Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 124 (S2)



EPISODE 124 (S2)


Mataku melebar tatkala angin yang lewat menebarkan wangi tubuhnya tatkala Pak Bernardi mendekat. Ia tatap wajahku dengan tajam, mengintervensiku dengan segala pengaruh yang ia miliki. Senyumnya menyimpan suatu makna yang tersembunyi, bukan sebuah representasi bahagia, melainkan manifestasi dari keinginan untuk menghancurkan. Betapa menusuknya kalimat itu, lebih menusuk dari yang pernah ia ucapkan padaku. Aku terhenyuk di atas kursi sembari mengepal tangan agar amarahku tak meluap. Namun, sebisa mungkin aku menyembunyikan darinya.


Sangat kontradiksi antara sifat di satu keluarga ini. Reira dengan kerendahan hatinya harus melawan orangtua lelaki yang penuh dengan kesombongan. Mungkin saja Tuhan selalu adil dalam memberikan kehidupan, ada yang jahat di antara kebaikan. Aku sekarang paham bagaimana Reira yang membenci papanya sendiri. Aku mengerti betul kali ini tatkala seorang pria yang tak lagi muda sedang menunjukkan sifat aslinya. Rumah besar ini manifestasi dari hamparan lautan luas yang di dalamnya ada dua kapal besar yang saling berperang.


Jika aku tak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orangtuaku, sudah pasti kepalan tangan ini menempel pada wajahnya yang tersenyum merendahkan. Aku bukan Dika yang bisa kapan saja meledak karena hal ini, masih terdapat air di dalam hatiku untuk merubah tensi emosional. Marah betul di hatiku, mencoba untuk tidak meluap-luap. Bagaimana tidak, ini menyangkut harga diri sebuah keluarga. Memang aku sekarang rendah, tetapi bisa untuk direndahkan.


Aku bisa apa?


Aku hanya bisa mengais kata dalam lautan imajinasi. Rangka kalimatku menguntai untuk menghujati orang-orang sepertinya atau merangkul hati yang dipatahkan sebegitu sombongnya oleh mereka yang tak merasa. Aku hanya pemulung dan puisiku itu semua berisikan sampah. Sampah yang aku daur ulang sehingga memiliki ritme estetika untuk dirasa. Kata-kata itu aku yang mengaisnya dan mereka mendengarkan kalimat-kalimat sampah itu, membacanya hingga bisa merasuk ke hati.


Aku bisa apa?


Aku bisa menahan rintih hati yang menangis berteriak dalam mode depresif, tetapi tak sampai untuk aku isakkan di ujung bibir. Masa lalu memaksaku untuk bisa membangun dinding-dinding yang menahan hati untuk tak lagi jatuh, tetapi dirinya menghancurkan itu seketika.


“Aku tak bisa apa-apa, selain merangkai kata.”


“Kau kira kata-kata bisa membahagiakan seseorang?” tanya Pak Bernardo.


“Enggak bisa ... sama seperti kalian yang mengumbar kata-kata di awal pemilihan. Dan orang-orang bodoh seperti kami pun memilihnya. Anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara, katanya undang-undang. Kami anak yatim dan kalian masih berkata-kata?”


Jika tangan tak bisa memukul, maka hantamlah dengan kata-kata. Panas hatiku ketika sifat sombong Pak Bernardo tertuju padaku.


Pak Bernardo terdiam. Ia mengambil bungkus rokok pada kantung celana kai miliknya itu, lalu menyulutnya sebatang. “Kau lancang sekali.”


“Aku adalah mahasiswa, oposisi abadi pemerintah. Sudah kalian bacakah petisi dari kami tentang pembebasan lahan masyarakat untuk area terbuka? Mereka menjerit di sanan karena tak memiliki rumah dengan harga ganti murah.”


“Kau sebenarnya ingin mediasi politik atau berunding masa depanmu?” tanya Pak Bernardo.


“Mengapa Bapak enggak setuju sama aku?


Apa aku terlalu miskin untuk kalian?”


Tangan Pak Bernardo menghentak di atas meja. “Reira adalah anakku. Dia pantas untuk mendapatkan yang lebih baik.”


“Lebih baik itu maksudnya lebih kaya? Apa standar baik itu material?”


