
EPISODE 89 (S2)
Aku tidak tahu bagaimana peraturan kepemilikan senjata di negeri ini, tetapi aku berani pastikan bahwasnya terdapat serangkaian prosedur untuk bisa memiliki senjata api. Kakek Syarif maupun Reira sudah jelas tidak pernah memiliki surat resmi kepemilikan senjata seperti ini. Apa yang dilakukan oleh mereka merupakan hal yang ilegal. Jika pihak berwenang tahu ada senjata api di sini, Reira bisa bermalam di kantor polisi malam ini. Namun, mereka berdua merupakan orang yang selalu menentang peraturan. Hal yang terpenting ialah kepuasan diri sendiri atas dasar manfaat.
Ingat sekali bagaimana adegan di film-film koboi ketika mereka bertarung menggunakan sepucuk senjata api jenis revolver. Satu garis lurus menjadi tanda bahwasanya takdir kematian ditentukan dari seberapa cepat mereka menembak senjata, tentu saja akurasi tembakan diperkirakan. Salah atau lambat sedikit saja, tubuh berakhir di dalam peti salib. Aku kagum sekali sewaktu kecil bagaimana ancang-ancang para koboi menggunakan senjata, apalagi di dalam sebuah bar yang berisikan koboi-koboi seram. Perkelahian pun terjadi, aku bertambah semakin seru.
Kini, Reira berlagak seperti seorang koboi dengan menggunakan topi bertepi khas penunggang kuda. Gerakannya ia pamerkan tepat di depan cermin, sementara itu aku yang merasa takut. Aku hanya duduk di atas ranjang sembari memegang bantal, berharap apabila ia salah menekan, bantal itu menjadi pelindungnya. Hal yang mustahil, kurasa. Seakan yang paling handal, Reira memutar pistol revolver tersebut di telunjuknya, lalu menghembus di bagian ujung.
“Gue udah cocok jadi koboi?” tanyaku.
Aku bertanya balik, “Lo ingin jadi pelaut atau jadi koboi?”
“Dasarnya, gue ingin jadi bajak laut. Kita pasti tahu bajak laut juga memiliki pistol, seperti di film Pirates of Carribian..”
Aku berdiri dan membuka lemari di mana Reira menyimpan keris panjang itu. Benar adanya, keris tersebut tidak ada di dalam. Bahkan, kain putih pembungkusnya pun ikut hilang entah ke mana.
“Jadi, di sini kan benar-benar hilangnya?”
Reira mengangguk. “Iya, benar di sana. Satu hal yang ingin gue tanyakan, apakah lo percaya gue?”
“Dalam konteks mana dulu? Kalau lo masih beranggapan bahwasanya bulan terbuat dari keju, mari kita berdebat lagi.”
“Hahaha ... ya, tentang semunya.” Ia melangkah dan menempatkan diri untuk tidur di pangkuanku. Reira menghempaskan diri terlalu kuat, hingga pahaku sedikit nyeri.
Lembutnya Reira, ia menyentuh pipiku. “Apa lo percaya semua tentang gue?”
“Apakah semuanya harus ditanyakan?” tanyaku balik.
Matanya memicing. “Lo itu pertanyaan kok dibalas dengan pertanyaan, sih!”
Dalam hatiku berkata, itulah yang gue rasain selama ini, kesal kan?
Aku tersenyum. “Ada banyak hal di dunia ini tak harus dipertanyakan. Contoh, kenapa lo makan, kenapa gue berak tiap hari, kenapa anak kecil takut dengan kegelapan. Begitu pula rasa percaya. Dan dalam konteks ini, gue percaya sama lo. Keris itu benar-benar hilang. Gue percaya dengan apa yang lo bilang.”
Ia mencium perutku yang buncit. Sedikit geli memang, namun ia malah bertahan lama menahan napas di sana. Suaranya pun terdengar meredam. “Lo harus belajar untuk enggak fanatik buta tentang suatu hal. Enggak semuanya yang harus dipercayai, lalu lo percayai selamanya.”
“Lo memaksa gue buat enggak percaya sama lo?” tanyaku balik untuk menyingkap maksud dari kalimatnya tersebut.
“Benar, ada kalanya lo percaya sama gue dan ada kalanya lo enggak percaya sama gue. Gue ini tetap manusia yang pandai berbohong dan lo enggak pernah menangkal hal itu dari gue. Lo percaya apa aja yang gue bilang.”
Aku tarik napasku panjang-panjang sembari melirik ke foto Kakek Kumbang yang sedang memakai kacamata hitam layaknya anak muda. Tanganku membalas memencet hidungnya yang kecil dan lancip di bagian ujung. Berdengunglah suara rintihannya ketika aku tahan napasnya menggunakan jemari.
