
Gue cemburu?
Ngapain?
Kalimat itu masih terbawa mimpi selama dua hari ini. Ia berhasil membuat pikiranku kacau dengan satu kata menyebalkan itu. Masih aku ingat wajahku yang memerah, menyembunyikan rasa malu yang kutunjukkan.
Kenapa gue harus malu.
Atau gue yang benar-benar ...
Kubuka pintu balkon kamar dan kunyalakan tembakau yang hanya terisisa beberapa batang di bungkusnya. Malam membawakanku udara dingin yang berhembus di sela-sela pohon yang bergoyang. Bunyi gesekan antar daun terdengar harmoni dengan gemeretak tembakau yang kuhisap. Langit tampak bersih, tidak ada awan yang menghalangi keindahannya. Bintang-bintang bebas menunjukkan senyumnya bersama rembulana. Kolaborasi yang tepat untuk diskusi malam.
Seseorang melemparkan kerikil ke jendelaku. Hantamannya menimbulkan bunyi gaduh tatkala ia memantul. Langkahku termundur dua kali untuk berhati-hati dengan hal yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba seorang perempuan berbicara padaku dari bawah.
"Dave, ini gue, Reira," panggilnya,
Sesegera mungkin aku melihat ke bawah untuk memastikan hal yang hampir membuat jantungku copot. Reira tengah bertegak pinggang dengan tatapannya yang merambat lurus padaku. Wajahnya datar tidak berekspresi, namun ada sebuah semangat yang terlihat darinya.
"Ngapain lo malam-malam ngelempar rumah orang, hah?" tanyaku sambil teriak.
"Gue mau nanya, lo mau gue besok pake pakaian apa?" Ia melepaskan tangan dari pinggangnya.
"Ya, mana gue tahu. Apa aja, yang penting lo nyaman."
Aku terdiam sejenak. Ia benar-benar menyebalkan. Datang melemparkan batu ke rumah orang, hanya untuk bertanya pakaian apa yang akan ia pakai esok hari.
"Gue yang manjat, atau lo yang turun? Gue enggak bisa teriak-teriak begini," teriak Reira kembali.
Tembakau aku hisap dalam-dalam, lalu kubuang filter-nya ke bawah. Kekesalanku memuncak tatkala dirinya memintaku untuk ke bawah. Ia adalah Reira. Setiap ucapannya bisa jadi ia lakukan. Ia bukanlah wanita biasa dengan segala kelembutan dan kegemulaian. Aku tidak ingin ada seorang wanita yang memanjat rumahku di malam hari seperti ini.
"Jangan, biar gue yang ke bawah. Cukup lo manjat kelas gue kemarin," teriaku padanya.
Ia duduk berpangku lutut di lantai teras. Tiang rumah ia jadikan sandaran. Semangatnya berubah ketika aku di bawah. Ia tidak seperti tadi yang berteriak-teriak menanyakan hal yang tidak masuk akal.
"Gue enggak pernah ke acara ulang tahun cewek. Jadi, gue enggak tahu mau pakai apa," ucapnya. Reira terbatuk di akhir kalimatnya.
"Aduh, bagaimana, ya ... gue kurang tahu model pakaian cewek. Kayanya, dress udah cukup buat lo" Kudekatkan jarakku dengannya ketika duduk. "Lo sakit?"
"Agak lemas gitu," balasnya.
Ia mengangguk. Senyumnya ia lemparkan dengan paksa ketika udara dingin malam datang menyapa. "Gue adalah Reira. Demam tidak menjadi penghalang."
Ia adalah Reira. Seorang gadis dengan sejuta pengalaman yang tidak akan pernah diduga-duga. Mimpinya menaklukkan Samudera Hindia menuju Antartika, lalu memberi makan penguin dengan ikan yang ia bawa dari sungai terbaik di Indonesia. Selanjutnya, ia akan pergi ke Benua Hitam hanya untuk menjari kodok Afrika untuk dijadikan koleksi peliharaan. Demam sedikit tidak akan pernah membuatnya gentar.
Bunyi mobil berdenting menuju mall yang sama dengan lokasi café milik bunda Reira. Bibirnya tampak pucat, meskipun sudah dioles selapis tipis pewarna bibir. Tidak ada cahaya yang terpancar dari wajah manisnya. Selama perjalanan Reira hanya bersandar di bangku tanpa sepatah kata pun. Hanya bola matanya yang bergerak melihat tanganku memutar stir mobil. Ia khawatir jika aku akan melecetkan mobil sedan klasik yang ia rawat seperti anaknya sendiri.
Ia tampak cantik dengan karakter tomboy yang ia bawa. Selalu mengenakan kemeja lengan panjang dengan wangi parfum yang sama. Rambutnya tidak pernah luput dari ikatan berwarna merah yang ia ikat dengan gerakan yang menarik. Gerak jemarinya tampak harmoni saat memutar rambutnya pada ikat rambut merah. Pupilku selalu melebar ketika ia melakukan hal itu. Ketika ikatan terpasang sempurna, bibir dengan polesan merah yang tipis itu akan menarik senyum curiga. Dalam hatinya pasti bertanya-tanya kenapa aku terpaku menatapnya.
Seorang pramuniaga berpakaian rapi menyambut Reira yang sudah melangkah masuk ke dalam toko pakaian. Langkahnya melambat di deretan dress dengan jemari bergerak-gerak ketika menunjuk gaun yang ia sukai. Reira menggapai dress panjang abu-abu yang ia temukan tepat di sampingku.
"Lo suka?" tanya Reira. Ia mendekatkan dress itu ke tubuhnya.
"Hmm ... kayanya lo cocok semua pakaian, deh," pujiku.
"Itu makna tersirat kalau gue cantik?" Wajah Reira menunjukkan ekspresi curiganya padaku.
Pipiku memanas saat mengakatannya. Reira selalu mencari celah agar aku terjebak dengan kalimatku sendiri. Ia tertawa kecil ketika aku terdiam beberapa saat.
"Oke, kayanya lo enggak mau jawab. Kalau lo suka ini, gue bakal ambil." Ia melangkah ke ruang ganti.
Beberpa menit kemudian ia keluar dari ruang ganti. Tirai tipis itu bergoyang tatkala ia menyingkapnya. Tampaklah Reira melebarkan bagian bawah dress sembari menekukkan lututnya sedikit, seperti putri raja yang baru saja menyambut seorang pangeran berkuda. Aku bergeming sesaat.
Ia sungguh cantik ...
Matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Gerakan berputarnya membuatku terpaku dalam pemandangan langka yang hanya bisa kudapatkan pada momen spesial yang ia tunjukkan. Reira melangkah ke arahku. Ia genggam tanganku yang dingin.
"Perlakukan gue seperti princes di kartun yang gue tonton waktu kecil," ucapnya pelan.
Senyumnya tak bertepi, masih bertahan di keheningan yang tercipta. Tatapan kami saling membentuk garis lurus yang saling beradu. Bayang-bayang wajahku jatuh pada pupilnya yang hitam. Sungguh, matanya sebening laut yang ia ajarkan padaku. Aku tidak mengatakan sepatah kata pun hingga tanganku bergerak sendiri untuk mengangkat genggamannya. Ia berputar bagaikan di sebuah lantai dansa. Waktu seakan tidak berfungsi, melambat bersama imajinasi yang kupikirkan. Reira membuatku bergeming.
"Haruskah lo gue puji?" tanyaku.
"Jika lo mau," balasnya saat melepaskan genggamannya.
"Lo cantik ...." Hati mengantarkanku kepada kejujuran.
***