Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 54 (S3)



Wanita muda itu melipat tanganya pada dada. Ia berbaju tidur tipis, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang masih bagus. Sungguh Papa memelihara penampilan fisiknya dengan baik karena aku tidak melihat sedikit pun celah di wajahnya. Entah darimana ia mengenal wanita itu, yang jelas statusnya sekarang ia merupakan ibu tiriku. Namun, siapa yang ingin memanggilnya Ibu? Bahkan Reina saja mungkin saja meludah jika diminta memanggil begitu.


“Keluar sekarang,” ucapnya.


“Lo siapa?” tanyaku balik.


“Saya bilang, keluar sekarang!” tegasnya padaku.


Aku mendahului Borneo untuk menghadapi wanita itu. “Lo siapa? Jawab itu dulu.”


“Saya istrinya Pak Bernardo.”


“Bahkan istri sebelumnya enggak pernah mengusir gue.”


Seketika aku menoleh ke pintu kamar Papa. Seseorang keluar dari kamar tersebut. Sama halnya dengan wanita itu, Papa masih dengan baju tidur faforitnya yang tidak pernah berganti. Ia mungkin punya beberapa setelan dengan motif yang sama.


Ia termenung melihatku, sementara aku berganti melihat Papa dan wanita itu. Ingin rasanya aku mencabik wajah istri barunya, tetapi aku sadar jika bukan sedang di kandang sendiri.


“Aku enggak lagi masuk secara illegal. Aku bawa kunci.” Aku memperlihatkan kunci pintu belakang cadangan tersebut. “Reina minta aku buat ngambil ijazah SMA dia.”


“Reira? Kamu Reira?” Papa mendekat padaku. Wajahnya seakan tidak percaya jika aku sudah di sini, kembali ke rumah tempat aku dibesarkan. “Reira anakku!”


Aku dipeluknya dengan erat. Rambutku dibelai olehnya dengan lembut. Sudah berapa tahunkah lamanya aku tidak dimanja oleh seorang Papa? Sesuatu hal yang dari dulu sama sekali jarang aku dapati. Ia sibuk bekerja dan memilih membelai wanita. Sementara aku diam di sudut kamar menyaksikan mereka berbincang berdua. Pada akhirnya, semua itu tidak sedikit pun menyisakan rindu padaku. Enggan terbesit kasih sayang seorang Ayah padaku, kecuali jika aku butuh uang.


Rasanya durhaka sekali aku melepaskan pelukan tersebut.; Aku membalas melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Seorang Bernardo yang keras kepala, kini melunak di hadapan anak sendiri yang tidak kunjung datang bertahun-tahun. Jika aku mengira ia akan memenggalkanku atas gagal dirinya mencalonkan sebagai gubernur, maka sikap yang ia tunjukkan sudah menjawab semuanya. Ia menerimaku, sementara aku enggan untuk diterima olehnya. Sebatas formalitas dan tahu etika balas budi terhadap papa.


“Kamu dari mana selama ini?” Matanya berkaca-kaca melihatku. Jelas sekali guratan wajah selama lima tahun ini semakin bertambah. “Papa mencari kamu. Papa ngegunai seluruh polisi buat nyari kamu. Tapi, kamu tetap aja enggak ketemu, Reira.”


“Reira mencari apa yang harus Reira cari,” ucapku.


Ia menyentuh tanganku. Tanpa sengaja jemarinya merasakn cincin pemberian Kakek Kumbang. Matanya dengan antusias memerhatikan batu cincin tersebut, lalu membandingkannya dengan yang dipakai oleh Borneo.


“Kalian mencari Kakek Kumbang.”


Aku mengangguk. “Iya, aku nyari Kakek Kumbang. Orang yang dulu Papa benci dan hindari. Dia ada di suatu tempat di dunia ini dan Papa enggak bakal bisa minta maaf ke dia. Ada dosa-dosa yang Papa bawa.”


“Tinggallah di rumah ini lagi. Kamu mau apa? Mobil? Kapal? Apa pun Papa kasih asal kamu kembali lagi ke sini.” Ia menyentuh tanganku.


“Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Aku bisa hidup sendiri. Lagi pula, aku punya teman-teman di sekitarku.” Aku memandang ke wanita muda yang ada di samping. “Dia sepertinya enggak nyaman kalau aku di sini.”


Wanita itu hanya diam saja tanpa merespon. Kesal wajah mudanya hampir sama seperti Reina. Jelas umur mereka tidak terlalu jauh bedanya. Secara emosional mereka pasti sama, mungkin lebih kekanak-kanakan dariku.


“Reira … plis … kamu tinggallah di rumah ini. Papa udah tua, Reira.”


“Enak kan Pa di hari tua tanpa siapa-siapa?” tanyaku balik.


“Reira?” tanya beliau dengan tidak yakin.


