
EPISODE 136 (S2)
Mungkin kita harus menyingkirkan segala risau mengenai Nauren yang tidak jelas itu. Kini tanganku benar-benar bergetar tatkala memegang handphone untuk menghubungi Reira. Tak sempat aku bertanya lebih lanjut kepada Mawar, aku langsung berinisiatif untuk menghubungi wanita yang hilang itu. Aku tahu ia tidak akan pernah menghilang di muka bumi ini, kecuali ia berlayar di lautan dan dihantam ombak belasan meter seperti kakeknya. Tidak mungkin pula bagi Reira berlayar sendirian dengan jarak yang jauh. Paling tidak hanya pesisir tepian untuk menombak ikan.
Ke mana ia pergi? Jawabanku tak bertaruh pada ujung handphone yang ditempelkan pada telinga. Sambungan telepon yang dilakukan hanya dijawab oleh ibu-ibu operator, tidak ada jawaban sudah. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya tetap saja dengan akhir yang sama. Tanpa berbicara, segera aku membersihkan diri untuk pergi mencari wanita itu, meskipun belum ada titik terang di mana keberadaan Reira.
Aku tahu Reira sering berpergian ke banyak tempat, terutama di dalam kota. Tidak heran bagiku ketika ia tidak pulang ke rumah di malam hari. Namun, ia selalu mengabari diriku ataupun orang yang ada di dalam rumah. Kasus kali ini, Mawar menyatakan bahwasaya Reira sama sekali tidak ada menghubungi semenjak pergi pagi kemarin.
Tepat dirinya yang melepas pergi keluarga papanya untuk kembali ke Surabaya, Reira melenggang pergi tanpa meminta izin. Hanya memakai kaos cokelat dengan lapisan hoodie di luarnya serta gaya khas Reira yang maskulin dengan jeans robek di lutut. Mawar mengira ia sedang pergi ke warung atau tempat yang dekat, tetapi dugaannya telah salah. Reira sama sekali tidak pulang hingga senja datang dan bahkan malam menyambut, sampailah pagi ini ia bermuka khawatir di depan bengkel Dika.
“Gue pergi dulu ....” Aku mengetuk meja kasir Dika.
Ia mendongak padaku. “Ke mana? Kerjaan lo belum selesai.”
“Gue tolong banget, Reira enggak pulang sejak kemarin.”
“Kok bisa?”
“Gue mana tahu!” Aku berbalik arah untuk pergi. “Nanti gue kabari.”
Bergegaslah diriku bersama Mawar menuju suatu tempat yang biasa Reira datangi, yaitu gedung terbengkalai yang disebut Reira sebagai kapal kedua. Dengan terburu-buru, kami menaiki setiap anak tangga menuju lantai dua di mana mereka selalu berkumpul. Ternyata tidak kutemukan keseruan anak-anak yang berlari riang ke sana ke mari, atau bunyi merdua ukulel dari pengamen cilik yang berdiri di atas panggung sepergi kemudi kapal. Aku hanya menemukan kesunyian yang berpacu dengan suara kendaraan di jalanan sana.
Aku menutup wajah. “Lo udah kasih tahu Kak Reina?”
“Gue enggak berani bilang, gue takut ngegangu aktivitasnya di sana.” Mawar terduduk di atas panggung kayu itu.
Perhatianku tertuju ke tong sampah yang menjadi tempat bakaran di kala malam. Tatkala aku melihat ke dalam, masih ada sampah nasi bungkus yang sedikit berbau di dalam plastik kresek besar.
“Reira masih sempat ke sini kemarin.”
“Dari mana lo tahu?” Kepala Mawar berdiri menatapku.
“Reira selalu membelikan mereka nasi bungkus di kala siang. Di sini masih ada sampahnya, belum dibakar.”
“Itu masih belum jadi petunjuk Reira bakalan ke mana,” pungkas Mawar.
Aku kembali membuka layar handphone untuk mengubungi Kak Reina. Tidak aku pedulikan kesibukan wanita karir itu. Butuh beberapa kali menghubunginya hingga Kak Reina benar-benar mengangkat sambungan telepon dariku. Mengenai hal yang telah terjadi, aku pun bertutur padanyaa sesuai dengan informasi yang telah diberikan oleh Mawar.
“Udah tenang aja,” balas Kak Reina di sana.
