
EPISODE 75 (S2)
Ada apa dengan pertanyaan itu?
Aku mengira-ngira di dalam hati mengenai pembenaran bahwasanya ia benar-benar lain mengartikan sentuhan yang aku berikan. Atau bisa jadi aku hanya yang terlalu percaya akan hal itu. Wanita itu hanya menyatakan bahwasanya ia cemas, aku yang sedang dicurigai rasanya. Tidak, aku tidak mungkin berpikiran seperti itu, walaupun Mawar merupakan wanita tercantik se-Kota Manggar. Aku memang mengangumi dengan pemikirannya yang brilian itu, namun tidak sebagai penyambung hati dan bermain rasa. Aku bukanlah orang yang suka dengan hal-hal berbau perselingkuhan.
Hanya rasa percaya yang kami taruh di dalam hati, dicamkan keras-keras agar terdengar oleh pintu-pintu langit, agar aku dan Reira akan terus memelihara perasaan itu. Dengan seluruh sifat Reira yang petakilan dan juga selalu dekat dengan siapa saja, aku berusaha mungkin untuk tidak berpikiran lain. Memang, terdapat tragedi yang sempat bermain di momen-momen itu, hingga membuat cemburu diriku.
Namun, tak ada kata untuk mengucapkan bahwasanya aku tidak percaya dengan Reira. Ia wanita terjujur yang pernah aku ketahui, bahkan untuk hal bodoh yang dilakukannya. Seakan, tidak ada batas-batas di antara kami untuk saling membuka diri, menceritakan kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta seluruh ketidaksukaan yang acap kali menampar kesadaran diri.
Pertemuan kami memang tidak sengaja, begitu pula rasa yang jujur ini timbul dari ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan datang begitu saja tanpa pemberitahuan bahwasanya takdir pertemuan menyambung jalin rasa. Seperti kapal yang hanyut tanpa pegangan, menemukan sebuah pulau kecil yang hanya ada satu pohon kelapa, begitulah kami.
Akulah pulau kecil itu, didatangi oleh kapal Leon dengan kapten bernama Reira. Dengan seringai sombongnya itu, aku pun ikut berkecimpung dengan segala hal gila yang ia paksa untuk aku ikuti. Hingga, seluruh rasa yang tak sengaja itu datang, menghantui diriku untuk mengungkap cinta.
Memang, dasarnya tidak ada cinta yang datang tanpa ketidaksengajaan. Seseorang tidak akan bisa tahu kapan dan di mana akan menemukan hati yang selama ini ia cari. Bisa jadi bertemu di dalam angkot seperti adegan FTV, atau pun menabrak bidang dada seorang CEO seperti di novel-novel klise yang sering dibaca oleh remaja dengan ekspetasi tinggi.
Mereka benar dasarnya. Cinta akan datang jika engkau berada di ruang ketidaksengajaan, menyatu dalam waktu yang berjalan, lalu dalam persinggungan itu timbullah tragedi.
Cinta datang dari ketidaksengajaan, namun dipelihara dan tumbuh melalui pembiasaan.
Ada banyak orang yang bertemu dengan hatinya, namun gugur seketika karena tidak terbiasa. Aku rasa betul juga pepatah yang mengatakan bahwasanya cinta itu datang karena terbiasa. Namun, kebiasaan itu diawali dengan ketidaksengajaan, yaitu pertemuan.
Begitulah ketidaksengajaan yang begitu penting di dalam dinamika hidup, terutama cinta. Ketidaksengajaan itu penuh misteri dan teka-teki. Tanpa semua labirin yang membingungkan itu seseorang tidak akan menemukan cinta.
Matahari terbang satu garis lurus di atas kami. Terik membakar rambutku yang terus berusaha untuk berdiri dihempas angin laut yang kuat. Aku dan Mawar masih duduk tanpa kata-kata, menyimpan kalimat untuk tidak diucapkan. Kami sama-sama menyorot satu titik, yaitu kemesraan antara cucu dan kakek itu. Mereka sibuk sendiri, berteriak ketika ada ikan yang menyambar umpan, lalu bersumpah serapah seakan tidak ada penunggu laut ketika ikan tak berhasil didapat. Hanya tawa dan senyum yang kami utas di hadapan meja ini, tanpa memandang satu sama lain.
Tiba-tiba Mawar menoleh padaku.
“Akan ada datang masanya di mana lo dan Reira merasa bosan satu sama lain,” ucap Mawar.
Sontak kalimatnya itu menggertak hatiku untuk menjawab.
“Maksud lo apa bilang begitu?” tanyaku.
“Seseorang akan merasa tertarik apabila melihat hal yang baru, dan meninggalkan apa yang sudah sering dilihatnya. Seperti anak-anak kota yang berlibur di sebuah desa penuh dengan sawah, lalu nge-story-in sana-sini. Hal itu karena mereka melihat hal baru. Itu pula yang gue bilang kalau anak kota lebih kampungan dari anak desa seperti gue dan Zainab.”
Kalimatnya membingungkan. Entahlah, memang begini pemikiran orang yang jenius.
“Gue enggak paham sampai sini,” balasku.
Mawar menaikkan satu alisnya. “Cinta begitu pula. Lo bakalan bosan sama cinta karena makanan setiap hari itu-itu aja. Tanpa dinamika.”
“Gue tanya sama lo, apa kedua orangtua lo bosan satu sama lain?” tanyaku.
Ia mengangguk. “Tentu aja mereka tidak bosan satu sama lain.”
“Lalu, kenapa lo bilang begitu?”
“Sekarang gue tanya balik, apakah cinta kalian berdinamika?” Ia menoleh kembali. “Cinta itu selalu diperbarui karena dinamika. Kalau kisah kalian begini-begini aja, kalian bakalan bosan.”
