
Pria itu bermata sipit, tetapi berkelopak ganda ketika aku perhatikan lebih detail lagi tatkala lampu jalanan sempat menerpa. Gaya bicaranya kuno, tidak sesuai dengan wajahnya yang muda, mungkin aku lebih tua darinya. Ia hampir setinggi David kurasa, tetapi tubuhnya lebih kekar daripada pria lemah itu. Pantas saja ia sanggup menjadi kuli angkut barang kapal karena membutuhkan fisik yang kuat agar bisa menuntaskan pekerjaan. Setelan rambut panjang berbelah dua mengingatkanku kepada vokalis Nirvana, Kurt Cobain, meskipun rambutnya tetap berwarna hitam legam.
Ia membawaku ke sebuah warung kopi yang penuh dengan bapak-bapak bermain domino. Sebagai orang yang sudah lama di sini, ia terlihat tidak akrab dengan warga sekitar. Tiada satu pun warga yang ia sapa atau pun warga yang menyapa dirinya. Kami duduk di tepi warung, membelakangi seorang bapak-bapak yang sedang membaca koran hari kemarin. Dua cangkir kopi hitam meluncur di atas meja tatkala anak laki-laki pemilik warung mengantarkannya. Seutas ucapan terima kasih kepada remaja itu, aku dan dirinya kini saling bertatapan.
“Tan Borneo, panggil aja aku dengan itu. Kalau kau?” jawabnya setelah aku tanyai nama pria itu.
“Namaku Reira. Wow, kau bermarga Tan. Kau cucunya Tan Malaka?”
Ia tersenyum. “Kau kira orang bermarga Tan cuma dari garis keturunan Tan Malaka? Bahkan Tan Malaka tidak menikah. Hmm … bapakku seorang Tionghoa, ibuku orang Melayu Pontianak.”
“Baiklah Borneo, oh iya … aku panggil kau Borneo aja. Jadi, informasi apa yang bisa kau kasih ke aku mengenai Kakek Kumbang?” tanyaku.
“Maaf aku merokok.” Ia meminta izin untuk menyulut tembakaunya. “Sebelum itu, apa hubunganmu dengan Kakek Kumbang?”
“Aku cucunya … dia udah lama menghilang. Surat dari Kakek mengantarkan aku ke sini dan berharap aku dapat informasi tentang keberadaannya.”
Ia mengangguk sembari menghembuskan asap tembakau menjauh dariku.
“Sewaktu itu ada sebuah kapal yang bersender di Pontianak. Saat itu aku masih bekerja jadi kuli angkut barang di sana. Seseorang memberitahukan diriku kalau Kakek Kumbang mencari awak kapal. Mungkin aja karena aku dekat dengan awak kapalnya, jadi aku direkomendasikan.”
“Jadi, kau adalah awak kapal dari kakekku?”
“Iya, bisa dibilang begitu. Kami berdua bolak balik ke satu dermaga ke dermaga yang lain. Hingga aku terjebak di sini ….”
“Tunggu dulu ….” Aku menahan kalimatnya. “Terjebak? Sejak kapan kau berada di sini?”
“Dua tahun yang lalu aku dicampakkan dari laut oleh Kakek Kumbang agar aku menemui seseorang bernama Tarab.”
“Dua tahun yang lalu … Kakek Tarab bilang kalau terakhir kali Kakek Kumbang itu tahun 2007. Sementara kalau dua tahun yang lalu, itu sekitar tahun 2015,” balasku. Aku bingung dengan selang waktu yang sejauh itu. Pertanda, beberapa tahun yang lalu ini Kakek Kumbang masih melaut.
“Aku sama sekali belum pernah ke sini. Kakek Kumbang menyampakkanku dengan sebuah sampan, lalu aku mendayung hingga sampai ke hadapan Kakek Tarab.”
Keningku menyerngit saat menyadari Kakek Kumbang sangat sadis kepada awak kapalnya.
“Kau kenapa bisa dicampakkan oleh kakekku?” tanyaku.
“Melanggar satu dari sepuluh larangan di Kapal Tigris.” Ia terdiam sesaat kemudian, hingga asap rokok kembali berhembus dari bibirnya. “Satu kesalahan, kau bisa dicampakkan di tengah laut. Aku beruntung karena bisa sampai ke tepian dan Kakek Kumbang berbaik hati ngasih aku sebuah sampan.”
“WTF? Peraturan macam apa itu?”
