Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 148 (S2)



EPISODE 148 (S2)


Perjalanan ini cukup panjang dan melelahkan. Bagaimana tidak lelah karena duduk yang tidak nyaman. Ini bukanlah di mobil travel dengan bangku empuk, melainkan truk tronton yang berbau solar. Sedari tadi aku menahan mual karena bau mesin diesel, Goncangannya seperti gempa kurasa, belum lagi bosan bergerak lambat di belakang sebuah truk. Tatkala Bang syamsul berusaha memacu kendaraan, berkali-kali jantungku ingin copot. Truk seakan ingin menabrak kendaraan yang berlawanan arah. Sedangkan yang lain enak tertidur, aku yang enggan menutup mata. Bukan tidak mau, melainkan tidak nyaman.


Truk berparkir di sebuah tanah lapang bekas serokan bukit yang diambil tanahnya. Desa yang kami tuju bernama Desa Gunung, terletak di kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi. Sebagaimana namanyanya, daerah merupakan daerah bukit. Di sebelah kiriku meruakan bukit berbatasan dengan jalan, lalu di seberangnya terdapat turunan ke bawah yang langsung memperlihatkan sawah yang gelap. Udara dingin, tetapi tak menyusuk seperti di kaki Gunung Salak waktu itu. Sejuk berembun dengan nyanyian bunyi serangga perdesaan.


Langit begitu bersih tanpa ada polusi cahaya seperti di kota. Bertabur jelas bintang di atasku. Jikalau Mawar membawa teleskop, pemandangan ini akan menjadi menarik untuk diamati. Satu hal lain yang membuatku tertarik yaitu bau tubuh kerbau yang menyeruak ke hidung. Entah di mana kandang kerbau terletak di sini. Aku rasa dekat dari lokasi kami.


“Bang Ali lagi ke sini.” Reira menutup handphone-nya. Matanya mengarah ke truk, terlihat Mawar masih bersandar dalam tidur. “Kasian anak itu, pasti capek.”


“Setelah ini kita istirahat yang cukup, besok bisa jadi hari yang panjang.”


“Tidur itu lemah,” balas Reira dengan ringan. Ia berbalik menuju Candra dan Razel yang sedang duduk di atas tanah kuning ini.


Aku dan Bang Syamsul memandangi anak itu yang pergi. Tidak lama kemudian, ia mencolekku.


“Anak itu memang kaya gitu, ya?”


“Iya, Bang. Malah aku aneh kalau dia enggak kaya gitu.”


“Dasar, keturunan Kumbang!” Ia menghisap rokoknya kembali.


Menunggu kamis sekitar sepuluh menit di kegelapan. Hanya cahaya dari layar handphone yang menjadi penerangan. Jalanan pun tak ada cahaya. Sesekali kami diterangi oleh kendaraan yang lewat, itu pun jarang. Barulah wajah kami tampak dengan jelas ketika sebuah mobil menepi ke tanah kosong ini. Dihidupkannya lampu di dalam mobil, Bang Ali sedang menghisap rokok di sana. Sendirian dirinya menjemput kami yang seperti orang terlantar.


“Welcome di desa saya!” Bang Ali keluar dengan semangat. Ia melebarkan tangannya kepada kami. “Gue enggak percaya kalian di sini!”


Reira melangkah cepat ke arahnya. “Gila ya, jauh banget kampung lo!”


“Hahah ... siapa suruh datang. Gue cuma ngasih undangan, tapi ga berharap kalian datang.” Bang Ali mengapit leher Reira di ketiaknya. Seperti biasa, mereka selalu seperti itu. “Dengan abang ini tadi ke sini?”


Bang Ali menjulurkan tangannya pada Bang Syamsul.


“Iya, samo awak tadi,” balas Bang Syamsul.


Logat berbeda aku dengar dari Bang Ali. Dipakainya bahasa setempat yang tidak aku mengerti.


“Mokasih banyak yo, Bang. Orang mana?” tanya Bang Ali.


“Sijunjung ... aku supir batubara di sana."


“Iyalah, Bang. Maaf- maaf kato kalau orang ni buat abang repot.”


Bang Ali tertawa. “Hahaha ... enggak apa-apa. Aku ni punya hubungan sama Pak Kumbang. Ini tanda terima kasih aku kepada Pak Kumbang.”


