Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 55 (S2)



EPISODE 55 (S2)


“Lo mau ikut?” tanya Reira sebelum aku pulang.


Gila saja ... tentu saja aku menolak untuk ikut ke sana. Perjalanan ke Singapura bukanlah perjalanan seperti halnya menuju Pulau Belitung, walaupun ia menawarkan tiket terbang secara cuma-cuma. Selain itu, perjalanan itu bukan juga untuk berlibur. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Aku menghormati hal tersebut. Kak Reina sudah memesan dengan cepat tiket ke sana karena keadaan yang darurat. Tentu saja aku tetap tidak ingin ikut walaupun mereka berdua memaksaku untuk ikut bersama mereka.


Hal terakhir yang aku tatap dari wajah Reira ialah ekspresi khawatir yang begitu sangat terpendam melalui garis kecil raut mukanya itu. Ia berusaha untuk menarik senyum di teras rumah ketika menungguku untuk pergi, namun itu tak sebegitu tulus bagaimana ia yang bahagia ketika di lokasi pesta. Seakan, cantik rupa wajahnya yang anggun dibaluti pakaian Melayu itu tidak berarti lagi dalam satu titik. Semuanya sirna berkat satu perkataan bahwasanya keadaan mamanya tidak sedang baik-baik saja, sehingga terpaksa dirujuk ke rumah sakit luar negeri.


Keesokan harinya, aku bersama Mawar pergi melepas Reira dan Kak Reina di bandara. Candra meminta maaf karena harus menjaga pet shop sendirian, sedangkan Bang Ali tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai penjaga konter handphone.


Aku memeluknya dengan erat. “Hati-hati di sana ... perbanyak berdoa.”


Reira memegang kepalaku dengan kedua tangannya. Rasa iba bercampur takut ia tunjukkan ketika sorot mata kami menyatu di dalam satu titik. “Jangan khawatirkan gue ... khawatikan saja diri lo. Jangan lupa makan, jangan lambat makan, cepat tidur, jaga kesehatan.”


“Seharusnya gue yang lebih khawatir dari lo.”


“Inilah jarak terjauh yang pernah terjadi sama kita.” Ia tersenyum kemudian. “Tapi tenanglah ... selagi gue ada di bumi, selagi laut masih berombak, di sana gue akan tetap ada.”


“Jarak itu sebenarnya tidak ada .... hanya rindu yang membuat jarak. Lo bakalan sampai kapan di sana?”


Ia menggeleng. “Entahlah ... sampai waktunya tiba mungkin. Rasa gue, gue bakalan lama menjaga mama di sana. Papa juga udah mesan apartemen buat kami tinggal. Mama setelah operasi jantung, dia pasti butuh masa penyembuhan.”


“Selalu berkabar, ya ... jangan pernah lupa.”


“Iya, gue ingat itu.” Reira kembali memelukku.


“Oh iya, sejauh apa pun gue pergi kali ini, jangan pernah mencari gue seperti dulu. Akan ada masanya gue pergi jauh, dan lo harus bertanggung jawab mencari gue.”


Kalimatnya membingungkan diriku.


“Maksudnya apa itu?”


“Kita selalu bergerak ... tidak ada yang bisa menebak. Itu saja ....”


“Lo bakalan ngilang suatu saat nanti?”


Ia mengangguk. “Benar ... tapi, gue tidak menjamin itu. Suatu hari lo bakalan menghilang, di sana gue akan mencari lo.”


Aku memicingkan mata. “Kalimat lo yang satu ini bikin bingung gue. Lo lebih rumit dari yang gue kira.”


“Hahah ... gue ini memang sulit ditebak, kan?” Ia kembali memegang gagang koper. “Jaga, Mawar baik-baik. Gue titipin dia ke elo dari Bang Ali yang genit.”


Reira memeluk Mawar dengan erat.


“Hati-hati, kami di sini selalu berdoa buat kesehatan mama lo,” ucap Mawar.


Mata Reira memandangi kami berdua satu per satu. “Baiklah ... kami pergi.”


Hanya sisa wajahnya cemerlang itu yang bisa aku simpan untuk memenuhi hasrat rindu. Mereka berdua pergi untuk urusan admisitrasi selanjutnya. Kami pun perlahan beranjak pergi kembali pulang.


Ya benar ... hanya rindu yang bisa mendefenisikan arti dari perasaanku ini. Rindu tidak menghitung jarak karena rindu tidak pernah memikirkan jarak. Terkadang, jika kau hanya berpisah satu blok dari rumah pasangan, tetap saja ada benih-benih rindu yang terasa ketika malam hari menanti. Sebegitu kuat kekuatan rindu yang tak menghitung waktu pula. Terkadang, tidak bertemu sehari saja sudah merasakan rindu, apalagi berhari-hari dan berbulan-bulan. Rindu hanya dibuat oleh perasaan, tanpa waktu dan jarak tujuan. Semakin kuat perasaan, semakin jauh pula kita terbelenggu oleh rasa rindu.


Hari berganti hari-hari, kami melakukan aktivitas seperti biasa. Tanpa kehadiran Reira yang selalu mencarikan suasana, tentu saja tidak semenarik yang kemarin-kemarin.


