
EPISODE 164 (S2)
Kapalnya mungkin sedang mengarungi lautan luas. Ia kembali berlayar setelah sempat singgah pada sebuah pulau tak bertuan yang mungkin saja tak ada gunanya, lalu pergi kembali ke pulai tempat pertama ia berlabuh. Akulah pulau yang tak berguna itu, berupa tanah gersang dan sedikit pohon untuk memberikan kesejukan padanya. Dirinya pergi, hilang pada horizon senja pada batas-batas antara laut dan langit. Kapal yang semula besar berubah menjadi titik kecil, hingga yang aku lihat kini kosong dan hampa. Entah ke mana dirinya sekarang.
Dika sudah aku beritahu mengenai hal itu. Ia sangat berang sekali kepada Reira. Seperti yang dikatakan oleh Kakek Syarif, tak hanya dirinya wanita di dunia ini. Aku masih berada di dalam pencarian jati diri cinta yang sebenarnya hingga menunggu waktu untuk diriku menemukan yang sejati. Reira bukanlh yang terbaik, menurutnya. Aku masih belum menemukan defenisi terbaik itu sendiri. Namun, logikaku tidak sampai ke sana. Aku hanya ada di utopia palsu di mana harapan Reira masih memikirkan diriku, meskipun aku hanya menebak saja di dalam hati.
Hari-hari yang aku lewati terlampau berat. Setiap detik yang dihabiskan tak kunjung membuatku tenang. Bergemetar hatiku tatkala setiap bangun, ketika senja menjamu diriku di depan teras, hingga tersudut di tepi kamar sembari berkecimpung di dalam dunia alkohol dan ganja. Aku tak lebih dari seorang Rio dalam versi sederhana. Hingga dititik ini, hanya itu yang membuatku tenang sementara, tanpa tangis yang aku helat di ujung malam. Hidupku benar-benar kacau semenjak hari itu, tak ada titik terang.
Orang-orang pasti akan melihatku biasa-biasa saja. Aku masih beraktifitas selayaknya aku dahulu karena tidak mungkin aku tinggalkan. Hanya saja sedikit dibatasi karena setelah aktivitas itu selesai, aku langsung pulang untuk memulihkan diri. Aku tetap ke cafe, melayani para pengunjung yang menginginkan suasana baru, tidak dengan diriku. Kak Rahmah dan Zulqarnain―dua partner kerjaku itu―tak satu pun merasa curiga, kecuali bertanya mengenai keberadaan Mawar yang tak kunjung datang. Aku rasa wanita berparas oriental itu sangat membenci karena kata-kataku yang menusuk, hingga dirinya menghindar begitu saja. Aku hanya beralasa kepada mereka bahwa Mawar sedang ada di penelitian bersama kakak kandungnya yang seorang dosen. Mereka memaklumi hal tersebut dan tidak pernah bertanya lagi.
Semua orang yang dulu menghiasi diriku hilang satu per satu, kecuali Candra yang masih berkunjung untuk merokok di kamarku. Aku rasa hanya dia peduli padaku. Berharap pada Dika? Kami saja saja seperti dulu yang cuek terhadap masalah satu sama lain. Yang terpenting bagi kami adalah tetap bisa berkumpul dan makan bersama, di luar itu merupakan masalah kami sendiri, tak saling mengurusi.
Entahlah, kawan ... sudah satu bulan ini aku kacau. Reira tak pernah muncul. Sekali muncul, hanya sebuah foto yang ia unggah bersama tangan seorang pria. Ia ingin membunuhku dengan itu, begitu tega dirinya menyampakkan cinta yang sudah kami bangun bersama. Oh bukan ... hanya aku yang membangun cinta itu. Undangan wisuda sudah disebar bagi para teman yang akan menuntaskan waktu kuliahnya, termasuk Bang Ali. Namun, Reira masih dengan diamnya yang tak berkabar apa-apa.
