku, lalu berlari kecil dengan sepatu hak tinggi. Sebagai wanita yang jarang sekali memakai sepatu seperti itu, ternyata Reira cukup lihai melangkah tanpa canggung sedikit pun. Reira memulainya dengan cipika-cipiki dengan Mawar, lalu bersalaman biasa kepada Bang Ali dan Candra.


“Akhirnya lo datang juga, Bang,” ucapku di samping Bang Ali. Aku lihat Reira sangat antusias dengan pakaian Mawar. Ia sangat senang sekali bertemu Mawar di sini.


“Kalau enggak karena cewek lo, gue enggak bakalan pergi.” Ia memandang Candra. “Tapi, untung juga kan kita dapat makanan gratis di sini. Hahah ... perbaikan gizi.”


“Iya dong, Bang. Masa bodoh dengan acaranya ... yang penting makan.” Candra membalas.


Aku pun tertawa mendengar komentar mereka yang jenaka. “Parah sih kalian, padahal temen baik gue sedang bahagia di sini.”


Fasha di sana sedang tersenyum senang menyalami para undangan dan berfoto ria di atas pelaminan. Ia cantik dengan gaun pernikahan tersebut. Hanya saja terdapat perbedaan sedikit dari wanita itu, yaitu tubuhnya yang lebih berisi dari sebelumnya.


Candra mencolekku. “Bagaimana perasaan lo? Apakah ada penyesalan?”


Suaranya terdengar kecil, seperti berbisik. Aku tahu anak ini sedang memancingku.


“Penyesalan hanya untuk orang bodoh dalam kasus ini.” Aku menolehkan wajah Candra menuju Reira dengan telunjukku. “Gue mendapatkan wanita yang paling putih hatinya. Semua ini terbayar lunas, tidak ada penyesalan. Yang ada hanya bahagia ... sahabat baikku sedang ada di pelaminan saat ini.”


Candra tersenyum. Ia sangat tahu sekali diriku karena semua curahan hatiku mengenai wanita bergitar itu selalu aku ucapkan padanya. Tidak satu pun momen untuk bercerita yang ia tolak. Telinga lebarnya semakin lebar mendengarkan risalah hatiku pada saat itu.


“Perjuangan lima tahun ini ternyata berakhir di sini,” ucap Candra.


“Enggak, cinta tidak butuh perjuangan karena cinta itu dari hati. Namun, usaha itu ternyata mengarahkanku kepada wanita laut itu.”


Candra menghela napas. “Haaa ... apa kabar Zainab hari ini.”


Aku tatap wajah Candra yang datar menatap langit. Rindu sedang bersemayam dari rautnya.


***