Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 88 (S2)



EPISODE 88 (S2)


 


Mataku tak bisa menghindari bahwasanya aku panik saat ini. Pupilku seakan melebar melihat wajah tenang dari Reira. Ia begitu santai bersikap, tanpa beban sedikit pun tatkala ia mengatakan hal tersebut. Hanya aku disendiri yang diselubungi oleh perasaan cemas, walaupun lembutnya cahaya senja tengah menghangatkanku di sini. Ada yang tak bisa aku tafsirkan dari kemilau matanya yang terpantulkan lembayung cahaya mentari. Terlalu sulit aku untuk masuk ke dalam labirin pemikirannya.


Aku tak menjawab sesaat, kecuali membakar sebatang tembakau untuk menenangkan diri. Satu hal yang aku pikirkan yaitu mengenai alasan mengapa aku setakut ini dengan wajahnya yang setenang laut tanpa badai. Seharusnya aku dengan enteng menjawab bahwasanya yang telah terjadi merupakan sebagian dari ketidaksengajaan. Namun, aku tak mampu untuk mengucapkan hal tersebut. Terselip dalam helaan napas dan terhenti ketika di ujung bibir. Mungkin saja dosa kecil tadi telah membuatku dikutuk oleh Tuhan, menghadirkan sesuatu yang menghujam inti kecemasanku.


“Lo tahu sesuatu?” tanyaku balik. Aku hembuskan asap tembakau berat beraromakan cengkeh yang melekat itu.


Ia masih tak berubah untuk tetap memandangiku dengan sedikit tarikan napas lambat. “Gue bertanya, apakah ada sesuatu yang terjadi sewaktu kalian berada di dalam rumah?”


“Sekarang, gue bertanya balik ... apa lo tahu sesuatu?”


Ia selalu saja menjawab sebuah pertanyaan dengan sebuah pertanyaan pula. Maka, aku mencoba memainkan psikologisnya dengan melakukan hal yang sama. Aku rasa, inilah tepatnya untuk mencoba melawan tekanan dari Reira.


“Baiklah ... kalau tidak ingin menjawab.” Reira merubah pandangan ke depan.


Kini ia tak merespon lagi setelah melihat ke depan.


“Gue minta maaf karena tadi kami bertabrakann sewaktu gue mau mengejar lo. Lo sih aneh-aneh aja kaya seorang mafia yang mau nembakin bapaknya sendiri. Dan saat itu, Mawar hampir memeluk gue.” Aku menatap dirinya yang tak ingin memandangi. Tak biasanya Reira bersikap seperti ini. “Apa lo marah?”


Tangannya perlahan membuka kancing kemeja lengan panjangnya itu. “Gue enggak marah.”


“Lalu, kenapa wajah lo itu?” Aku kebingungan ketika Reira benar-benar melepaskan kemejanya tersebut dengan hanya memakai tank top hitam. Mataku seketika menghindar tatkala aku benar-benar melihat belahan dari Reira. “Rei, lo mau ngapain?”


“Gue mau berenang,” balasnya singkat.


“Eh, jangan ....” Aku mengambil kemeja itu yang ia letakkan di bawah. Lalu, aku melepaskan kemeja milikku dan memberikan kaos dalam yang aku kenakan kepadanya. “Lo pakai ini! Gue enggak mau lo dilihatin dengan pakaian seksi seperti itu.”


Tentu saja aku tak ingin Reira berpakaian seperti ketika berada di sebuah masyarakat yang tak pernah sama sekali berenang seperti keadaannya saat ini. Reira pun memakainya tanpa menolak. Setelah itu, ia tersenyum padaku.


“Makasih ... lo baik banget.” Ia memerengkan wajah. “Kenapa lo takut ketika gue tanya seperti itu? Jelas banget dari wajah lo itu.”


Kini aku bertelanjang dada. Angin membuat tubuhku geli sendiri. “Gue takut lo bakalan marah.”


“Sebutkan alasan gue kenapa gue bisa marah?” tanya Reira.


“Siapa sih yang enggak marah kalau pacarnya sendiri hampir pelukan sama orang lain. Paling tidak cemburu.”


Reira tertawa keras. Kini giliran dirinya melepas celana jeans miliknya. “Kenapa gue marah kalau itu merupakan ketidaksengajaan. Dan asal lo tahu, Mawar memberitahukannya sama gue. Makanya gue tahu. Hahahaha ....”


“Apa? Mawar ngasih tahu itu sama lo? Buat apa?” tanyaku berkali-kali.


