Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 64 (S3)



Malam aku gantungkan di ujung pandangku kepada seorang pria berkacamata. Ia tersenyum manis bagaikan terangnya rembulan, lalu balik menoleh padaku dengan mata binar-binar gemintang. Tiada rasa enggan darinya untuk aku gandengi, bercampur dengan rasa bangga karena bisa bersanding dengan dirinya. Aku pun turut merasakan itu, mungkin wanita bodoh yang hanya biasa saja jika seperti ini. Mau bagaimana pun, Abimana pria yang menawan. Wajahnya berparas manis, sedikit wajah feminim oriental, dan beraura cowok-cowok pintar berkat kacamatanya.


“Lo ngasih apa ke dia? Sumpah gue ga bawa apa-apa ….”


“Gue udah nulis cek buat Mawar.”


“Apa? Lo ngasih hadiah temen lo yang ulang tahun berupa cek?”


Aku mengangkat bahu. “Ya … kalau pakai giro, bakalan kelamaan dia ngecairinnya.”


Ia menoleh padaku. “Bukan itu intinya … elo ini! Lo kasih bunga, boneka, atau apaan kek.”


“Hey … Mawar itu orang yang dewasa. Dia enggak butuh lagi boneka dan bunga, terlebih lagi itu dari gue. Sebenarnya gue mau ngasih dia paket liburan ke Bali. Tapi, dia kan orang yang sibuk sekarang. Jadi, gue kasih cek aja dan dia bisa liburan kapan dia mau.”


“Sekarang gue paham … kenapa ada orang yang setia di sekitar lo.”


Tanganku menepuk pinggang Abimana. “Lo bilang orang di sekitar gue cuma pengen duit gue?”


“Yaa begitu ….” Abimana mengangguk.


“Lo belum pernah kena badai laut kayanya ….” Aku menarik lengannya. “Ayo kita ke sana. Makin panas gue kalau di sini mulu.”


Mawar sedang asyik berdiri di panggung kecil bersama David. Kakak dari Mawar baru saja pergi untuk menyambut teman-temannya. Sangar mirip mereka berdua, sipitnya sama, putihnya pun sama, bagaikan pinang dibelah dua. Panggung itu pun dikelilingi oleh teman-teman sosialita dari Fasha. Ada pula dua orang rekan David, yaitu Luna dan Alan si pengusah muda berbakat itu.


Kedatanganku dilempar oleh senyum Mawar yang melebar. Ia melambai kecil padaku diikuti oleh pergerakan kecil dari mata David. Bukan wajahku yang pertama kali David tatap, melainkan gandenganku pada Abimana. Aku melebarkan tangan, lalu disambut oleh peluk wanita anggun bergaun merah. Aku tahu seberapa erat pelukan itu karena sudah bertahun-tahun ia tidak berjumpa seintens ini.


“Wow … lo bawa siapa?” Mawar terkejut melihat Abimana. Ia sampai mendongak ke atas karena Abimana yang tinggi darinya.


Bayangkan saja, aku hampir sama tinggi dengan David. Sementara Mawar jauh lebih tinggi dari pada David. Kini, ia harus menaikkan kepala memandang Abimana. Selama ini aku memiliki mantan seorang kurcaci, aku rasa.


“Oh … hmmm gue Abimana.” Ia menyalami Mawar, lalu menoleh ke David. “Lo David, kan? Gue Abimana ….”


“Nah … Abimana ini⸺”


Abimana memotong kalimatku. “Jangan paham dulu … ya  … dia temen kencan gue.”


“Temen kencan? Lo anak mana sih? Istilah mana itu? Iya … iya gue paham. Kalian deket, kan? Enggak gue perpanjang lagi kok pertanyaannya.”


“Yaa … bisa dibilang begitu.” Abimana mengangguk kecil.


Aku hanya menyenggol kaki Abimana. Ternyata ia tidak cukup berani menjadi orang gila malam ini. Padahal, sedikit saja ia menyebut dirinya sebagai pacarku, sudah tercipta satu propaganda besar yang mungkin saja bercabang ke rencana-rencana lainnya. Tidak apa-apa, itu sudah sudah cukup bagiku. Namun, itu tidak akan pernah cukup bagi David untuk berekspresi. Ia tetap bermata teduh dengan wajah datar sebagaimana kebiasaannya.


“Jangan kelamaan …. Nanti keburu diambil orang.”


Kalimat David itu membuat kami bertiga terdiam. Ia seperti gerbong kereta api yang tiba-tiba saja melintas di tengah keramaian. Nadanya sama sekali tidak menyesuaikan suasana yang terjadi.


“Oh …tergantung Reira.” Abimana menoleh padaku.


“Ih elo … gue ini jual mahal loh!” balasku.


“Kalian enggak sibuk kan besok? Plis bertahan di sini kalau udah selesai acaranya. Gue mau ngumpul-ngumpul aja sama kalian,” ucap Mawar sembari menoleh ke David. “Bener kan David?”


