Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 86 (S2)



EPISODE 86 (S2)


Aku rasa anak itu tidak ada takut-takutnya sama sekali. Jikalau dirinya pun tahu bahwa pria tersebut meruakan Dekan fakultas kami, ia pun akan tetap meminta bapak itu untuk memotret kami. Jangankan seorang Dekan, mobil Ketua DPR pun Reira lumuri dengan telur. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Reira kepada Dekan kami apabila ia ada di situasi yang sama. Sudah lebih pasti mobilnya akan lebih dari berlumuran telur. Mobil dinas Bapak Rektor saja habis Reira goresi. Itu pula yang membuat wanita itu masih bermusuhan dengan pihak rektorat.


Tegaklah Bapak Dekan yang terhormat itu di hadapan kami yang memandang malu. Reira paling tengah-tengah kami malah meminta berganti pose sehingga pemotret harus bertahan lebih lama di depan sana. Barulah dengan segala pose yang mereka mau sudah dipotret, Reira berterima kasih banyak kepada Bapak Dekan karena sudah bersedia untuk memotret kami. Hormatnya menunduk seperti orang Jepang, dengan senyum manis yang aku artikan sebagai kelicikan.


“Eh, lo tahu siapa dia?” tanyaku setelah itu.


Reira mengangguk. “Dia Dekan kalian bukan? Waktu itu gue dipanggil ke ruangan dia karena memanjat fakultas kalian.”


“Ih parah ya lo!” Ia mengetuk kepalanya. “Cuma lo sendiri yang berani begitu.”


“Seharusnya dia bersyukur udah dapat tunjangan sebagai Dekan gara-gara ada kita. Dan gue berani bilang kalau di dalamnya ada tunjangan buat fotoin mahasiswa. Hahahah ....”


“Kalau di jaman orde baru, udah hilang lo ini.”


“Kita sudah reformasi, Kawan!” Ia merangkul diriku. Lalu, melihat ke teman-teman yang lain. “Ayo kita makan-makan di rumah Mawar. Mawar udah nyiapin semuanya. Gue bakalan bawa Bang Ali!”


“AYO!!!” seru seseorang dari dalam mobil.


Ternyata anak itu langsung bangun ketika kami berencana untuk pergi makan. Lihatlah mata pandanya itu, Razel sangat kurang tidur. Mulutnya yang menguap terlihat lebar dan masih terasa belum puas.


Berangkatlah kami menuju kediaman Mawar. Aku dan Candra berboncengan berdua menggunakan vespa bututku. Hanya Mawar yang berkayuh sendiri menggunakan sepeda keranjang, sementara itu yang lain berada di mobil Reira. Aku berdua dengan Candra mengikuti kayuh lambat Mawar dari belakan, seperti seorang penculik yang sedang mengincar seorang gadis putih bening.


Kami pun masih pria, sama halnya dengan Candra yang matanya pun masih sering jelalatan ke mana-mana. Tentu saja kami tak bisa memungkiri kulit putih Mawar sangat menarik perhatian. Bukan berarti bahwasanya standar kecantikan berasal dari warna kulit.


Hanya saja sebagai anak dari keturunan Tionghoa, tentu putih kulitnya sangat berbeda dengan orang-orang berkulit putih lainnya di sini. Jika aku ibaratkan kaca, cahaya mentari pun dapat memantul dari telungkup tangannya yang sudah seperti telapak tangan bagiku. Kontras sekali Mawar tidak bisa terkena panas, sedikit saja langsung memerah. Aku lihat dirinya yang menyerngitkan dahi ketika berusaha melihat ke belakang. Sudah aku bilang, dirinya tentu saja berbeda dengan wanita pribumi pada umumnya. Sudah berapa kali pria yang sedang berpapasan kendaraan, turut menoleh kepada wanita itu. Aku dan Candra pun berinisiatif untuk menatap sinis kepada pria-pria yang meliriknya terlalu dalam. Mana rela gadis kami dibegitukan dengan bebasnya, apalagi itu merupakan Reira. Namun, aku rasa tak perlu menunggu kami menatap balik orang-orang yang melirik Reira. Reira sudah menatangi mereka duluan.


Bersimpuh peluh Mawar di kening ketika sesampainya di hadapan rumah. Reira dan yang lain sudah masuk duluan berserta mobil mereka, tentu saja tanpa menunggu pemilik rumah datang. Tak ada yang lebih disukai oleh Reira saat ini, kecuali kelinci yang berkeliaran di sepetak tanah berumput yang hampir datarnya sama dengan lapangan golf. Aku rasa bagus dibuat lubang-lubang sehingga kami bisa bermain golf di sini. Sesekali aku dan Candra ingin juga mencoba bermain permainan orang-orang kaya tersebut.


