Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 160 (S2)



EPISODE 160 (S2)


Mawar telah menjadi bunga berduri, setelah sebelumnya diam untuk meruncingkan setiap ujungnya. Ia indah, aku akui itu. Kemolekan tubuh yang tak pernah aku lihat secara langsung, secara sukarela ia berikan kepadaku. Tubuhnya tinggi semampai bak seorang model, oleh karena itu ia tak pernah memakai sepatu heels. Sebagai keturunan Tionghoa, kulit putih pucatnya itu siapa yang tak akan bisa memalingkan mata. Bibirnya merah merona selaras dengan warna kesukaan ketika memilih pakaian. Hanya saja, ucapannya sinis dan dingin kepada setiap orang yang ia anggap belum terlalu dikenali, tak ubah layaknya tatkala kami pertama kali bertemu. Ia hampir sempurna bagiku untuk seorang wanita. Namun, ia teta saja sekuntum mawar yang berduri dan aku tertusu dari salah satu duri tajamnya itu.


Dirinya hanya diam dan duduk sembari menatap ke arah Bang Ali yang menyalami undangan. Mulutnya mengunyah buah-buahan potong yang ia letak di atas wadah kecil. Sementara aku tepat di belakangnya, di seberang meja bundar beralas lembut warna biru. Meja bundar ini penuh dengan piring bekas makanan kami, belum sempat diangkat oleh petugas kebersihan. Reira tetap saja menambah porsi sate yang sedari tadi ia gilirkan pada setiap stand makanan. Ia tak ingin ketinggalan kenikmatan makanan khas daerah yang sedang kami kunjungi. Aku tak sepertinya. Porsi makanku lebih sedikit.


“Mawar ...,” panggil Reira dengan tusuk sate masih tergigit. “Dari tadi diam aja? Dari tadi makanin buah doang. Sejak kapan lo jadi herbivora?”


“Vegetarian, bukan herbivora,” ajarku pada Reira.


“Ya ... itulah.” Reira mengangkat bahu.


Mawar menggeleng. “Hmm ... gue masih kenyang semenjak sarapan tadi.”


Tangan Reira terangkat untuk melihat jam. “Sarapan udah dua jam yang lalu, tapi lo masih kenyang aja.”


“Nanti gue makan, kok.” Senyum tipis Mawar tertunjuk kepada kami.


Reira kembali mengunyah kembali makanan yang dimulut. Segelas air buah ia seruput untuk menyegarkan kerongkongannya itu.


“Besok kita kembali pulang. Setelah acara ini selesai, gue harap kalian beres-beres biar besok pagi langsung pergi. Bang Ali bakalan ngantarin kita langsung ke bandara.”


“Enggak apa-apa tuh Bang Ali yang ngantarin?” tanyaku.


“Mau enggak mau. Enggak ada truk yang bisa kita tumpangin. Bang Ali malah ngelarang gue buat naik travel. Katanya, biar dia aja yang ngantar.” Reira tertawa kecil. “Hahah ... baru aja malam pertama, langsung gue buat sibuk. Parah banget.”


Jujur, aku pembosan jika terlalu dekat dekan keramaian. Aku tahu Bang Ali sedang berbahagia di sana, tetapi aku sendiri gerah melihat orang berkerumun dan dendang lagu dangdut yang dibunyikan panggung orgen. Aku tak terlalu nyaman di tempat yang seperti ini dan cenderung suka dengan kesunyian. Hanya saja, Reira dan dua cecunguk penggemar game online itu tak pernah merasakan bosan. Mereka menghabiskan waktu di dekat panggung sembari berjoget melihat biduan yang bernyanyi. Di dekat mereka terdapat pula bapak-bapak berpeci hitam yang ikut bergoyang bersama mereka. Hanya aku dan Mawar yang tinggal di meja untuk menjaga barang bawaan. Tanpa bicara, tanpa saling menatap seperti sebelum-sebelumnya.


Apakah kami akan selesai ketika kami pulang? Apakah ia akan segera menghindar dari semua ini demi keberlangsungan hubungan semuanya? Aku tahu retak kecil ini akan menjadi celah tak ubah layaknya lempengan bumi ketika gempa, menggetarkan untuk semua yang sedang baik-baik saja. Jika tidak diriku yang keluar, sudah pasti dirinya yang tak bisa ditebak itu. Cukup sulit menebak Mawar yang pendiam. Kata-tanya hanya ada di dalam hati dan tak bisa aku dengar.


