
Ambisi, seseorang bisa hidup dengan ambisi. Membayangkan hidup seseorang yang tanpa ambisi terus terang mengarahkanku pada seonggok kayu mati yang tidak bisa melakukan apa pun di atas dunia ini. Ambisi melahirkan gairah, gairah pun mengantarkan setiap orang kepada tujuan. Namun, ada kalanya ketika ambisi itu pun yang tutur dapat membunuh manusia. Pengejaran tujuan yang sangat menggebu-gebu terkadang menyampingkan akal dan pikiran. Manusia pun tidak mampu menikmati hidup, mengingat dunia ini memang berubah cepat, tetapi alurnya sangatlah lambat. Tuhan menciptakan alur yang lambat ini agar manusia bisa menikmati dunia, hidup hanya sekali, kawan ….
Aku mulai paham apa yang sudah dikatakan Kakek Erasmus jika kakekku sendiri membenci orang-orang ambisius. Yang menjadi pertanyaan ialah, apakah aku termasuk orang yang ambisius selama ini? Ya benar, jiwa berapi-api di dalam diriku terus saja menuntut untuk sampai kepada tujuan. Langkahku begitu cepat, meninggalkan orang-orang yang lambat dan tidak ingin bergerak. Namun ternyata benar, aku pun lupa menikmati hidup.
“Masa muda hanya sekali, kau terlalu dini untuk hidup seperti ini. Biarkan kami yang dulu hidup berkelana, itu karena tuntutan hidup. Jika kami bisa memilih, kami pun ingin seperti anak muda pada umumnya. Terutama cinta ….,” ucap Kakek Erasmus tatkala ia melepas kami pergi.
“Jika saya bisa memilih, saya juga ingin seperti itu, Kakek. Tapi, ini jalan yang udah saya pilih. Enggak ada waktu untuk kembali.”
“Fany, kau penentang seperti Fany. Umur lima tahun dia pernah dicampakkan ke laut oleh Kumbang karena pelawan.”
Aku tertawa di dalam hati. Kenapa bisa kakekku menyampakkan Bunda di umur yang sangat belia ke laut. Beruntung Bunda tidak pernah berlaku seperti itu padaku.
“Terima kasih Kakek karena udah menyambut. Kami pulang dulu⸺”
“Tunggu … aku punya sesuatu ….” Ia menoleh ke belakang sembari meneriaki Adhi agar ia datang.
Tidak lama kemudian Kakek Erasmus menunjukkan sebuah kotak kayu kepada kami. Tampak empat buah cincin bermata batu warna cokelat kehitaman yang berkilau tatkala disentuh oleh cahaya mentari.
“Batu Kresnadana, ini sangat langka. Aku beri ini untuk orang-orang yang ada di Kapal Leon yang sekarang. Satu untuk kau, satu untuk anak Syarif, satu lagi untuk Borneo. Selebihnya, terserahmu mau diberi ke siapa.”
“Benar ini untuk saya Kakek?” Wajahku berbinar tatlala menatapnya.
“Iya, kau enggak tahu tradisi di Kapal Leon? Kumbang punya tradisi setiap awak kapal punya batu cincin sebagai identitas.”
Teringat olehku jika di dalam ruangan pribadi Kakek Kumbang terdapat sepaket cincin bermata batu yang bermacam-macam. Dua di antaranya sudah aku berikan kepada David dan Mawar.
“Untuk kalian yang sudah kembali membuat Kapal Leon berlayar. Kapal itu punya sejarah besar bagi orang-orang seperti kami.”
Aku memeluk pria itu, sekaligus Adhi yang malu-malu tatkala aku rengkuh tubuhnya.
“Saya akan mengingat pemberian ini. Sewaktu-waktu kami ke Bali, kami akan ke sini lagi.”
“Iya, jika aku masih hidup,” pungkasnya.
Pertemuan ini meskipun hanya sebentar, mempunyai makna-makna yang dapat aku simpan. Kakek Erasmus merupakan seseorang yang religius. Ia sebagai guru spiritual di Kapal Leon, meskipun ia beragama Katolik. Beruntung ia mendapatkan wanita pribumi Katolik yang sangat mencintai seni. Berkat itu, sanggar seni ini berjalan sebagai wadah bagi anak muda yang ingin belajar seni tanpa dipungut biaya.
Senandung senja bergantung di langit barat ketika kami berada di perjalanan pulang. Awan tipis menunggu kami tepat di tepian pantai Kuta yang ramai oleh pengunjung. Harmoni wangi kota dengan selapis polusi udaranya kini aku hirup panjang. Harapan itu masih ada, Kakek Kumbang berada di suatu tempat tengah menungguku.
Menunggu senja, tidak ada orang yang terlambat bagi orang yang menunggu senja. Aku pernah diajarkan itu oleh David ketika di Pulau Belitung. Tepian dermaga itu menjadi saksi di mana aku dan David sedang duduk bersama menikmati momen di mana semilir cahaya merah semacam bercakan di awan. Ia menoleh padaku dengan kalimat-kalimat filosofi yang terkadang membuatku muak. Namun, entah kenapa pundaknya terasa nyaman tatkala aku jatuhkan wajahku ke sana.
“Kamu wanita yang hebat, Reira,” puji Serama.
Wanita itu dengan santainya membuka pakaiannya dan hanya mengenakan bra. Sementara aku yang tidak biasa, cukup menyisakan tank top agar aku bisa menikmati sejuknya angin pantai di sore hari. Kami hanya beralaskan pasir, menatap langit yang sudah mulai memerah.
