
Aku di sini berjongkok dengan sebuah tangguk ikan di tepi comberan. Tadi malam hujan turun deras, hingga aku tidak mampu mendengar apa-apa lagi kecuali bunyi rintikan yang seakan mengguncang atap rumah. Satu hal yang aku salut dengan suasana sehabis hujan selain kesejukannya, yaitu orchestra alam saling menyahut satu sama lain. Tiada lagi dan tiada bukan kecuali kodok-kodok yang berenang di comberan. Aku mencari-cari induk paling besar untuk jadi koleksi di kandang ayam. Barangkali ayam-ayamku ingin bermain dengan mereka.
Semara tidak ingin ikut denganku. Tangannya sibuk membuat sarapan. Sedangkan Borneo ikut berjongkok dengan keanehanku ini. Siapa yang tidak heran ketika ada seorang wanita muda yang seperti bocah kecil tepi comberan. Setahuku, ada abang-abang yang mengincar comberan depan rumah untuk mencari pakan ikan hias. Biasanya, pagi hari banyak kutu air yang mencuat ke permukaan, lalu ia ambil sebagai pakan ikan-ikan hiasnya.
“Kau ngapain sih main kodok di pagi hari?” tanya Borneo.
Aku menyerahkan ember yang berisikan banyak kodok. Kodok-kodok itu meloncat ingin keluar, tetapi tidak ingin mereka aku keluarkan.
“Mainan gue kalau lagi gabut. Jadi jangan banyak protes kalau enggak mau bantuin gue ngambil kodok-kodoknya.” Aku bergeser ke kiri untuk melihat sekumpulan kodok yang berenang ke dasaran comberan. Induk paling besarnya menyelam, sehingga aku memasukkan tangan lebih dalam. “Nah dapat kau.”
“Kalau Bapak aku ni, udah kena hantam kau.” Ia berdiri untuk menyulut rokoknya.
Lagi-lagi untuk sekian paginya, aku menghirup asap rokok dari Borneo. Masih beruntung jika hanya dia sendiri, biasanya ia malah berduet dengan Razel.
Tanganku menyemplungkan kodok terakhir ke dalam ember. Rasanya sudah cukup untuk operasi hari ini.
Kodok-kodok itu sebagian aku campakkan di area kandang ayam dan beberapa ekor aku matikan lebih dahulu untuk Minerva. Awalnya aku iseng memberikannya kepada Minerva, ternyata burung hantu putih betina itu mau saja menelan. Aku senang ia tidak milih-milih makanan. Asal jangan seperti Borneo yang awal-awal tidak tahu, ia malah memberi makan Minerva dengan dedak pakan ayam. Minerva bukan burung herbivora, ia sungguh bodoh.
“Udah kamu siapin kotaknya?” tanyaku pada Semara.
“Udah Rei …” Ia menunjuk ruang tengah. “Itu di sana aku letak. Sebenarnya buat apa kotak itu sama kamu?”
“Hadiah … aku mau seseorang hari ini menerima hadiah.”
Borneo kembali melihatku dengan aneh. Anak itu selalu saja memerhatikan, tanpa ingin membantu. Kodok-kodok tersebut aku masukkan ke dalam kotak kado, lalu mengikatnya sedemikian rupa dengan pita sehingga benar-benar seperti kado ulang tahun. Tidak ada yang ulang tahun hari ini, aku hanya ingin meluapkan rasa kesalku.
Ya benar, aku masih kesal dengan istri muda papaku itu. Aku tahu sekali ia hanya ingin uang Papa, meskipun sebenarnya aku tidak peduli sama sekali. Namun, beberapa hari yang lalu aku mendapati dirinya sedang membawa mobilku. Ia turun dari mobil dengan kacamata hitam dan kantong-kantong belanjaan. Ia pasti dari mall atau semacamnya. Seperti ibu-ibu sosialita sombong, ia malah pamer semuanya dengan hal itu. Padahal, mobil tersebut merupakan hadiah ulang tahunku sewaktu SMA. Aku sudah berpesan jika mobil itu tidak boleh dibawa oleh orang lain, kecuali Papa sendiri. Pada saat itu, istri atau pun pacar baru Papa sering membawa mobil dari rumah.
“Antarkan aku ke rumah Abimana,” pintaku kepada Borneo.
“Kau bisa kena masalah setelah ini. Bisa-bisanya kau mau menyerakkan kodok di ke orang lain.”
Aku menepuk pundakknya. “Sejak kapan kau lihat aku tanpa masalah?”
