
Menjadi gila bukanlah sesuatu hal yang rumit jika dirimu merupaka orang gila. Mendaki gunung paling tinggi di Sumatera dengan persiapan beberapa jam saja sungguh di luar logika. Sejatunya menurut Bang Andalas butuh waktu lebih dari seminggu untuk persiapan materil maupun fisik. Dulu, beliau harus jogging setiap pagi untuk meningkatkan stamina agar bisa sampai ke puncak Gunung Kerinci. Aku memaksa mereka agar langsung mendaki malam ini.
Bukankah mereka semua sudah meninggalkan logika masing-masing tatkala memututskan untuk ikut denganku? Menjual masa muda demi berkelana itu saja sudah di luar logika. Seharusnya orang-orang seperti kami menghabiskan waktu di café sembari mengejar validasi manusia atas apa yang kami dapatkan. Lalu, menuai pujian mengenai betapa serunya circle pertemanan yang mereka ketahui melalui laman media sosial. Namun, hal itu tidak berlaku bagi orang-orang seperti kami.
“Semara … kamu tinggal di sini aja,” pintaku kepada Semara. Ia sedang berbaring di ranjang, sementara aku di bawah beralaskan tikar pandan.
“Aku mau ikut. Kenapa aku harus tinggal?” tanya Semara balik.
“Jujur, aku khawatir kalau kamu ikut. Gunung Kerinci itu tinggi dan berbahaya,” balasku.
“Aku pernah mendaki Gunung Batur di Bali. Kami juga tanpa persiapan dengan anak punk di tempatku. Cuma modal uang minta-minta sebelumnya.”
Aku melihatnya yang ada di atas ranjang. Tiada aku sangka jika ia pernah bergaul dengan anak-anak punk. Bukannya aku menggagap remeh, anak-anak punk itu bagiku orang yang hebat. Aku punya beberapa teman dari komunitas punk, mereka mempunyai prinsip kebebasan yang radikal. Berkelana antar daerah atau pun antar pulau dengan vespa gembel. Setiap spot nanti mereka akan berhenti untuk mendapatkan uang dengan cara mengamen, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
“Baiklah … kamu punya keputusan sendiri. Tapi, tetaplah berada di depan Borneo nanti. Oke?”
“Baiklah Reira ….”
Perlengkapan mendaki sudah Razel persiapkan selama kepergianku menuju ke Bali. Aku memintanya untuk membeli perlengkapan-perlengkapan tersebut karena aku sudah menduga ujung-ujungnya pasti akan mendaki. Jaket tebal, sepatu mendaki, sarung tangan, sarung tidur, makanan instan, serta alat memasak portable tersedia kini dalam dua tas penyimpanan. Razel dan Borneo akan mengangkut barang-barang berat tersebut. Sementara aku dan Semara meletakkan bahan makanan dan minuman di tas ransel milik kami.
Kami diantarkan oleh Bang Andalas menggunakan mobilnya menuju basecamp pendakian. Ia sempat bernegosiasi kepada beberapa guide yang tersedia, setelah mendapatkan harga yang cocok, guide pun bergabung bersama kami. Jika pergi sendiri, alamat kami akan pergi ke dimensi lain.
Bang Andalas memelukku dengan erat serta memberitahu tips-tips pendakian. Ia melarang kami untuk jangan terlalu berjarak satu sama lain, tetap memegang tali penghubung yang akan diletakkan di masing-masing tubuh kami agar tidak berpencar. Perjalanan malam sangat rentan dengan berpencarnya personil karena keadaan yang gelap dan sunyi.
“Jaga mulut dan selalu berdoa. Kalian harus tahu kalau Gunung itu bukan tempat asli manusia. Di sini masih kental dengan mistisnya harimau Sumatera. Kalau kalian bertemu siluman, hilang ke alam lain. Kalau kalian bertemu dengan harimau benaran, kalian juga hilang kea lam lain.”
“Aku paham, Bang. Kami akan hati-hati. Setelah selesai turun, kami langsung ke rumah nantinya,” balasku.
“Oh ini …” Bang Andalas merangkul guide yang akan menemani kami selama perjalanan. “Perkenalkan namanya Hamzah. Guide termuda di sini.”
