Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 110 (S2)



EPISODE 110 (S2)


Berkemilau langit kupandang dari celah mataku yang menadah. Tak kalah indah apa yang aku lihat di sana, dibandingkan wanita berambu terikat nan tengah melebarkan tanganya dengan lebar. Larian angin menggoyangkan kemilau rambutnya, membelai wajahnya yang terpejam untuk merasakan suara alam. Hatiku diluluhkan dengan bebatuan besar yang menghiasi sepanjang aliran sungai. Tidak hanya ada di sungai, melainkan menepi hingga di tempatku berdiri. Reira berdiri di salah satu batuan. Beginilah sungai khas daratan tinggi, deras air syarat dengan bebatuan.


Aku di sini berdiri tepat di ujung jalan seperti terowongan ini, memerhatikan betapa menakjubkan kata-kata yang ia ucapkan padaku tadi. Entahlah Kawan, ia masih melakukannya. Ia mencoba merasakan dan mendengarkan suara alam itu melebihi dari yang kubisa. Begitu dalam makna-makna yang dapat ia tuai dari kesunyian, seakan kesunyian yang hening itu berbicara langsung tepat di depan hatinya.


Inilah ujung dari perjalanan seram tadi. Pertanyaanku berkali-kali padanya akhirnya kini terjawab sudah. Ada sebuah kemilau dari balik rasa takut yang aku pendam tadi. Di sinilah kemulau itu. Ada pada bulan yang bersinar terang di sana, bintang gemintang yang bertaburan di sebalik awan, serta senyum Reira yang kini berbalik menoleh padaku. Aku lepaskan bawaan yang sedari membebani tanganku, lalu melangkah hampiri Reira.


“Ada hikmah dari seluruh rasa takut lo akan sombongnya dunia. Itulah gue enggak pernah ingin takut,” ajarnya padaku.


Aku memahaminya. Tidak ada rasa takut yang abadi. Keabadian itu sendiri membatasi rasa takut untuk berakhir. Paham sekali bagi diriku yang pernah menjadi seorang pengecut, dipecundangi oleh rasa cemasku sendiri. Tidak akan ada jalan bagi orang-orang yang takut melangkah.


“Tapi, kalau ada hantu ... gue tetap aja takut.”


“Lo punya Tuhan, kita dan hantu sama-sama ciptaan.”


“Tuhan enggak adil menciptakan hantu dengan buruk rupa. Itulah alasan kita takut kegelapan,” balasku.


“Gue harap enggak ada petir yang tiba-tiba menyambar sekarang. Hahaha ....”


Kami sama-sama melihat aliran air berdampingan, saling menggenggam tangan.


Sungguh merdu aliran air yang bergemericik di sana, seakan memanggilku untuk masuk segera. Namun, darahku sudah membeku tadi dan aku tidak ingin membeku untuk kedua kalinya. Entahlah jika Reira benar-benar makhluk berdarah dingin yang tidak peduli sedingin apa air sungai ini.


“Jadi, apa selanjutnya?” tanyaku.


Ia menunjuk ke belakang. “Harta karunnya tepat di belakang batu yang kita pijak.”


“Lo kok bisa tahu ada harta karun di sini?” Aku mengangguk memahaminya kemudian. “Oh, gue tahu ... lo pasti sengaja nimbun sesuatu di sana tadi, kan?”


“Berani bertaruh?” Ia ingin menantangku lagi-lagi.


“Oke, lo bosnya kali ini, Gue kalah,” pungkasku.


Heran diriku ketika Reira meraba-raba bagian tanah pasir yang berada di belakang batu ini. Rabanya seakan bisa meraskan sesuatu yang ada di dalamnya. Aku masih tidak mengerti, hingga aku turut berjongkok di sampingnya. Reira tampak aneh ketika sesekali ia mengangguk seakan ia telah menemukan sesuatu. Tidak ada yang terjadi, selain rabaan tanganya ke permukaan tanah pasir.


“Lo kenapa, Rei?” tanyaku.


“Gue sumpah lupa di mana waktu itu menanam harta karunnya. Entah di sini, atau dua meter ke depan lagi. Soalnya, waktu itu gue sama Reina berdebat tentang ini.”


“Kalian pernah menanamnya? Dan kalian berdebat karena itu?”


Reira mengangguk. “Kami selalu berdebat tentang pilihan masing-masing.”


“Hahaha ... seperti yang gue bilang, suara alam. Gunakan intuisi lo dalam memperkirakan segala sesauatu.” Ia kembali menatap ke bawah dan tidak lama kemudian terdengar suara jentikan tangan. “Nah, gue yakin ada di sini. Sekarang cangkul aja sedalam mungkin. Kali aja bendanya udah makin ke dalam.”


