Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 72 (S2)



EPISODE 72 (S2)


Hempasan tubuh kami ke lantai kapal menerbangkan burung-burung yang sempat bertengger. Mataku terpejam berkat tulang rusukku yang nyeri karena menghantam lantai. Setelah itu, baru aku menyadari Reira sedang bertegak pinggang tepat di hadapan sembari menatap aku dan Mawar yang masih bergenggaman tangan. Perkataannya yang meminta untuk melepaskan genggaman itu membuatku tersentak. Nadanya seperti biasa, namun terkesan tegas seperti memarahi seorang anak kecil yang tengah berebut permen.


“Lepas,” ucap Reira beberapa detik yang lalu.


Aku memandang ke arah Mawar setelah langsung melepaskan sentuhan antar jemarin yang kami untai di samping. Tanganku seketika terkepal karena merasa bersalah. Bagaimana bisa aku menggenggam tangan Mawar sebegitu ringannya, tanpa beban sedikit pun, padahal selama ini aku sangat kaku untuk melakukan hal itu. Jangankan menggenggam, mendekati saja aku ragu. Dengan Reiralah aku sudah terbiasa melakukan hal yang semacam itu, walaupun degup jantungku seakan ingin mati ketika pertama kali mencobanya.


“Nah, gitu dong ... enak banget megang-megang tanga Mawar tanpa izin gue!” Reira membantu Mawar untuk berdiri. Sementara itu, aku masih terduduk untuk membersihkan lutut yang menempel lumut lantai kapal.


“Maaf, Reira ... David enggak bermaksud yang kaya gitu, kok.” Wajahnya terlihat panik. “Dan gue―”


“Haha ... santai aja kali .... Gue malah berterima kasih kalian bisa sempat naik ke sini.” Ia mendongak ke tepi dermaga yang sudah tidak mungkin untuk kami lompati. “Tadi itu gue cuma gimik. Hahaha ....”


Mawar tersenyum tidak percaya. “Hahah ... gue kira kami bakalan nyebur. Padahal dikit lagi. Lo nekat banget, Reira.”


“Bukan gue kalau enggak nekat.” Reira berbalik arah melangkah ke ruang kemudi kapal. “Kakek ... kami udah di kapal!”


Di kemudi kapal bukanlah Kakek Syarif, melainkan orang lain yang kini memutar stir kemudi itu. Reira pergi menaiki tangga menuju ke sana, diikuti oleh kami dari belakang. Namun, terasa sunyi sekali langkah yang aku hentak ke lantai kapal ini. Jiwaku sedang menelisik arti kata gimik yang sedang ia ucapkan dan begitu pula dengan kata lepaskan yang ia katakan.


Tidak mungkin, aku tahu sekali bagaimana Reira bersikap. Aku tahu bagaimana raut wajah ketika bercanda, begitu pula tatkala ia serius menanggapi sesuatu. Ia orang yang sangat terbuka, oleh karena itu sangat mudah sekali menebak emosi apa yang sedang ia tunjukkan melalui eskpresi raut wajah. Binar matanya tak memancar tadi, seakan cahaya imajiner itu padam dari mataku. Bibirnya yang tak ingin tersenyum menunjukkan ada sesuatu yang mengganjal, begitu pula ketika ia menarik sudut bibir kepada Mawar. Itu sama sekali dipaksa untuk dikeluarkan.


Namun, Reira selalu saja begitu. Ia berani menyembunyikan itu semua. Hanya saja, Mawar tidak menyadari hal itu dan malah membalasnya dengan santai. Sementara itu, gaduh kini menghantui hatiku.


“Kakek Syarif di mana, Pak?” tanya Reira kepada bapak-bapak yang sedang mengemudikan kapal.


“Oh, kamu Reira. Bang Syarif ada di bawah. Katanya mengambil pancing,” balasnya.


“Oke, deh. Kami ke sana dulu.”


Wanita itu menuntun kami menuju kabin-kabin kapal. Koridor kabin terlihat gelap, namun masih bisa ditempuh tanpa penerangan tambahan. Jendela yang berada di ujung telah memberikan kami penerangan yang cukup untuk itu. Kami memeriksa satu per satu pintu kabin, namun tidak ditemui kakek bertopi koboi itu. Barulah kami terhenti di ujung pintu dengan gambar ornamen kumbang yang khas. Reira mengusap ornamen tersebut menggunakan tangan. Debu tersibak seketika dan memperjelas warna hitam dari gambar tersebut.


“Terkunci,” ucapku tatkala aku buka gagang pintu. “Apa Kakek Syarif kalau di dalam selalu mengunci pintu?”


