Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 43 (S2)



EPISODE 43 (S2)


Entahlah kawan, sesuatu yang langka selalu menarik bagi setiap orang yang melihatnya. Sesuatu yang tak biasa akan menjadi berharga apabila rentetan peristiwa tak kunjung menampakkan dirinya, atau pun bisa juga dibilang sangat jarang. Itulah senyuman si anak pemilik warung kopi yang baru saja menitipkanku sekotak bakpao hangat sebesar telapak tangan. Bentuknya bulat seperti pipi Zainab, mulus putih tak ubah layaknya hati Reira, dan gurih isi ayam seperti lelucon garing Candra yang terkadang mencairkan suasana. Aku pun menggeleng ketika menganogikan sebuah bakpai meruju pada karakteristik teman-temanku itu.


Reira masih tidur tatkala aku tiba di rumah. Dahinya berkeringat karena tak ada kipas angin yang terpasang di kamar Zainab. Setelah aku tanyai, ternyata kipas angin sedang disabotase oleh kedua cecunguk di dalam kamar yang satu lagi, siapa lagi kalau bukan Candra dan Razel. Mereka pun mengutukku ketika aku ambil paksa kipas angin tersebut kembali menuju kamar Zainab. Ada seorang kapten kapal kelelahan dan seorang gadis Melayu anggun yang sedang menonton film melalui handphone-nya.


Aku hanya melihat Reira keluar dari kamar tatkala ia melangkah ke dapur untuk mengambil makan siang bersama Zainab. Masih aku tahan hasrat mememenuhi keinginantahuku darinya dan lebih meneruskan berkutat di depan laptop untuk melanjutkan ceritaku yang tak seberapa itu.


Aku rasa ia sangat lelah. Ketika berbalik kembali ke dalam kamar, aku dapati Reira tidur kembali di samping Zainab yang berbaring. Hingga senja menjelang, Reira hanya bangun untuk beribadah dan duduk bermain handphone di atas ranjang. Hanya itu, tanpa keluar kamar bersama Zainab sepanjang hari.


Jika aku berani bertaruh apabila ia sedang dalam keadaan baik-baik saja, ia akan keluar kamar untuk melihat Minerva yang bersuara ketika didatangi orang lain. Namun, kali ini sangat berbeda dan mengusik inti rasa cemasku. Aku belum ingin menceritakan masalah itu kepada Candra karena aku tak ingin Reira merasa tidak enak apabila masalah pribadinya diceritakan oleh orang lain, apalagi baru saja ia alami. Cukup aku simpan dalam diskusi heningku bersama meja bundar di teras rumah, sembari menatap matahari yang perlahan turun menutup diri. Hingga malam datang bersamaan dengan dingin yang menyeruak, aku memberanikan masuk untuk berbicara kepada Reira.


Aku mengedarkan penglihatanku ke sekitar kamar. Hanya Zainab yang sedang mengenakan mukena di atas sajadah. Lalu, aku tanyai sedang ke mana Reira karena aku sedari tadi aku di dalam kamar menyaksikan keseruan duet game Candra dan Razel.


“Ke mana Reira?” tanyaku.


“Habis sembahyang, di keluar kamar. Katanya panas.” Zainab menoleh padaku.


“Oh, thanks.”


Langkah menuntunku menuruni tangga teras. Aku temukan Reira sedang duduk termenung di gazebo luar dengan menenggelamkan kepalanya di kedua lutut. Langkahku lambat dan bergetar menyadari ia sedang bersikap seperti itu. Ke mana senyum yang selalu ia terbarkan kepada setiap orang? Ke mana teriak menyerukan semangat yang selalu ia sulut kepada kami setiap hari? Kini seketika padam dalam pijar lampur redup di atasnya, merenungi sesuatu yang tidak aku ketahui.