Biasanya, ia selalu ada di rumah dan berbincang dengan Dika. Ia yang sok tahu tentang mesin pun menghantam diskusi permesinan dengan Dika yang notabene anak bengkel. Walaupun begitu, gaya bicaranya yang seakan yakin membuat Dika semakin semangat menceritakan bagaimana teknik-teknik membuka mesin. Belum lagi perdebatan tanpa ujung bersama Candra yang acap sekali ia lakukan. Debat kusir itu pun semakin terasa lucu ketika Candra mulai menyerah dan tidak ingin melanjutkan percakapan.


Kini, kehadirannya begitu ditunggu-tunggu, Dika berkali-kali bertanya kapan Reira akan pulang dan membawanya seporsi sate Padang depan komplek. Candra yang sering kesal dengan wanita itu pun turut merasakan hal yang sama. Tak ada lagi yang menganggunya menjaga pet shop untuk membawa anjing jalan-jalan, walaupun kedua orangtua Candra mengizinkan wanita itu untuk membawanya keluar. Apalagi aku, aku sangat rindu dengan sorot matanya yang bersemangat itu.


Memang, Reira selalu mengabari aktivitasnya di sana. Aku senang ketika ia mengabari bahwasanya operasi jantung mamanya itu berhasil, walaupun keadaannya masih jauh dari kata pulih. Ia selalu mengirim foto aktivitasnya di sana, seperti mengunjungi tempat rekreasi hiburan yang bertebaran di setiap sudut Kota Singapura. Aku tahu setiap sore ia selalu berkeringat untuk sekadar jogging di sekitaran lokasi apartement. Terkadang ia melakukan sambungan video call bersamaku dan aku pun tertawa ketika ia berlogat Betawi kepada penduduk Singapura yang tidak mereka mengerti. Ada-ada saja anak itu.


Aku mulai merasa rindu mulai memenjarakan diriku berhari-hari. Dalam setiap aktivitas yang aku lakukan, selalu didekati oleh layar handphone yang aku lihat berkali-kali, walaupun layar itu sama sekali tidak hidup.


Aku berharap adanya satu kabar yang melekat pada pemberitahuan bahwasanya Reira sedang memberitahukan hal yang ia kerjakan. Hanya itu yang aku senangi semenjak empat minggu ini. Bahkan, Dika sampai heran melihatku yang hanya menetap duduk sembari menatap handphone.


Siang ini aku duduk di balkon untuk melepaskan rasa yang memenjarakan itu. Dengan secangkir kopi dan sebatang tembakau yang masih terselipkan di bibirku, aku tuang semua rasa dalam bentuk rangkaian kata. Rentetan kata itu pun berbicara, menyahutku untuk kembali menguntainya ke kata-kata berikutnya. Tulisanku sudah selesai setengah.


Berbahagialah diriku sebagai penulis pemula yang berhasil menyelesaikan setengah dari plot cerita.


Tanganku berhenti mengetik ketika ketukan dari pintu kamar terdengar. Aku segera membukanya, terlihat Dika dengan pakaian bengkel yang penuh dengan oli.


“Lo punya temen cewek Cina?” tanyaku.


“Punya, satu orang.”


“Ada cewek sipit yang sedang menunggu di teras. Cantik banget ... temen-temen lo kok cantik semua?’


“Apaan, sih? Itu Mawar, kan?” tanyaku.


Ia mengangkat kedua bahunya. “Mana tahu gue namanya. By the way, selingkuhan lo ya?”


“Tang ada di mana ya? Kepala lo butuh gue benerin.”


Ia tersenyum. “Hehehe ... santai. Tapi, enggak apa sih kalau lo selingkuh, cowok itu harus pasang banyak, jadi bisa pilih salah satu.”


“Pantas aja enggak ada cewek yang mau sama lo karena pemikiran ini!” Ia mendahuluinya untuk melihat siapa gerangan yang sudah berkunjung.


Pintu rumah aku buka. Terlihat seorang wanita berambut tergerai tengah menunggu di sana. Ia bawakan makanan pula di dalam kotak plastik, ia letakkan di atas meja teras.


“Wah, ternyata lo Mawar,” ucapku sembari menutup pintu.


Ia menoleh padaku. “Sudah lama tidak berjumpa, semenjak Reira pergi.”


Aku duduk di kursi sebelahnya. “Wah ... ada bakpao nih.”


“Aku baru buat bakpao tadi pagi, buat lo sama Bang Dika.” Ia menyerahkan kotak makanan tersebut.


Tanganku menyambutnya dengan senang hati.


“Jadi, ada apa gerangan sudah berkunjung?” tanyaku.


“Anak-anak di gedung itu nanyain lo ke mana, kok enggak pernah datang lagi. Jadi, gue datang ngejemput lo buat ke sana.”


Astaga, ucapku di dalam hati. Ternyata aku baru ingat bahwasnya aku ada rencana untuk datang ke sana, namun tak kunjung di realisasikan.


“Jahatnya gue ....” Aku menepuk dahiku. “Ayo, kita ke sana. Oh, iya ... lo jadi buka kelas tata rias?”