“Sekarang gue tanya, apa lo bisa bernapas?” Aku tetap menahan tanganku di hidungnya.
“Mana bisalah! Lo tutup hidung gue?”
“Sekarang gue enggak percaya.” Aku melepaskan tanganku dari hidungnya. “Apa lo puas?”
“Apa hubungannya mencet hidung dan percaya atau enggak percaya, coba? Lo enggak abis dari menghisap ganjanya Rio, bukan?”
Aku tersenyum mendengarnya. “Lo berbohong karena dasarnya lo bakalan tetap bisa bernapas, walaupun gue pencet hidung lo selama satu jam. Lo masih bisa bernapas melalui mulut.”
“Hahah ... iya juga, ya? Nah, pemikiran yang seperti ini yang gue suka dari lo, Dave.” Ia membalas memencet hidungku.
“Sudahlah, jangan mempertanyakan rasa percaya gue sama lo. Gue tahu lo orang yang jujur, Rei. Lo mungkin aja bohong untuk yang enggak penting, seperti bulan terbuat dari keju. Tapi, untuk hal yang seperti ini ... lo enggak mungkin bohong. Buat apa coba? Dan gue tahu ada banyak hal di dunia ini yang enggak bisa masuk ke logika. Salah satunya ialah magic.”
“Salah satu keberuntungan gue di dunia ini selain memiliki kapal Leon ialah gue punya pacar seorang penulis dan filsuf. Gue beruntung punya lo.”
Aku pun membalas, “Satu hal keberuntungan gue di dunia ini selain masih bisa bernapas dan mengopi di pagi hari ialah punya seorang pacar yang bisa mengemudikan kapal ke Manggar."
Reira tersenyum lebar. Selebar batas-batas antara kedua sudut bibir paling maksimal. Ia tampak manis ketika ia memaksimalkan senyumnya tersebut. Tangannya merengkuh lingkar pinggangku dengan erat.
“Sekarang, gue percaya sama lo kalau lo sendiri adalah orang yang bisa dipercaya.” Ia terdiam sesaat dalam peluknya padaku. “Pergilah bersama Mawar untuk mengawaninya melakukan penelitian.”
Aku sontak terkejut mendengar kalimat tersebut. Baru saja tadi siang aku menolak dengan ajakan Mawar untuk pergi bersama, tetapi ia malah memintaku untuk ke sana. Oh, aku paham sekarang. Pembicaraan mengenai rasa percaya ini ternyata mengarah ke sana. Reira memikirkan matang-matang untuk menjebakku menuju kata setuju. Lihai sekali gadis laut itu untuk mencoba menjebak seseorang. Seperti yang ia katakan, salah satu sifat jahatnya ialah ia suka mendominasi orang lain. Inilah salah satu buktinya.
“Apa dia enggak bisa pergi sendirian?”
“Apa lo enggak tega ngelihat cewek selugu itu berpergian jauh. Gue enggak mau mutiara di kapal gue hilang dan rusak,” balas Reira sebagaimana sifat aslinya, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.
“Baiklah jika lo mau, tapi bagaimana cafe gue? Gue baru buka, eh main tutup aja buat sementara.”
Reira tersenyum. “Tenang, ada gue ... gue dan beberapa pegawai cafe Mama bakalan bantu ke sana. Lo enggak usah bayar, gue yang ngebayar mereka.”
“Baiklah, gue lakukan.”
Sudahlah, aku pun terlanjut setuju untuk ikut bersama Mawar. Lagi pula, Mawar juga membutuhkan seorang kawan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Reira, kami tidak akan bisa membiarkan wanita selugu dirinya untuk pergi sendirian dengan jarak yang jauh. Apalagi, Reira sangat protektif dengan para awak kapalnya sendiri. Saking menempatkan diri sebagai kapten kapal, ia rela melakukan apa saja agar kami bahagia.
Aku bersiap-siap pergi untuk pulang. Namun, aku terhenti oleh kata-kata Reira ketika aku membuka gagang pintu.
“Kalau lo percaya dengan apa yang gue bilang, berarti lo bakalan percaya kalau gue bakalan menyisakan dua peluru pistol ini untuk Papa.” Ia mengangkat sepucuk senjata api itu. “Dan satu peluru lagi untuk diri gue sendiri?”
Pikiranku dibuat bingung dengan hal itu.
“Jika benar terjadi, akan aku beli satu pistol lagi dan kita mati bersama-sama. Namun, gue enggak bakalan biarin hal itu terjadi.”
***