Jujur, aku tak ingin dirinya pergi. Ini bukanlah kesalahan siapa-siapa. Ini semua hanyalah masalah hati. Seperti yang pernah aku katakan, hati itu laksana sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah laut, lalu menepi di sebuah pulau yang aku sebut dengan cinta. Tak ada satu pun yang bisa memilih mencintai dengan siapa, murni dari keinginan hati. Aku pernah merasakan apa yang ia rasakan, ketika hati bergemuruh hancur menyadari bahwasanya aku sedang berada di titik orang-orang yang terlupakan. Sakit rasanya, ingin mati tak sanggup, ingin hidup menderita.


Lengkap sudah hari ini dengnan suasana hati. Bahagia dan miris bertemu di dalam satu titik yang membentuk sebuah dinamika. Dinamika tersebut saling memoton satu sama lain, saling bersinggung untuk disentuh, lalu membentuk dialektika untuk dipikirkan. Dialektika hidup membuatku memikirkan, apakah ini akan tetap dipertahankan? Aku tak ingin Mawar pergi dari sisiku, ia sudah memberikan makna lebih untukku. Namun, batas itu ia lewati, termasuk diriku yang gila dalam satu sisi. Terlebih lagi, Reira membutuhkan orang sepertinya. Ia merupakan tipe orang sempurna sebagai prototipe pembelajaran, Reira sendiri yang mengatakan hal itu padaku. Perannya sangat penting untuk memenuhi hasrat dominasi dari Reira.


Sekitar pukul delapan pagi, kami berpamitan kepada Pak Uwo, Mak Uwo, etek atau tante, mamak atau om, dan seluruh orang yang telah berbaik hati menyambut kami di sini. Terima kasih diucapkan kepada mereka. Salam beriringan kasih tersimpulkan doa selamat sampai tujuan. Kami pun masuk ke dalam mobil, lambaian tangan melepas kami untuk pergi. Senyum bertebaran memberikan jalan pulang sekaligus memberikan tanda jalan kembali apabila kami ke sini lagi.


“Jadi, ceritanya kita sama-sama wisuda, nih?” tanya Bang Ali sembari mengendalikan stir mobil. Sebelah tangannya memegang botol kaca minuman berenergi yang biasanya dikonsumsi supir jarak jauh.


“Iya, dong.” Reira menaikkan kakinya di atas dashboard. “Gue dan Mawar sama-sama wisuda. Mereka yang dibelakang entah kapan. Hahaha ....”


“Yaelah, sombong amat lo sementar mau wisuda.” Candra menepuk bangku tempat sandaranku. Ia berada di bangku paling belakang bersama Razel yang menyambung tidur pagi.


“Hahah ... semangat ya para pejuang skripsi. Masih mending kalian, lah gue tamat di semester empat belas. Kali aja dosen gue ngasih give away lulus.”


“Tenang, Bang ... ******-****** begini lo banyak kontribusinya buat kampus.” Reira menepuk pundak Bang Ali. “Jadi, ngapain aja lo sampai dapet kerja?”


“Hmmm ... gue masih jadi supir travel Pekanbaru-Taluk Kuantan. Wisuda kan lama, nyari kerja juga susah. Kayanya, gue enggak bakalan kerja di perusahaan perkebunan, gue enggak mau ninggalin istri gue. Gue mau jadi orang kantoran di Pekanbaru sekalian buka bisnis konter handphone. Gue ada pengalaman jadi penjaga toko konter soalnya.”


“Jangan lupain kami ya Bang kalau udah punya istri.”


Bang Ali menatap Reira. “Eh, lo itu bini kedua gue. Siapa lagi yang khawatir kalau gue sakit sebelum gue dapet bini.”


“Lah, elo sakitnya sekali setahun. Gue kira lo enggak bakalan pernah sakit, makanya gue khawatir,” balas Reira


“Hahaha ... iya, juga ya.”


Tangan Bang Ali menekan tombol DVD mobil. Berdendang musik berbahasa lokal yang mengundang tubuh untuk bergoyang. Sementara itu, aku menepi sedikit untuk bersandar pada pintu. Mataku berat karena kantuk, padahal kami belum sampai setengah jam perjalanan. Hanya saja, mataku yang terkantuk tak benar-benar bisa tidur karena Bang Ali menghantam mobil dengan kecepatan tinggi, tak ubah layaknya supir Medan yang terkenal brutal. Dari kecilnya celah mataku, tertatap Reira yang ada di sebelah kiri Bang Ali. Tangannya memegang handphone sembari menaikkan kaki ke atas dashboard. Layarnya terbuka jelas hingga aku bisa melihat ia sedang melihat apa.


Namun, mataku terbuka dengan lembar. Layar yang aku lihat bukanlah media sosial atau pun permainan ringan yang biasa Reira mainkan. Layar itu menunjukkan gambar wajah seseorang yang berarti sedang menelpon Reira. Namun, Reira tak kunjung mengangkat. Diirnya hanya melihat layar handphone tersebut dengan nada dering yang dimatikan


Nauren?


***