Ia menaikkan bahu. “Entahlah, mungkin aja. Soalnya ruangan ini sangat rahasia. Cuma dia yang boleh masuk, dan sekarang gue, begitu juga kalian.”


“Lo bawa kuncinya?”


“Tenang ....” Reira mengambil dompet kulit lusuhnya. Aku menghela napas ketika kulihat belembar-lembar pecahan uang besar itu hanya ia simpan di dalam dompet yang sudah robek-robek itu. Uang menangis melihat ini, tidak ada harganya lagi. “Gue selalu menyimpan kunci itu di dalam dompet.”


Nauren namanya dan aku tidak tahu siapa nama itu. Sebelumnya, aku mengira bahwasanya itulah Alfian si dokter spesialis paru itu. Setelah momen-momen selanjutnya―tatkala aku menemukan sepenggal nama Nauren dan melihat wajah dokter spesialis―aku mengambil kesimpulan bahwasanya sosok itu merupakan pria yang berbeda. Itu bukanlah Dokter Alfian seperti pertama kali aku duga.


Hmm ... sudahlah. Aku lupakan sejenak di atas dasar segan untuk bertanya.


Reria membuka pintu terkunci tersebut. Menyeruak bau debu ruangan yang membuat hidungku gatal. Tidak hanya debu, melainkan asap dari lilin-lilin dan lampu minyak yang hidup di sekeliling ruangan. Mawar tampak terkejut karena pertama kali memasuki ruangan ini, apalagi ada seekor mummy singa yang menyeringai tepat di samping kami. Duduklah sendirian seorang kakek tua sembari merokok cerutu dan minum anggur merah di gelas pialanya. Beliau terlihat memutar kursi putarnya ke arah kami, lalu tersenyum ringan dengan mata merah yang sembab.


Aku pun bertanya-tanya. Ada sesuatu dari balik senyum tersebut. Matanya sembab seperti habis meneteskan air mata. Ternyata Reira lebih dahulu menyadari hal tersebut. Wanita itu langsung mengampiri Kakek Syarif tepat di hadapan wajahnya.


“Kakek menangis?” tanya Reira dengan heran. Tak ia hiraukan asap cerutu yang mengarah padanya. “Kenapa?”


Kakek Syarif pun menggeleng. Telunjuknya mengusap kelopak mata itu. Sudah jelas sekali kakek veteran pelaut itu baru saja menangis yang tidak kami tahu sebabnya.


“Mana cincin Kumbang yang aku titipkan pada kalian?” tanya Kakek Syarif tanpa menjawab pertanyaan dari Reira.


Reira menatapku. Kami sama-sama tidak memakai cincin batu akik penuh sejarah itu. Bukan tidak senang karena telah dihadiahkan benda penuh makna, tetapi kami sama-sama tidak terbiasa memakai cincin.


“Ada di rumah tersimpan baik.” Reira menarik satu kursi ke samping Kakek Syarif, lalu duduk di sana. “Bukan pertanyaan yang Reira mau, tapi pernyataan. Kenapa Kakek menangis? Pelaut pantang menangis.”


“Hahahah ... pelaut tetap manusia, bukan? Kau belum bertemu ombak sepuluh meter yang bisa buat kau terkencing-kencing. Pelaut pun bisa menangis.”


“Itu bukan jawaban. Di sekitar sini enggak ada badai, enggak mungkin ada ombak sepuluh meter,” tekan Reira.


“Entahlah, Reira. Tiba-tiba saja aku rindu dengan Kumbang. Tadi malam aku bermimpi tentang Kumbang.”


Reira terdiam sejenak setelah mendengar nama kakeknya itu. “Aku sering bermimpi Kakek, tapi enggak sampai menangis. Kakek Kumbang ngapain di dalam mimpi?”


Ia menghisap cerutunya dalam-dalam. Matanya terpicing karena asap terlalu menghentak tenggorokannya yang sudah renta itu. Terdengarlah gemeretak cerutu besar itu yang dihisap dalam olehnya.


“Dalam mimpiku, Kumbang selalu berpesan kalau kapal ini kotor. Semasa hidupnya, Kumbang sering kali bilang kalau kapal ini udah berlumut, lalu meneriaki awak kapalnya untuk membersihkan kapal segera. Selalu itu saja yang Kumbang bilang di dalam mimpi.”


Reira menggeleng. “Itu bukan mimpi buruk. Pasti ada yang lain?”


“Benar ....” Kakek Syarif menenggak anggur merahnya. “Selalu ada kejadian setelah mimpi bertemu Kumbang.”


Cerita selanjutnya selalu membuatku merinding. Ada saja hal yang tak bisa dinalar terjadi di dalam hidupnya itu.


***