
EPISODE 135 (S2)
“David ....” Tangannya melingkar pada pinggagku.
Tubuh kami yang sebatas angin membuatku menahan napas. Hampir sempurna rengkuh tangannya.
Namun, satu detik kemudian merubah suasana ini. Tanganya berubah arah meraba bagian tubuh belakangku, tepat pada benda yang terselipkan.
“Sebenarnya apa yang lo sembunyiin dari gue?” Ia menarik revolver itu.
Matanya memandang tidak percaya dengan ujung benda yang ia tarik. Lobang pistol itu benar-benar mengarah tepat ke wajahnya. Mata Mawar melebar tak percaya, panjang tarikan napas panik yang ia tahan sementara, lalu menyampakkan pistol revolver itu di atas ranjang Reira. Mulutnya melebar, tertutup oleh telapak tangan yang menempel.
“Lo punya benda semacam ini?” Ia menggeleng sesaat. “Siapa lo sebenarnya?!”
Aku tempelkan telunjukku di depan bibir sebagai pertanda agar ia tidak menaikkan nada. Hal tersebut akan menarik perhatian ke kamar ini. Ada benda yang harus disembunyikan.
“Jangan keras-keras ... ini bukan punya gue―”
“Lalu, kenapa benda itu ada sama lo?!”
Segera aku tarik kedua tangannya dan aku genggam erat-erat. Dingin telapak tangan Mawar ketika menyadari bahwasanya aku sedang berada bersama senjata ilegal. Tidak aku salahkan Mawar untuk bersikap panik seperti itu. Setiap orang pasti akan terkejut, terutama diriku tatkala Reira pertama kali menunjukkannya padaku.
“Tenang ... kita bisa bicara baik-baik.” Aku menurunkan nada. Mata Mawar masih melebar tidak percaya. “Ini punya Reira. Maksud gue, bukan punya Reira sepenuhnya. Ini milik kakeknya yang ia dapat di ruangan Kakek Kumbang. Lo harus tenang ....”
Napasnya perlahan melambat. Tak tegang tangan yang aku genggam bersamaan dengan tatap mataku padanya. Ia duduk di atas ranjang, menarik tanganku untuk duduk bersamanya. Mawar ambil pistol itu kembali, lalu meletakkannya di atas tanganku.
“Dia tahu kalau kepemilikan senjata tanpa izin adalah tindak pidana?”
Aku mengangguk. “Dia tahu banget. Makanya ini disembunyikan.”
Mawar menarik napas panjang. “Sorry gue terkejut banget. Gue kira lo agen intel polisi yang menyamar jadi anak Psikologi.”
“Apa ada polisi sekurus gue?” tanyaku balik.
“Gue mana tahu.” Ia menoleh padaku. “Jadi, kenapa Reira nyimpanin benda ini di sini?”
Sampai saat ini pun aku belum mengetahui alasan sebenarnya dari Reira untuk menyimpan ini. Semuanya masih rancu dalam bayang-bayang ketidakpastian. Aku masih bimbang apakah ini menjadi sebuah koleksi atau ada maksud tertentu. Reira selalu memberikan alasan yang membuatku berpikir berkali-kali mengenai subtansinya.
“Cuma koleksi ... dia bilang begitu.”
“Siapa aja yang tahu?”
“Gue rasa kita bertiga.” Aku menoleh padanya. “Lo harus ngerahasiain ini, ya ....”
“Iya, itu pasti ....” Mawar mengangguk. “Lo tahu Nauren itu?”
Tiba-tiba pembicaraan ini mengarah ke sana. Padahal, aku sama sekali tidak ingin membahas itu kali ini.
“Gue tahu dia karena Reira cerita punya temen SMA bernama Nauren. Kedua orangtu lelaki mereka ada hubungan politik. Jadi, wajar aja keluarga mereka dekat.”
“Gue harap begitu ....”
“Harap begitu?” tanyaku penasaran. Kalimat itu multitafsir sekali bagiku.
“Dari mana lo menyimpulkannya?” tanyaku.
“Gue juga berharap dia hubungan lebih itu bagian dari persahabatan. Tapi, lo harus pikirin hal terburuknya. Entahlah ... tadi gue bertemu dengan Nauren di kamar ini, sedang baring di atas ranjang Reira. Lo kira itu biasa aja?”