“Rei―”


Ia langsung memelukku seerat-eratnya, lalu menangis terisak dengan keras. Air mata itu tumpah begitu saja tanpa ada halangan yang membendung. Tangisannya menghenyukkan hatiku yang sedari tadi mencari jawaban. Ia tak kunjung berbicara, kubiarkan ia menumpahkan semua lara yang sedang ia rasakan. Tubuh ini kujadikan tempat melampiaskan tangisnya, selama yang ia mau dan ia mampu. Semua yang indah akan selalu ada disampingnya, apalagi hal-hal yang berani membuatnya menjatuhkan air mata seperti saat ini.


Aku bawa duduk diriku, sementara itu ia masih memelukku dan membenamkan wajahnya di dadaku. Tangisannya ternyata menarik seluruh orang yang ada di rumah. Mawar, Candra, Razel, serta Mak Cik melihat dari teras rumah. Sementara itu, Pak Cik yang tampak begitu khawatir dengan cepat turun ke bawah untuk memastikan hal apa yang sedang terjadi. Pak Cik memulainya dengan menanyakan kepada Reira apa yang sedang terjadi. Namun, wanita itu masih dirundung tangis yang begitu dalam, hingga tak mampu berbicara dengan baik. Pak Cik Milsa pun menghela napas dan meminta Zainab untuk membawakan air hangat untuk Reira.


Semuanya perlahan mereda, Reira melepaskan pelukannya padaku tatkala Zainab tiba dengan segelas penuh air hangat. Aku mendekatkan gelas tersebut ke bibirnya, hingga Reira menyeruput air hangat itu perlahan. Ia berkali-kali mengambil napas panjang untuk meredakan tangis, namun rasa sedih itu tampaknya terlalu berlebih ia rasakan. Air mata dan isak kecil tak bisa ia tahan.


“Mama masuk rumah sakit,” ucapnya pelan.


Satu hal yang ingin aku katakan ialah hanya kekosongan jiwa sedang merundung pikiranku saat ini. Terlintas bagaimana Dika yang menangis hebat pada saat itu sembari berlari menjemputku yang sedang menongkrong di kedai komplek. Satu pukulan hebat menempel tepat pada pelipis ketika ia tiba dengan tangis yang tak terbendung, lalu menarikku hingga membuat domino di atas meja berserakan. Aku tak diberi jawaban mengapa tangis sedang melukis wajahnya.


Jawaban itu keluar tepat di saat kakinya tak sanggup untuk melangkah lagi. Dari posisi tubuhnya yang berjongkok lemas, terkeluarkanlah pernyataan jika Mama terjatuh di kamar mandi dan sedang dibawa oleh ambulans ke rumah sakit.


Inilah perasaan yang sedang menghantuiku. Lusuh wajah Reira mengingatkanku bagaimana titik terlemah Dika ditunjukkan padaku, padahal selama ini ia tak sekali pun merasa lemah seperti itu. Dika adalah orang yang kuat dan paling tegar, namun menjadi kecil saat di satu titik. Aku tak bisa berkata apa-apa ketika Reira kembali memelukku dengan erat. Hanya tanganku yang memberikan perlakuan dengan mengelus rambutnya.


Pak Cik Milsa segera menelpon Kakek Syarif untuk memastikan kebenaran berita. Dari panggilan yang ia keraskan, serta tunduk lemas kepala Pak Cik Milsa ke bawah, tersimpulkanlah dari percakapan itu bahwasanya Kakek Syarif memastikan berita itu benar.


“Pak Syarif sedang bersiap-siap melaut ke sini untuk menjemput kalian. Besok siang kira-kira kapal Leon akan tiba di Mangggar. Silahkan beresi barang-barang kalian untuk persiapan besok.” Pak Cik berdiri dari duduknya, lalu menepuk pundakku. “Pastikan ponakan aku ini tenang.”


“Iya, Pak ... kasih tahu juga sama mereka kalau kami akan pulang besok hari.”


Pak Cik Milsa mengangguk sembari menyulut rokok kreteknya tanpa menjawab ucapanku dengan kata. Aku lihat Zainab menutup mulutnya seakan tidak percaya ketika Pak Cik Milsa memberitahukan hal itu. Candra dan Razel saling menatap lemah satu sama lain. Mereka tidak diizinkan untuk mendekati Reira karena Pak Cik Milsa bermaksud agar Reira tenang terlebih dahulu. Akulah di sini yang masih bertahan menemani Reira yang terkulai dengan kepala di atas pangkuanku. Ia tertidur dengan mata sembab dan alunan napas yang lebih tenang. Tidur lebih baik daripada ia menyadari keadaan ini kembali.


