
EPISODE 56 (S2)
Suasana ini selalu dirindukan oleh siapa saja yang pernah melihatnya. Terlalu menyentuh inti jiwa untuk terus memberi kasih. Senyum dari derap langkah yang berlari ke sana ke mari, mengejar satu sama lain, telah menjadi paduan harmoni bersama gelak tawa yang mereka tunjukkan. Belaian tanganku tak henti untuk mengusap rambut lembut mereka, setelah memberanikan diri untuk tampil ke depan membacakan sebait puisi Chairil Candra melalui handphone yang aku berikan. Sedangkan di sana, sedang seru-serunya Mawar mengajari mereka untuk merias teman di sampingnya, lalu bergantian agar sama-sama belajar.
Kreatif sekali wanita laut itu. Salah satu bagian dinding kini ditempeli oleh cermin-cermin yang dijadikan tempat belajar tata rias. Persis seperti di sebuah salon, cermin itu pun dilengkapi oleh bangku-bangku untuk mereka duduk dan berkaca. Gelak tawa perempuan ketika salah merias temannya menjadi sebuah hal yang menarik. Mawar begitu cemerlang memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.
Ya, begitulah keseruan yang sedang terjadi di sini. Aku tak henti mengucapkan syukur di dalam hati karena sudah melakukan hal yang baik hari ini. Ternyata, tidak perlu hal-hal yang besar untuk dijadikan kebaikan. Hal kecil yang seperti ini apabila dilakukan dengan tulus dan penuh rasa bahagia, itu saja sudah menjadi hal yang sangat besar. Tidak ada kata untuk mengeluh di dalam hidup, tepatnya seperti mereka-mereka ini yang terus tersenyum dan tertawa, walau terik panas akan mereka rasakan ketika kembali ke jalanan.
“Bagus ... kalian mempelajari satu hal hari ini. Ketika berpuisi, mimik wajah, gerak tangan, tinggi atau rendahnya suara kalian harus dirasakan dengan perasaaan.” Aku menyentuh dadaku. “Tepat di hati. Seperti yang Kakak lakukan tadi.”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Mimik itu apa, Kakak?”
“Kaya mimik susu,” sambung yang lainnya.
“Hahaha ....”
Kalimat itu pun menciptakan tawa di masing-masing bibir kami. Bahkan, Mawar yang berada di seberang sana ikut tertawa mendengarnya. Aku pun menghela napas sesaat, bisa-bisanya mereka mengasosiasikan mimik wajah dengan aktivitas para bayi yang haus. Maklum saja, mungkin saja kata itu sangat jarang mereka dengar sehingga tidak tahu tentang artinya.
“Hahaha ... ada-ada aja kalian ini. Hahahah ....” Aku mengusap air mataku yang keluar karena tidak tahan tertawa terus menerus. “Mimik itu seperti ini ... raut wajah kalian yang ditunjukkan dengan begitu ekspresif. Maksudnya, ketika bait puisi itu menyedihkan, adik-adik bisa menunjukkan bagaimana ekspresi sedih yang sebenarnya. Jadi ... bukan mimik susu, ya. Hahaha ....”
“Oh, begitu ya, Kak. Baru tahu apa itu mimik wajah itu apaan,” balasnya.
“Nah, siapa yang ingin maju lagi?” tanyaku sembari mengacungkan tangan.
“Aku, Kak ...,” jawab mereka berebutan.
Mereka pun tidak ingin kalah satu sama lain berkat antusiasnya dengan membaca puisi. Untuk menghindari perebutan, aku pun langsung memilih anak yang telah menanyakan arti dari mimik wajah tadi. Ia dengan semangat mengepal tangannya karena akan unjuk gigi sebagai penyair cilik.