Di tengah halaman ternyata sudah tersedia pemanggang barbekyu ekskulsif, tidak seperti panggangan ayam yang aku miliki. Baru saja aku dan Candra menyilangkan kaki di salah satu dari gazebo, Mawar dan Zainab tiba membawa seluruh hidangan yang hendak dibuat. Tidak lama kemudian, terdengar suara knalpot motor CB modifikasi yang seminggu lalu diletakkan di bengkel Dika. Bang Ali ingin motor kesayangannya tersebut berada di dalam peforma terbaik, sehingga diserahkan kepada tangan yang tepat. Riuhlah suasana di sini berkat kehadiran pria berkulit gelap tersebut. Tangannya menghentak kepala Reira untuk sebuah penyambutan.


“Kita dalam formasi lengkap.” Tangan Reira merangkul pinggang Bang Ali. Hal tersebut sudah biasa aku lihat. “Gue senang kita sama-sama ada di sini.”


“Gue ke sini bukan karena elo!” Bang Ali mendorong Reira menjauh. “Tentu aja karena Mawar. Ya kan Mawar?”


Mawar tersenyum kecut dirayu oleh ucapan receh dari Bang Ali. Sudah aku bilang, mereka bagaikan sebuah simbol ajaran Tao, yin dan dan yang, apabila disandingkan berdua.


“Itu kenalin Bang Ali,” ucap Candra kepada Zainab. Lalu, wajahnya menoleh kepada pria itu. “Bang, ini Zainab. Orang Belitung.”


Dengan senang hati Bang Ali mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Oh ... gue Ali. Ketua Mapala di kampus.”


Sontak Reira menyiku bidang dada Bang Ali. “Apa hanya itu yang bisa lo banggakan? Setiap bertemu orang, selalu ngebanggain diri kalau dirinya ketua di Mapala.”


“Ya ... kalau ngebanggain muka, enggak mungkin ... hahahah ....”


“Dia itu cewek Candra ... jangan lama-lama salamannya,” sindir Reira.


“Buset!” Pandangan Bang Ali berulang kali menatap sepasang kekasih itu. “Pakai pelet apa lo?”


“Bulu perindu, dong. Hahaha ....”


Tawa bercampur bahagia terhadap keberhasilan Candra kini bercampur menjadi satu. Tak ingin menunggu lama lagi, Mawar dan Zainab menempatkan diri sebagai koki kali ini. Siapa yang tidak akan ragu akan keterampilan mereka memasak. Gadis Melayu itu sudah biasa berkeringat di hadapan tungku api kayu berasap untuk membantu Mak Cik Siti memasak di belakang rumah. Sedangkan Mawar bisa dibilang sebagai asisten koki mamanya sendiri di Kedai Kopi Mawar simpang jalan dermaga. Urusan membuat minuman, tentu saja Reira yang lebih handal. Aku rasa skillnya melebihi dari Mawar karena Mawar pun tetap belajar dari gadis laut itu.


Nikmat sekali siang ini dihidangkan steak dan burger, bercampur dengan nasi. Mana kenyang bagi kami para lelaki hanya memakan daging polos itu. Orang Indonesia apa pun makanannya, tidak nikmat jika tidak bercampur dengan nasi. Syukur diucakan di dalam hati, dikeluarkan dalam bentuk sendawa keras dari Reira yang tak tahu malu. Setelah kami melahap habis makanan―terutama Bang Ali dan Razel―Reira berdiri untuk membereskan piring-piring. Ia meminta Mawar sebagai tuan rumah tidak ikut campur dalam membersihkan peralatan makan.


“Udah, biar gue sama David yang memberesi semuanya.” Reira memaksa Mawar duduk untuk mendengarkan celotehan tak berujung dari Bang Ali.


Mawar pun mengiyakan. Aku dibawa paksa oleh Reira untuk membantunya cuci piring.


Semua peralatan makan aku angkat ke tempat cuci piring rumah Mawar. Berdenting bunyi syahdu piring-piring ketika Reira membolak-balikkannya di atas wastafel.


“Tentu aja tahu. Lo memaksa buat ngebawanya ke rumah cuma buat―”


Kalimatku berhenti seketika ketika Reira memotongnya.


“Ngebuktiin kalau keris itu bisa berdiri?” tanya Reira balik.


