
Baiklah, tujuan selanjutnya sudah ditentukan. Kami akan pergi ke sebuah tempat yang pernah aku kunjungi sebelumnya, yaitu Kuantan Singingi. Dari map elektronik yang kami gunakan, Diperlukan hingga enam jam perjalanan hingga sampai ke sana. Event pacu jalur pun sudah dimulai hari ini, esok hari merupakan hari yang kedua. Satu kesempatan besar untuk melihat event tahunan di mana aku tidak sempat melihatnya.
Subuh hari buta, Borneo memanaskan mesin van merah muda. Aku sudah meletakkan stiker Gunung Kerinci sebagai tanda aku sudah pernah mendaki gunung tersebut, kebetulan sekali Hamzah memberikanku secara cuma-cuma. Setelah berpamitan kepada Bang Andalas dan istrinya, kami melenggang sebelum matahari terbit, Sisa-sisa pegal dari mendaki kemarin masih kami rasakan, tetapi kami terus bergeraka agar waktu tidak turut meninggalkan.
Cantiknya pagi hari bergema di mataku tatkala semerbak sinar mentari menyinari bayang-bayang Gunung Kerinci dari kejauhan. Masih sama seperti yang lalu, pemandangan bukit batu selalu menemani kami selama perjalanan, hal yang jarang kami temui ketika berada di perkotaan. Ingin sekali aku memanjat ke sana, lalu meneriakkan caci maki setelah kalah dari kakekku sendiri. Cukup aku akui, ia telah berbuat curang.
Entah kenapa, jalanan Sumatera menyimpan sendiri pesonanya. Kami sempat memasuki kawasan Sumatera Barat dengan bangunan atap tanduk kerbau. Wanita-wanita Minang yang hebat tampak tangguh berjualan di pasar dengan bahasa mereka sendiri. Kami smepat mengunjungi salah satu pasar untuk mencari makanan. Razel tidak ingin pergi karena ingin tambah nasi Padang rendang yang nikmat. Namun, setelah aku ancam jatah makan malam akan terpakai baginya, ia mau tidak mau masuk kembali ke mobil.
Tanda jalan menunjukkan kami sudah memasuki kawasan Provinisi Riau,tepatnya Kuantan Singingi bagian mudik. Terlihat jelas perbedaan jalanan antara dua provinisi yang saat ini didominasi dengan jalanan bolong. Aku rasa bupatinya tidak terlalu memerhatikan jalan aspal, padahal setiap hari dimakan oleh truk-truk besar pemabawa batu bara. Semulanya di kiri kanan merupakan jurang-jurang curam dengan bukit batu, kini kami dihiasi dengan perkebunan sawit warga dan juga karet. Aku mendapatkan info dari Bang Ali jika warga sekitar mayoritas berprofesi sebagai petani sawit atau pun karet. Bahkan, Bang Ali kecil pun mencari uang dari pohon karet.
Tidak aku ingat di mana rumah orangtua Bang Ali. Aku rasa jalanan ini sama saja bentuknya kiri dan kanan, hingga aku tidak tahu di mana letak rumahnya. Razel pun sama, ia menduga jika kami sudah kelewatan dan tidak sempat untuk bersinggah lebih dahulu. Akhir perjalanan kami pun berhenti di Ibu Kota Kabupaten Kuantan Singingi, Kota Teluk Kuantan. Setelah mencari penginapan tanpa memikirkan harga, kami beristirahat sebentar sebelum melihat bagaimana euforia event pacu jalur tersebut.
“Pasang baju kau!” Aku melempari Borneo tatkala masuk ke kamar mereka yang pria.
“Kau yang masuk, malah aku yang pasang baju!” protes Borneo sembari memasang bajunya.
“Ah … sudah berapa tempat yang kita kunjungi? Kalian pernah sejauh ini sebelumnya?” tanyaku.
“Kalau Borneo pasti udah pernah,” balas Razel.
“Aku paling jauh ke Ambon,” sambung Borneo.
Aku mengangguk kalah karena Borneo tentu saja memiliki pengalaman berkelana paling jauh di sini. Tidak salah aku memilih orang sebagai awak kapal yang berpengalaman. Jiwa pemberaninya paling dibutuhkan di sini.
“Pakailah baju bagus. Kita dilihat orang banyak nanti.” Aku menepuk pundak Razel yang sedang memakai parfum.
“Untuk apa kalau enggak punya cewek,” balasnya.
“Hahah … kita punya cewek cantik di sini. Apa kalian enggak malu kalau berjalan dengan dia?” sindirku.
“Hah? Kau?” tanya Borneo dengan sinis.
Tiba-tiba Semara masuk ke dalam kamar. Ia barus saja selesai dari besiap-siap. “Kalian udah siap?”
“Bukan gue, tapi dia ….” Aku menunjuk Semara.
Aku harus mengakui jika wanita Bali punya pesona yang menarik perhatian. Wajah sederhana dengan tubuh bagus identik dengan wanita muda di sana. Indah sekali rambut panjang melebihi sebahu itu, lurus mengkilau seperti sutera mahal. Gaya bicara lembut yang tidak sepertiku sering kali membuat Borneo dan Razel terdiam, sementara denganku mereka selalu saja melakukan perdebatan.