Aku tertawa kecil sejenak. Bisa-bisanya ia membicarakan hal ini, sementara itu aku rasa Mawar tidak terlalu mengerti dengan cinta.
“Kalau gue bahas secara biologi, cinta menyebabkan zat serotonin meningkat di otak. Setiap hari akan harus menambah dosis, oleh karena itu kita enggak bakalan bosan.”
Wajahnya kecut mendengar penjelasanku.
“Hey, serotonin? Dopamin kali, ya? Dopamin di otak yang bikin lo ketagihan. Kaya narkoba atau rokok yang lo hisap. Kekurangan dopamin bakalan bikin lo bosan, oleh karena itu harus menambah dosis lagi.”
Aku menjentikkan jari. Sanggahanya membuatku malu sendiri. “Nah, itu dia. Gue lupa.”
“Jadi, kesimpulan apa yang bakalan lo sampein ke gue? Gue mulai bingung sekarang kalau bicara sama anak jenius,” balasku.
Mawar diam sejenak. Ia hela napas panjang di sela percakapan kami. “Apa kalian pernah ada masalah? Masalah yang menciptakan dinamika.”
Aku diam sejenak. Segala penjelasan yang ia katakan padaku ternyata memiliki ujung pertanyaan yang menjurus. Ia tidak mengatakan hal yang mengada. Cinta tentu saja akan berada di titik kebosanan apabila bergulir di tempat. Ya benar, Mawar sedang menggunakan IQ tingginya untuk membahas ini. Sementara aku yang bodoh hanya bisa mengutuk di dalam hati dengan ketidakmengertianku.
Cinta harus ada dinamika, tak ubah layaknya kisah hidup karena cinta merupakan bagian dari hidup itu sendiri.
“Lo ini memang benar-benar anak Psikologi. Pandai banget nyari informasi orang lain dari wawancara.”
“Dosen mata kuliah wawancara gue bilang kalau lo bertemu dengan orang baru, lo minimal harus tahu namanya di menit pertama, pekerjaannya di menit kedua, tinggalnya di mana di menit ketiga, lalu kisah hidupnya di menit kelima. Kemudian, ia akan semakin terbuka sama lo.”
Aku berdecak kagum di dalam hati. Anak ini sepertinya tidak pernah bolos kelas sekali pun.
Wajahku menunduk untuk mencari jawaban. “Reira selalu bilang akan selalu ada badai dalam kisah kami berdua. Seperti ibunya yang sedang sakit, kasusnya di rektorat, dan lain-lain.”
Mawar menggeleng. “Itu kisah hidupnya, bukan hidup lo. Lagi pula itu hanya masalah kehidupan pribadi. Maksud gue mengenai hati. Apakah itu kecemburuan, sakit hati, patah hati, dan lain sebagainya. Terserah lo, itu kisahnya lo.”
“Entahlah, Mawar ... gue akhir-akhir ini juga bingung.” Aku semakin menyorot dalam wanita berikat rambut merah yang sedang memancinging itu. Mawar benar-benar memaksaku untuk terbuka padanya. “Gue lagi cemburu sekarang.”
Terdengar bunyi Mawar menelan ludah setelah aku mengatakan hal itu. Sepertinya, hal seperti ini yang ingin ia dengar dariku.
“Kenapa? Apa Reira lagi dekat sama seseorang?” tanya Mawar.
Aku mengangkat bahu pertanda ketidaktahuanku.
“Ada sebuah foto polaroid di dalam dompet Reira. Reira dan cowok itu sedang ada di club malam, berfoto mesra dengan merangkul tubuh. Gue ngerasa aneh aja. Perasaan gue enggak seenak biasanya. Lo lihat aja gimana Reira dan teman-teman cowoknya sangat dekat, tapi gue enggak pernah berpikir aneh. Tapi, yang ini bikin hati gue kehentak.”
“Oh, ya? Gue baru tahu hal ini,” balas Mawar.
Sela-sela percakapan ini aku manfaatkan untuk membakar sebatang tembakau. Angin yang berhembus keras memungkinkan untuk Mawar tidak mengenai asapnya.
Aku menghembuskan asap dari mulutku. “Gue juga begitu, baru tahu. Gue kira cowok itu adalah Dokter Alfian. Tapi, waktu gue ketemu pertama kali dengan dokter itu, ternyata berbeda. Dan gue enggak ada cemburu dengan kedekatan Reira dan Dokter Alfian.”
Ia tersenyum di hening yang kami ciptakan.
“Inilah dinamika yang gue sebutin. Dengan ini, lo enggak bakalan ngerasa bosan. Kalau lo kira masalah itu harus dihindari, maka lo salah. Masalah itu perlu datang dengan catatan lo hadapi. Inilah momentum yang tepat.”
“Suatu hari gue bakalan cari tahu siapa dia. Gue segan nanya sama Reira, gue takut hubungan kami renggang. Makanya, gue pengen cari tahu sendiri.” Aku menoleh padanya. “Kenapa lo tiba-tiba bicarain ini?”
“Enggak ada, gue cuma pingin tahu.”
Aku berdiri seraya menepuk bahunya. “Kini saatnya lo cari dinamika lo sendiri. Lo bilang seseorang akan tertarik dengan hal baru, nah sekarang lo harus cari hal baru itu.”
“Maksud lo?”
“Cinta ... suatu hari lo bakalan nemuin seseorang yang bikin lo paham tentang cinta. Dan lo, enggak perlu lagi nanya ke gue buat cari jawaban.”
Ia masih menatapku hingga aku melangkah menuju Reira dan Kakek Syarif.
“Gue enggak bisa ....”
***
Selamat menghadiri mata kuliah filsafat cinta ....