“Semua wanita itu hebat, enggak terkecuali kamu.”
Aku hanya mengira jika aku memanggilnya dengan sebutan `kau`\, itu akan terdengar kasar. Beda jika aku begitu dengan Borneo dan Razel karena sehari-hari mereka memang menggunakan kata itu.
“Aku dulu pernah hidup di jalanan. Empat tahun keluar dari panti asuhan karena ada keluarga yang mengadopsi, ternyata ndak cukup bikin aku bebas. Umur remaja aku keluar dari rumah dan mulai hidup di jalanan.” Ia menoleh padaku. “Orang tua asuhku buruk, aku ndak tahan.”
“Mungkin besok aku akan direinkarnasi lebih buruk dari ini lagi karena dosa-dosanku,” balasnya.
“Kamu tahu, hidup kita ini cuma segini.” Aku mendempetkan jemari telunjuk dan jempolku. “Padahal, kita bisa lebih dari itu. Kamu cuma harus merubah sudut pandang. Hidup bukan sekedar makan dan minum, tapi kamu juga harus punya makna.”
“Makna ya?” Aku kembali menoleh ke atas langit. “Aku jauh dari itu ….”
“Aku punya belasan anak yang aku pelihara sekarang. Mereka anak-anak jalanan yang dulu sering merengek minta nasi bungkus.” Aku menatap Serama yang sedang terpaku melihat awan. “Aku dapati satu hal dari mereka, uang bukan segalanya. Jika kamu bahagia hanya dengan ukulele yang dimainkan bersama-sama, lalu dapat recehan dari pengunjung tempat makan, itu saja sudah cukup menyenangkan.”
“Kamu pasti ndak mau juga seperti mereka yang tunggang langgang mencari makan.”
“Iya benar, karena aku ingin nyari makna yang lebih dari itu. Secara konsep sama, semuanya tentang perspektif.”
“Sangat sulit menjelaskannya padamu yang mungkin belum pernah merasakan susah, Reira.”
Sering sekali dalam satu titik aku buntu untuk menjelaskannya. Kondisi setiap orang berbeda-beda. Aku hanya menjelaskan pendapatku secara egois karena aku tidak pernah seperti mereka. Namun, siapa yang memilih awal dari hidup? Setiap orang di tempatkan secara random dan tinggal menjalaninya sesuai keinginan.
Aku mengehal napas memikirkannya.
“Cukup hal yang akan bikin kamu paham.” Aku mengambil kotak kayu pemberian Kakek Erasmus. Jemariku mengambil satu cincin di dalamnya. “Jadi awak kapalku, aku ajarkan semuanya.”
Ia duduk tatkala aku mengatakan hal itu. “Apa? Aku bukan pelaut, Reira.”
“Semua orang itu pelaut jika mereka sudah melaut. Kamu belum pernah aja naik Kapal Leon.”
“Hahah … kamu ini gila, apa?”
“Kamu mau berhenti dari semuanya kan? Masa depan di kapalku lebih cerah daripada kamu tiap malam bersama laki-laki. Setelah misi aku selesai untuk menemukan kakekku, aku punya pekerjaan buat kamu.”
Ia diam sejenak menatap cincin itu. Jelas sekali matanya menyimpan ragu, tidak ingin menyentuhnya tanpa berpikir panjang dahulu.
“Apa untungnya aku ikut sama kamu?” tanya Serama.
“Selama kamu melaut, kamu digaji seperti yang lain. Kita enggak selamanya ada di laut, terkadang di darat. Kamu bertemu dengan dua teman aku yang luar biasa, pertama Borneo si cowok yang pandai apa aja, kedua Razel si pemuda yang handal melaut.” Aku mendekatkan wajahny kepadanya. “Tapi ada yang lebih dari itu, makna … ini perjalanan panjang. Kamu bisa belajar banyak dari itu.”
“Aku ndak sekuat yang kamu kira, Reira. Aku bukan wanita seperti kamu,” balasnya pelan.
“Akan aku ajarkan bagaimana cara menjadi kuat.” Aku menyentuh dadanya. “Di sini … kau perlu memperkuat hati. Tinggalkan semua pekerjaan kamu di sini. Jika kamu menolak, aku harap kamu punya pekerjaan yang baru.”
“Apa jaminan kamu?”
“Sudah aku bilang, awalnya aku punya belasan anak yang dipelihara, sekarang juga ada puluhan. Setelah kamu pakai cincin ini, besok akan aku bawa untuk melihat mereka.” Aku menitipkan cincin itu di telapak tangan Semara. “Aku punya yayasan besar untuk anak-anak yang enggak bersekolah. Kami mendirikan sekolah formal dan asrama untuk mereka. Kamu bisa bekerja untuk yayasan itu nantinya.”
Dengan wajah penuh harapan, ia sesegera mungkin memasang cincin itu. Seakan sedang melamar seseorang, kini aku melakukannya kepada Semara.
Ya benar, aku mendirikan yayasan dari dana harta warisan Bunda serta donatur besar dari berbagai pihak. Tentu saja aku butuh orang-orang di dalamnya yang memiliki kepedulian besar. Salah satunya ialah Alfian, si dokter tampan yang sekarang aku posisikan sebagai ketua yayasan. Hanya dirinya yang tahu jika aku sudah merencakan semua ini. Pengasingan diriku untuk membunuh kehidupan sangat jelas aku beritahu kepadanya. Aku harap cintanya kepada Mawar segera pergi karena Mawar sudah memiliki seseorang. Seseorang itu aku sebut dengan hantu masa lalu.
***