
EPISODE 122 (S2)
Hanya ada satu cara untuk menghadapi badai yang aku dapati dari Kakek Syarif sewaktu kami berlayar kembali menuju Ibu Kota. Pertama ialah melawan badai tersebut untuk terus mencapai tujuan, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagaimana kita tahu kapal tidak mungkin meloncat ke sebelah sana yang tidak terjadi badai. Kedua ialah cara paling terakhir, yaitu mati dihantam dinginnya ombak belasan meter.
Aku berpikir berulang kali sewaktu mencerna kalimat tersebut. Barulah aku dapat jawabanya tatkala isapan tembakau yang kedua kali tatkala itu. Kakek Syarif bermaksud mengatakan tidak ada cara lain untuk melewati badai, kecuali menerjangnya dengan gagah berani. Mati adalah konsekuensi dari menghantam badai tersebut dan mati adalah cara kedua untuk lolos darinya. Dua cara ini hanya bertujuan satu, yaitu ketenangah hati. Tidak peduli seberapa sakit ketika kematian yang menanti, setelah itu semuanya akan putih dan nyaman, terbebas dari abu-abu langit dan petir yang menggulung ombak.
Di kamar aku terduduk di sudut kamar sembari menghisap tembakau. Biasanya aku selalu merokok di balkon kamar, tetapi entah kenapa aku lebih nyaman di sini. Hangat tenggorokanku dengan secangkir kopi yang aku letak di atas ranjang. Nyaman hatiku dalam redup cahaya lampu yang menenangkan hati. Aku tidak peduli bau kamar yang penuh asap rokok, hal terpenting bagiku ialah ketentraman dari balik mataku yang menatap kosong detik jam dinding. Akan aku buka pintu dan jendela semasa tidur agar sewaktu pagi kesegaran udara menyeruak masuk menggantikan asap.
Bergerak atau mati, itulah yang aku teriakkan di dalam benakku saat ini. Pasi akan ada celah untuk memperbaiki ketidaksinkronan kehidupan. Tidak ada sistem yang sempurna, termasuk kejadian buruk sekali pun. Masih ada cara untuk meretas sistem yang dipikirkan secara matang-matang. Ketika seluruh usaha telah dilakukan, hanya akan ada satu yang berbicara, yaitu takdir.
Apakah takdir itu ada?
Entahlah, mungkin saja imanku terlalu lemah bagi kalian yang sembahyang tiap saat. Aku mempercayai adanya Tuhan, tetapi aku tidak mempercayai adanya takdir. Takdir hanya membuat seseorang berhenti untuk berusaha. Ketika seseorang tidak mencapai penalarannya terhadap sesuatu―bisa jadi karena tingkat intelegensi yang berbeda-beda―maka hal yang paling dekat untuk dihubungkan ialah hal abstrak, termasuk takdir itu sendiri. Banyak yang berkata bahwasa istrinya adalah takdir yang telah digariskan. Ia sudah lupa istrinya tersebut bertemu di salah satu pegelaran seni kota, mana tahu. Ia tak akan menikahi istrinya apabila dirinya kecelakaan sewaktu di perjalanan, tak akan menjumpai senyum wanita tersebut di hari itu, berganti dengan wanita lain yang mungkin saja bertemu di rumah sakit ketika menjenguk.
Hanya perbedaan perspektif ... setiap orang berhak untuk memiliki perspektifnya sendiri.
Pagi aku bangun di pukul sepuluh pagi. Kantuk tidur jam empat subuh masih tersisa di mataku. Ngiang suara denting besi bengkel Dika menggema dari luar. Aku segera bangkit untuk membersihkan muka dengan muja kacau dan rambut yang berantakan.
Aku buka pintu belakang bengkel.
“David!” Dika berdiri tatkala aku tiba di bengkel. Ia mengejarku dengan dekat. Terkejut diriku tatkala dirinya memeluk diriku dengan erat. “Gue diterima, *****!”
“Diterima apa?” Aku keheranan.
“Bentar lagi lo dapet kakak baru!” serunya dengan semangata.