Diam-diam Reira menyelinap ke tangan Bang Syamsul. Ia selipkan sejumlah uang untuknya sebagai tanda terima kasih. “Nih, Bang ... uang terima kasih buat beli rokok. Hati-hati di jalan.”


“Ha? Apa ni?” Bang Syamsul memperlihatkan uang yang diberikan oleh Reira. “Mana bisa aku nolak! Hahah ... makasih.”


“Bangsat ....” Reira tertawa kemudian.


Pembawaanya ringan dan penuh jenaka. Aku sama sekali tidak bosan di dalam truk, padahal cukup lama perjalanan ini. Barang-barang dimasukkan ke mobil Bang Ali setelah melempas Bang Syamsul untuk pergi ke tujuan selanjutnya.


“Jangan heran kalau di sini beda bahasanya. Jadi, gue bakal jadi orang yang beda dari kalian kenal sebelumnya.”


“Ajari gue bahasa kotor di sini, Bang,” pinta Reira.


Ia menepuk dahi Reira. “Jauh-jauh ke sini cuma buat belajar bahasa kotor, pulang aja lo.”


Tawa kami menggelegar seiring jalannya mobil. Hanya satu yang masih diam, yaitu Mawar. Ia tertidur pulas di sampingku. Cemas kepalanya akan jatuh tepat di pundak. Oleh karena itu, aku sedikit ke sudut untuk menghindarinya.


Tak jauh kediaman Bang Ali dari lokasi tadi, kami sampai ke sebuah rumah setelah menuruni jalan sempit seukuran mobil. Jalan mentok langsung ke rumah sederhana dengan halaman yang luas. Dalam gelap, ternyata aku melihat rumah kayu tua tradisional yang kelihatan miring. Lemah mata Mawar menatapku, nyenyak sekali dirinya tidur di samping.


“Bang, yang rumah itu tua banget.”


“Itu rumah nenek sebelum ke rumah batu bata. Udah lama banget itu rumah. Emak sama paman-paman kecilnya tinggal di sana.”


Aku kembali menatap rumah tersebut. Kayunya lusuh membentuk noda-noda hitam. Dibagian samping tertulis nama Bang Ali di sana.


“Lo tinggal sama siapa aja di sini, Bang?” tanya Reira.


“Emak, bapak, adik gue satu orang, sama nenek. Kalau malam selalu ramai, soalnya sepupu-sepupu pasti ke sini buat main.” Bang Ali menunjukku yang tengah bergerak ke teras. “Dave, kita enggak tidur di rumah ini.”


“Trus di mana?”


Bang Ali menunjuk rumah kayu tua tersebut. “Hahah ... di rumah panggung. Cewek tidur di rumah ini.”


“Yang bener, Bang?” tanya Candra.


“Yaelah ... kalau gue kecil malah diusir dari rumah gara-gara disuruh tidur di surau, sekalian belajar ngaji. Di rumah sekarang kamarnya penuh, soalnya keluarga dari kota pada di sini.”


Pintu rumah terbuka. Tampak wanita muda yang memakai daster tidur berdiri mentap kami. Bang Ali tersenyum sembari menunjuknya.


“Itu adik gue, Aisyah namanya. Nanti Reira sama Mawar tidur di kamar dia aja.”


“Adik lo kok cantik banget, beda sama lo yang kaya pantat kuali?” pertanyaan Reira menusuk hati.


“Yaelah, rasis banget sih lo.” Bang Ali menoleh pada adiknya tersebut. “Aisyah, bawa kakak-kakak ni ke kamar, ya.”


Reira memulai aksinya seakan seluruh orang di dunia ini sudah dikenali sebelumnya. Gaya bicaranya lugas seperti ibu-ibu marketing. Masuk mereka berdua ke dalam rumah, dituntun oleh Aisyah. Benar yang dikatakan oleh Reira, adiknya lumayan cantik. Berbeda sekali dengan Bang Ali yang sangar seperti preman terminal.


Pintu rumah panggung ini pun dibuka oleh Bang Ali. Menyeruak wangi kayu tua seiring dengan decit pintu yang terbuka. Kami sama sekali tidak melihat apa-apa sebelum Bang Ali menghidupkan lampu kuning kecil di atas. Barulah tampak dalam rumah kayu ini aku lihat. Terkejut diriku melihat apa yang ada di dalam.


“Jangan sebut ini rumah tua.” Bang Ali duduk di seberang meja petak.


Rumah kayu ini dihias begitu estetik di bagian dalam.


***