Suara kecilnya sedikit nyaring ketika berada di akhir baris puisi. Walaupun tidak sebagus teman-temannya yang telah tampil, aku tetap mengapresiasi kemampuannya untuk berpuisi. Layaknya seorang komentator, aku memberikan penilaian terhadap penampilannya. Walaupun ia mendengar kritikan kecilku terhadap penampilannya, namun ia masih bisa menyimpulkan cara yang lebih benar dengan sendirinya. Anak ini belajar dengan cepat dari kata-kataku. Setelah itu, ia menunduk kepada penontonnya dengan menunduk dan kembali duduk seakan baru pulang dari medan perang. Begitu bangga dan bersahaja ....
Satu per satu anak tampil ke depan untuk membacakan puisinya. Berganti pula puisi yang aku pinta untuk dibacakan, seperti puisi dari penyair Joko Pinurbo, Mbah Sapardi Djoko Darmono, Pramodya Ananta Toer, serta penyair-penyair yang baru muncul di atas tahun 2000-an. Mereka antusias menantikan puisi apa yang akan aku pinta bacakan. Akhirnya, seluruh anak-anak berhasil menuntaskan pelajaran hari ini. Aku pun turut senang telah memberikan ilmu kepada mereka.
Mawar selesai dengan kelasnya. Aku lihat anak didiknya tersebut tengah berwajah cemong dengan riasan, namun ada pula yang terlihat rapi dan cenderung menarik untuk dilihat. Setelah itu, ia membawa anak-anak ke bawah untuk mencuci wajah. Tidak mungkin mereka keluar dari gedung ini dengan wajah menor seperti itu.
Aku dan Mawar berdiri sejajar di hadapan anak-anak tengah duduk di atas karpet bermotif kartun.
“Nah, kakak-kakak pulang dulu, ya ....” Mawar menenteng penyimpanan alat make up yang berbentuk seperti koper tersebut. “Kita bakalan bertemu minggu depan”
“Yang cepat, Kak. Kami mau belajar lagi!” sahut anak perempuan yang antusias dengan pelajaran tata rias hari ini.
"Iya, deh ... Kakak ke sini lagi lebih cepat jika enggak ada kesibukan.”
“Yeay!!!”
Pulanglah aku bersama Mawar meninggalkan mereka untuk tetap bermain di gedung itu.
Senja hari menantiku kembali di depan teras. Kembali aku pindahkan aktivitas tulis menulisku dari balkon, menuju teras yang terang oleh cahaya dari barat. Di sela-sela kebingunganku untuk menulis kelanjutan, aku turutkan pandanganku ke daun-daun kering yang harus disapu. Sangat jarang sekali halaman rumah ini dibersihkan, padahal dulu Ibu selalu berkoar kepada aku dan Dika untuk membersihkan halaman, sedangkan aku dan Dika malah saling melempar tanggung jawab untuk itu. Semenjak ia sudah tiada, hanya rasa rindu itu yang kurasakan ketika setiap kali memegang sapu halaman.
Setelah itu, aku kembali menulis di laptop, berharap akan ada secercah ide yang akan datang menghampiri. Namun, ide itu tak kunjung datang. Ditambah lagi dengan Dika yang datang tiba-tiba dan duduk di kursi sampingku. Baunya bau oli dan tidak ada mandi pagi. Bisa dibayangkan aroma yang sedang aku rasakan saat ini. Tanpa bimbang, ia menyeruput kopiku dan mengambil sebatang tembakau yang kupunya, lalu menyulut dengan khidmat.
Selalu ada rasa syukur setiap habis bekerja, lalu diakhiri dengan menyulut tembakau. Dika bilang, jika merokok diiringi dengan ucapan syukur kepada Tuhan, rasanya akan berkali-kali lebih nikmat. Ekspresi yang ia tunjukkan kali ini pun menyimpulkan hal itu. Sejenak ia menggeleng merasakan nikmatnya senja ini, apalagi dengan didampingi oleh kopi. Lelah dan penat seakan pergi untuk sejenak.
“Nikmatnya duduk sambil ngerokok kalau habis kerja. Syukurlah, bengkel ramai hari ini. Banyak cewek-cewek juga yang mampir.” Dika tersenyum.