“Hahah ... Mawar minta maaf karena hal itu. Dia sama takutnya sama lo. Udah gue bilang, Mawar sangat mudah didominasi dan dia orangnya jujur banget. Gue suka kalau kalian berdua jujur tentang hal itu. Dan gue tahu apa yang lo pikirkan ketika Mawar hampir memeluk lo.”


Seperti biasanya, ia sudah tahu saja apa yang aku pikirkan. Terkadang aku curiga kalau dirinya punya peliharaan makhluk gaib yang diturunkan dari Kakek Kumbang, sehinggs mampu menyebutkan hal yang tidak ia ketahui.


“Rei ...,” sindirku karena tidak ingin menjawab.


Ia menepuk punggungku dengan keras, hingga berbunyi kuat di sekeliling kapal. Aku pun merintih kepedihan karena hal itul.


 


“Semua cowok sama aja bukan? Tapi, gue ingatin sekali lagi sama lo. Jangan pernah berpikiran kotor sama cewek lain. Sama gue aja karena tubuh gue ini adalah milik lo. Lo bebas menjamah gue kapan aja, tapi sayangnya elo penakut untuk itu.”


 


Sontak, aku membalas memukulnya. Gelagatnya untuk berenang tidak bisa aku hindari. Oleh karena itu, aku juga ikut menurunkan celana untuk mandi di bawah sana.


“Gue bukan cowok seperti itu. Gue bukan Bang Ali!” Aku melepas celanaku.


Tanpa aku duga Reira memanjat di pembatas kapal. “Ayo berenang pecundang mesum!”


“SIAPA TERAKHIR TELUR BUSUK!”


 


Aku lebih dahulu loncat dari pada dirinya.


 


Entahlah berapa meter tinggi kapal besar ini. Yang pasti akan membuat berdesir darah apabila ingin meloncat dari atas sana. Ketika baru awal pertama kali melakukannya, aku takut setengah mati. Jikalau Reira tidak memaksaku dengan kalimatnya yang menghujat, sudah pasti aku tidak akan ikut meloncat. Namun, percayalah ... tidak ada satu hal di dunia ini yang tidak kita ketahui, sebelum kita sendiri yang mencobanya. Setelah itu, aku pun ketagihan meloncat dari sana. Sudah berapa kali aku berenang bersama Reira yang petakilan ingin mengerjai anak-anak nelayan dari sana.


Tidak seperti sebelumnya di mana kami berenang bersama anak-anak nelayan itu. Kini hening di antara suara kendaraan bermotor di jalanan. Harmoni sekali percikan air yang kami mainkan satu sama lain, membasahi wajah dari penat seharian. Riang wajah wanita itu terkena air laut yang perih di mata. Aku sendiri yang tak mencoba menyelam kerena aku tidak ingin mataku perih oleh air laut. Mungkin saja, Reira sudah biasa dengan hal seperti itu. Menurut pengakuan dari Kakek Syarif bahwasanya Reira diajarkan berenang oleh Kakek Kumbang yaitu dengan melemparkan sendiri cucunya di tepian dermaga, lalu diambil kembali ketika seakan terlihat tenggelam. Ulangi kembali agar terbiasa. Aku tidak akan sanggup melakukan itu kepada cucuku sendiri.


Akankah kalian menemukan wanita yang sudah sangat bahagia dengan melihat laut dari kejauhan? Aku tidak pernah terpikir sedikit pun untuk mendapatkan hal yang seperti ini. Seperti kata Reira, aku hanya mengikuti arus sungai dalam perjalanan cinta. Tidak ada rencana sedikit pun untuk melirik wanita itu pertama kali. Jika ia tidak ada dan aku sendiri sudah muak dengan patah hati, aku mungkin berubah pikiran untuk merebut kekasih orang lain. Namun, Reira menyelamatkanku dari rencana itu.


Senja bermain dalam kata yang diucapkan melalui rasa syukur dalam hati. Aromanya memikat dada untuk terus menghirup udara segar. Basah sudah tubuh tanpa handuk ketika kami beranjak pulang. Ia pun tak ingin duduk berlama-lama untuk mengeringkan badan, mengejar pulang sebelum mata hari terbenam.


Sesampainya kami di rumah Reira, aku lihat Zainab sedang sibuk di muka rumah untuk menyirami tanaman Bu Fany. Aku rasa Reira tidak tertarik untuk merawat tanaman karena wadah penyiram pun aku lihat tetap saja di sana, tanpa berubah tempat sedikit pun. Wanita itu mengangkat tangannya ketika kami masuk dari gerbang samping.


“Kakak lo ke mana?” tanyaku.


“Ke luar kota.” Ia keluar dari mobil. “Mau menginap di sini?”


“Gila ... masa gue nginap sama cewek-cewek,” balasku dengan cepat.


