
Aku dihantam oleh tatap teduh matanya yang menyorot padaku begitu singkat. Sepersekian detik waktu terasa terhenti, diremuk oleh rindu dari hatiku yang sepi. Yang aku lakukan hanyalah terdiam. Ingin menyahut namanya tetapi terlalu cepat dicerca oleh rasa ragu. Diam aku rengkuh dalam-dalam untuk mengunci mulut agar tidak menyebut sepenggal namanya. Sisa waktu sungguh tidak berguna, hantu telah berada tepat di hadapanku.
Dirinyalah pria yang aku temukan ketika tangis patah hati menggerogoti benaknya. Suaranya lantang tatkala bersyair puisi di pentas malam seni dan satra, aku menunggu paling belakang untuk menyaksikan giliran dirinya. Belum lagi aku menatap setiap kertas puisi yang rutin ia letakkan di setiap fakultas, bahkan petugas majalah dinding fakultasku berkali-kali melepas kertas itu agar diisi oleh hal yang bermanfaat. Puisinya memang tidak bermanfaat, itu hanyalah sampah dari perasaannya yang harus dibuang. Ia pernah berkata padaku jika semua itu hanyalah sampah.
David tetap berpenampilan biasa seperti dulu. Tubuhnya tidak bertambah gemuk, tetap kerempeng seperti seorang pecandu. Bukannya ia sudah menjadi pecandu sekarang? Cocok sekali dengan wajahnya yang sayu dan rambut gondrong. Namun, aku suka rambut panjangnya yang terikat ke belakang. David terlihat lebih maskulin, menutupi tipe wajahnya yang lembut seperti anak kecil. Kebiasaannya yang mencoret-coret buku catatan masih bisa aku lihat. Ia berpuisi tatkala dosen menerangkan sesuatu. Ingin aku tarik secarik kertas tersebut dan aku robek sebagaimana yang aku lakukan dahulu, hingga ia berang dengan cara mendatangiku ke café milik Bunda.
“Gue enggak pernah lihat kalian,” ucap David dengan pelan agar tidak ketahuan oleh dosen.
“Hmm … kami pernah masuk. Mungkin kamu yang enggak pernah lihat ….”
“Kamu?” David terlihat heran dengan gaya formal yang selalu ditunjukkan oleh Semara. Sama halnya ketika kami pertama kali bertemu, tepat di kala aku mengaku sebagai pacarnya di pentas seni kampus.
“Iya …,” balas Semara dengan gugup.
Mata David menoleh padaku. “Jangan main hape, hape lo bisa dibanting.”
Sesegera mungkin aku sembunyikan handphone tersebut. Kelas berlangsung dengan penjelasan teori dari dosen. Aku tidak terbiasa mencatat, lagi pula ini bukan kelasku. Namun, Semara merasa antusias dengan kelas hari ini. Ia memerhatikan dosen dengan seksama. Sementara orang yang memperingatiku akan handphone tadi, malah berkutat dengan catatan kecil berisikan syair-syari bodoh. Aku dilarangnya bermain handphone, ia malah sibuk menulis puisi.
Tiga jam berlalu kuliah ini. David pergi begitu saja, bahkan sebelum semua orang berdiri. Ia menunduk kepada dosen tersebut, lalu berlalu di ujung pintu. Aku tetap di dalam bisu yang ucapkan, tanpa kata-kata dan tanpa suara.
“Semara, aku mau ke WC dulu ya. Kamu ke mobil aja dulu,” ucapku sembari memberikan kunci mobil padanya.
“Oke, jangan lama-lama ya ….”
Kaca WC perempuan selalu dijadikan tempat berfoto bagi mahasiswi yang mempunyai handphone berlogo apel yang tidak utuh. Mereka bersenyum ria di hadapan kaca tatkala aku baru saja keluar dari bilik SC, memerkan hal yang pernah ia beli dengan kredit, kurasa. Jika tidak kredit, mungkin bekas dari konter yang ia paksa beli demi panjat sosial. Bukan aku mengada, teman-teman sekelasku juga begitu dulu. Ia menyindirku dengan produk handphone China, lalu terdiam saat aku pinta kepada Papa untuk dibelikan handphone bermerk seperti mereka.
“Permisi, saya mau bercermin. Kalau mau foto-foto, kaca bukan tempatnya.”
Mereka bermata sinis padaku setelah aku katakan itu. Dengan menggurutu kecil dalam bisikan, aku terus melihat mereka hingga menutup pintu keluar. Berbayang wajahku dari kaca yang berlapis debu tipis. Tulisan-tulisan kecil tanda kritikan kepada kampus bersemat di setiap sudut kaca, tidak lupa pula isi hati dari seorang pecinta yang tidak terbalas mengisi laman curhatan cermin.