“Semara boleh diperhitungkan.” Borneo berdiri. Ia sepertinya semangat kalau didekat Semara. “Aku mau gosok gigi dulu.”
“YA ITU LEBIH BAIK BUAT KAU!” pungkasku.
Sengaja aku tidak membawa van dan memiliki menjadi pejalan kaki untuk menikmati suasana kota kecil ini. Begitu ramai dengan kendaraan di setiap jalur karena pusat perhatian berada di tepi sungai. Keluarga bermotor tidak pakai helm pun diabaikan oleh para polisi, mungkin mereka tidak berani untuk menilang, atau hanya sekadar memampang wajah jika mereka sedang bekerja. Bahasa yang tidak aku kenali terdengar sebagaimana aku berada di rumah Bang Ali, itulah Bahasa Kuantan yang seperti Bahasa Minang jika aku perhatikan kembali. Borneo mengerti dengan apa yang dikatakan mereka, tetapi tidak mampu untuk mengucapkannya kembali.
Perjalanan melewati trotoar ini berujung ke Taman Jalur, seperti alun-alun kota yang sangat ramai oleh masyarakat. Taman Jalur ini tepat berada di tepian Sungai Kuantan di mana jalur-jalur akan berpacu. Layaknya seperti pasar, banyak sekali yang berjualan berbagai macam benda, baik itu makanan maupun pernak-pernik yang berhubungan dengan event pacu jalur. Razel mengemis padaku seperti anak kecil yang menginginkan jajan, tapi aku tahan hingga kami memasuki tribun untuk menonton pacu jalur.
Harga dua puluh ribu satu orang cukup membuat kami puas menyaksikan luasnya Sungai Kuantan. Di seberang sana, terdapat jalur-jalur yang menunggu giliran perpacu. Berbekal dengan daftar pertandingan jalur atau yang disebut sebagai ranji dalam istilah masyarakat sekitar, aku jadi tahu apa saja jalur yang sedang melintas.
Jika kalian pernah melihat hal menakjubkan di atas dunia ini, kalian akan mematahkan itu jika sudah melihat hal ini. Satu sampan yang begitu panjang diisi oleh sekitar dua puluh orang. Ukiran-ukiran kesenian berhias pada tepian, ujung depan, dan belakang jalur sebagai bentuk kesenian masyakat Kuansing. Aku diberitahu oleh Borneo jika paling tengah jalur tersebut berdiri seorang dukun yang memukul-mukul air ketika mereka melaju, serta ada seorang anak kecil yang menari paling depannya. Ia melentikkan tangan di tengah jalur yang melaju kencang, tanpa takut sedikit pun untuk terjatuh.
“Jangan lama-lama dan jangan hilang,” saran Borneo.
“Kau bukan bapakku, Borneo.”
Borneo mengabaikan kalimatku.
Pancang terakhir, itulah yang aku cari. Terdapat beberapa panjang yang dipasang sepanjang sungai sebagai bagian-bagian dari lintasan jalur. Aku berjalan menuju ke pancang terakhir yang berada paling hilir sungai. Tepat di satu garis lurus tersebut, terdapat sebuah tribun yang relatif lebih bagus daripada tribun-tribun lainnya. Aku memandangi wajah pada baliho di tribun tersebut, yaitu Bupati Kuantan Singingi, orang yang berfoto dengan kakekku. Orang itu tampak duduk dengan rokok di tangannya tepat di dalam tribun.
“Boleh saya masuk bertemu dengan Bapak Bupati?” tanyaku kepada penjaga tribun yang posturnya seperti bodyguard.
“Mohon maaf, kamu siapa kalau boleh tahu?” tanyaku.
Aku memegangi kamera yang tergantung di leherku. “Saya jurnalis kampus dari Jakarta. Jauh-jauh ke sini buat memuat berita tentang pacu jalur. Ini identitas saya ….”
Ia menyambut Kartu Tanda Mahasiswa yang aku miliki.
“Boleh lihat identitas jurnalis kamu?”
Tentu saja aku tidak punya benda seperti itu.
“Begini … sebut saja nama Kumbang dengan Bapak Bupati, aku pasti diizinkan masuk.”
Usahaku berhasil. Aku dipertemukan dengan orang nomor satu di kabupaten ini. Wajahnya hampir sama tua dengan kakekku, tetapi bersih tanpa kumis dan janggut tebal. Ia memandangiku dengan seksama dengan heran. Sungguh penampilanku tidak seperti jurnalis. Mana ada jurnalis tanpa name tag, memakai jeans robek-robek, serta hoodie warna hitam.
“Kamu jurnalis?” tanya Pak Bupati.
“Iya … begitulah ….”
Sungguh aku sangat gugup di hadapannya. Jawabanku itu sama sekali bukan mencerminkan jika diriku seorang jurnalis.
“Oke … ada perlu apa?”
“Kakek Kumbang di mana?”
“Kamu pasti Reira …..”
“Dari mana Bapak tahu?”
“Baliklah ke Jakarta, Kumbang tidak ada di sini.”
“MANA KUMBANG!”
Tahukah yang aku lakukan saja hampir membuat aku dibanting oleh penjaganya.
***