Aku hisap rokokku perlahan. Air mataku pun menetes hingga ke ujung dagu. Aku tak ingin Reira merasakan apa yang aku alami saat itu, ketika kata 'kehilangan' mendekam hingga saat ini.


Malam terlalu malam untuk seorang wanita tidur di luar yang dinginnya menusuk seperti ini. Sebaris raut wajah Reira yang mendekam resah dalam pangkuanku tak urung membuatku mengangkatnya ke dalam rumah. Barulah ia aku beranjakkan ke dalam ketika erangan suaranya terdengar risau karena mengigaukan sesuatu. Entah bayang apa yang sekarang ia pikirkan dalam mimpi sekarang ini. Aku biarkan ia terlelap selanjutnya di atas ranjang kasur Zainab, tepat di samping Zainab yang masih terjaga. Aku meminta padanya untuk menjaga Reira semasa tidur.


Pagi menyambut di langit Manggar. Reira tak ingin dibangunkan oleh Zainab. Aku pun memintanya untuk membiarkan Reira saat ini. Sebegitu paham aku dengan perasaan yang sedang ia risaukan. Bangun tak ingin bangun, tidur pun terlalu terlalu risau untuk menutup mata, makan tak ingin kenyang, apabila kenyang pun terasa mual. Aku sediakan untuknya sarapan pagi berupa teh hangat, lontong sayur pakis dari kedai sekitar, serta bakpao titipan Mawar yang aku hangatkan di penanak nasi. Aku tak ingin ada orang lain yang mencobanya pertama kali, kecuali oleh Reira sendiri.


Hanya sesekali wanita itu keluar untuk ke kamar kecil, lalu kembali ke kamar untuk baring-baring sembari menyalakan handphone. Tatkala aku intip sekali lagi, ia sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Aku hanya menghela napas tatkala menutup tirai bergerincing pada pintu kamar, sembari mengharapkan semangat Reira yang biasanya berkobar, akan kembali seperti semula.


Mobil sudah dipanaskan oleh Pak Cik untuk mengantarkan kami ke dermaga. Ia mendapatkan sambungan telepon dari Kakek Syarif bahwasanya sebentar lagi mereka akan sampai. Sinyal telepon yang didapat, menjadi pertanda bahwasnya Kapal Leon sudah mulai mendekati daratan. Razel pun sudah aku minta untuk mengangkat seluruh bawaan kami ke dalam mobil, agar nanti tak lagi terburu-buru memasukannya.


Aku masuk ke kamar, didapati Candra sedang duduk di depan laptopku dengan secarik kertas di atas meja. Matanya fokus pada setiap untai kalimat yang ia rangkai satu per satu, walaupun ia tidak tahu bahwasanya aku sedang memerhatikannya. Rasa penasaran membuatku mendekati pria itu. Aku lihat ada sepenggal nama Zainab bersemayam pada baris paling atas, berdekatan dengan salam mesra atas nama cinta yang mendahuluinya.


“Teruskan, kawan. Aku mendukungmu.”


Suaraku seakan sedang berada di drama-drama klasik.


“Kasih gue ide, dong. Ini surat cinta. Lo pasti paham banget sama yang beginian. Lo kan suka bikin puisi,” pinta Candra.


“Beneran ini udah bagus?” tanya Candra penasaran.


“Bagus sama lo, belum tentu sama Zainab. Ya ... tergantung dianya.” Aku tersenyum pelan. “Jadi, lo mau ngasih surat ini tanpa mau ngucapin langsung?”


Ia mengangguk pasti. “Semenjak gue baca buku novel dari lo, ternyata menulis surat lebih membekas dan lebih romantis.”


“Selera yang bagus ...” Aku merasakan ada getaran pada handphone-ku. Dengan segera aku melihatnya.