Aku mengangguk. Benar itu yang dikatakan oleh Kakek Syarif mengenai misteri magis dari keris panjang dan berat itu. Kakek Kumbang pernah berpesan sebagai janjinya kepada sahabatnya itu, jika keris itu masih bisa berdiri, hal itu pertanda bahwa dirinya masih hidup. Menurut penuturan dari Kakek Syarif, pria tua pemilik tato kumbang itu menyebutkan kalimatnya sesaat ia pergi menuju daratan Australia. Namun seperti yang pernah aku bilang, badai tetaplah badai, tidak peduli jika kapten kapalnya Kakek Kumbang sekali pun. Beliau hilang ditelan ombak tanpa jejak sedikit pun.


“Tunggu dulu ... apa lo benar-benar ngelihat keris itu berdiri?”


Reira diam tak menjawab sebelum ia selesai menyelesaikan satu piring.


“Gue melihatnya sendiri.”


Bulu kudukku seketika berdiri mendengar kalimat Reira. Satu hal yang membuatku tak percaya kini telah memilik bukti kuat.


“Lo serius?”


Kepala Reira mengangguk pelan. Matanya memandang kosong untuk membayangkan kejadian yang telah ia alami.


“Gue pulang dari tempat tongkrongan anak Mapala saat itu. Jam nunjukin pukul satu malam. Gue dengar goncangan kuat dari lemari di mana gue nyimpan itu keris. Gue panik dong saat itu. Gue kira ada maling yang masuk ke kamar gue lewat jendela. Perlahan gue buka pintu sambil pistol revolver milik Kakek Syarif yang gue curi dari kapal―”


Sontak aku menghentikan kalimat Reira ketika ia mengatakan jika memiliki sebuah pistol revolver.


“Tunggu dulu, lo nyimpan senjata api di dalam rumah lo sendiri? Lo gila apa?” tanyaku.


“Itu pistol lama milik Kakek Syarif waktu ngejaga-jaga ada yang membajak kapal. Masih berfungsi. Satu peluru udah pernah gue coba buat menembak ikan di laut. Sekarang tinggal tiga peluru.” Ia meletakkan telunjuknya di ujung bibir sebagai isyarat agar aku tidak membeberkan rahasia ini. “Lo dengerin cerita gue kali ini. Jangan mengalihkan.”


“Oke, lanjutin. Gue harap lo jangan pernah gunain pistol itu buat ngelukain orang lain.”


“Suatu saat gue ngurus surat izin kepemilikan senjata dengan urusan berburu binatang di hutan.” Ia menepuk dadanya untuk membanggakan diri. “Jadi, waktu gue buka pintu kamar, gue enggak ngelihat satu orang pun. Dan gue telusuri ternyata berasal dari lemari penyimpanan keris.”


“Dan keris itu benar-benar berdiri?” tanyaku penasaran.


Anggukan kepalanya seakan tidak membuatku percaya. “Keris itu benar-benar berdiri. Selang lima detik gue natapin itu keris sambil gemetaran, keris itu pun jatuh.”


“Gue masih enggak percaya, Rei. Tapi, itu benar-benar terjadi.”


“Terkadang, sesuatu yang enggak lo percayai belum tentu hal itu tidak ada. Barangkali lo aja kali yang belum pernah lihat.” Ia meletakkan piring yang habis ia bersihkan di tumpukan piring bersih. “Dan dari sana gue semakin percaya kalau Kakek Kumbang masih hidup. Entah di mana ia sekarang.”


“Bisa jadi itu ulah siluman atau semacamnya, Rei.”


Ia mengelap tangannya di sehelai kain.


“Walaupun begitu, gue tetap percaya kalau Kakek masih hidup. Jikalau hilangnya Kakek adalah konspirasi dari papa, akan gue gunain dua pistol itu kepada papa dan peluru terakhir buat diri gue sendiri. Papa punya masalah sendiri dengan mertuanya itu.’


“Rei!”


Wanita itu pun pergi meninggalkan diriku yang kebingungan dengan semua pernyataannya. Setiap kali ia bercakap, selalu saja aku sendiri yang letih untuk membuka tabir-tabir rahasia dari balik hela napas yang ia keluarkan. Aku tak melanjutkan percakapan tersebut. Reira tega meninggalkanku dengan lebih piring kotor yang tersisa.


Selesai aku dari tugas yang ia limpahkan sisanya, bergegas aku keluar dari daput. Namun, tepat aku berbelok dari batas-batas dinding menuju ruang tengah, ada hentakan tubuh seorang wanita tinggi yang menghujam keras tepat ditubuhku. Kami pun terhempas bersama-sama ke dinding sebelahnya.


Tepat ketika aku membuka mata, terlihat kecut wajah Mawar yang menepel pada dadaku.


Ia memilik tubuh yang empuk, terutama di bagian tubuh yang membuatku sensitif.


***