Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 106 (S2)



EPISODE 106 (S2)


Kamar ini berbau kopi karena terdapat sebuah parfum kopi yang sering dijual melalui situs online. Kamar dalam keadaan gelap tak berlampu, hanya cahaya dari luar yang menerangiku menatap ke dalam. Aku melangkah masuk ke dalam, pelan-pelan seakan takut ada jebakan yang sengaja dibuat oleh Kakek Kumbang sebelumnya, walaupun ia tidak mungkin melakukan hal itu. Kamar ini luas, tetapi tidak terlalu banyak yang mengisi ruang kosong. Hanya ranjang empuk yang besar, sebuah lemari tinggi, serta seperangkat perabotan sofa untuk bersantai. Sementara itu, di seberang sana merupakan dinding kaca dengan gorden berwarna cokelat yang telah disingkapkan sedemikian rupa. Terdapat balkok kira-kira bisa untuk memanjangkan kaki di sana.


Ranjang dalam keadaan kusut. Bantal kepala dan guling memang tersusun normal. Namun, selimut tersebut bergulung seperti baru saja digunakan beberapa saat yang lalu. Tanganku bergetar menyentuh ranjang tersebut, lalu mengarah kepada bantal. Rasa yang aku dapatkan melalui ujung kulitku ialah dingin. Jikalau panas, berarti memang ada orang yang baru saja memakai kamar ini.


Aku pun bertanya-tanya di dalam hati, apakah ada orang selain kami yang menginap di sini? Tidak aku dengar jejak kaki atau gaduh ketika bermalam di bawah sana. Pak Dadang juga membukakan villa kami ini dengan keadaaan terkunci, tidak mungkin Pak Dadang mengunci villa ketika ada seseorang di dalam. Atau bisa jadi Pak Dadang lupa membersihkan kamar. Namun, hal itu tidak akan berlaku pada kamar yang sudah bertahun-tahun tidak ditempati.


Duduk diriku di atas ranjang untuk mencari jawaban. Lantai dalam keadaan berdebu, tetapi ranjang sama sekali mulus bersih tak berlapis oleh pasir sebutir pun. Aku sulit mencium tanda bau seseorang di sini. Parfum kopi telah menyamarkan penciumanku sedari tadi. Selain itu, debu dari lantai membuat hidungku sedikit gatal. Menadah ke kepalaku ke atas langit-langit yang terdapat lampu hias antik, bergoyang-goyang diterpa angin yang menyusup dari luar.


Mawar memanggilku dari bawah. Aku segera bangkit untuk itu. Bisa jadi ia meminta pertolongan dariku. Namun, langkahku dibuat kembali ketika segurat wajah di balik foto tua menarik perhatianku. Aku melangkah ke sofa yang ada di tepi dinding, lalu menghidupkan lampu agar terang. Terlihatlah senyum pria tua bermata sipit sedang bersama seorang wanita dan dua orang gadis kecil. Dari latar foto tersebut, aku ingat bahwasanya latar tersebut adalah rumah tua arsitektur Belanda yang sekarang ditinggali oleh Bu Fany. Hanya saja, tanaman lebat seperti hutan itu tak ada pada foto tersebut. Mungkin saja Bu Fany belum tertarik untuk menanam tanaman.


“Pak Kumbang, Bu Fany, Kak Reina, dan Reira.” Aku menyentuh satu per satu wajah di foto tersebut.


Reira tengah memegang sebuah tongkat kayu yang ia hentakkan ke tanah. Anak itu persis seperti pose Si Buta Dari Goa Hantu. Sedangkan Reina dan Bu Fany memeluk Kakek Kumbang dengan satu tangan. Kemeseraan yang bisu itu seakan berbicara padaku, bahwasanya cinta akan tetap abadi hingga buktinya sekarang Kakek Kumbang selalu dikenang.


“David!” teriak Mawar.


Aku menoleh ke muka pintu. Mawar berwajah cemas menatapku. Ia segera mengampiri, lalu menepuk dadaku dengan keras.


“Kenapa?”


“Pintu belakang terbuka. Gue padahal udah ngunci pintu itu sebelum pergi. Gue enggak mungkin salah!” Nadanya panik.


“Pak Dadang mana?” tanyaku.