Aku menutu laptop dengan segera. Turut pula aku ambil sebatang tembakau untuk menemaninya senja ini. Mataku melihat kerut keningnya yang semakin jelas saja seiring bertambah usia, atau bisa jadi mukanya sedikit lebih tua daripada orang seumurannya. Namun, aku tahu sekali banyak hal yang ia pikirkan sebagai tulang punggung keluarga. Ia menanggung seluruh beban yang ditinggalkan semenjak meninggalnya kedua orangtua kami, termasuk memberiku uang jajan tiap bulannya dan uang makan kami sehari-hari. Sedangkan untuk uang kuliahku, itu sudah disisihkan dari sebagian warisan yang ditinggalkan, lalu sebagian yang lain disisihkan lagi untuk membayar utang Ayah. Tetap saja warisan itu tidak cukup untuk melunasi seluruh utang Ayah, masih tetap ia tanggung hingga saat ini.
Hanya satu yang aku harapkan, aku turut membantunya meringankan beban itu. Berkali-kali aku meminta untuk bekerja sampingan, apa pun pekerjaan itu. Aku tahu, pekerjaan sampingan mungkin tidak akan sebanding untuk melunasi utang Ayah. Namun, setidaknya aku bisa menanggung biaya kebutuhan pribadi dengan sendiri, tanpa meminta tiap bulannya kepada Dika. Ia tetap saja menolak keinginan itu. Dasarnya memang orang keras kepala, bahkan niatku untuk membantunya pun tetap ditolak. Alasannya hanya satu, ia hanya ingin melunasi amanah Ibu yang telah menitipkanku padannya. Ia tidak ingin kuliahku terganggu karena aku turut memikirkan beban-beban itu.
He is the best, itulah yang bisa mendeskripsikan dirinya, meskipun seberapa kesalnya aku terhadapnya sewaktu kecil.
“Utang Ayah ada berapa lagi, sih?” tanyaku penasaran.
Asap yang kami hembuskan bersatu dalam satu titik. Ia menggarus kepalanya sesaat.
Aku menghela napas. Jarang sekali ia berani terbuka seperti ini.
“Gue cuma bisa diam gini, kadang gue ngerasa bersalah.” Aku menghembuskan asap.
Ia menepuk pundakku, lalu menyeruput kembali kopiku yang tinggal setengah.
“Udah ... urusan utang biar gue.” Ia menepuk dadanya berkali-kali. “Lo kuliah aja yang bener. Besok lo kalau udah jadi orang kantoran, baru lo bantu gue. Bentar lagi lo kan tamat. Emang kuliah itu tamatnya berapa tahun, sih?”
Aku tertawa mendengar pertanyaan itu. Mana ada kepastian tamat berapa tahun ketika kuliah. Hal itu tergantung masing-masing pribadi.
“Lo kira kuliah itu SMA yang udah pasti tamat tiga tahun? Hahaha ....” Aku tertawa sejenak. “Tergantung orangnya, paling cepat kalau di fakultas gue ya empat tahun. Paling lama tujuh tahun atau empat belas semester. Kalau enggak tamat juga, ya di-drop out.”
“Di DO maksud lo?” tanya Dika.
Aku mengangguk. “Iya, kaya lo waktu SMA gara-gara poin kesalahan lo udah melebih batas.”
Ia tertawa mengingat momen itu ketika Ayah dipanggil ke sekolah saat itu. Dika terancam DO karena mengikuti sebuah tawuran antar sekolah. Namun, berkat Ayah yang memohon-mohon kepada Kepala Sekolah dan membayar sejumlah denda agar ia jera, maka Dika tidak jadi di-DO. Alhasil, Dika habis dihajar oleh Ayah ketika sesampai di rumah. Hal itu pula yang membuat Dika kabur tiga hari. Ketika ia kembali, Ayah malah memeluk anak itu dengan erat dan meminta maaf karena sudah menghajarnya.