Aku memandang ke depan. Ada apa dengan kakaknya? Aku pun tidak tahu.
“Bagaiman bisa Kakak bisa tenang kalau adiknya sendiri enggak ada kabar semenjak kemarin?” tanyaku.
“Lo kira ini baru kali pertamanya Reira pergi ngilang gitu aja? Dia udah begini semenjak SMP. Di umur segitu dia udah pergi ke Surabaya sendirian tanpa ngasih tahu Papa dan Mama selama seminggu.”
“Trus, kami harus bagaiaman?” tanyaku.
Kakak dan adik sama-sama gila! Bagaimana bisa dia setenang itu?!
Aku menghela napas panjang untuk meredam emosi. Tidak ada jawaban jelas yang aku dapati dari wanita itu. Mereka sama saja aku rasa, punya tingkah aneh yang tidak diduga-duga.
“Oh iya, karena Reira enggak ada ... Mawar balik aja ke rumah. Letak kunci di belakang kandang Minerva.”
“Kak, ini bukan jawaban.” Aku menyela perkataannya.
“Inilah jawaban dari gue. Tenang aja. Kalian bisa nemuin Reira besok atau beberapa hari lagi. Dia itu tahu tempat pulang!” Nada Kak Reina sedang naik. “Lo nganggu gue aja, sih! Gue lagi enak di kolam renang sama cowok-cowok bule! Udah ... kami lagi party.”
Sambungan telepon pun dimatikan secara sepihak. Berdengung bunyi di ujung telingaku.
“Apa dibilang sama Kak Reina?” tanya Mawar.
“Nikmati hidupmu dengan segelas kopi di rumah,” balasku dengan tenang.
“Apa?!”
Sudah aku duga Mawar akan merespon begitu. Pasti jawaban itu tidak masuk di akal baginya. Bagaimana bisa seseorang bisa tenang seperti itu ketika orang terdekat tengah menghilang. Hanya Kak Reina yang begitu.
Aku ingin mengunjungi rumah para anak-anak jalanan tersebut, tetapi aku tidak tahu mereka tinggal di mana. Reira sama sekali tidak pernah mengajakku untuk ke sana. Kami hanya bertemu di ruangan ini bersama-sama. Untuk memenuhi rasa ingin tahuku, Bang Ali aku hubungi untuk ditanyai mengenai keberadaan Reira. Ketika wanita itu menghilang ke Bromo―tidak ada satu pun yang mengetahui―hanya Bang Ali yang tahu ia pergi ke sana.
“Sorry, Dave. Gue sama sekali enggak tahu Reira pergi ke mana. Saran gue, lo tunggu aja beberapa hari ini. Reira memang sering begitu,” jawab Bang Ali di seberang sana.
Terduduk aku di balkon kamarku. Entah di mana Reira berada. Senja hari sudah menyambut dan anak itu belum pulang sama sekali dari kemarin. Menurut Redi, ia selalu seperti ini ketika terkena sebuah masalah. Namun, masalah apa yang sedang merundungi hatinya? Apakah ia begitu larut atas kepergian ibundanya?
Jawaban aku cari menuju rumah Pak Bernardo. Sesampainya di gerbang, terjadilah perdebatan antara diriku dan security. Ia bertanya siapa diriku dan aku menjawab bahwasanya aku kekasih dari Reira. Namun, secara penampilan aku memang tidak cocok untuk bersanding dengan keluarga kaya sepertinya hingg aku berkali-kali di dorong untuk menghindari gerbang.
Tepat di kala aku masih berdebat dengan security, muncul batang hidup Pak Bernardo yang sedang berpakaian biasa di ujung pintu. Aku pun meneriaki dirinya untuk segera membukakan gerbang untukku. Teriakan diriku sangat beruntung karena berhasil menarik perhatian dari Pak Bernardo. Beliau menghampiri diriku di ujung gerbang ini.
“Ada apa kau ke sini lagi? Ingin bernegosiasi?” tanya Pak Bernardo.
“Reira enggak pulang-pulang sejak kemarin. Bapak tahu dia ada di mana?”
Pak Bernardi terdiam sejenak. Ia tatap mataku dengan seksama.
“Pergi berlibur bersama Nauren ke Bali.”
Seketika tubuhku hilang tenaga. Dengan mudah aku ditarik dan didorong ke jalanan.
Aku merasa dipercundangi.
***