Ia tertawa sejenak. “Haha … aku bawa wanita bayaran ke dalam kapal diam-diam di dermaga sebelumnya. Salah satu awal kapal mengadukanku. Akhirnya … aku berada di sini. Kata beliau, Kakek Tarab menerimaku di rumahnya. Aku diberi pekerjaan oleh Kakek Tarab. Tapi, manusia mana yang tahan dengan bapak tua yang cerewet? Aku pergi dari rumah itu.”
“Kau pantas mendapatkan ganjaran itu, Borneo!” Aku mengetuk pelan meja kopi. “Aku juga akan ngelakuin hal yang sama kalau ada awak kapal bawa wanita bayaran ke kapalku. Lalu, kau tahu ke mana tujuan Kakek Kumbang terakhir kali kau bersamanya?”
Borne tampak menggeleng. “Enggak, Kakek Kumbang enggak memberitahu ke mana dirinya pergi. Kami enggak punya tempat menetap yang pasti. Kalau kapal menerima angkutan, Kakek Kumbang selalu meminta asistennya untuk mengurus. Kakek Kumbang selalu ada di kapal, tanpa pernah sedikit pun ke daratan.”
“Selama dua tahun?”
“Iya, Kakek Kumbang belum pernah aku lihat berada di daratan selama dua tahun aku bersama dia. Kakek Kumbang selalu ada di kapal.”
Sesuatu fakta yang menarik ketika ia mengatakan jika Kakek Kumbang tidak pernah menginjakkan kaki ke daratan. Menurutku, sangat mustahil bagi orang normal yang selalu ingin berada di satu tempat. Namun, ia adalah kumbang. Kumbang itu seperti hantu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Kakek Tarab maupun Kakek Syarif. Aku tahu alasannya, ia tidak ingin terlihat oleh orang lain, terutama oleh orang yang pernah ia kenal sebelumnya.
“Ini semakin buat aku yakin kalau Kakek Kumbang berada di suatu tempat. Ia belum mati ….”
“Tapi, Kakek Kumbang mengatakan sesuatu sebelum aku dicampakkan ….”
Wajahku menoleh tegas padanya. “Apa itu?”
“Ia akan berada di Puncak Indrapura saat aku bebas dari tempat ini.”
“Selanjutnya, beliau bilang aku akan bebas dari tempat ini kalau aku menemukan seorang wanita mengemudikan Kapal Leon. Selama ini, Kapal Leon selalu dibawa oleh pria tua bernama Syarif.” Ia memajukan wajahnya mendekatiku. “Aku menunggu kau selama dua tahun ini. Ternyata orang itu kau … kenapa kau baru datang sekarang?!”
“Ada banyak yang terjadi sehingga aku baru mencari Kakek Kumbang sekarang. Kau terjebak di sini bukan salahku, itu salah kau sendiri mau asyik-asyikan dengan wanita bayaran.” Ia balas menekan kalimatku agar ia segera menurunkan wajahnya yang kelihatan emosi. “Satu alasan lain kenapa kau dicampakkan, kebetulan sekali kau ngelakuin kesalahan.”
“Iya, aku dikorbankan untuk menunggumu, Reira.”
Pertemuan itu berakhir dengan sejumlah informasi yang aku dapatkan. Aku memang suka merancang skenario untuk orang lain, tanpa kusadari ternyata aku sedang menjalankan skenario yang dirancang untukku sendiri. Setiap rencanaku terhadap orang lain berujung kepada satu orang, yaitu Kakek Kumbang. Kakek Kumbang sudah tahu kalau aku mencium rencananya dan percaya aku akan datang padanya suatu hari nanti. Sebagai bukti, Borneo secara tidak langsung menjadi orang suruhannya langsung.
Aku pun tertidur. Lagi-lagi aku bermimpi mengenai dosa-dosa yang selama ini aku perbuat. Satu alasan kenapa aku merasa tidak pantas untuk didapatkan oleh David ialah karena aku bukanlah wanita yang baik, dan bukanlah wanita yang sedang baik-baik saja. Diriku egois, tidak suci, penentang, dan berdiri sendiri. Mataku terbuka begitu saja tatkala hentak teriakan seorang pria dalam mimpi itu membawaku jauh ke dalam kesadaran, yaitu Papa yang meneriaki Bunda.