Aku menatap wajah lusuh dan kusam, melihat gurat-guratan tepi mata yang menandakan diriku semakin menua. Waktu memakan manusia, manusia dihabiskan oleh waktu. Menjadi abadi adalah hal yang mustahil, tetapi semangat selalu akan berkibar sebagaimana ideologi tokok dahulu yang masih berjaga hingga saat ini. Terlalu lama mataku menatap cerahnya langit laut, terlihat memerah karena iritasi. Mungkin bauku seperti bau Kapal Leon yang berdebu itu.
Aku bodoh hari ini, seperti badut yang menghindar dari identitas diri. Aku berada di dalam ketidakorisinilan jiwa. Aku kelabu seperti hitam dan putih, munafik karena tidak bisa membedakan benar dan salah.
Mengapa dirinya ada?
Mengapa ia terus menyentuh inti cemasku?
Aku tidak stabil, tidak konsisten, lemah … dan rindu ….
Tidak ada waktu untuk terus meratapi diri. Aku pergi segera dari WC. Namun, aku hanya menabrak otot dada seorang pria pendek yang menatapku dengan sayu. Wangi tubuhnya seperti nama yang berbunga, namun berduri ketika aku sentuh. Hatiku terluka ketika berada di sedekat ini, jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Tanpa diduga, ia menarik tanganku dan memaksaku untuk masuk ke gudang penyimpanan peralatan alat bersih yang berukuran dua kali dua meter.
Pintu tertutup dengan keras, terhempas ketika ia tarik. Kami berhadap-hadapan satu sama lain dengan sorot mata yang lemah.
“Reira ….” Ia membuka wig yang aku pakai. “Gue tahu itu lo. Akun mahasiswa gue terindikasi dibuka dari gadget lain, gue diarahin ke gedung ini.”
Aku terkejut dengan penjelasannya. Sama sekali aku tidak mengetahui jika kampus menggunakan keamanan seperti itu.
“Iya ini gue ... Dave ….”
“Kenapa sekarang lo baru muncul? Lo udah puas dengan ideologi gila lo itu?” tanya David.
“Enggak ada satu pun orang yang bisa mengendalikan gue muncul atau enggak, bahkan jika itu elo,: balasku.
“Kenapa lo lakuin semua ini? Apa lo enggak berpikir kalau banyak orang yang tersakiti?”
“Jika elo punya hati sekuat gue, mungkin elo bakalan ngelakuinnya juga. Hidup lo terlalu aman, enggak seperti gue. Gue dipaksa nikah dengan orang yang bukan gue cintai, dijual dengan tujuan pribadi papa gue. Gue kira dengan hadirnya elo, Papa gue bisa sadar kalau anaknya punya pilihan.”
Wajahku berpaling ke sebelah kiri. Bukan aku yang menggerakkannya, melainkan untuk pertama kalinya seumur hidupku ditampar oleh pria yang aku cintai.
“Lo bangsat Rei … lo ngorbanin hati semua orang demi egoisme lo sendiri. Konspirasi lo bikin hancur hidup orang lain, kenapa enggak diri lo aja yang hancur?! Apa bedanya elo dengan Bernardo itu? Lo jual perasaan gue cuma karena tujuan lo sendiri, biar lepas dari pengaruh orang lain,” tanya David dengan nada tinggi.
“Gue enggak pernah minta lo untuk jatuh cinta sama gue, begitu pula gue ke elo. Lo cuma berada di cinta yang salah,” balasku.
“Andai aja gue bisa membalikkan waktu, gue berharap enggak pernah berjumpa dengan lo, Rei.”
“Andai aja gue bisa membalikan waktu, gue berharap jika gue enggak ada!” teriakku dengan lantang.
Seketika aku menangis di hadapannya. Aku pernah berusaha untuk benar-benar menghapus diriku dari kenangan-kenangan orang lain. Masa-masa suram itu sangat sulit untuk aku hapus. Permasalahan mental sungguh menguras konsentrasiku terhadap dunia. Aku hanya bisa berkutat pada diri sendiri, berendam dalam dinginnya kolam perasaan yang suram, lalu mengulanginya lagi tatkala esok pagi.
“Gue benci lo Rei … sama seperti yang lo bilang, lo juga berada di cinta yang salah. Kita harusnya enggak ditakdirin buat bersama.” Ia menyentuh gagang pintu. “Mawar … dia lebih punya masa depan bagi gue ….”
“Maafin gue Dave ….”
Tidak ada jawaban darinya setelah pintu tertutup dengan rapat kembali. Tunduk kepalaku di antara kedua lutut dibanjiri oleh air mata. Setiap bulirnya meneriaki kata penyesalan dan maaf. Enggan realitas untuk mengulangi waktu kembali karena aku sudah melakukan semuanya. Di saat aku kira David hanyalah sebuah alat, ternyata aku sendiri yang sedang diperalat. Aku pun jatuh cinta padanya, jatuh pada cinta yang salah.
***