Istri papaku masih mengikuti kami dari belakang. Aku tidak tahu maksudnya begitu, mungkin saja ia khawatir aku megambil sesuatu yang berharga di rumah ini, meskipun aku wajar-wajar saja mengambil salah satu televisi untuk diletakkan pada kamar Borneo. Ia menatapku heran tatkala aku berbelok ke dapur.


“Lo mau ke mana?” tanya dirinya. Sudah aku bilang\, bahkan dialek bicaranya saja seperti seumuran. Tidak akan pernah aku panggil dirinya dengan sebutan `Ibu`.


Aku cuek saja. Sesampainya di dapur, aku meminta Borneo untuk berbalik diri. Tanganku membuka tas yang ia sandang, lalu mengecek kulkas. Seperti sedang bajak laut yang sedang menjarah stok makanan kapal lain, aku mengambil apa saja yang lezat di dalam. Lalu, tanganku menarik pintu laci bawah kompor. Ternyata ada sekardus penuh mie instan. Aku pun meminta Borneo untuk mengangkat satu kardus tersebut.


“Rei, kita maling sih boleh. Tapi ga sekardus juga,” sindir Borneo.


“Yaelah … uang rakyat ini. Anak-anak gue lapar di asrama.”


Tangan Istri Papa menarik kembali kardus tersebut. Namun, ia berhenti melakukannya tatkala aku tepuk telungkup tangannya.


“LO?!” Ia kaget dengan aksiku.


“La lo la lo … noh kancing lo kebuka tuh. Borneo lihatin dari tadi. Lagian … ini kan punya papa gue. Lima tahun gue ga di rumah ini, apa salahnya gue ngambil satu kardus.”  Aku menepuk punggung Borneo untuk segera pergi. “Bye … terima kasih.”


Sungguh, aku kesal dengan istrinya yang kali ini. Dari jejeran wanita yang pernah ia bawa ke rumah, bahkan pernah pulang dalam keadaan mabuk, hanya dia yang termuda dan dialah yang paling tidak aku sukai. Sementara yang sebelumnya, ia tetap menyambutku meskipun dengan setengah hati. Mereka tidak peduli dengan apa yang aku lakukan karena mereka tahu jika aku sulit sekali dilarang.


Borneo tertawa-tawa selama berjalan ke pinggir pagar. Aku naik duluan untuk menyambut satu kardus mie instan tersebut. Kami benar-benar menjadi maling malam ini. Seluruh barang jarahan dibawa ke asrama. Pukul satu malam bukan menjadi alasan untuk mereka tidak makan. Bahkan dahulu, malam tidak pernah menjadi malam. Mereka harus berjalan sepanjang jalan menghindari satpol PP yang kadang datang.


Tidak semua anak asrama yang aku bangunkan, yang sudah besar saja. Aku meminta mereka untuk memasak sebagian mie untuk disantap malam ini. Sisanya, bisa dibagikan esok hari kepada yang lain. Sembari menunggu mie instan masak, kami bertiga bersantai di depan lobby asrama. Ia terlihat risih dengan Borneo yang merokok dan aku yang minum wine. Sebagai dokter, dirinya pasti menghindari racun.


“Lo darimana dapat benda-benda itu?”


“Gue maling dari rumah Papa. Reina minta gue ngambil sesuatu di kamarnya, sekalian aja gue maling makanan rumah itu. Kan lumayan ….”


Borneo menggeleng sembari menghembuskan asap rokok. “Aku baru kali ini maling dari rumah orang lain.”


“Hahaha … lo mau aja dibodoh-bodohi sama Reira.”


Aku menoleh kepada Alfian. “David dan Mawar … gue udah ketemu mereka. Secara terang-terangan bilang kalau mereka pacaran. Sebaiknya lo lupain Mawar. Bunga tak setangkai di dunia ini, masih ada melati, tulip, dan janda bolong sekali pun.”


Ia terdiam mendengarku. “Lo mungkin bisa nyuruh gue ini itu, tapi enggak dengan perasaan gue.”


“Ya … itu saran … bukan perintah. Mawar juga jelas-jelas bilang ke gue kalau dia enggak bakal ngelepas David,” balasku.


“Berarti lo juga enggak ada kesempatan lagi buat bersama David?” tanya Alfian balik.


“Ada kemungkinan, tapi kecil. Lawan gue seorang Psikolog muda, lulusan jerman, cantik, putih, dan tinggi. Sedangkan gue, kucel, suka panas-panasan, dan brengsek.” Aku merangkul Alfian, lalu Borneo sekaligus. “Jalani saja hidup kalian sekarang. Gue sedang enggak merencanakan sesuatu, mungkin sampai sesuatu hal yang enggak diduga terjadi.”


Kami menatap bulan bersama-sama. Di sana ada yang menangis, aku dengar suaranya, yaitu hati dan rindu.


***