Tertera nama Mawar telah mengirimkan pesan singkat untuk memastikan berita itu. Aku pun membalasnya dengan membenarkan bahwasanya ibunda dari Reira sedang masuk rumah sakit dan terpaksa untuk pulang hari ini. Namun, beberapa saat kemudian ia menelponku.


“Hallo ... ini gue,” balasku.


“David, kalian bakalan pulang hari ini?” tanya Mawar.


“Iya, memang. Mau bagaimana lagi? Siang ini kami akan berangkat. Kakek Syarif udah hampir sampai di dermaga.”


Ia diam sejenak. Tak aku dengar balasan suaranya darinya, kecuali suara denting dapur kedai kopinya itu. “Gue ikut.”


“Apa? Emang lo dibolehin pergi buat pergi mendadak gini?” tanyaku memastikan.


“Semenjak tadi malam Zainab kasih berita itu, gue udah memprediksi kalian bakalan pulang hari ini. Gue udah minta izin buat pergi. Gue diizinin.”


Aku lihat Candra yang masih fokus dengan tulisannya, lalu aku beranjak duduk di atas ranjang. “Baiklah ... nanti gue beritahu Pak Cik buat ngejemput lo sekalian. Siapin ya semua bawaan lo. Kita bakalan langsung pergi, enggak nunggu-nunggu lagi.”


“Jangan khawatirkan itu. Bye ... thanks udah ngangkat telepon dari gue.”


“Iya, sama-sama.”


Sambungan berdengung setelah Mawar mematikannya sepihak.


Kabar bahwasanya Kakek Syarif sudah tiba terdengar oleh kami. Semuanya melangkah menuju mobil untuk berangkat. Tidak dengan Reira yang masih tak kunjung keluar dari rumah. Padahal, Zainab sudah turun untuk melepas kami di dermaga nantinya. Pak Cik menyuruhku untuk melihat wanita itu di kamar. Benar saja, ia masih tak kunjung keluar kamar. Reira diam menatap cermin datar dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya bengkak bekas menangis semalaman. Aku pun mendekatinya dan mendekapnya dari belakang. Tangan kami saling bersentuhan. Terasa sekali rasa risau dari cengkraman tangannya pada telungkup tanganku.


“Minerva sudah menunggu di bawah. Perdana ia melaut hari ini,” ucapku untuk membujuknya.


Perlahan ia menarik senyum, walaupun aku tahu senyum itu tak begitu tulus.


“Candra tadi menaruh sesuatu di buku catatan Zainab. Apa itu? Lo pasti tahu sesuatu.”


Aku membuang muka untuk memikirkan apa yang harus aku jawab. Candra terlalu bodoh karena tidak bermain bersih ketika menyelipkan surat cinta perpisahan itu.


“Hmm ... bagaimana ya ... lo jangan ketawa. Candra suka sama Zainab―”


“Apa?” Tiba-tiba suaranya naik. Ia berbalik berhadapan denganku dengan tangan yang mengggam erat.


“Plis jangan dibahas di depan Candra, apalagi di depan Zainab. Dia minta gue merahasiakannya dari lo karena lo itu jahil orangnya.” Aku mencubit ujung hidungnya.


“Habis ini, gue bakal ejekin dia sampai menangis,” balasnya pelan.


Kami saling bertatap satu sama lain. Aku beranikan mendekatkan wajah padanya, lalu memerengkan kepala untuk menikmati momen ini, Baru kali ini aku memulainya dengan sendiri. Rasa risau Reira masih terasa dari sentuh bibirnya yang mengapit.


“Semua akan baik-baik saja. Gue selalu ada di sisi lo.”


“Udah gue bilang, inilah badai yang gue sebutkan.” Ia mendongak menata wajahku. “Pelaut tidak takut dengan badai.”


“Iya, gue tahu. Mari kita pergi.”


“Ayo.”


Ia membimbing tanganku untuk keluar. Secercah cahaya senyum aku dapati untuk pertama kali hari ini, walaupun tak setulus sebelum-sebelumnya.


***