Baru saja aku terbangun dari mimpi buruk, ternyata ruang nyata lebih buruk lagi. Keributan terjadi di lantai bawah oleh Kakek Tarab yang meneriaki Razel. Aku dengan cepat ke bawah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata, Kakek Tarab sedang memukuli Razel di bagian kaki menggunakan tongkat kayunya. Terlihatlah Razel yang terus menghindar, tetapi tidak mampu untuk membalas balik.
“Kenapa kau biarkan pintu belakang terbuka, Bodoh! Ayam-ayam itu masuk dan buang kotoran di meja makan!”
“Ampun Kakek, aku enggak tahu kalau di sini ayamnya punya kebiasaan itu!”
Kakek Tarab menarik kepala Razel, lalu menempelkannya ke atas meja makan. “Sekarang kau jilat kotoran itu sampai bersih. Aku tidak mau kalau masih ada kotoran ayam yang menempel di sana.”
“AAA!!!!” teriak Razel tatkala kotoran ayam berada di hadapan wajahnya.
Aku tertawa melihat Razel sudah dihukum seperti ini di pagi hari. Ternyata, Kakek Tarab lebih parah pemarahnya dari Kakek Syarif. Pantas saja Borneo tidak tahan tinggal bersama bapak tua yang cerewet. Bisa-bisa, tiap pagi ia harus dimarahi oleh hal-hal seperti ini.
“Kakek, nanti kami bersihkan,” ucapku untuk meredakan suasana.
“Kalau Syarif ada di sini, mungkin akan lebih dari ini.”
Dengan susah payah Kakek Tarab berjalan ketika emosian. Ia pergi dengan mendengar tawaku kepada Razel. Sementara itu, Razel sibuk memunguti kotoran ayam yang relatif kering menggunakan tangan kirinya, lalu mengelap seluruh meja makan sampai bersih dan harum kembali. Tentu saja aku tidak ingin mengotori tanganku dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih memilih untuk memasak sarapan untuk kami bertiga.
Wajah Razel masih takut terhadap Kakek Tarab tatkala kami menikmati sarapan di meja luar. Aktifitas dermaga terlihat sibuk oleh nelayan setempat. Kuli dermaga seperti membara membawa barang-barang serta ikan segar yang dijual di pasar ikan. Suasana seperti ini mengingatkan aku kepada kampung nelayan di mana Razel tinggal.
“Maaf, Kakek. Aku tadi enggak tahu kalau Kakek punya ayam,” ucap Razel sembari menyendokkan telur ceplok ke mulutnya.
“Aku maafkan kalau nanti aku lihat mejanya sudah harum.” Kakek Tarab menoleh padaku. “Kau sudah bertemu dengan Borneo? Dia biasanya berkeliaran di malam hari.”
“Sudah … ia beritahu aku semuanya.”
Kakek Tarab mengangguk. “Aku yang meminta Borneo untuk menemuimu. Anak itu pertama kali datang setelah dicampakkan Kumbang dari kapal. Ia sempat tinggal di sini beberapa bulan, tapi malah pergi dan membuat gubuk di tengah hutan. Bodoh sekali.”
“Dia bilang kalau Kakek itu cerewet.”
“Dasar anak itu! Sudah untung aku beri tempat tinggal karena Kumbang yang meminta.” Ia menepuk meja karena kesal. Wajahnya kemudian berubah datar kepadaku. “Oh iya, aku punya sesuatu untuk kau.”
“Apa itu ….”
Kakek Tarab mengeluarkan kotak plastic dari dalam laci meja. “Ini peninggalan Kumbang ketika terakhir kali di sini.”
Aku membuka kotak tersebut. Terdapat sepuluh buah peluru selongsong revolver berukuran 4,5 mm, seperti selongsong yang aku dapati dari pistol Kakek Kumbang sebelumnya.
“Aku punya revolver dari Kakek Kumbang. Aku menemukannya di kapal.”
“Iya, aku tahu karena periksa tasmu malam-malam.” Ia menunjuk peluru itu. “Peluru itu milik Kumbang. Gunakan baik-baik untuk keamanan diri. Jangan membunuh orang, ingat itu! Kalau kalian tertangkap polisi karena kepemilikan senjata, itu bukan tanggung jawabku.”
“Baiklah Kakek, terima kasih ….”
Aku menyimpan kotak peluru itu ke dalam saku sweater. Lima dari peluru yang ada sebelumnya sudah aku gunakan. Aku menyimpan satu peluru yang hanya diperuntukkan kepada diriku sendiri. Kini, peluru ini bertambah yang entah untuk apa aku gunakan nanti.
***