Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 38 (S3)



Tanganku hampir saja menarik lengan orang paling penting di sini. Jika aku tidak segera mengepalkan tangan dan membatalkannya, penjaga sudah pasti langsung mengunciku karena dianggap membahayakan. Beliau sadar dengan apa yang aku lakukan, Ia tenang saja tatkala aku ingin melakukan hal tersebut.


Namanya Bilal, tertulis jelas di label nama pada pakaian cokelat dinas.


“Kamu tahu siapa siapa?” tanya pria itu.


“Iya, saya tahu Bapak siapa. Bupati di sini ….”


“Sebaiknya kamu singkirkan tangan kamu dari saya.”


“Baiklah, maaf.” Aku menghela napas. “Apa hubungannya Bapak dengan kakek saya?”


“Bapak?” Ia tersenyum. “Sebaiknya kamu sebut saya ini Datuk.”


“Datuk?” tanyaku dengan heran.


“Saya sepupu dari Kumbang. Kamu berarti cucu saya.”


Aku melihat ke kiri dan ke kanan, cemas jika ada seseorang yang mendengarnya.


“Bagaimana Bapak ngaku jadi sepupu dari kakek saya?” tanyaku dengan penuh penekanan.


Benar jika kau dekat dengan kakekku. Hampir seluruh masa kecilku dihabiskan untuk bersamanya. Namun, tidak terlalu banyak anggota keluara yang aku kenali dari sebelah Kakek. Salah satu alasannya ialah dikarenakan Kakek Kumbang merupakan orang Suku Laut yang dulu terisolir, relatif sulit keluargaku untuk mengakses ke sana. Satu-satunya kerabat dekat yang selalu aku kunjungi ialah Kakek Syarif dan keluarganya. Bahkan, Razel sampai saat ini selalu mengekorku.


“Kumbang lahir di Sungai Kuantan sewaktu perjalanan menuju ke Siak. Bibi saya pergi untuk ikut suaminya ke sana. Suaminya orang Suku Laut Kepulauan Riau. Setelah itu, hubungan keluarga kami enggak pernah terjalin, sampai Kumbang benar-benar dewasa, dia baru tahu kalau dia punya beberapa sepupu dari sebelah Ibu.”


Fakta yang mengejutkan bagiku jika Kakek sesungguhnya mempunyai kerabat-kerabat yang tidak pernah ia sebutkan. Bahkan, Bunda tidak pernah tahu mengenai hal tersebut. Jikalau ia tahu, sudah pasti ia beritahu kepadaku jika dari sebelah neneknya terdapat kerabat-kerabat yang harus dikunjungi. Namun, aku memaklumi hal tersebut. Nenekku meninggal setelah melahirkan Bunda, lalu mereka pindah ke Belitung sebagai tempat Bunda menghabiskan masa kecilnya bersama Pak Cik Milsa, ayahanda dari Zainab.


“Bapak berbohong,” ucapku.


“Panggil aku Datuk!” paksanya.


“Datuk berbohong!” jelasku kembali.


“Terserah jika kau tidak mau percaya. Yang jelas, aku diminta Kumbang buat menjelaskan ini.”


“Saya tidak peduli apakah Bapak atau Datuk ini kerabat saja, atau saya punya kerabat seorang Bupati, saya cuma mau tahu di mana Kakek Kumbang berada.”


“Saya tidak tahu. Kau ini!”


“Masa Datuk ga tahu?! Sepupu macam apa?!”


Mungkin benar, aku terlalu memaksakan jawaban darinya. Setelah itu, aku diminta untuk pergi oleh para penjaga. Dengan tertunduk pasrah, kini aku diboyong keluar oleh tangan kekar bodyguard. Tapi aku senang telah membohongi mereka dengan sebutan jurnalis.


Kunjungan kami di sini menjawab satu pertanyaan mengenai hubungan kakekku dengan orang bernama Bilal tersebut. Kakek Kumbang memiliki satu adik sepupu yang sekarang sukses di tanah kelahirannya. Aku tidak begitu takjub, Papaku sendiri ketua salah satu komisi di legislatif pusat, tentu saja posisi di pusat tidak akan diragukan lagi. Berhubungan dengan orang-orang sepertinya bukan lagi jadi hal aneh bagiku.


Razel terkejut mendengar informasi tersebut. Bapaknya berkata jika Kakek Kumbang anak satu-satunya tanpa kerabat lain. Hal itu tidak aneh karena keluarga dari kakek buyutku pindah sekeluarga tanpa pernah kembali lagi. Satu-satunya sepupu Kakek Kumbang yang Razel ketahui hanyalah bapaknya sendiri, itu pun sepupu jauh.