“Ya kan kita sama kita, doang.”


Aku pun menggeleng. “Enggaklah, Dika bakalan kesepian di rumah. Hahahah ....”


Reira melangkah keluar dari garasi kayu yang berdebu ini. Sebelum aku beranjak, aku lambaikan tangan untuk sekadar menyapa Minerva yang sedang bertengger di sarangnya. Burung hantu putih itu tak pernah sedikit pun menatapku dengan tenang. Sakan setiap aku lewat, ia ingin mematuk mataku dengan paruh tajamnya itu padaku.


“Masuklah, ada yang ingin gue tunjukin sama lo.”


Tak aku jawab permintannya tersebut. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Terciumlah aroma khas rumah Reira yang selaras dengan aroma tubh Reira jika tidak memakai wewangian. Aku tidak tahu mengapa alasan setiap rumah memiliki aroma yang berbeda-beda, begitu pula rasa air minum yang akan selalu berbeda pada setiap rumah. Satu misteri yang menjadi pertanyaan bagiku.


Rumah tingkat dua ini kental sekali sudah berumur. Hawanya dingin menyejukkan tubuh, ditambah lagi dengan perabotan-perabotan jati yang mengeluarkan aroma yangkhas. Kami pun naik ke sebuah tangga kayu menuju lantai dua. Sesampainya Reira di muka pintu kamarnya, ia berhenti.


“Entah kenapa kalau gue membuka pintu ini, lutut gue terasa bergetar.” Ia berhenti dengan memegang gagang pintu.


“Sudahlah, jangan dipikirkan tentang hal mistis itu.” Aku mendekatinya.


“Bukan hal mistis yang gue takutkan. Gue enggak takut dengan apa pun di dunia ini, kecuali kehilangan orang yang gue sayang. Jika hantu ada di depan mata gue, udah gue pukuli dengan tongkat golf Kakek.” Ia kembali menatap gagang pintu itu. “Gue merasa bergetar seakan sinyal dari Kakek itu benar. Ia masih ada.”


“Ingin mencoba menembak?” tanya Reira.


Ia sudah gila sekarang, kurasa.


***


 


Wah ... wah ... terima kasih sudah membaca sampai di sini. Kalian sudah melewati banyak petualangan yang Reira sajikan. Aku bakalan pastikan, cerita ini masih panjang dan masih banyak hal yang akan diungkap. Dan temen-temen di sini merupakan pembaca-pembaca yang terpilih, memiliki selera baca yang unik.


Jangan harap tulisan akan dibaca oleh semua orang, karena tulisan memilih pembacanya sendiri. Itulah kata Nietchze, filsuf Jerman yang terkenal dengan kata-kata "The God is Dead!".


Terima kasih.


Sedikit bonus untuk para Reiralova—istilah ini aku temukan dari salah satu komenan Reader.


David lagi nyantuy



Foto pertama David di cafe miliknya.



David dan Reira di malam ulang tahun Fasha tahun lalu.



Reira: "Dave, fotoin gue."



Pose faforit Reira



Reira mencoba menjadi feminim



*Di chat LINE


David: Rei, pap malamnya mana?


Gue bosan sumpah, keluar yuk.


Reira: Mengirim foto...


nih biar ga bosan


 


Dasar cowok dikit-dikit minta pap.


Jemput adek, Bang ... udah siap nih.


 


David otw ganti baju lah ...



Mawar lagi dipotret sama Reira. Dipaksa senyum sama dia.


Reira: "Eh, Lo itu senyum dikit napa??


Mawar: "Gini?"


Reira:. "Kalau yang begini jangan ditunjukin ke Bang Ali, Candra, sama David."



Mawar lagi belajar



Foto Mawar waktu di mall. Dipotret oleh Reira. Diliatin berkali-kali sama Bang Ali.



Foto profil Mawar di Instagram.


*Di rumah Zainab, Kota Manggar.


Reira: "Mawar, Lo pasang foto profil gitulah di Instagram. Biar dapet cowok senior. Lo cantik, jomblo, sayang banget. Lah gue yang kumal gini malah dapet."


Mawar: "Gue enggak pernah foto diri sendiri, kecuali difotoin."


Zainab: "Ajarin Rei pose terbaik buat selfie."


Reira: "Eh, liat gue sini, Newbie. Ini pose fakgirl terkini bikin cowok lain bisa lepas dari ceweknya. Dijamin."


*Reira mengambil handphone dan memperagakannya kepada Mawar.


Langsung dicobain sama Mawar, cuma sekali coba.


Reira dan Zainab langsung insinyur, eh insekyur.



Udah ya sampai sini aja.