Aku menarik senyumku. Sungguh sangat tidak aku pahami bagaimana idealisme seperti ini. Pandangan materialisme memang sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah realitas, seperti bagaimana cara engkau berusaha di dunia ini. Semakin keras engkau berusaha, maka semakin banyak uang yang didapati. Pandangan objektif seperti itu berlaku untuk membuat kesimpulan. Namun, untuk defenisi bahagia tak sekadar menyangkut materi di dalam realitas, melainkan subjektifitas bermain di sana.


Pandangan realistis yang subjektif menentukan apakah kuantitas materi yang dimiliki bisa menemukan defenisi bahagia. Kita lihat saja bagaimana petani miskin yang bahagia di rumah kecil tepi sawah. Sudut pandang pemikiran yang lahir dari kolaborasi rasa menentukan seseorang berhak untuk bahagia atau tidak.


Namun, pembahasan ini tak mungkin aku jabarkan kepada Pak Bernardo. Aku tahu ia orang dengan jabatan tinggi, tetapi tak menjadi tanda ia memiliki wawasan yang tinggi untuk memahami ini. Kebanyak orang bodoh hanya melihat dari satu sudut pandang saja dan beliau menurutku terlihat bodoh di mataku, meskipun aku mengatakannya dengan sedikit bercambur benci.


“Reira bukan orang yang seperti itu, Pak. Dia memilihku enggak pernah ngelihat aku apakah dari kalangan seperti Bapak atau enggak,” balasku.


“Iya, dia itu terlalu ambisius menjadi seperti kakeknya sendiri. Aku tahu kau pasti pernah dengar cerita tentangnya.” Pak Bernardo menatapku dengan menaikkan kedua alis.


“Tetapi, aku tidak akan membiarkan anak sendiri menjadi seperti itu.”


“Aku enggak bakalan menyerah, Pak. Suatu saat bapak pasti nyadar kalau aku orang yang tepat.”


Beliau malah tersenyum. “Bagus kalau begitu. Aku suka kalau seseorang semakin patah hati dalam durasi yang lebih lama. Kau sedang berurusan dengan orang yang salah, Nak.”


Aku berdiri segera. “Terima kasih untuk kesempatannya. Aku sarankan lebih memerhatikan orang-orang seperti kami. Bahkan, ada banyak orang yang lebih parah dari kami. Kalian masih enak bisa makan esok hari, tapi ada di luar sana yang masih bingung besok makan apa.”


“Kau sebut saja nominalnya tentang syarat yang tadi dan kau enggak bakalan bingung besok makan apa.” Ia menghembuskan asap rokokya.


“Enggak, aku enggak mau makan dari kalian yang kami bayar cuma untuk tidur di gedung itu.”


“Dan kau sedang memacari anak yang aku besarkan dengan uang itu,” balasnya dengan santai.


Aku kembali menggeleng. Tak ingin aku kalah darinya. “Anak tak pernah memilih lahir dari keluarga mana, termasuk dari darah daging bapak sendiri.”


“Hahaha ... idealisme membuat orang menjadi lupa untuk bahagia, termasuk dirimu. Jangan terlalu jadi idealis.”


Aku putar balik seraya berterima kasih untuk berpamitan. Tidak ada kata lagi yang harus aku ucapakan saat ini. Sudahlah, ia memang menang dari segala lini saat ini. Namun, aku memenangkan satu inti dari cerita ini. Aku masih memiliki Reira untuk selalu aku genggam. Kapalnya akan selalu aku arungi bersama dirinya menuju tempat-tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Menghilang dari kejaran waktu yang mendesak raga untuk mengikuti ritme dunia dan tenggelam bersama di senyapnya kedamaian yang ia tunjukkan padaku.


Vespaku menggelegar kembali pulang. Dika dengan segala kehaluannya tengah menunggu aku di sana. Tidak sabar bagi pria itu menunggu jadwal lamarannya itu. Seluruh orang yang berperan untuk mendampinginya pun sudah diberitahu. Mengenai biaya sudah dikirimkan kepada calon mertua. Ia tinggal menyampaikan hajat untuk mempersunting wanita idaman secara resmi.


***