Malam hari tidak lekang oleh ramainya pusat kota. Event pacu jalur ini belum mematikan perhatian masyarakat karena Taman Jalur di tepian Sungai Kuantan masih saja berdendang dengan musik-musik mereka. Anak muda berkeliaran membawa kekasih, keluarga bermain dengan anak-anaknya di wahana istana karet yang begitu besar karena diisi oleh angin. Razel ingin makan nasi Padang lagi, padahal aku ingin rasanya memakan canai Kuantan Singingi yang khas itu. Namun, dikarenakan keseluruhan personil ingin makan nasi Padang, maka kami mencari gerai terdekat.


“Borneo … kau bawa Semara jalan-jalan ke Taman Jalur. Beli apa aja yang kalian mau,” pintaku.


“Aku mau anak ini ke suatu tempat. Nanti aku kasih tahu kalau udah di penginapan.” Aku menepuk tangan Razel yang sedang mengambil sayur singkong milikku.


Borneo memandangi Semara yang sibuk dengan piringnya. Wanita itu tampak berkeringat karena tidak terbiasa makan dengan rasa pedas.


“Jangan lama-lama ya,” pinta Borneo.


“Setidaknya pulanglah kalian kalau kami belum kembali setelah tengah malam,” pungkasku.


Van aku bawa bersama Razel. Aku mendapatkan informasi mengenai rumah pribadi dari Bupati Kuantan Singingi yang katanya adik dari Kakek Kumbang. Informasi itu didapat dari tukang parkir rumah makan Padang yang aku sogok dengan sebungkus rokok Razel. Rokok itu pun aku ambil diam-diam dari koper milik Razel.


“Kak, rokokku hilang satu di koper. Apa Kakak ada ngambil?” tanya Razel yang sedang menaikkan kaki ke atas dashboard mobil.


“Mana ada … emangnya gue ngerokok? Tanya Borneo sana!”


Kami tiba di seberang rumah Bupati, di sana ada sebuah gerobak bakso yang sedang menongkrong. Hanya satu cara agar kami bisa berlama-lama di sini tanpa dicurigai, yaitu membeli semangkuk bakso untuk bisa duduk lebih lama.


“Kak … gue ga bisa makan lagi loh,” keluh Razel.


“Aduh … kita udah tanggung berhenti di sini. Tempatnya kecil pula. Gue mau lama-lama di sini. Kasian abang baksonya ngelihatin kita.”


“Hadeh … kenapa urusan begini gue yang ngelakuin sih?!”


“Yee kan elo yang biasanya suka makan,” balasku sembari membuka pintu dan mendorongnya untuk membeli semangkuk bakso, lalu kami bisa duduk di sana berdua.


Bakso dihidangkan untuk Razel seorang. Aku tentu saja tidak ingin makan karena sudah kenyang sekali.


“Bukan orang sini ya Dek?” tanya penjual bakso dengan logat Jawa yang khas.


“Oh iya Mas. Kami dari Jakarta.”


“Oh pantes … logatnya ketara banget. Nonton pacu jalur ya?”


Aku mengangguk. “Iya, sekalian liburan ya kan? Oh ya Mas … ini benar rumah Pak Bupati?”


“Oh bener, Dek. Katanya Pak Bupati malam ini ada di rumah pribadinya. Besok itu kan final acara pacu jalur. Jadi ada banyak keluarganya yang datang,” balasnya.


“Oh  gitu … pasti orang kaya semua ya Mas?”


Aku sedikit melirik ke arah Razel yang seperti hidup segan mati tak mau tatkala menghadap mangkuk bakso. Aku heran, biasanya Razel yang selalu tidak ingin diberhenti untuk makan.


“Jelas dong, Dek. Pak Bupati ini punya tiga saudara, adik-adiknya orang besar semua.”


Rasanya tidak mungkin aku langsung menurus mengenai kerabat sepupu dari Bapak Bupati. Tentu saja penjual bakso ini tidak mengetahui hal tersebut dan bukan pekerjaan dirinya untuk mengetahui semua itu.


Tidak lama kemudian, datang seorang ibu-ibu yang datang untuk membeli bakso. Aku menatapnya sama hal dengannya yang melihatku. Tatkala mata kami bertemu, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya, kau ibuku?


Sungguh ia mirip sekali dengan Bunda.


***