
Kakek Syarif pernah menjalankan bisnisnya menggunakan Kapal Leon sehingga ia turut menjadi daftar kapten dalam sejarah kapalku sekarang. Salah satu awak kapal yang ia punya ialah Pak Salman. Pak Salman muda memulai karirnya menjadi pelaut, hingga sekarang telah pensiun dan menetap di tanah kelahirannya, Kota Bengkulu. Razel bercerita jika Pak Salman tidak lagi melaut semenjak menikah, lalu memilih membuka usaha toko pancing. Cukup sukses aku rasa karena melihat rumahnya yang dua tingkat ini.
Hidangan laut menjadi jamuan makan siang yang dipersiapkan oleh istri Pak Salman, Ibu Rodiyah. Dari foto dinding, aku mendapati Pak Salman dikaruniai sepasang anak perempuan. Nisa merupakan anak sulung, dan satu anak laki-laki yang masih anak-anak. Tidak tampak anak bungsunya itu, mungkin saja sedang main di luar rumah.
“Bapak enggak lagi pergi melaut setelah istri melarang. Katanya, melaut itu bahaya. Jadi, Bapak berhenti demi keluarga heheh,” ucap Pak Salman setelah jamuan makan siang. Kami dihidangkan pula teh manis dan dua cangkir kopi untuk Razel dan Borneo. “Bagaimana kondisi Kapal Leon? Bapak takjub melihat kalian yang melaut cuma bertiga. Jarak dari Jakarta hingga ke sini bisa lebih dari tiga hari.”
“Iya Pak, memang bahaya. Tapi kami terus jaga biar tetap di dekat tepian. Kami juga ragu kalau harus di laut lepas. Mengenai Kapal Leon, kondisinya selalu Reira perhatikan. Razel paling mengerti dengan perkapalan, jadi Reira andalkan dia.”
“Badai tidak pernah memilih lawan, mau kalian anak muda atau yang tua, harus bersiap-siap. Beruntung cuaca bagus dua minggu ini,” balasnya, wajahnya menoleh kepada Borneo. “Kau siapanya Syarif?”
Aku mencolek pinggang Borneo karena sedari tadi ia mengintip ke dapur. Sudah pasti matanya melirik kepada Nisa.
“Oh aku, Pak? Aku dulu awak kapal Kakek Kumbang.”
Ia diam tidak percaya karena seorang anak muda telah memiliki pengalaman melaut bersama kakekku.
“Kau masih muda? Tapi udah jadi awak kapal. Memang aku juga seumuran kalian udah melaut. Kalau jaman sekarang, kurang relevan lagi anak muda seperti kalian jadi pelaut. Itu pekerja berat.” Ia ingin menoleh padaku lagi, tetapi entah kenapa ia kembali kepada Borneo. “Tunggu dulu, Pak Kumbang? Bagaimana bisa? Bukannya⸺”
Kalimatnya tersendat di akhir kalimat. Aku tahu jika ia pasti mendapatkan berita duka mengenai Kakek Kumbang bertahun-tahun yang lalu.
“Kakek Kumbang masih hidup. Itulah tujuan kami pergi meninggalkan Jakarta. Kami mencari Kakek Kumbang,” jawabku.
“Mustahil … Kapal mereka tenggelam waktu menuju Australia. Pak Syarif bilang ke Bapak.”
Aku menggeleng untuk menegaskannya. “Dia selamat Pak. Kakekku masih ada di suatu tempat. Sampai saat ini kami masih mencari tempat itu.”
Wajahnya tidak lagi semenarik tadi. Ia berubah heran dengan fakta perjalanan kami kali ini.
“Kalian punya bukti?”
“Kakek Kumbang masih mengirim surat ke aku. Satu bukti kuat adalah Borneo. Dia masih bersama Kakek Kumbang dua tahun yang lalu. Dia masih hidup Pak.”
Pak Salman menghela napas berat sesudah menyeruput kopi hitamnnya. “Jika itu tujuan kalian, bilang aja ke Bapak apa aja yang dibutuhkan. Walaupun Bapak enggak pernah ketemu dengan Pak Kumbang, tapi Kapal Leon punya sejarah sendiri bagi bapak. Di masa-masa sulit itu, Bapak bisa hidup karena melaut dengan Kapal Leon.”
“Kami hanya butuh satu, jaga Kapal Leon semasa kami pergi.” Aku merangkul Razel dan Borneo. “Reira juga akan ke Bali karena ada perlu sesuatu. Jadi, dua orang ini butuh tempat tinggal kira-kira seminggu lebih mungkin.”
“Enggak masalah, mereka bisa tinggal di rumah samping. Kontrakan itu punya bapak, tapi masih belum ada orang yang mau menyewa.”
Aku tersenyum. “Makasih banyak Pak. Jangan segan-segan suruh mereka bekerja. Mungkin toko pancing Bapak butuh karyawan heheh ….”
“Dengar kalian, tinggal di sini juga enggak gratis ya? Hehehe,” canda Pak Salman.
Aku tidak lagi cemas selama seminggu lebih meninggalkan dua orang itu. Ya terkadang aku jadi seorang ibu bagi orang dewasa seperti mereka. Jika tidak ada aku, mungkin mereka mengemis minta makan di jalanan sebagai gembel. Karen mereka tanggung jawabku salama perjalanan ini, jadi aku tidak ingin mereka terlantar.