Aku menjabat tangannya seraya berjabat tangan. Seperti yang Bang Andalas katakan, kami mendapatkan pemandu yang wajahnya seperti anak-anak, meskipun tubuhnya tinggi melebihi Razel. Aku dapat merasakan otot-otot tangannay tatkala bersalaman, pertanda ia pria yang tangguh di medan-medan seperti ini.
“Aku Reira, senang berkenalan.”
“Hamzah … senang berkenalan juga dengan kalian.” Ia mendempetkan kedua tangannya. “Baiklah … sebelum kita mendaki, mari kita berdoa dulu untuk keselatan kita masing-masing.”
Ia merangkul kami untuk membentuk sebuah lingkaran. Sebagai pemandu, Hamzah memimpin doa keselamatan lahir dan batin selama perjalanan. Setelah selesai, ia berpamit kepada Bang Andalas untuk membawa kami. Terdapat sebuah pick up yang akan mengantarkan kami ke pos registrasi. Tentu saja setiap pendaki akan didata. Hal tersebut berguna jika terdapat personil yang tidak balik selama durasi hari tertentu dan terindikasi sudah menghilang.
“Semua pendaki berarti terdaftar di sini?” tanyaku kepada Hamzah. Ia sedang menulis nama-nama kami beserta informasi pendukung lainnya.
“Iya … itu wajib,” jawabnya.
Aku menoleh kepada petugas pendaftaran. “Boleh aku lihat data orang dua atau tiga hari sebelumnya?”
“Buat apa?”
“Ada rekan aku yang lebih dulu. Tapi dia belum ngabarin udah naik atau belum, soalnya kami enggak janjian sama-sama mendaki.”
“Bagaimana?”
“Oh dia sudah ada di atas. Terima kasih ….” Aku mengangguk sembari menutup bukunya.
Pendataan sudah selesai. Kami naik lagi ke pick up untuk diantarkan menuju Pintu Rimba. Pos tersebut menjadi permulaan pendakian karena jalanan sudah berupa tanah dan landai. Kami menguatkan ikatan ransel yang dibawa, lalu mulai melangkahkan kaki untuk pendakian. Menurut Hamzah, Pos pertama di Pintu Rimba bukanlah pendakian yang sebenarnya. Kami harus berjalan hingga medan sudah beranjak lebih landai lagi. Benar adanya jika kami mulai menjalani medan yang menanjak. Aku menduga jika beberapa jam yang lalu sudah turun hujan karena tanah terasa becek dan licin.
Setiap personil selalu memegang tali pengubung. Hamzah berada paling depan, diikuti aku, Razel, Hamzah, dan Borneo paling terakhir. Aku meletakkan Borneo di sana karena dirinyalah pria yang paling kuat fisiknya untuk tetap terjaga. Perjalanan yang kami lalui dihiasi oleh senyapnya kawasan pepohonan kiri dan kanan. Gemericik air dari dedaunan masih sempat aku dengar, serta bunyi serangga yang menambah senyapnya suasana.
“Hamzah ….” Aku memanggilnya sebentar.
Pria itu terlihat berhenti. Kami pun ikut berhenti.
“Kenapa? Kalian mau berhenti?”
Hanya wajahnya saja yang nampak karena senter di kepalanya.
“Bukan … aku mau bertanya.”
“Oke, tanya apa?”
“Kau pernah lihat kakek tua yang mendaki sendirian?” tanyaku.
Ia diam sejenak seperti berusaha mengingat. “Kebanyakan orang yang mendaki itu masih muda. Orang tua jarang sekali.”
“Kau enggak pernah liat orang yang mendaki sendirian?”
“Yang mendaki sendirian ada, cuma aku belum pernah lihat kakek-kakek yang mendaki.”
“Baiklah … lanjutkan perjalanan.”
Napas kami kembali dipacu pada medan yang mendaki. Rasanya kaki ini ingin lepas di bagian lutut, padahal belum sampai tiga puluh menit aku mendaki.
Tiba-tiba saja Hamzah berhenti sembari menoleh padaku.
“Aku ingat sesuatu … ada kakek-kakek berkacamata hitam yang keliaran di basecamp. Itu dua hari yang lalu.”
Aku dan Razel saling memandang. Kakekku memang sering memakai kacamata hitam.
“Itu Kakek Kumbang, aku yakin,” ucap Razel.
“Gue harap begitu ….”
Ingin sekali aku dahului Hamzah karena semangatku timbul tiba-tiba.
***