Ia mengangguk. “Semenjak dua minggu yang lalu. Mereka senang sekali.”


“Syukurlah ... ternyata mereka bisa belajar make up juga,” balasku.


“Dokter Alfian juga sering ke sana. Dia sering bawa nasi bungkus yang banyak banget buat makan mereka.”


Aku menaikkan alis. “Ya, hal yang sama dengan Reira lakukan. Mereka sangat senang sekali kalau Reira datang karena mereka selalu kenyang di sana.”


“Itulah alasan gue buat bakpao tadi. Gue buatnya banyak banget. Ada tuh di mobil.” Ia menunjuk mobil putih yang sedang terparkir di tepi jalan.


“Bentar ya ... gue ganti baju dulu.”


Aku segera mengganti baju untuk berkunjung ke sana. Barulah kami berangkat dengan Mawar yang menyetir sendiri. Di bangku belakang, tersusun wadah plastik lebar tiga buah bertumpuk yang berisikan bakpao-bakpao. Aku rasa, sebanyak itu sudah membuat mereka kenyang sekali.


Kami naiki tangga menuju lantai dua gedung. Tatkala tangga yang pertama, aku sudah mendenga riangnya suara mereka sedang bermain satu sama lain. Riang suara itu bertambah jelas ketika aku sampai di lantai kedua, wajah-wajah mungil itu melihat kami dengan bahagia. Raut-raut wajah yang menanti kehadiran sosok terasa jelas sekali dari mereka. Derap langkah mereka menuju kami dengan berlari, lalu memeluk aku dan Mawar. Tiada di sangka, mereka pun turut memelukku dengan erat. Aku belai rambut mereka satu per satu. Air mata haruku seakan ingin menetes, betapa dihargai dan dinantikan aku di sini.


Inilah hal sederahan lainnya yang membuat senyum Reira selalu tercurahkan. Gigi-gigi ompong dari anak-anak kecil itu sangatlah lucu, Reira terkadang mengajari mereka untuk menyikat gigi dengan benar. Dari suara kecil yang nyaring itu pula Reira bisa menentukan tujuan hidup untuk terus membahagiakan orang lain. Satu titik di luasnya dunia ini, terdapat dinding-dinding yang menjadi saksi bahwasanya kebahagiaan itu tak selalu berasal dari yang besar. Hanya sesederhana itu bisa membuatnya terus tersenyum.


Mereka hormat kepadaku dengan sebelah tangan yang tertempet di dahi, persis seperti yang mereka lakukan kepada Sang Kapten.


“Asisten kapten kapal telah datang!”


Satu di antara mereka tiba membawakanku sebuah topi kertas sebagaimana yang pernah diberikan oleh Reira. Benda kecil yang sederhana ini sangat sakral bagi mereka sebagai kehormatan tertinggi yang harus dibawa ketika berkunjung ke sini. Aku pun memakainya dan melanjutkan langkah ke depan diiringi oleh derap langkah mereka. Anak-anak lucu ini sudah pasti tidak sabar untuk menikmati bakpao buatan koki muda terbaik di Manggar.


Entah dari mana Reira mendapatkan ide untuk menghias ruangan ini sebegitu artistikya. Lukisan ombak laut memenuhi sekeliling dinding, tidak lupa pula lukisan pepohonan palem yang turut menambahkan suasana tepi pantai. Terdapat sebuah panggung kayu kecil dengan stir kapal yang diletakkan di tengah-tengahnya, persis seperti ruang kemudi kapal. Tong-tong bakaran yang dulu aku lihat berkarat, kini pun dilukis dengan indah. Setiap sudut yang ada pun terdapat bunga-bunga berkelopak ranum, terdapat anak-anak yang sedang merangkai kelopak tersebut menjadi sebuah kalung sederhana. Banyak perubahan yang terjadi di dalam ruangan ini, termasuk wahana permainan kecil seluncuran yang aku lihat. Mereka pun saling berebutan untuk menaiki seluncuran tersebut.


Baru saja aku membuka wadah lebar bakpao tersebut, alangkah terkejutnya aku ketika belasan anak itu membentuk sebuah formasi mengantre. Walaupun berhasil membuat formasi mengantre tersebut, mereka tetap berebutan untuk mengambil posisi paling depan. Ada satu hal yang diajari oleh Reira kepada mereka, yaitu budaya mengantre yang santun. Aku tidak melihat perilaku anak seumuran mereka yang suka berebutan. Aku pun tersenyum kagum melihat itu.


Terdapat beberapa remaja yang ikut bersama kami sewaktu pergi ke Manggar. Sebagai orang yang lebih dewasa, mereka ikut menertibkan anak-anak lucu itu untuk tetap tenang. Namanya juga anak-anak, tentu saja selalu heboh. Barulah aku mereka bergantian mengambil bakpao tersebut, lalu berlari kegirangan karena telah mendapatkan makanan.


“Inilah yang gue kagumi dari Reira. Dia selalu penuh makna, termasuk mengajari anak-anak ini yang sebagian dari mereka enggak menikmati bangku sekolah,” ucap Mawar ketika menoleh padaku.


***