Malam begitu dingin kali ini. Hanya ada aku, Candra, dan Bang Ali yang sudah kembali pulang untuk persiapan wisuda. Wisuda hanya tinggal menghitung hari, hingga ia memboyong pula istri tercinta untuk berlibur. Sedangkan kedua orangtua Bang Ali akan berangkat esok hari. Seluruh orang di cafe sudah pulang, kecuali kami bertiga.
“Dia benar-benar enggak ada kabar?” Bang Ali membuka layar handphone-nya. “Gue juga ada hubungin dia beberapa har yang lalu, kayanya nomor Reira mati atau dia ganti nomor.”
Aku mengangkat bahu. “Begitu juga gue. Dia sama sekali hilang kontak. Cuma akun instagram anak itu masih aktif. Buktinya, dia masih bisa update story beberapa hari yang lalu.”
“Gue kira itu tangan lo,” balas Bang Ali.
“Itu tangan Nauren. Entahlah ... kita semua udah dibohongi.”
“Abang tahu sesuatu tentang Reira? Sejak sebelum kami kenal sama dia. Soalnya Abang udah lama kenal sama dia?” tanya Candra sembari menghembuskan asap tembakau.
Dahi Bang Ali mengernyit sesaat. Ia hisap tembakau itu dalam-dalam. “ Di antara semua anak Mapala, Reira paling terbuka sama gue. Gue sama sekali enggak pernah dengar Reira punya cowok atau gebetan karena perlakuan dirinya sama semua cowok itu sama-sama bar-bar. Bahkan, gue kira dia dulu itu lesbian karena gayanya tomboy, rambut pendek, pakai jeans robek-robek, meskipun masih tetap kelihatan manis. Dan David lah cowok pertama yang gue tahu bisa jadi pacar Reira.”
“Bisa jadi Reira munafik karena kita semua sama sekali enggak tahu masa lalu Reira bagaimana. Bisa jadi dia pernah punya beberapa mantan, lalu bilang sama kita kalau enggak pernah pacaran. Buktinya sekarang, ternyata Reira masih ada hubungan dengan orang lain, si Nauren \*\*\*\*\*\*\* itu. Lo yang dia sakiti.”
“Apa kita perlu mencari Reira?”
Pertanyaan Candra membuat kami saling bertatap.
“Itu terserah David, gue masih bertahan di Jakarta buat ngabisin masa cuti bini gue. Gimana?” Bang Ali menatapku.
Aku diam beberapa saat. Sungguh aku ingin sekali bertemu dengan Reira untuk bertanya tentang semuanya. Aku ingin mengetahui apa yang sudah terjadi, hingga aku bisa merelakan semua itu. Namun, hatiku akan bertambah sakit seiring aku tahu banyak hal darinya. Aku mati dibunuh informasi yang menusuk bagaikan pisau.
Pandanganku pun turun. “Kayanya enggak usah deh, Bang. Gue udah rela dia pergi sama siapa aja. Sedari dulu gue enggak pernah ngelarang ini itu sama Reira, kecuali ngabisin uang buat yang enggak berguna. Ini semua maunya dia, kan?”
“Lo yakin dengan ucapan lo itu?” tanya Candra untuk memastikan.
Aku mengangguk. “Secara teknis, kami udah putus, kan? Mau apa lag? Dia udah bahagia sama Nauren dan ini semua adalah kemauannya sendiri. Gue enggak bisa maksain hati orang buat bisa terus sama gue. Hati mana sih yang enggak sakit kalau diginiin? Tapi lebih sakit lagi kalau gue tetap nempuh jalan yang sama. Dia pecundang yang udah bohongin kita semua.”
“Kalau itu kemauan lo, gue hargai. Kita enggak usah nyari Reira lagi. Cukup sampai di sini kita berhubungan dengan cecunguk satu itu. Sumpah ... *respect* gue sama Reira hilang banget. Dia enggak lebih dari sampah!”
“Iya ... dia memang sampah.”
*Tetapi ... aku lebih jadi sampah saat ini karena aku berada di tempat orang-orang yang terbuang* ....
\*\*\*