“Dia di atas sini?” Aku menepuk ranjang. “Hmm ... itu patut dipikirin juga, sih. Setahu gue Reira enggak punya temen dekat dari kalangan atas kaya dia, paling yang kaya Bang Ali. Enggak mungkin juga gue kira orang yang sedekat Bang Ali berani masuk ke kamar Reira.”
“Iya, pikiran kita sama saat ini.”
“Tapi, Reira tampaknya ngebanggain diri kalau gue adalah pacarnya tadi.”
Mawar berdiri. “Jangan dipikirin juga. Reira itu independen. Berdiri sendiri,enggak mau diintervensi orang lain. Btw, nanti malam kita buka?”
“Makasih ....” Aku tersenyum padanya. “Iya, kayanya harus buka. Menurut lo bagaimana?”
“Kita buka agak malaman dikit. Di sini udah pasti tahlilan.”
“Nanti gue kasih tahu Zulqarnain.”
Mawar beranjak pergi dari kamar ini.
Bosan menunggu Reira yang tak kunjung berhenti dari percakapan di ruang tamu. Sudah terkantuk mataku di atas ini dan berbaring di atas ranjang Reira. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi dari kamar dengan menuliskan pesan singkat di atas kertas yang aku letak di atas meja. Sudah saatnya aku pulang untuk membersihkan diri dan kembali lagi ke sini nanti malam.
Hati kecilku merasa iba karena merasa diabaikanoleh Reira. Tetapi, aku tahu maksud Reira tidak akan pernah mengabaikanku. Sebagai kekasih, tentu saja ada rasa seperti itu yang terselipkan ketika tidak diperhatikan. Keadaan saja yang membuat Reira tidak bisa keluar dari zona itu, ia terus di sana untuk melayani keluarga yang sedang menjadi tamu saat itu.
Mengenai Nauren? Aku tidak ingin ambil pusing. Benar juga yang dikatakan oleh Mawar, Reira tahu apa yang ia kerjakan dan tidak akan mau diintervensi oleh orang lain. Memang, aku tahu ia menyimpan foto polaroid itu atas dasar pemberian dari Nauren ketika SMA. Ia menghargai setiap barang yang diberikan oleh orang lain. Hanya rasa percaya yang akan terus aku tumbuhkan di dalam hati.
Malam hari kami hadiri sebagai malam tahlilan pertama Bu Fany. Hampir seluruh warga Mapala turut hadir di sana, bahkan pejabat BEM Universitas pun ikut membersamai. Berhadapanlah mereka dengan pejabat penting negara yang duduk bersama dalam satu tenda. Tidak dihindari pembicaraan mereka mengenai kritikan-kritikan dari pikiran kritis mahasiswa, tidak memandang suasana dan tempat.
Begitu pula di dua hari berikutnya. Aku selalu membuka cafe sedikit lebih malam karena aku merasa harus hadir untuk mendoakan Bu Fany di rumahnya. Sebenarnya Reira tidak memaksaku dan malah mengatakan tidak perlu hadir jika merasa menganggu aktifitas cafe. Doa selalu bisa dipanjatkan di mana saja. Namun, aku tidak bisa melakukan hal tersebut. Ada rasa keharusan yang harus aku penuhi.
Di hari ketiga Mawar memberitahukan diriku bahwasanya ia tidur di rumah Reira karena Kak Reina meminta Mawar untuk menemani adiknya di rumah. Kak Reina ada acara ke Jogjakarta sebagai designer pada pegelaran modeling. Aku pun senang Mawar bisa bermalam bersama Reira. Bagiku, Mawar teman yang cocok untuk wanita itu. Mereka semibang, menurutuku.
Tanganku membongkar ban dalam salah satu motor di bengkel untuk ditambal.
“Dik, ini kayanya lobangnya panjang.” Aku menoleh pada Dika yang sedang diu kasir. “Ini enggak bisa ditambal.”
“Udah, ganti ban dalam aja. Nanti gue kasih tahu sama abang itu.”
“Oke, deh.”
Tepat di kala aku mengambil kunci untuk membuka roda, terdapat Mawar yang datang menggunakan mobil. Ia keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Sontak aku heran dengan sikapnya itu.
“Ada apa―”
“Reira belum pulang dari kemarin!”
Segera aku mengambil handphone. Ia tadi mengatakan padaku bahwasanya ia sedang di rumah saat ini.
***