“Iya … gue ngundang Candra. Nanti dia datang. Ada Zainab juga. Ya biasalah PNS, pasti sibuk, katanya nyampe ke sini kalau acaranya ulang tahunnya udah habis,” balas David.


“Oh ceritnya reunion gitu … gue sih bisa. Tapi enggak tahu kalau Abimana …..”


“Denger? Oke … gue bertahan sampe subuh di sini.” Aku memberi tos kepada Mawar. “Selamat ulang tahun ya. Semoga makin berkah dengan bertambahnya umur. Gue udah ngasih hadiah ke kotak amplop. Amplop bukan sembarang amplop.”


“Makasih banyak … lumayan buat cicilan I-phone.”


“Rumah segede gedung, I-phone masih nyicil.” Aku melambaikan tangan. “Gue keliling dulu sama Abimana.”


“Enjoy the party, Reira. Kalau mau masuk ke rumah, masuk aja. Rumah kosong kok.”


“Thanks ….”


Aku menatap keramaian para undangan di tengah area ulang tahun. Setahuku, area besar ini merupakan sepetak tanah berumput yang cukup luas. Bagian sisi kirinya masih berdiri tiga buah gazebo besar yang dulu sering jadi tempat tongkrongan kami. Biasanya, kelinci-kelinci Mawar akan bermain di kolong gazebo. Sering kali area rumput itu dijadikan Mawar sembagai tempat mengobservasi benda-benda langit dengan teleskop mahalnya. Sementara aku duduk bersama David sembari memerhatikan betapa freak-nya wanita itu dahulu.


Terlalu banyak perubah dari Mawar. Aku menemukannya sebagai anak perempuan dari pemilik warung kopi cina sederhana yang sedang marah-marah karena adiknya telah menghlang pada saat itu. Besar sekali kacamata yang ia kenakan dahulu, bahkan penampilannya sama saja seperti gadis Tionghoa pesisir yang sedang menjaga toko orangtuanya.


Namun, sekarang Mawar bukan seperti pertama kali aku kenali. Ia luar biasa dengan segala karismanya. Sungguh aku akui, Mawar itu wanita yang hampir memiliki segalanya. Ia cantik, kaya, dan pintar. Bukan lagi Mawar yang pelit untuk tersenyum, kini bibirnya berbinar berwarna merah ketika melebar, berpadu satu warna selaras dengan gaunnya.


Abimana aku bawa duduk di tepian, tepat di bawah pohon pisang hias berbentuk kipas ini. Segelas piala berisikan wine putih segar aku tenggak di samping Abimana yang tidak suka alkohol. Sementara pria itu sibuk menyegarkan tenggorokannya dengan sirup dingin. Aku pinta ia untuk mencampurnya dengan alkohol, tetapi Abimana menolak. Padahal, aku suka jika mencampur sirup dengan alkohol. Rasanya lebih memikat.


“You`re not gay\, you`re bisex\,” ucapku pada Abimana.


“Apa perlu kita bicara tentang orientasi sekarang ini?” tanya balik Abimana.


“Gue tahu cara bagaimana cowok mandang wanita dengan sebuah ketertarikan dan gue tahu bagaimana sikap seorang pria yang menyentuh tangan wanita.”


“Lo sok tahu.”


“Lo sekarang sedang bicara dengan Reira, bukan Layla. Oke?”


“Oke … gue seorang bisex, tapi … ini bukan berarti apa-apa. Gue udah punya pacar.” balas Abimana.


“It`s okkay … gue menghargai pendirian lo. Tapi, kenapa lo bohong ke gue.”


Abimana menarik napas. “Komitmen … Isaac enggak suka pacaran dengan seorang `bi`. Gue cinta sama dia dan gue enggak mau Isaac kecewa.”


“Kisah cinta yang rumit untuk orang hetero seperti gue.” Aku merangkul Abimana. “Lo pria yang baik. Pria baik akan mendapatkan pria yang baik pula. Percayalah … Tuhan itu udah ngatur semuanya.”


Abimana tertawa mendengar itu.


“Hahaha … lo ini ada-ada aja.”


“Ada ada aja bagaimana? Kan kalau di istilah gue, pria baik akan mendapatkan wanita baik. Nah, kalau di elo ya begitu,” balasku.


“Gue dosa ga ya suka sama cowok?” tanya Abimana.


“Kalau gue jawab, berarti gue Tuhan. Yang penting sekarang itu ….” Aku menjatuhkan kepalaku ke pundaknya. “Elo ngizinin gue begini karena kepala gue udah mulai berat. Enggak usah canggung, Borneo yang suka cewek aja sering gue beginiin.”


“Makasih udah percaya sama gue, Reira ….”


“Percayalah dengan diri lo sendiri, Abimana.”


Aku menutup mata. Alunan dari live musik berayun merdu di telingaku. Hanya satu yang aku pikirkan, aku hanya kesepian. Aku membutuhkan satu orang yang benar-benar mencintaiku, sebagaimana yang pernah terjadi seperti dahulu.


***