Kebingungan para pengunjung bengkel melihat tingkah Dika yang tak biasa. Aku tak tahu berbuat apa, kecuali secepatnya melepaskan pelukan dari Dika. Jijik sekali rasanya dipeluk dengan manja seperti ini, terutama aku tahu bahwasanya tidak ada watak dari seorang Dika seperti ini. Namun, kalimat terakhirnya membuka mataku untuk melihatnya lagi. Kebahagiaan ini merasuki diriku yang baru saja terbangun dari tidur. Hadiah pagi hari ia persembahkan dari derai bahagia yang sedang berbunga-bunga pada diri Dika. Ia berhasil mendapatkan hati orangtua wanita idamannya tersebut.
“Maksud lo? Lo beneran disetujui sama orangtuanya?” tanyaku penasaran. Kini kami sudah lepas berpelukan.
“Iya ... gue diterima.” Ia menurup wajahnya dengan baju bengkel penuh. “Gue seneng banget, sumpah! Gue punya bini bentar lagi!”
“Ini bakalan bikin Kakek Syarif senang banget!” Aku mengepalkan tangan dengan semangat.
“Kakek Syarif senang banget dengeri berita dari gue. Dia siap datang buat lamaran secara resminya nanti. Gue enggak habis pikir kenapa bisa Pak Ucok terima gue yang begini!”
“Enggak habis pikir? Gue malahan ngira lo cuma bisa ngayal dapetin dia yang cantiknya pake banget. Malah mau sama lo yang bau oli!” Aku memegang kedua bahunya.
“Selamat ....” Aku memelankan suaraku.
“Opini yang bagus, sekarang kembali bekerja!” Ia menepuk bokongku.
Bahagia sementara berakhir dengan keringat di hadapan ban bocor yang harus aku tambal. Tugasku memang ini selain menjaga kasir. Setidaknya aku masih paham dengan masalah motor, terutama ban yang bocor. Sebocor-bocornya ban, aku masih tak bisa menambal mulut yang berkoar atas nama idealisme pribadi dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Susah sekali menambal orang yang seperti itu, seakan tidak ada celah kesalahan dalam setiap omongan kalian. Tidak ada orang yang bulat kebenarnya, pasti setengah benar atau setengah salah. Namun, egoisme yang membawa seseorang menjadi seperti itu.
Reira telah mendengar berita ini. Ia senang mendengar jika Dika tidak akan jomblo lagi. Ia juga sudah bosan mendengar pertanyaan Dika mengenai kapan tibanya Kakek Syarif waktu itu, hingga ia kesal ditelpon tatkala sedang mengerjakan skripsi.
Kami sama-sama di cafe di malam hari. Ada Reira yang membantu kami berdua menyelesaikan pesanan pelanggan. Sukarela wanita itu meluangkan waktu untuk membantu kami yang sangat sibuk. Tidak kunjung pula datang orang yang melamar pekerjaan ke sini, padahal aku menunggu kandidat yang akan dipekerjakan. Setidaknya, aku butuh satu orang pegawai tambahan. Bersyukur apabila aku mendapatkan dua orang, satu untuk memasak dan satu lagi menjadi waiter serta penjaga kasir.
“Kapan nih lamarannya?” tanya Mawar. Ia sedang memutar cattle di atas corong V60.
“Tiga hari ke depan. Enggak ada lamaran pakai acara besar, hanya acara kekeluargaan. Kami beruntung dapat calon keluarga baru yang enggak materialistis. Yang penting adalah lamaran itu sendiri.”
Reira menepuk diriku. “Besok lo harus kaya gitu juga.”
“Wah, udah ada rencana lamaran selanjutnya kayanya.” Mawar memancing.
Hati kecilku seketika menciut mendengar perkataan itu. Titik terendah diriku mencuat dalam ingata. Namun, aku belum siap untuk berkata jujur.
“Iya, gue akan kaya gitu nanti.” Aku menyentuh rambut Reira.
Ia tersenyum senang tatkala aku melakukan itu.
Malam datang membawa pelanggan yang semakin banyak. Tibalah satu orang pria yang memandang padaku langsung.
“Bang, beneran ada lowongan kerja?” tanya pria tersebut.
Aku dan Reira langsung memandang. Ia mendorong diriku dan menyalami pria tersebut.
“Anda langusng diterima!” ucap Reira dengan semangat seakan dirinyalah bos di cafe ini.
Aku pun tak habis pikir dengan tingkahnya itu. Tawa kecilku tertuju padanya.
***