Malam telah menunjukkan jam setengah tiga subuh. Embun tipis tampak bergelimang di sepi bukit seberang sana. Dingin semakin menusuk saja, hingga aku bergetar menggenggam cangkul ini. Sweater ini tidak cukup menghangatkan bagiku, tetapi Reira terlihat baik-baik saja dengan kulit badaknya.


Tak ingin aku bertanya kembali sedalam apa aku akan menggali tanah ini, yang pasti keringatku sudah bercucuran di dahi. Sejenak aku berhenti untuk menghembuskan tanganku yang kebas oleh dingin, lalu kembali memperlebar lobang galian yang aku bentuk.


Tidak kunjung pula ditemukan benda yang dimaksud oleh Reira. Aku pun sampai saat ini masih belum tahu benda apa yang ia maksud.


Entah harta karun apa yang akan aku temukan nanti. Semoga tidak seperti kotak pandora yang berisikan segala jenis aura kejahatan, lalu menyebar ke seluruh dunia untuk menciptakan kekacauan. Tanah bekas galian bertumpuk di sampingku, bahkan cucur di dahiku aku lemparkan ke sana. Sementara itu, Reira asyik menyenter hutan berharap mendapatkan satu lagi burung hantu berwarna putih.


“Ini kalau gue masukin Minerva, udah bisa meninggal dia.” Aku melepaskan cangkul dari tanganku. Tidak kunjung harta karun itu ditemukan. “Udah dalam nih, tapi enggak ketemu juga.”


Reira bangkit dari posisi jongkoknya, lalu berdiri di sampingku dengan berlawanan arah. Ia langkahkan kakinya besar-besar dua kali dan berhenti kemudian. “Coba di sini. Kayanya suara alam yang gue denger ternyata keliru.”


Wajahku yang basah dengan keringat hanya bisa menatap anak itu dengan datar. Tenang sekali mulutnya memintaku kembali untuk menggali di lubang yang kedua. Aku yang tak kunjung bergerak membuatnya berisyarat dengan kepala agar aku melakukannya segera. Dengan hela napas panjang, kembali aku tancapkan ujung cangkul ke tanah berpasir. Tetap aku selingi dengan berhenti sejenak untuk mengambil napas, lalu kembali memperdalam lubang galian.


Seketika ujung cangkul menyentuh benda padat di dalamnya. Suara hentakan itu terdengar dengan jelas oleh kami berdua. Kami pun saling bertatap antusias mengenai benda yang mengenai ujung cangkul. Reira dengan cepat mendorongku, hingga aku terjerembab ke samping. Hujat hatiku sungguh pedas kepada orang yang tidak tahu terima kasih, meskipun beliau adalah kekasihku. Giliran Reira yang mencangkul dan memperlebar galian agar benda itu bisa keluar dari sana.


“Waah ... ini benda yang kita cari!” Wajah Reira menunduk ke sana.


Aku yang tak bertenaga hanya merangkak menuju lubang yang telah ia buat. Kepalaku perlahan menunduk ke dalam kegelapan lubang, senter milikku terlepas di tanah sewaktu aku didorong oleh Reira. Barulah aku melihat dengan jelas permukaan sebuah benda dari kayu berwarna cokelat. Semangat sekali Reira melihat apa yang sudah ia dapati, hingga memijit-mijit punggungku, sontak aku keenakan karena hal tersebut.


“Ayo, angkat sama lo,” pintanya sekali lagi.


“Udah lo dorong gue, sekarang lo minta gue buat angkat ini,” sindirku.


“Jangan banyak tanya, angkat sekarang!” paksa Reira kembali.


Tanganku menjulur ke bawah. Cukup dalam lubang yang digali, hanya menyisakan seperempat bagian tanganku di atas permukaan tanah. Terdapat sebuah gagang yang bisa aku angkat, tetapi benda sebesar setengah meter persegi ini cukup berat. Menggebu-gebu napasku tatkala mengangkat benda itu perlahan hingga berhasil mendarat di permukaan.


“Haa ... ini yang lo mau.” Aku menjatuhkan diri di tanah karena lelah yang dirasakan.


“Hahahaha ... kita menemukan harta karun!” Reia berteriak di tengah hutan ini.


“Sebenarnya isinya apa, sih?” tanyaku.


“Donat berumur belasan tahun mungkin.” Ia tersenyum licik.


Apa?


***