Pertanyaan itu sudah menjawab semuanya. Sekitar pukul satu siang kami berangkat. Ia mengantarkanku hingga ke muka usaha pembuatan perabotan milik Abimana. Sejumlah uang aku berikan kepada Borneo agar bisa mengajak Semara pergi ngopi berdua, lalu ia pergi tanpa mengucapkan salam. Tidak apa-apa, ia selalu begitu padaku.
“Abimana!” panggilku di depan rumahnya.
Tidak lama kemudian, pria itu menyahutku.
“Di belakang, gue lagi manasin motor.”
Ia sedang mengenakan kaos hitamnya ketika aku tiba. Ia sudah siap dengan motor dan dua helm, satu helm untukku.
“Lo masih enggak percaya kalau gue punya kapal, kan?” Aku menyentuh stang motornya. “Hari ini bakal gue tunjukin.”
“Jangan kepedean dan jangan berharap. Sebelum gue nunjukin kapal gue, lo harus ikut gue dulu. Jangan banyak tanya, pokoknya lihat aja nanti.”
Ia merasa tidak peduli\, lalu memberikan helm padaku. Satu tempat yang kami tuju ialah klinik kecantikan. Aku mendapatkan informasi jika `nyonya`⸻sebutan security rumah Papa kepada wanita itu⸻sedang pergi perawatan diri di tempat langganannya. Informasi seharga sebungkus rokok itu membuat rencanaku berjalan lancar. Padahal\, aku ingin mengantarkannya langsung ke rumah Papa.
Klinik kecantikan yang sedang ramai itu kami sambangi. Aku meminta Abimana untuk menunggu di seberang jalan, sementara aku menghampiri mobil tersebut yang terpakir di depan klinik kecantikan. Stiker promnight SMA-ku saja masih tertempel di sana, sungguh aku tidak rela mobil itu dipakai olehhnya. Kotak kado itu letakkan di bagian mesin depan, lalu aku pergi menjauh sebelum ketahuan.
Abimana duduk bersantai di kursi trotoar jalan. Mumpung ada penjaja telur gulung, kami pun menyantam bersama-sama sembari menunggu wanita itu keluar. Seharusnya, ia tidak lama lagi selesai dari sesi perawatannya. Entah perawatan apa saja yang sedang ia lakukan, pantas saja kulitnya semulus itu.
“Lo punya teman yang ulang tahun?”
“Enggak … dia istri papa gue,” jawabku.
“Berarti itu ibu lo, dong?”
Aku meludah ke kiri. “Enggak sudi gue nyebut dia ibu. Dia itu cewek muda yang mau uang papa gue aja, lalu mau aja dinikahi. Asal lo tahu, dia hampir seumuran dengan kakak gue. lo bayangin aja!”
“Papa lo orang macam apa bisa dapat perawan?” tanya Abimana dengan aneh.
“Hmm … sulit buat dibilang. Nanti lo enggak percaya lagi sama gue. Lo ini orangnya enggak gampang percaya sama orang lain,” sindirku. Jika aku sebut aku merupakan anak bungsu dari Bapak Bernardo, ia makin menambah daftar list hal-hal yang tidak dipercaya dariku.
“Oke, gue sekarang percaya. Papa lo siapa sih?”
“Bernardo. Lo pasti pernah lihat baliho muka dia di bursa calon gubernur periode lalu.”
Mulutnya tampak menganga. Jarak duduknya sedikit diperluas. Mungkin ia sadar jika sedang berurusan dengan siapa, aku anak dari Bernardo.
“Tunggu … gue ga yakin.” Matanya memicing.
“Kan … udah gue tebak. Lo pasti enggak percaya,” balasku sembari memalingkan wajah.
“Rei, anak Pak Bernardo pasti enggak ada yang kaya elo.”
“EMANGNYA ANAK PAK BERNARDO HARUSNYA GIMANA?!” tanyaku dengan nada tinggi.
Tangan Abimana menepuk lututku. Seorang wanita muda beru saja keluar dan berjalan menuju mobil yang dimaksud. Aku tersenyums seketika ketika ia antusias dan malah tersenyum melihat kado hadiah yang aku berikan. Mungkin ia terlalu pede jika ada orang yang sedang berbaik hati.
Wanita itu pun membukanya. Kodok-kodok pun meloncat tepat ke wajah. Ada belasan kodok berukuran besar yang aku masukkan ke dalam sana, parahnya lagi sedang dalam keadaan berair. Ia pun berteriak kencang meminta tolong kepada petugas keamanan sekitar.
“Hahahah … lo lihat itu? Itulah hadiahnya ….”
Wajah Abimana tidak sanggup menyembunyikan ekspresi kaget.
***