Malam harinya, aku mengeluarkan stok baju rahasia yang ada di kapal. Sengaja tidak aku keluarkan karena baju-baju itu merupakan baju mahal dari toko fashion Kak Reina. Razel dan Borneo seperti anak-anak menerima permen tatkala aku lekatkan setelan pakaian keren kepada mereka. Mereka mulanya heran kenapa mendapatkan baju seperti ini, tetapi akhirnya mereka paham jika aku sedang mengajak mereka main ke mall. Aku juga senang memberikan mereka semacam self reward karena sudah setia bersamaku selama ini.
“Jadi kalian harus ganteng, jangan kaya gembel terus. Lihat gue, dekil-dekil begini tapi tetap kelihatan keren,” sindirku merapikan baju yang sudah mereka kenakan, serta menyemprotkan parfum agar tidak lagi bau kotoran burung.
Wajah Razel tentu saja kesal dengan kalimatku tadi. “Keren darimana, Kakak mandi sekali sehari.”
“Sembarangan! Itu karena lo bangun kesiangan jadi enggak pernah lihat gue mandi pagi.” Aku tersenyum melihat mereka berdua seperti anak muda perkotaan. “Kita boleh jelek, tapi minimal mandi dan gosok gigi.”
Kalimat terakhir itu aku tekankan kepada Borneo. Ia pernah disindir oleh Kakek Tarab karena kebiasaannya jarang mandi. Mungkin karena ia setiap hari bermain air laut, jadi merasa sudah bersih, padahal bukan.
“Makanya jangan jadi pelaut, coba kau jadi mahasiswa, sudah pasti ke mall tiap minggu. Begaya kaya orang keren, padahal tiap hari masih makan mie instan.” Aku merangkul mereka tatkala berkaca di cermen. Bangga sekali diriku sudah mendadani Razel dan Borneo.
“Kakak tahu emangnya rute kota ini?”
“Sebenarnya aku mau ngajak kalian makan di restoran Jepang. Kalian pernah makan sashimi? Atau ramen? Atau dorayaki doroaemon? Setelah itu kita nonton film dan minum kopi di starbuck.” Aku memandang Razel. “Tapi untuk itu kita butuh seseorang.”
“Jangan bilang⸺”
Kalimat Borneo aku hentikan.
“Ya, kita ajak Nisa. Sesekali bergaullah dengan cewek seumuran kalian. Jangan main sama aku terus yang udah di usia pertanyaan kapan nikah.”
Van merah muda bergerak menuju rumah Pak Salman. Tatkala berhenti, aku meminta Razel untuk keluar.
“Ajak Nisa sekarang. Masa gue, gue kurang kenal,” pintaku.
“Gue? Enggak ah! Segan gue,” balas Razel.
“Belajar sedikit ngajak jalan cewek, ini namanya simulasi. Nanti kalau lo ketemu cewek jadi enggak canggung lagi,” tegasku.
Razel menggeleng tegas sembari melipat tangannya di dada. “Gue enggak mau. Kakak aja.”
“Borne …,” kodeku kepada Borneo yang berada di bangku samping kemudiku.
Borneo mengehela napas sembari keluar van. Ia membuka pintu belakang Razel, lalu menyeretnya keluar. Tidak ia berikan kesempatan bagi Razel untuk kembali masuk. Dengan wajah cemas ia berjalan menuju rumah Pak Salman. Ia akan menghadapi dilema seorang pria untuk mengajak anak gadis keluar, yaitu orangtua lelakinya sendiri.
“Kau pernah ngajak cewek keluar sebelumnya?” tanyaku pada Borneo.
“Cewek yang datang padaku, bukan aku yang datang. Tinggal dipilih …..”
Aku memandang datar padanya. Ingatanku menuju ke tragedi penggerebekan Borneo di van bersama seorang wanita yang baru saja memakai baju untuk kabur. Ia masih saja berkilah jika hanya makan di dalam van. Mana ada makan bersama dengan baju yang kerimuk. Aneh-aneh saja.
Menunggu sekitar sepuluh menit bukanlah sesuatu yang lama. Razel keluar bersama Nisa dari ujung pintu. Pemuda itu menyempatkan diri menyalami Pak Salman.
“Jadi gentle Razel, jangan kalah dengan Bang Ali,” ucapku.
Tangan Razel membukakan pintu untuk Nisa yang sudah seperti ratu. Setelann fashion Nisa memang jelas seperti orang kota. Ia memiliki tubuh kecil keturunan dari bapaknya, tetapi menarik dengan wajah imut dari ibunya sendiri. Sebagai gadis yang tinggal di tepi pantai, kulitnya lebih mulus dan bening daripada diriku. Mungkin aku terlalu sering ikut turnamen marathon kampus dan memanjat tebing untuk bertarung dengan Bang Ali.
Aku senyum-senyum sendiri tatkala melihat Razel dan Nisa di bangku belakang. Mereka hanya diam menatap ke depan tanpa ingin berbicara, Hanya aku dan Borneo yang mengajak gadis itu bicara. Terkadang aku ragu jika ia keturunan Kakek Syarif yang mudanya punya banyak kekasih. Padahal bapaknya hanya bermodal surat dan puisi. Ya, terkadang aku mengakui kekuatan surat dan puisi. David melakukannya padaku.
David … aku mengingatnya lagi setelah beberapa hari terlupakan oleh cemasnya keadaaan laut. Terkadang aku memikirkan apa yang sedang ia lakukan bersama Mawar. Atau mungkin ia sedang sendirian di kamar sembari menghisap ganja.
“Reira!” Borneo menepuk tanganku setelah aku hampir saja menyenggol pengguna motor yang ada di depan, “Kau pandai mengemudi atau enggak?”
“Oh maap, tadi aku lihat hantu ….”
Hantu dari masa lalu ….
***