“Dia pergi pakai motornya.”


“Barang-barang lo aman?” tanyaku kembali.


“Seluru barang aman. Cuma pintu itu yang terbuka. Gue lihat sekeliling rumah, enggak ada satu orang pun yang gue lihat.”


Mawar mengangguk. Anggukan itu membawaku untuk menarik lengan Mawar dan pergi keluar dari kamar. Rasa penasaranku mengenai kamar itu ternyata segaris lurus dengan terbukanya kamar ini tanpa kunci. Aku masih menimbanga apa yang sedang terjadi, tetapi tak satu pun titik terang di mana aku menemukan jawabannya.


Pintu belakang seperti yang dikatakan oleh Mawar, terbuka tanpa satu pun dari kami yang melakukannya. Ada dua kemungkinan, yaitu seseorang telah masuk ke dalam villa ini dan yang kedua ialah Mawar terlupa untuk mengunci pintu itu. Namun, aku rasa Mawar bukanlah orang yang ceroboh. Wanita jenius itu cermat dengan kehati-hatiannya. Kecil kemungkinan ia akan melakukan hal tersebut, apalagi kami sedang di tempat yang jauh dari rumah. Tentu saja Mawar lebih berhati-hati dengan keamanan kami.


Area belakang rumah terasa senyap, hanya suara hewan dari hutan seberang serta serangga-serangga yang bersemayam di sela taman bunga. Senter aku ambil di bawah wastafel dapur, lalu pergi menyusuri area belakang rumah. Semakin kami melangkah, semakin sunyi dan gelap dunia yang kami temukan. Lampu-lampu bulat sepanjang jalan setapak pun tak cukup membuatku melihat dengan jelas.


“Nanti kita tanya Pak Dadang.” Aku berhenti di tempat, lalu berbalik badan melihat wajah panik Mawar.


“Lo yakin kita aman di villa? Bisa jadi orang jahat .... atau―”


Aku menyela kalimatnya, “Jangan berkata yang tidak-tidak. Gue lagi enggak pengen percaya tahayul.”


“Gue rasa benar, sebaiknya kita bertahan di villa sampai Pak Dadang tiba.”


“Ayo ...,” ajakku padanya.


Hari menunjukkan jam sebelas malam. Pak Dadang entah pergi ke mana, aku pun tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia duduk mengopi sembari bermain domino bersama teman-teman. Duduklah aku di sofa sembari memegang sebuah kunci inggris yang aku temukan di penyimpanan perkakas. Sementara itu, Mawar sudah masuk ke dalam kamar karena terlampau lelah. Sudah aku ikan jendelanya yang tidak berterali itu dengan seutas kawat. Pintu sengaja kupinta untuk tidak dikunci agar sewaktu-waktu ada hal janggal, ia bisa bergegas keluar. Ia tidak menyahut ketika aku panggil namanya, pertanda ia sudah jauh terbawa mimpi malam ini.


Tiba-tiba suara terbukanya gerbang membuatku terkejut. Sontak mataku yang tidak ingin tidur, kini semakin terbuka. Jantungku semakin berdetak saja oleh suara yang ditimbulkan. Tidak terdengar olehku suara mesin motor, pertanda orang memasukinya dengan berjalan kaki. Tidak mungkin Pak Dadang ke sini tanpa membawa kendaraan. Jarak antara villa dan pemukiman tentu saja menyesakkan dada apabila dibawa berjalan kaki. Suara dari gerbang pun hanya sedikit, pertanda dibuka hanya sebesar tubuh untuk masuk.


Langkahku perlahan melihat dari dinding kaca tersebut. Aku singka sedikit gorden agar mengintip keluar, tetap tidak aku temukan satu orang pun di sana. Dugaanku seseorang masuk dengan berjalan kaki ternyata benar. Gerbang hanya terbuka sedikit. Tidak lama kemudian, ketukan pintu menggetarkan lututku. Ketukan pertama tanpa suara, senyap seperti di ruang kedap. Ketukan kedua barulah seseorang menyahut suaraku.


“David ... ini gue Reira!” Ia berhenti sejenak. “Lama banget, sih pulangnya!”


Teriak suara Reira melegakan pernapasanku.


***