Ya, memang ... sebegitu kerasnya Ayah kepada ketiga anaknya, terutama kepada Dika yang merupakan anak paling bebal di antara kami. Rio meskipun bergaul dengan orang yang salah, ia tidak pernah membantah perkataan orangtua. Ia anak yang patuh, penuh sopan dan santun pada tutur katanya. Kepribadian yang ia tunjukkan begitu lembut kepada orangtua. Sedangkan, aku hanyalah seorang penakut yang menangis apabila ada satu hal yang tidak dituruti, namun takut sekali kepada Ayah yang keras minta ampun. Hanya Dika sendiri yang tidak ada takut-takutnya dengan itu.
“Pokoknya lo jangan sampe di-DO. Rajin-rajin kuliahnya biar bisa jadi orang gede.” Ia memetik ujung rokok yang sudah menjadi abu. “Ngomong-ngomong, udah sebulan nih Reira enggak balik-balik. Parah banget ya sakit mamanya di sana?”
Aku mengangkat kedua bahuku. Reira selalu mengatakan bahwasanya mamanya terus membaik. “Entahlah, pokoknya mamanya itu operasi jantung di sana. Lo bayangin aja jantung lo dibelah, parah enggak tuh? Tapi, Reira selalu bilang kalau mamanya mulai beranjak baik.”
“Gue jadi rindu sama anak itu. Walaupun tengil gitu, ternyata anak orang kaya, ya? Lo bilang kalau dia nyewa apartement di sana. Pasti anak orang kaya. Apa kerja bapaknya, sih?” tanya Dika.
Ia sama sekali belum tahu latar belakang keluarganya Reira. Selain itu, Reira pun tidak akan membertitahukan itu dengan sembarang orang. Hanya orang tertentu saja yang mengetahui hal itu.
“Katanya, papanya itu pengusaha sawit di Jambi,” ucapku berbohong.
“Oh ... pantes, banyak duitnya itu. Temen-temen gue yang bapaknya pengusaha sawit di Kalimantan hidupnya pada glamor.”
“Hidup kita udah glamor, kok. Kalau galau, ya molor. Glamor ... Hahahah ....”
“Bangsat lo, hahahah ....”
Malam menyambutku. Ibadah pun dihelat lebih awal dari kebiasaanku yang sedikit menunda-nunda. Aku pun keluar setelah itu untuk menyegarkan tubuh karena di dalam yang pengap. Seperti biasa, bengkel Dika masih saja ribut dengan aktivitas perbengkelannya. Walaupun tidak lagi menerima pelanggan, tetapi tetap saja mereka membongkar mesin untuk keperluan motor modifikasi yang mereka rakit. Ada banyak juga malam ini teman-teman dika yang datang untuk ngobrol dan mengopi.
Teman-temannya asyik mengobrol bersama pegawai Dika di muka bengkel. Mereka mengerumuni motor modifikasi kontes yang akan berangkat minggu depan. Namun, ada hal yang berbeda aku lihat dari Dika. Ia sibuk merapikan baju koko dan sarungnya di depan cermin di bengkel. Terdapat pula peci hitam yang menambah lengkap penampilannya malam ini. Wanginya pun harum minta ampun, seperti ingin pergi ke mall. Padahal, ia hanya memakai sarung pecian dan sendal jepit bernoda hitam.
“Lo mau pergi ke mana?” tanyaku. Aku mengendus bajunya, harum sekali. “Harum banget. Fasha aja kalah kali, ya?”
“Iri bilang bos ....” Ia memandangku sinis. “Sirik aja sama orang.”
“Serius, lo mau pergi ke mana?” tanyaku sekali lagi.
Ia terlihat yakin di depan cermin bahwasanya penampilannya sudah sangat sempurna. Lalu, ia berbalik diri melangkah keluar bengkel.
“Ke rumah Pak RT. Di sana ada kendurian,” balasnya.
“Yaelah ... kendurian kaya pergi ke mall. Begaya banget!” sindiriku.
“Heheheh ... biasa ... ada anak gadisnya.” Ia memberikan jempol padaku. “Calon kakak lo besok.”
Tawaku keluar terbahak-bahak mendengarkan itu. Tanganku bergerak seakan mengusirnya segera.
“Yaudah, pergi sana. Teruskan perjuangan,” pungkasku.
Dika pun melenggang sembari menyapa teman-temannya itu.
***